12 YEARS A SLAVE : A PROVEN WINNING FORMULA

12 YEARS A SLAVE

Sutradara : Steve McQueen

Produksi : Summit Entertainment, Regency Enterprises, River Road Entertainment, Film4, Plan B, Fox Searchlight Pictures, 2013

12Y7

            Memulai karir penyutradaraan layar lebarnya lewat ‘Hunger’, drama historikal tentang sejarah Irish hunger strike di tahun 1981, nama sutradara-penulis Steve McQueen langsung menjadi sorotan banyak kritikus. Mendapat banyak award setelah kemenangannya meraih Camera d’Or di Cannes 2008, McQueen berhasil menghindari sophomore slump-nya sebagai seorang acclaimed director lewat ‘Shame’ (2011) yang bahkan melangkah ke wilayah lebih unik dibalik sexual addiction theme yang sangat provokatif. ’12 Years A Slave’ sebenarnya tak jauh berbeda dari dua film pertama yang sedikit banyak juga punya tema slavery in its own context itu. Hanya saja, dua filmografi sangat diakui itu mungkin sudah membuat McQueen meneruskan ambisi lebih besar menembus Academy Awards dengan formula berbeda. Sejak semula, banyak orang yang sudah bisa melihat itu, dan kenyataannya, ia memang menggores sejarah baru dalam perhelatan tertinggi insan film tersebut.

12Y9

           And no. ’12 Years A Slave’, memang bukanlah ‘Hunger’ atau ‘Shame’ yang mengambil segmentasi berbeda. Dituding sebagian fans-nya sebagai effort yang jauh lebih linear bahkan cenderung pop (bukti bahwa ia bisa bersanding dengan nominee lain di MTV Movie Awards yang terkenal dengan kandidat-kandidat mainstream itu), tapi sebenarnya tak juga begitu. Sekilas, tema historical slavery drama yang dibidiknya bersama penulis John Ridley, sama-sama berdarah Afro, tak jauh berbeda dari film-film sejenis yang sudah ada sebelumnya. But if you look closer, McQueen tetap membawa eksplorasi emosi yang sudah mewarnai dua filmnya sebelum ’12 Years A Slave’. Apalagi materi yang kabarnya didapatkan pertama kali oleh istrinya, sebuah memoir tahun 1853 tentang Solomon Northup yang berjuang di ranah perbudakan sebagai korban penculikan ini memang kuat. Dan keberadaan mereka sebagai ethnical subject dibalik dukungan Plan B-nya Brad Pitt plus deretan cast kuat termasuk muse actor McQueen, Michael Fassbender, mau tak mau harus diakui memberikan kedalaman berbeda dalam tema-tema sejenis.

12Y4

            Di era perbudakan Amerika tahun 1841, skill yang dimilikinya sebagai tukang kayu dan pemain fiddle (sebutan lazim biola untuk period era’s folk music), membuat  Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) yang berdarah Afrika-Amerika hidup sebagai manusia bebas di Saratoga Springs, New York, bersama istri (Kelsey Scott) dan kedua anaknya. Namun tak lama kemudian ia diculik oleh dua penjahat (Scott McNairy & Taran Killam) yang lantas menjual Solomon sebagai budak. Tanpa bisa melawan, Solomon yang diberi  nama baru Platt dikirim ke juragan budak Theopilus Freeman (Paul Giamatti) di New Orleans dan dipekerjakan di perkebunan milik William Ford (Benedict Cumberbatch). Dengan skill-nya, Solomon dengan cepat mengambil hati Ford, namun kecemburuan mandor rasis John Tibeats (Paul Dano) mengacaukan semuanya. Berpindah ke majikan baru yang buas, Edwin Epps (Michael Fassbender), Solomon kian tenggelam dalam penderitaan bertahun-tahun sebagai budak bersama budak wanita muda Patsey (Lupita Nyong’o) yang kerap jadi bulan-bulanan Epps. Berkali-kali Solomon mencoba mengubah nasibnya namun terus gagal hingga akhirnya ia mendapat titik terang dari buruh bangunan Kanada Bass (Brad Pitt) yang bersedia mempertaruhkan statusnya untuk membantu Solomon.

12Y3

            Di tangan McQueen dan John Ridley sebagai penulis berikut ensemble cast ini, formula klise dalam tema-tema sejenis ternyata tampil sepenuhnya secara berbeda. Sebagai biopik, storytelling melalui rentang panjang timeline-nya memang linear, namun keunggulan terbesarnya ada di eksplorasi emosi yang jauh lebih dalam. Karakter-karakter yang sudah terlihat diletakkan di wilayah manusiawi atau abu-abu dibalik latar historical conflict-nya tetap tanpa bisa terhindarkan kerap jatuh ke gambaran hitam putih yang kontras, namun tak sampai keterusan jadi kelewat absurd dan komikal seperti yang baru tahun lalu kita saksikan dalam ‘Django Unchained’-nya Quentin Tarantino. Paling tidak, McQueen dan Ridley tetap menggaris batasan-batasannya untuk tetap terlihat realistis. Dan disitu pula, pacuan emosi terhadap para protagonisnya jadi terbangun sangat baik bersama sebagian emotional scene yang cukup provokatif. Sama sekali tak cengeng namun menyimpan protes penuh kemarahan di tiap pengadeganannya.

12Y8

            Dengan tata teknis terjaga, dari kerja DoP Sean Bobbitt yang sudah bekerjasama dengan McQueen di ‘Hunger’ dan ‘Shame’, desain set – produksi hingga scoring kuat dari Hans Zimmer, apa yang kita lihat memang adalah sebuah karya dengan formula award winning yang bersinar di setiap adegannya. Cast-nya juga remarkable, dari penampilan singkat Alfre Woodard, Paul Giamatti dan Paul Dano, Benedict Cumberbatch, Brad Pitt sampai Michael Fassbender yang juga mendapat nominasi sebagai Oscar’s Best Supporting Actor. Ada juga Quvenzhané Wallis, nominee Oscar termuda dari ‘Beasts Of Southern Wild’ tahun lalu yang mungkin luput dari perhatian banyak orang dan memang tak diberi kesempatan lebih. Namun yang benar-benar luarbiasa adalah Chiwetel Ejiofor dan Lupita Nyong’o. Muncul dengan permainan emosi sangat terjaga, tetap stabil dari awal hingga akhir, penerjemahan restrained anger dibalik penderitaan karakter-karakter itu bukan saja membentuk chemistry yang sangat kuat melebihi kontras interaksi keduanya di dalam skrip, tapi juga gestur, ekspresi  dan sorot mata yang bicara begitu lantang bahkan jauh lebih dari dialog-dialognya. Membawa survival theme-nya jadi terasa benar-benar solid.

12Y1

            So yes, meski tema-tema tentang slavery period ini tanpa bisa dihindari tetap jatuh ke segmentasi yang bisa jadi akan sangat berbeda dari sisi sosio-kultur pemirsanya, McQueen sudah membawa ’12 Years A Slave’ berjalan dengan penuh keseimbangan. Bahwa ia sangat terlihat bermain aman, benar juga, but even a fool could see it coming, bahwa tiap frame di dalamnya memang punya award winning content yang luarbiasa kuatnya. Berjaya di banyak awarding event bergengsi hingga perjuangan final yang sudah memberikan hasil dengan kemenangannya meraih Best Supporting Actress (untuk Lupita Nyong’o), Best Adapted Screenplay, Best Picture Oscar sekaligus rekor kemenangan pertama untuk film yang dibesut oleh sineas berdarah Afro, membuat juri AMPAS bahkan tak sanggup memberi jalan buat nominee lain demi effort-effort berbeda dalam sejarah Oscar. A proven winning formula. (dan)

12Y10

~ by danieldokter on March 9, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: