DALLAS BUYERS CLUB : A RICHLY CONCEIVED BUT POTENTIALLY MISLEADING TRUE STORY OF SURVIVAL

DALLAS BUYERS CLUB

Sutradara : Jean-Marc Vallée

Produksi : Truth Entertainment, Voltage Pictures, Focus Features, 2013

DBC8

            Biopik yang mengisahkan sosok-sosok di luar public figure yang sudah banyak dikenal orang selalu punya dayatarik tersendiri dalam eksplorasinya. Selain penggalian ide mengapa seseorang itu lantas jadi penting untuk diceritakan, ada sebuah kekuatan informasi di dalamnya. ‘Dallas Buyers Club’ adalah salah satu yang dibangun diatas fondasi itu. Bagi banyak orang, fokus terhadap ODHA-nya tetap jadi hal paling menarik. Meskipun kenyataan juga film dengan tema-tema medis seputar HIV tak pernah jadi sesuatu yang fenomenal di perolehan box office dibalik ketakutan banyak orang atas pendekatan-pendekatan serba preachy, paling tidak, ini bisa jadi vehicle kuat bagi aktor-aktor di dalamnya. Lihat saja, mencatat rekor kemenangan Best Actor dan Supporting Actor dari film yang sama sejak ‘Mystic River’, Matthew McConaughey dan Jared Leto berjaya di Oscar barusan.

DBC4

            Namun lihat lagi judulnya. Jauh dibalik nafas biografi karakter intinya, ‘Dallas Buyers Club’ bukanlah film-film seperti ‘Philadelphia’ dan sejenisnya. Diatas sebuah medical drama yang terasa sekali penuh protes terhadap riset-riset terapeutikal dan pengesahan obat-obatan oleh badan berwenang yang penuh intrik (disini yang disorot adalah FDA (Food And Drug Administration) sesuai dengan latar set-nya, juga salah satu badan yang paling sering jadi patokan perizinan obat bagi negara-negara lain), survival story yang diusung sebagai motivasi karakternya jadi muncul dengan sangat kuat. Lewat skrip yang ditulis oleh Craig Borten dan Melissa Walack, keduanya bukan notable scriptwriter, berdasar memoir asli Ron Woodroof yang jadi subjek, sutradara asal Kanada Jean-Marc Vallée (‘The Young Victoria’) membawa kita ke masa-masa awal maraknya kasus-kasus AIDS di awal ’80-an. Membahas usaha-usaha penemuan obat yang penuh carut-marut dan sempat memunculkan distribusi ilegal ala multilevel marketing bagi para penderitanya. Ain’t that interesting?

DBC3

            Hidup bergelimang seks bebas dan penggunaan narkoba di Dallas, AS, 1985, buruh listrik sekaligus pemain rodeo homophobic Ron Woordroof (Matthew McConaughey) adalah salah satu orang yang terdiagnosis dengan AIDS dan diprediksi dokter hanya punya sekitar 30 hari untuk hidup. Kehilangan rekan-rekan dan pekerjaannya, Ron lantas ditawari dr. Eve Saks (Jennifer Garner) menjalani program clinical trial obat antiretrovirus AZT (zidovudine ; yang sampai sekarang masih jadi salah satu obat dalam regimen terapi pilihan) namun masih terbatas hanya sebagai kelompok pembanding dengan pemberian plasebo. Berusaha untuk tetap hidup, Ron menyuap petugas untuk memberinya AZT bahkan nekat menuju Meksiko untuk mendapatkan tambahannya. Dari Dr. Vass (Griffin Dunne), dokter Amerika kehilangan izin praktik yang tengah meneliti obat HIV/AIDS disana, Ron mendapat informasi efek samping mengerikan AZT. Tersugesti oleh Vass yang kemudian memberikan obat pengganti ddC dan protein sintetis peptide T yang dipercayanya lebih aman namun tak kunjung disetujui oleh FDA, Ron mulai menyeludupkan obat ini lewat perbatasan untuk menjualnya pada penderita lainnya. Bekerjasama dengan Rayon (Jared Leto), drug addict transgender yang juga HIV positif dan dr. Saks yang mendukung karena juga mencurigai efek samping AZT, mereka mendirikan ‘Dallas Buyers Club’, perusahaan ala multilevel dengan setoran awal 400 dolar AS untuk menjadi member, yang dengan cepat menarik perhatian banyak orang termasuk menjamurnya perusahaan-perusahaan sejenis, sampai mendorong petugas hukum dan FDA untuk merubah aturan-aturannya. Di tengah tantangan itu, Ron memilih untuk jalan terus, melawan sistem dengan apa yang dipercayainya, terus mencetak uang sambil membantu sesama penderita, bahkan menuntut FDA ketika badan itu mulai membatasi pintu masuk peptide T yang masih berstatus ilegal hingga akhir hidupnya, jauh dari prediksi hitungan dokter di awal diagnosisnya.

DBC3

            So you see. Apa yang ada dalam ‘Dallas Buyers Club’, secara kontennya memang diangkat dari memoir pribadi Ron Woodroof dibalik point of view sangat subjektif, memunculkan pemikiran provokatif yang juga sangat besar. Bukan berarti FDA punya kebenaran mutlak lewat riset-riset yang ada, dan bahwa para pelaku medis pun bisa menyadari adanya intrik-intrik seputar setiap proses perizinan obat-obatan, yang tak dapat dipungkiri dibahas dengan menarik di filmnya, namun kenyataan bahwa dua obat yang jadi fokus kontra dalam memoir serta adaptasi ini digaris cenderung hanya lewat satu pandangan non-teoritis, bukan pula oleh kacamata pelaku medis berikut bukti-bukti riset yang terentang panjang hingga sekarang, sedikit banyaknya membuat ‘Dallas Buyers Club’ jadi penuh dengan bias dan berpotensi misleading, terutama bagi para penderita HIV/AIDS yang menyaksikannya. Tak usah heran kalau dari awal filmnya sudah menimbulkan perdebatan pro-kontra di banyak forum-forum ilmiah, terutama atas eksistensi AZT dengan dosis aman yang masih menjadi drug of choice dalam regimen terapinya.

DBC2

            Namun di luar itu, pemaparan informasinya benar-benar sangat kaya. Membuka mata banyak orang yang belum pernah mengetahui perkembangan awal penyakit yang masih dianggap momok mengerikan hingga sekarang dengan begitu luas, dari distraksi anggapan homoseksual sebagai kelompok resiko terbesarnya hingga ke aspek-aspek riset dan perizinan obat dan paradoks-paradoks sosiokultur, ekonomi sampai politik yang sebenarnya lebih jadi fokus utama ketimbang sebuah biopik. Walau potensi misleading-nya besar, akurasi terhadap aspek-aspek gambaran lainnya tampil dengan detil tak main-main, tanpa pernah sekalipun dipoles dengan dramatisasi berlebihan.

DBC7

            Di deretan cast-nya, Matthew McConaughey tampil dengan totalitas luarbiasa sebagai Ron Woodroof. Walau tetap tak menanggalkan gestur southern hunk serba liar dan slenge’an, lengkap dengan intonasi Selatan sekental film-filmnya yang lain, usahanya menurunkan bobot hingga 21 kg sebagai penderita AIDS di kelas terminal benar-benar sebuah perjuangan yang memang punya alasan untuk diganjar piala Oscar bersama departemen makeup dan hairstylingnya. Karakter dengan ambiguitas serba abu-abu itu muncul begitu hidup sebagai character study yang kuat dibalik storytelling-nya yang provokatif. Jared Leto pun tak kalah hebat. Tak hanya physical act yang sama dengan penurunan bobot 14 kg, ia bertransformasi secara sempurna menjadi seorang transgender dengan detil gestur yang benar-benar mencengangkan. Di tengah-tengah mereka, Jennifer Garner sampai tak lagi terlihat spesial, meskipun sama sekali tak jelek, dan masih ada Denis O’Hare, Steve Zahn serta aktor-sutradara-komedian Griffin Dunne dalam penampilan singkatnya yang cukup bagus.

DBC5

            So yes, bagi banyak orang, ‘Dallas Buyers Club’ boleh jadi hanyalah sebuah biopik tentang penderita AIDS. Tapi jauh dibaliknya, ini adalah sebuah kisah nyata yang penuh informasi serta menyentil banyak pihak seputar subjeknya, bahkan membuat pemirsa-pemirsa yang tak akrab dengan subjek itu mau membolak-balik informasi tambahan untuk sebuah pengetahuan baru. Baik di ranah drama-drama medis maupun film-film bertema HIV/AIDS, ini adalah kombinasi yang jarang-jarang bisa didapat. Beyond a moving true story of survival, it might be potentially misleading, but also richly conceived and thought-provoking. (dan)

~ by danieldokter on March 11, 2014.

4 Responses to “DALLAS BUYERS CLUB : A RICHLY CONCEIVED BUT POTENTIALLY MISLEADING TRUE STORY OF SURVIVAL”

  1. jadi FDA di amrik itu kaya MUI di indonesia ya kaka? *dikeplak

  2. Apa pendapatmu soal tokoh Rayon yg ditambahkan (sebenarnya tidak ada) dalam film ini untuk tujuan dramatisasi?

  3. cukup efektif sih. bukan cuma dramatisasi, imo, tp daripada keluarga aslinya Woodroof mgkn akan jadi terlalu bias ke empati thd karakternya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: