STREET SOCIETY : A FRESH TAKE ON INDONESIAN GENRE CINEMA

STREET SOCIETY

Sutradara : Awi Suryadi

Produksi : Ewis Pictures, 2014

SS12

            So what is a genre cinema? Mungkin ada banyak sekali definisinya, tapi secara umum, term itu mengacu pada film-film yang menggunakan well known formula untuk tujuan murni komersil, dalam konteks film sebagai entertainment. Dan bukan, ini agaknya tak termasuk melodrama-melodrama menye-menye yang sekarang banyak menghiasi layar kita dibalik effort-effort palsu yang berlindung ke niat-niat ‘inspiratif’, ‘edukatif’ bahkan mengangkat tema-tema biopik atau apalah namanya. Bukan juga pada sejumlah horor-horor kacrut bercampur seks yang (maunya) terlihat sebagai exploitation genre tapi disebut film pun sebenarnya belum pantas. Mau penonton kita masih sangat susah ditebak seleranya, baik sineas maupun produser tampaknya masih susah memprediksi hasilnya. Dan lucunya, sudah jumlah penonton terus merosot pun, film-film seperti ini masih terus saja diproduksi berdasar satu-dua yang berhasil. Alasannya, trend. Yeah, right.

SS6

            Namun trend sebenarnya yang lebih menjamin datangnya penonton kita ke bioskop, like it or not, masih tak jauh berbeda dengan masa-masa kejayaan film kita dulu, adalah tampilan produksi yang wah dibalik penelusuran plot yang gampang dicerna sebagai sebuah produk hiburan. Bersama itu, a show of pretty faces masih jadi satu persyaratan mutlak dibalik alasan-alasan memajang poster yang memuat wajah-wajah yang enak dilihat itu. The other reason kenapa film kita juga masih bisa menjual di negara tetangga yang rata-rata talent-nya tak semanis milik kita. Disitulah sebuah trend baru akan bisa jadi sangat menjual, dan sebagai bonus, sempalkan komedi yang mengeksploitasi sosok-sosok bertampang konyol sebagai pelengkapnya. Again, like it or not, this is a formula. Begitupun, ini akan bisa lebih baik bila memang dilengkapi dengan niat untuk membuat kualitasnya masih bisa disandingkan dengan film-film impor. In those terms, sinema kita memang semakin kehilangan genre cinema yang cukup kuat di era ‘80an dulu.

SS2

            Then comesStreet Society’ dari sutradara Awi Suryadi. Salah satu sineas yang punya signature khas di shot-shot-nya yang hampir selalu punya kesan mewah melatari karirnya sebagai seorang sutradara iklan. Mengambil formula racing car action yang memang masih segelintir di film kita, rata-rata bukan yang layak pula, mereka agaknya memang sengaja mengarahkan racikan genre itu ke satu franchise yang sudah sangat luas dikenal, ‘Fast & Furious’. Dari atmosfer hingga tampilan poster bahkan logo judul hingga ke desain font yang mirip. Tudingan-tudingan ripoff pun muncul secara inevitable. Namun salahkah mereka? In terms of creating genre movies, no. Ini adalah upaya yang sah-sah saja. Apalagi, tetap ada ciri lokal yang tetap bisa atau tidak akan muncul bersama produknya. Negara-negara tetangga kita sudah bertahun-tahun lalu melakukan ini, dan walau kita sedikit terlambat, tak mengapa. Dari pada tidak sama sekali. So how is it?

SS1

            Di dunia balap jalanan ilegal, pembalap playboy Rio (Marcel Chandrawinata) adalah jagoannya. Bersama timnya, mekanik Monty (Daniel Topan), pembalap Bali Gde (Yopie Tan), Nanda (Kelly Tandiono) dan Aline (Moudy Zanya), kiprah mereka sudah dikenal di kalangan pembalap ilegal dengan tongkrongan-tongkrongan super di seluruh negeri. Sementara Prince Nico (Edward Gunawan), pewaris sebuah sindikat di Surabaya yang selalu dilindungi bodgyguards-nya kemana-kemana selalu membayangi Rio dengan obsesi pertandingan ulang setelah kekalahannya. Sampai kehadiran DJ cantik di klub lokasi hangout mereka, Karina (Chelsea Elizabeth Islan), merubah segalanya. Hubungan mereka membuat Rio ingin menghentikan petualangannya menyerempet bahaya, namun rintangannya justru muncul dari Yopie (Edward Akbar), pembalap milyuner dengan reputasi buruk yang punya niat terpendam dibalik dendam masa lalunya.

SS10

            Skrip yang ditulis oleh Agasyah Karim dan Khalid Kashogi dari ‘Madame X’ dan ‘Gara-Gara Bola’ memang tak sekalipun ingin berdalam-dalam membelit plotnya disana-sini meski menyimpan sebuah twist di penghujungnya. Like a pure popcorn formula, namun bukan juga berarti menjiplak template inspirasi dari ‘Fast & Furiousfranchise tadi, ‘Street Society’ agaknya hanya punya niat untuk tak lebih dari bermain di subgenre racing action sebagai suguhan utamanya. Paling tidak, bangunan karakternya cukup tergali sesuai dengan tendensinya, dengan kontras-kontras menarik untuk menciptakan formula hiburan tadi.

SS7

         Adegan balapan yang dibesut Awi memang cukup sebatas superfisial saja. Bermain aman tanpa hancur-hancuran wrecking cars scenes dalam keseluruhannya, tak juga sampai mendominasi lebih dari separuh adegan filmnya keseluruhan. Tapi bukan berarti nafas racing action-nya tak muncul jadi highlight utama dalam membangun fondasi plot tadi. Tampilan lebih dari 30 supercars yang dihadirkan pun belum sehebat produk-produk impor, tapi cukup berkilau bersama signature shots-nya sebagai dayatarik lebih ‘Street Society’. Untuk sebuah awal dalam kiprah mereka di genre cinema seperti ini, apa yang dilakukan Awi dan timnya di ‘Street Society’ sama sekali tak memalukan seperti film-film berlatar sama yang sudah-sudah.

SS8

            Marcel Chandrawinata meng-handle part-nya cukup baik sebagai lead dengan chemistry bagus bersama Daniel Topan yang menjadi sidekick komedik dengan joke-joke tak sampai jadi keterusan mendistraksi plot-nya, begitu juga Yopie Tan, Kelly Tandiono, Ferry Salim, Moudy Zanya berikut Dimas Argoebie dengan gestur yang pas ke karakter masing-masing. Sebagai antagonis, Edward Akbar yang tampil komikal pun masuk dengan baik dalam konteks karakternya, dan masih ada dukungan dari Wulan GuritnoMarcelino Lefrandt, walaupun tak banyak bermanfaat sebagai pelengkap terhadap karakter Rio. Namun yang paling bersinar adalah Edward Gunawan sebagai Nico dibalik kontras dialek Suroboyo dengan kesan antagonis karakternya, bersama Chelsea Islan yang benar-benar bisa meng-counter turnover karakter Karina secara intens. Melepas image dari penampilan debutnya dalam ‘Refrain’, Chelsea menunjukkan bakat aktingnya untuk tak jadi sekedar pemanis di film-film kita.

SS3

           Selebihnya, ‘Street Society’ masih punya kekuatan dalam penggarapan teknisnya. Penata kamera Roby Herbi yang sebelumnya sudah sering bekerja bersama Awi mampu mendukung shot-shot cukup baik di adegan-adegan balapannya, tata suara dari Satrio Budiono, artistik dari Rico Marpaung bersama tata rias – kostum masing-masing dari Angelia FlorensiaMarina Tasha juga cukup detil, begitu juga pace editing dari Yoga Krispratama & Aristo Pontoh. Masih ada scoring Aghi Narottama dengan lagu-lagu soundtrack yang bagus, dari ‘Faster Than Light’-nya Edward Akbar/CrazyED, ‘Street Society’ dari DJ Winky Wiryawan & DJ Evan Virgan dan ‘Secepat Kilat’ dari Nidji. Menunjukkan mereka tahu betul bahwa dentuman beat soundtrack dalam genre movie seperti ini adalah kebutuhan yang tak boleh dikesampingkan, dan ini artinya bagus. At least, sinema kita sekarang punya racing cars action yang representatif dalam perjalanan sejarahnya. You may still criticize it, but I’d say, tak perlu jauh-jauh dulu ke segmentasi arthouses atau inovasi ini-itu, film-film seperti inilah yang harusnya bisa membuat sinema kita bisa berjalan terus di tengah keseimbangan hiburan dan kualitas dalam perolehan penonton yang paling diperlukan sekarang ini. So, being a fresh take on Indonesian Genre Cinema, let’s giveStreet Societya vroooommm!! Sequel, anyone? (dan)

~ by danieldokter on February 23, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: