99 CAHAYA DI LANGIT EROPA PART 2 : TRACES OF A SPIRITUAL SEARCH

99 CAHAYA DI LANGIT EROPA PART 2

Sutradara : Guntur Soeharjanto

Produksi : Maxima Pictures, 2014

996

            Dalam konteks film sebagai jualan, membagi dua sebuah adaptasi tentu merupakan trik bisnis. Then again, kalau orang-orang dibalik produksinya yakin ini bisa menjual, kenapa tidak? Meski kecenderungan penonton kita biasanya hanya hangat di satu dua pembuka dan kemudian melempem di deretan pengikut sesudahnya, tema reliji, apalagi dari novel yang cukup dikenal, masih punya kemungkinan. Film pertamanya sudah terbukti sukses, jadi tak ada alasan untuk segera merilis lanjutannya. Toh ’99 Cahaya Di Langit Eropa’ cukup punya batasan beda yang cukup fresh dibanding tema-tema reliji yang lain, dan penggarapannya juga cukup baik bersama deretan cast-nya. Diangkat dari pengalaman pribadi pasangan suami-istri penulisnya, Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra selama mereka melewatkan masa pendidikan Rangga di Eropa, pencarian spiritualnya tetap jadi fokus dalam mengarungi jejak-jejak sejarah Islam di benua itu.

992b

            Skrip yang ditulis oleh HanumRangga bersama Alim Sudio melanjutkan penggalan kisah di film pertama setelah Hanum (Acha Septriasa) kehilangan sahabat Turki-nya, Fatma Pasha (Raline Shah) dan putrinya Ayse (Geccha Tavvara), yang sudah membuka mata Hanum yang kesepian dibalik kesibukan Rangga (Abimana Aryasatya) dengan tugas-tugas kuliahnya. Mengalihkan fokusnya ke hubungan Hanum – Rangga di tengah perhatian Maarja (Marissa Nasution) yang makin gencar terhadap Rangga serta hubungan dua sahabat Rangga, Stefan dan Khan (Nino Fernandez & Alex Abbad) yang selalu berseberangan soal kepercayaan, bagian kedua ini kemudian kembali ke penelusuran jejak-jejak Islam dalam perjalanan mereka ke Cordoba dan Istanbul, dimana bukan lagi sekedar sebagai agen muslim yang menyebarkan kebaikan, Hanum menemukan pencerahan spiritual buat dirinya sendiri di akhir perjalanan itu.

992a

            Bagi sebagian pemirsa, ’99 Cahaya Di Langit Eropa’ mungkin jadi menarik atas informasi yang dihadirkannya dalam menelusuri historical landmark Islam di Eropa seolah sebuah live tour dibalik sinematografi panoramik dari Enggar Budiono dan pengarahan Guntur Soeharjanto yang tetap hadir disini. Namun bagi sebagian lagi, penuturan deskriptif yang sedikit menutupi konflik antar karakternya sebagai sebuah penceritaan utuh dianggap sebagai kekurangan cukup fatal. Bagian kedua ini terlihat lebih punya keseimbangan antara keduanya, tapi bukan juga tanpa resiko, di luar masalah penyamaan bahasa (Indonesia) antar karakter berbeda etnis yang tetap terasa kurang sinkron.

992c

          Startup-nya cukup efektif untuk menyambung benang merah pembagian cerita serta karakternya, namun konflik atas kehadiran karakter Maarja yang semakin dikembangkan ke ranah-ranah sangat klise diatas hubungan Hanum dan Rangga malah lebih lemah ketimbang plot persahabatan Hanum dengan Fatma di film pertama. Walau chemistry Abimana dan Acha dibalik akting keduanya yang cukup cemerlang tetap bagus, namun bagian ini berjalan agak bertele-tele di first act-nya serta sedikit kehilangan feel terhadap momen-momen yang seharusnya bisa jadi lebih menyentuh dalam hubungan itu. On the other hand, part love-hate relationship Stefan dan Khan yang kini diwarnai dengan sepenggal penjelasan latar lebih dengan chemistry kuat Nino dan Alex untungnya bisa menyelamatkannya ke paruh film sebelum pattern-nya kembali ke petualangan mereka mengarungi landmark-landmark bersejarah itu sebagai agen muslim di tengah misi spiritualnya.

992g

            Set Cordoba dan Istanbul itu memang terlihat lebih unik serta eksotis dibanding bagian-bagian Eropa lain di film pertama, yang secara visual juga sudah lebih sering dimunculkan di film-film lain, begitu juga dengan informasi-informasi penting yang digelar di sepanjang bagian ini, namun eksesnya jadi mempengaruhi final act yang seharusnya jadi konklusi penting perjalanan panjang karakter sentralnya. Terkesan kelewat terburu-buru, bagian ini juga jadinya meninggalkan kekuatan karakter Fatma bahkan Ayse yang sebenarnya sudah dibangun dengan kuat dibalik motivasi akhir Hanum dalam konklusi akhir eksplorasi penceritaannya. Tak ada juga penjelasan lebih buat pemirsa di luar latar relijinya yang mungkin memerlukan alasan Hanum memilih angka 99 dalam judul itu.

992e

        Jadi begitulah. Dalam kaitan-kaitan persyaratan adanya plot utuh ketimbang hanya eksplorasi visual dalam sebuah film, penceritaan Guntur di bagian kedua ini bisa jadi lebih kuat dibandingkan film pertama, namun di sisi lain, kita juga jadi kehilangan beberapa poin penting termasuk penempatan motivasi yang seharusnya mendapat fokus lebih dalam konten keseluruhannya sebagai adaptasi yang mengusung misi reliji serta dakwahnya. Tapi jelas, dwilogi adaptasi ini masih tetap lebih baik dari film-film reliji lain yang rata-rata hanya bicara di wilayah kisah cinta menye-menye tanpa kekuatan informasi. Dan yang paling penting, walau punya latar Islami yang kental, ia bisa menjadi tontonan yang cukup universal dalam penyampaian pesan-pesan baiknya. (dan)

992d

~ by danieldokter on March 14, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: