THE RAID 2 : BERANDAL ; AN EXTENSIVE SCALE OF BONE-CRUNCHING ACTION

THE RAID 2 : BERANDAL
Sutradara : Gareth Evans
Produksi : PT Merantau Films, XYZ Films, 2014

The Raid 2

Bukan saja di perfilman lokal Indonesia, tapi juga Asia bahkan dunia, ‘The Raid’ (2011) sudah membawa standar baru dalam genre action. Sebuah rollercoaster ride of action, sekaligus memperkenalkan seni bela diri Pencak Silat yang sejak lama digeluti sutradara asal Wales Gareth Evans termasuk di film debutnya, ‘Merantau’, menjadi sebuah cult hit dengan pencapaian mendunia, dari pembelian rights untuk distribusi dan remake oleh Sony Pictures hingga membawa aktor-aktor Indonesia seperti Iko Uwais dan Joe Taslim mendapat world’s recognitions. Kesuksesan itu memang memberikan jalan bagi Gareth untuk membangun networking lebih luas bersama L.A. based genre-specialist sales and production company XYZ Films dengan partnership ke situs film Twitch yang sudah seakan jadi bible for cult movie lovers dalam kolaborasi mereka.

TR24

Pertaruhan dalam banyak kesuksesan sejenis di genre ini memang hanya satu. Saat banyak kiprah remarkable Asia lain seperti Tony Jaa dengan ‘Ong Bak’ dan ‘Tom Yum Goong’ yang ternyata mentok hanya sampai disana, seberapa jauh Gareth bisa menaikkan level dari pencapaian gemilang ‘The Raid’ ke dalam sekuelnya? Dan hype itu semakin menjulang kala penayangannya di Sundance kemarin mendapat reaksi begitu luarbiasa dari pengamat-pengamat luar. Dalam rentang 3 tahunan dari berbagai publikasi dan promo-promonya, penantian itu kini berakhir bersama perilisan ‘The Raid 2 : Berandal’ di sejumlah negara termasuk AS yang didistribusikan bertahap hingga menjangkau 1200 theatres disana. So, is it that good?

TR215

Continues where the first movie ends, Rama (Iko Uwais) dihadapkan pada kenyataan bahwa sindikat mafia dan polisi korup itu jauh lebih kompleks dari yang diperkirakannya. Demi keselamatan keluarganya, Rama terpaksa menerima permintaan Bunawar (Cok Simbara), komandan pasukan khusus anti-korupsi, untuk menyelusup ke sindikat itu dengan identitas barunya. Dilempar ke penjara hingga menjadi orang kepercayaan Bangun (Tio Pakusadewo), lewat putranya, Uco (Arifin Putra) sosok ambisius dalam mengambil alih kepemimpinan Bangun yang terbagi bersama mafia Jepang pimpinan Goto (Kenichi Endo), Rama sekali lagi harus mempertaruhkan semuanya untuk bisa keluar hidup-hidup sekaligus meringkus sindikat korup itu hingga ke puncaknya.

TR25

Sedikit berbeda dari ‘The Raid’, Gareth memang merancang sekuel ini tak lagi sebagai sekedar sebuah pameran nonstop action. Benang merah plot yang sudah dimulai secara tak lazim lewat karakter-karakter di film pertama kini dikembangkannya jauh lebih kompleks bahkan masih lagi menyisakan unrevealed clues lewat penggambaran multikarakter yang semakin penuh sesak mewarnai plot sekuel ini. Dari karakter polisi-polisi ke para mafia seperti Arifin Putra, Donny Alamsyah, Alex Abbad, Zack Lee, Oka Antara, Tio Pakusadewo, Roy Marten, Cok Simbara, Pong Hardjatmo, tiga aktor Jepang Kenichi Endo, Ryuhei Matsuda dan Kazuki Kitamura dari ‘Killers’ hingga Deddy Sutomo yang masing-masing meng-handle part-nya dengan baik, star studded cast lintas generasi ini mau tak mau membuatnya jadi sangat menarik. Sisi emosional Iko kali ini lebih tergali, sementara Alex Abbad dan Oka Antara sangat menonjol tapi kredit terbesarnya layak diberikan pada Arifin Putra dalam eksplorasi akting yang melebihi kiprahnya di ‘Rumah Dara’.

TR210

Masih ada pula sisipan subplot yang menampilkan aktor yang belakangan jadi langganan Gareth dan kolaboratornya, Epy Kusnandar, Marsha Timothy berikut Yayan Ruhian yang kembali dengan karakter berbeda bersama sekaligus tiga villain opponents sebagai pengganti karakter Mad Dog di film pertama. Ada duo Julie Estelle dan Very Tri Yulisman sebagai ‘Hammer Girl’ dan ‘Baseball Bat-Man’ yang kabarnya akan diberikan spin-off comic franchise serta Cecep Arif Rahman, pencak silat artist dari Padepokan Kasundan sebagai sosok misterius ‘The Assassin’.

TR212

Plot-nya boleh saja berkembang lebih kompleks di ranah kombinasi thriller suksesi keluarga mafia dengan intrik polisi korup ataupun mole rat cop yang bukan lagi baru dibalik template-template tema sejenis dari ‘The Godfather’ hingga film-film Asia seperti ‘Tiger Cage’ atau ‘Infernal Affairs’. Tapi selain dikemas dengan interpretasi menarik diatas style sinematik Gareth yang tampak semakin terbentuk solid, termasuk sejumlah penempatan objek-objek fantastis dalam distinctive style kemasan set-nya, dari lumpur, puing-puing gedung hingga salju, Gareth kelihatan cermat sekali mengatur detil dalam desain dan teknis produksinya dari tata artistik, rias, kostum hingga tata kamera yang tetap dipegang Matt Flannery dan Dimas Imam Subhono, semua dalam level yang meningkat dibanding ‘The Raid’. Plus kali ini, penerjemahan dialog dalam skripnya juga jauh lebih rapi. Masih ada beberapa kekurangan, namun kerja Nadia Yuliani membuat dialog-dialognya jadi tak lagi terasa bagai sebuah language adapted script. Inspirasi demi inspirasi yang terasa juga sangat mengingatkan ke film-film aksi Asia, mostly Koreans, itu juga bukan lantas jadi mengganggu, tapi memberi penekanan bahwa Gareth memang membangun reference style dan skill-nya sebagai genre-aficionado dan cult lover yang sangat kuat.

TR214

Dan ini yang terpenting. Bermain diatas plot dengan kompleksitas multikarakter hingga memakan durasi kurang lebih 150 menitnya, Gareth tak lantas melupakan amunisi terbesar dalam franchise ini. Menaikkan level-nya secara lebih dan lebih lagi, namun tetap dengan batas tegas tanpa sampai jadi keterusan seperti apa yang dilakukan Tony Jaa dan timnya di ‘Tom Yum Goong 2’ barusan, Gareth membawa gelaran rumbling action-nya begitu ekstensif mengeksplorasi pencak silat sebagai martial arts hingga ke detil-detil asesoris senjata lokal yang disini menghadirkan kerambit (dalam bahasa Minang disebut karambiak), pisau genggam kecil melengkung dari Asia Tenggara, shootout hingga car chase scenes yang terasa sangat intens bahkan tak pernah terbayangkan bisa ada di film kita, ditambah bloodbath gruesomeness yang makin over the top dan gila-gilaan tanpa kompromi.

TR22

Detil-detil koreografi masing-masing karakternya, dari Rama, Prakoso, Hammer Girl, Baseball Bat-Man hingga The Assassin tertata dengan rapi dan berbeda, angle-angle shot-nya secara dahsyat, highly skilled mengikuti gerakan demi gerakan itu dengan kecepatan tinggi tanpa harus memunculkan slow motions, dan pace editing dari Gareth dan Andi Novianto juga sama kencangnya. Sound dari Brandon Proctor pun memberi detil lebih bersama scoring Fajar Yuskemal, Aria Prayogi serta Joseph Trapanese yang masuk dengan pas membangun intensitas ketegangannya. Kecuali 20-30 menit terakhir, gelaran keseluruhannya mungkin tak lagi bagai sebuah rollercoaster seperti ‘The Raid’, tapi masing-masing action scenes yang tampil di tengahi jeda penelusuran plot dan storytelling-nya tadi melebihi intensitas pacuan adrenalin yang ada dalam film pertama. Mostly never before seen in our movies, apalagi continuous final showdown antara RamaHammer GirlBaseball Bat-Man dan Rama vs The Assassin sebagai salah satu final showdown paling dahsyat yang pernah ada dalam world’s genre-nya. Bersama scene ending penuh homage ke film-film cult action Asia klasik, rasanya kita tak ingin end credits-nya cepat-cepat bergulir.

TR213

So yes, it is that good. Apa yang ada dalam ‘The Raid 2 : Berandal’ ini benar-benar menunjukkan skill dan keseriusan tinggi dari apa yang selama ini sudah dilakukan Gareth dalam industri perfilman kita. Level yang terus meningkat, eksplorasi ke referensi-referensi baru yang tetap menarik, serta penggarapan teknis luarbiasa demi menghadirkan pencapaian baru dalam genre-cinema yang diusungnya. An elevated, extensive scale of crazy bone-crunching and gruesome action, yang lagi-lagi akan memancing pertanyaan yang terus sama. Kalau Gareth bisa, mengapa yang lain tidak? (dan)

TR29

~ by danieldokter on March 30, 2014.

5 Responses to “THE RAID 2 : BERANDAL ; AN EXTENSIVE SCALE OF BONE-CRUNCHING ACTION”

  1. Keren banget nih film om. Tapi sayang sekali Gareth Evans suka lupa dengan konsistensi culture dan environment Indonesia. Sedikit bingung waktu ada hujan salju. Oke lah kalo emang buat mempercantik sinematografinya.. Tapi cukup membuat bingung (sempet mikir ini lagi di jepang ya???). Sama halnya telpon umum koin yg bisa dipake panggilan interlokal di Merantau. Thanks for your lovely blog..🙂

  2. kalo soal salju jangan pikirin, lebih aneh lagi di gang ada salju,tapi di seberang jalan g da salju..tanya kenapa???
    klo pada nyadar,apa yang keluar di mulut uco pas nerima telpon bejo di karokean?pdahal di dalam ruangan loh..hehe

  3. […] Read the full review here (In Indonesian) (dan) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: