3 DAYS TO KILL : POPCORN ACTION WITH A HARD PUNCH IN THE HEART

3 DAYS TO KILL 

Sutradara : McG

Produksi : EuropaCorp, Wonderland Sound And Vision, Relativity Media, 2014

3D8

            With that much love was still around, mungkin sudah waktunya bagi Kevin Costner untuk bangkit kembali di jalurnya sebagai seorang action hero. And no, sejak awal-awal peningkatan karirnya, meski sangat dikenal punya passion lebih di genre western, sebagai lead di sejumlah action blockbusters, Costner bukanlah jagoan yang menggunakan tampilan otot sebagai amunisi utamanya. Lebih mirip seperti classic actors hingga kerap dibanding-bandingkan sebagai Gary Cooper di eranya, he brought a heart into action. Sayangnya, setelah puncak karirnya di ‘Dances With Wolves’, almost a one man show yang memberinya 7 Oscar termasuk Best Picture dan Best Director, ambisinya lewat ‘Waterworld’ secara drastis menyeret Costner ke titik terendah karirnya. Melakukan lagi kesalahan sama dalam ‘The Postman’ di nuansa post-apocalyptic yang memang bukan dunia yang cocok untuknya, ia masih mencoba bangkit namun tak pernah benar-benar berhasil.

3D6

            Hingga akhirnya reboot terbaru ‘Jack Ryan’ barusan kembali menyadarkan banyak orang, dibalik guratan penuaan dan rambut yang kian menipis dimakan usia itu, leading persona Costner sama sekali belum hilang. Hampir bersamaan, Luc Besson mungkin juga melihat ini. In the older actors-thrown into action list, seperti apa yang dilakukannya dengan Liam Neeson di ‘Taken’, hanya saja Neeson memang belum pernah jadi besar sebagai action hero sebelumnya, Costner seems fit as his next man. Besson yang sejak lama sudah banting stir ke popcorn formula merambah sinema internasional dalam film-film produksinya lewat EuropaCorp, kali ini bahkan mengajak sineas yang punya signature sangat lekat di genre action dari karir cukup panjangnya sebagai sutradara iklan, MV sekaligus produser rekaman, Joseph McGinty yang lebih dikenal dengan nama singkat McG. So there you go, dari awal pun kita sudah bisa membaca, bahwa karakter Ethan Renner, CIA agent dan government assassin ini akan dikembangkan menjadi franchise baru Besson. A newTaken’ dengan formula sedikit beda.

3D4

            Kegagalannya sebagai agen lapangan meringkus teroris pemasok senjata ilegal Eropa The Wolf (Richard Sammel) dan tangan kanannya The Albino (Tómas Lemarquis) di sebuah aksi pemboman membawa Ethan Renner (Kevin Costner) pada kenyataan yang jauh lebih pahit.  Dirinya divonis hanya memiliki beberapa bulan akibat kanker ganas ‘Glioblastoma’, sejenis tumor otak yang sudah bermetastasis ke paru-parunya. Mengetahui kondisi terminal ini, Renner memilih pensiun dan berniat menebus kesalahan yang selama ini ia lakukan sebagai seorang ayah, terhadap Christine (Connie Nielsen), istrinya, dan putri satu-satunya Zoey (Hailee Steinfeld) yang mulai beranjak dewasa di Perancis. Namun niat yang sudah jelas tak mudah ini semakin berantakan kala Vivi Delay (Amber Heard), agen yang juga dirugikan dari kegagalan misi lalu itu kembali merekrutnya dengan paksa dibalik imbalan obat eksperimental yang mau tak mau disetujui Renner dengan harapan memperpanjang sisa waktunya bersama Christine dan Zoey.

3D10

            Ah. LikeTaken’, dibalik gelaran fast paced action itu, ‘3 Days To Kill’ juga mengambil tema father to daughter relationship diatas family template yang mirip. Namun skrip yang ditulis oleh Besson dan Adi Hasak, juga salah satu produsernya, dengan cukup cerdas menarik garis batas untuk menghindari similaritas antara keduanya. Signature popcorn action ala Besson memang sangat kental terasa di banyak adegannya, apalagi ditambah keikutsertaan McG sebagai sutradaranya, namun ada satu sisi sangat berbeda yang mendapat fokus sama besar dalam paket keseluruhannya.

3D7

         Filled with more and more hearts, like Bread‘s oldies love classic, ‘Make It With You‘ yang mengiringi salah satu adegannya, ‘3 Days To Kill’ jadi terlihat sangat leluasa mengeksplorasi crossover genre-nya bersama drama dan juga awkward comedy, dari father to daughter relationships, sedikit love story hingga redemption and comedic metaphors masing-masing dari karakter keluarga Afrika Jules (Eriq Ebouaney) dan Turki Mitat Yilmaz (Marc Andréoni), penghubung The Wolf yang justru menambah porsi warmhearted-nya dan tak ketinggalan, coming of age conflict dari hubungan Zoey dengan Hugh (Jonas Bloquet) menuju twist kecil di penghujungnya. Membuatnya menjelma menjadi sebuah feel good – heart punching action, bukan mengeksploitasi derita-derita di sisi medis seperti kebanyakan film kita, bahkan dengan sempalan medical science fantasy yang tetap bisa dikemas dengan wajar.

3D1

            Dan sisi ini terlihat begitu bersinar lewat chemistry Costner bersama Hailee Steinfeld, aktris belia yang sudah menunjukkan bakat besarnya dalam ‘True Grit’ hingga diganjar nominasi Oscar berikut Connie Nielsen yang meski tak mendapat banyak porsi namun memberikan dukungannya dengan baik. Meski landasannya tetap serba klise, tapi proses-proses dalam hubungan keluarga ini tergelar dengan bagus bersama setup-setup untuk menyematkan banyak subplot tadi ke dalamnya. Bermain santai dengan penekanan voice tone acts yang keren, Costner berhasil menutupi kesulitannya meng-handle koreografi aksi yang harus diakui masih berada sedikit di bawah Liam Neeson dalam ‘Taken’.

3D9

             Kecuali Tómas Lemarquis sebagai The Albino dan Marc Andréoni sebagai Mitat Yilmaz dalam bentuk stereotipikal villain dan karakter annoying sasaran humor di film-film McG ataupun Besson biasanya, part antagonis lainnya memang sama sekali tak menonjol, tapi masih ada Amber Heard sebagai Vivi Delay. Menokohkan female agent tangguh yang tampaknya bakal tetap jadi sidekick Renner lewat sequel clues di penghujungnya, Heard berhasil menjual sisi seduktif dengan visually stunning looks-nya. Dan jangan lupakan juga scoring komposer Perancis Guillaume Roussel and most of all, sinematografi Thierry Arbogast, award winning DoP yang sudah biasa bekerja di karya-karya terbaik Besson, dari ‘La Femme Nikita’, ‘Léon’ dan ‘The Fifth Element’.

3D5

            So, lagi-lagi, don’t bother listen to serious critics, yang memang hampir selalu berseberangan dengan tontonan-tontonan popcorn seperti ini. Apa yang dilakukan McG dan Besson di luar kegemaran mereka bermain-main dengan cliche formula dan stereotypes di film-filmnya ke dalam ‘3 Days To Kill’ adalah sebuah inovasi bagus yang bukan hanya menjual pacuan adrenalin action, tapi juga masuk cukup dalam menghantam perasaan pemirsanya. Dan ah, siapa yang tak bakal jatuh hati dengan ultimate killer scene tentang seorang ayah di ambang usia yang masih mengejar waktu melatih anak gadisnya mengayuh sepeda? Now if you’re a dad, love your dad or ever wish you could love yours, you’ll easily sold to3 Days To Kill’. Popcorn action with a hard punch in the heart. Hard punch. (dan)

3D2

~ by danieldokter on February 25, 2014.

One Response to “3 DAYS TO KILL : POPCORN ACTION WITH A HARD PUNCH IN THE HEART”

  1. mau nanya nih min, judul lagu ending film nih apa ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: