HER : A DEEPLY ELECTRIFYING SCI-FI ROMANCE, AND MORE

HER 

Sutradara : Spike Jonze

Produksi : Annapurna Pictures, Warner Bros, 2013

H5

            A movie conceived through various ideas. True. Tapi film yang jadi besar lewat sebuah kekuatan ide, itu tak selamanya bisa kita dapatkan. Membangun distinctive concept-nya lewat kegilaan ide, nama Spike Jonze adalah salah satu dalam vanguard cinema sekarang bersama sineas seperti Michel Gondry atau Charlie Kaufman. Ide itu boleh saja berkembang secara liar kemana saja, tapi Jonze selalu punya konsep untuk menerjemahkannya jadi sesuatu yang unik. Berlanjut dari kiprahnya di video musik akhir ’90an ke awal 2000-an, dari ‘Being John Malkovich’, ‘Adaptation’ bahkan ‘Where The Wild Things Are’, walau banyak dianggap sebuah penurunan, sudah menunjukkan itu. Ketiganya bukan film yang gampang buat dicerna, tapi semuanya menunjukkan kecemerlangan konsep yang diusungnya. Tak heran kalau karya-karyanya hampir selalu dilirik oleh event-event movie awarding.

H1

            Karya terbaru Jonze, ‘Her’ yang juga meraih banyak prestasi, meraih Best Film di National Board of Review Awards, Los Angeles Film Critics Association Awards (shared with ‘Gravity’) berikut nominasi Golden Globe dan Oscar dimana Jonze memenangkan Best Original Screenplay, juga sama. Walau pada dasarnya ide itu bukan sepenuhnya orisinil dalam template yang diambil Jonze tentang hubungan romansa manusia dengan artificial intelligence yang bukan baru kali ini diangkat, dari greek mythPygmalion’ ke banyak film dengan premis senada, ‘Her’ tetap punya orisinalitasnya sendiri.

H2

               Begitupun, banyaknya tudingan bahwa ‘Her’ merupakan re-imagining salah satu ‘80’s teen moviesElectric Dreams’ yang malah lebih lekat diingat lewat theme songTogether In Electric Dreams’ dari Giorgio Moroder & Phillip Oakey, walau dari sebuah wawancara dengan Luke Goodsell dari situs Rotten Tomatoes, Jonze mengaku belum pernah menonton filmnya, memang sesuatu yang inevitable. Apalagi sutradaranya, Steve Barron, juga punya perjalanan karir mirip dengan Jonze, berawal dari sutradara videoklip diantaranya a-ha’s ‘Take On Me’ dan ‘Billie Jean’-nya Michael Jackson, berikut interpretasi Jonze ke banyak konsep ‘80s disini. Terutama bagi yang sempat menyaksikannya, film yang menempatkan salah satu console komputer komersil generasi awal ‘UNIVAC I’ ke dalam romance-musical fantasy cinta segitiga diantara dua karakter manusia yang diperankan Lenny Von Dohlen dan Virginia Madsen juga bukan sekedar romance, tapi sama-sama punya social critics terhadap prediksi perkembangan teknologi yang diangkat. Ah, tapi sempit sekali kalau menuduh Jonze menjiplak reka ulang film itu. Anggapannya mungkin lebih mendekati ke sebuah companion atau referensi tontonan.

H3

               In the near future, 2025, era dimana manusia mulai kehilangan kekuatan komunikasi lewat gempuran teknologi, Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) sebenarnya termasuk satu yang masih mempertahankan itu. Sayangnya, pekerjaannya sebagai penulis di agensi surat cinta profesional bagi orang-orang yang tak lagi mampu menyatakan perasaannya secara alami, tak sejalan dengan kehidupan pribadinya. Berada di ambang perceraian dengan childhood sweetheart-nya, Catherine (Rooney Mara), Theodore hanya punya hubungan dengan rekan kerjanya Paul (Chris Pratt) serta tetangga seapartemennya, Amy (Amy Adams) dan suaminya yang insensitif, Charles (Matt Letscher). Saat Amy ingin menjodohkannya dengan Amelia (Olivia Wilde), Theodore memutuskan untuk menginstal teknologi OS (operating system) terbaru, voiced artificial intelligence yang bisa menjadi asisten pribadi hingga teman bicara. Menamakan dirinya Samantha (voiced by Scarlett Johansson), hubungan Theodore dengan OS ini akhirnya berkembang jauh lebih dari yang diperkirakannya.

H6

             Dibalik eksplorasi futuristic what-ifs? dan penelusuran kemana saja teknologi ini bisa dibawa dalam batasan-batasannya terhadap human’s physical intimacy dan sebuah kebutuhan komunikasi antar manusia yang makin jauh tertinggal, premis itu memang boleh jadi tak spesial. Namun lihat bagaimana Jonze mengemas konsep dari skrip, storytelling hingga ke desain produksinya, dengan detil-detil cermat diantara satu dengan yang lain untuk membentuk sinergi yang nyaris sempurna di setiap titik temu penerjemahan ide itu.

H7

                Kombinasi dari interpretasi kostum high-waisted trousers dan hairstyling ala ‘80an, paduan dreamy atmosphere dengan dominasi red colors yang sangat mencolok, scoring Arcade Fire dan Owen Pallett (termasuk additional music dari Karen O. dengan theme songThe Moon Song’ yang jadi nominee Oscar’s Best Song sampai tampilan efek untuk mendeskripsikan futuristic console and devices yang sangat believable dalam nafas sci-fi-nya, dimana kita bisa percaya apa yang ada sekarang hanya memerlukan waktu singkat untuk sampai kesana, Jonze lagi-lagi membawa pemirsanya masuk dengan liar menelusuri pikirannya, sebagaimana yang ia lakukan di film-film sebelumnya.

H4

          Dengan tampilan kumis tebal dan awkward act-nya, Joaquin Phoenix bermain bagus sekali menokohkan Theodore dengan ambiguitas emosinya yang terombang-ambing diantara karakter-karakter wanita yang ditampilkan sejak awal, dari fisik hingga sekedar suara. Amy Adams walau tak diberi kesempatan terlalu banyak, bersama Olivia Wilde, Rooney Mara, Portia Doubleday hingga sedikit sempalan komedi dari voiceover Kristen Wiig, juga jadi pendukung yang tak kalah bagusnya. Masih ada kiprah Brian Cox sebagai pengisi suara salah satu OS, Bill Hader serta Jonze sendiri sebagai alien child di 3D interactive game yang dimainkan Theodore. Namun yang paling pantas mendapat kredit terbesar adalah Scarlett Johansson sebagai OS Samantha. Suara serak khas-nya terasa begitu hidup membawa pemirsanya berada tepat di tengah pikiran Theodore, menciptakan seductive chemistry dari tiap-tiap line dialog hingga fantasi liar bersama atmosfer romance  baik ke dalam hingga ke luar layar, sangat komunikatif seakan benar-benar membuat penonton mengharap sosoknya bisa jadi nyata.

H8

         So yes, Spike Jonze lagi-lagi menunjukkan bahwa film-filmnya memang jadi bisa begitu kuat lewat kematangan konsep untuk menerjemahkan setiap distinctive ideas-nya yang serba liar dan luarbiasa imajinatif tanpa sekalipun kehilangan pijakan ke kedekatan nyata yang jadi latarnya. Dan ini yang lebih penting. Walau bergerak lamban di keunikan jalurnya sendiri, jauh dari style romcom atau tema futuristik lain yang serba mainstream, pun bukan juga menjelma menjadi sebuah arthouse yang njelimet, ‘Her’ bisa memenangkan semua hati pemirsanya secara universal, baik kritikus serius hingga mainstream seperti Metacritic, dan itu sungguh bukan sesuatu yang mudah. A deeply electrifying sci-fi romance, and more. Much more! (dan)

~ by danieldokter on March 12, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: