THE MONUMENTS MEN : A WW2 SUBGENRE RARITIES

THE MONUMENTS MEN
Sutradara : George Clooney
Produksi : Columbia Pictures, Fox2000 Pictures, Smokehouse Pictures, Studio Babelsberg, 2014

TMM9

In cinematic history, tak banyak mungkin subgenre WW2 movies tentang treasure hunt adventures / heist 0r caper movies. ‘Escape To Athena’ (1979, George Pan Cosmatos) dan ‘Kelly’s Heroes‘ (1970, Brian G. Hutton) ada diantara yang paling diingat hingga sekarang. Sedikit berbeda, tapi masih dalam cakupan subgenre yang sama, di luar penggunaan ensemble cast yang rata-rata selalu muncul, ‘The Monuments Men’ kini mengangkat sebuah kisah nyata yang mungkin masih jarang-jarang didengar banyak orang kecuali yang benar-benar rajin mengulik sejarahnya. Tertuang dalam buku yang dijadikan sumber adaptasinya, ‘The Monuments Men : Allied Heroes, Nazi Thieves and the Greatest Treasure Hunt in History’ karya Robert M. Edsel, ini memang filmnya George Clooney. Where every director has a signature, bukannya tak pernah, tapi Clooney memang tak pernah benar-benar menyerah untuk berkompromi ke dalam budaya pop dalam film-film yang digarapnya sendiri, dimana subtext menjadi hal sangat penting dalam presentasi keseluruhannya.

TMM5

So, itu mungkin yang menjadi masalahnya. Di saat promo yang menonjolkan ensemble cast dibalik WW2 comedy adventure itu terkesan bakal menyajikan sesuatu yang seru, paling tidak seperti Ocean’s franchise dengan latar WW2, yang kita dapat sama sekali tak seperti itu. Lewat kolaborasi rutinnya dengan Grant Heslov, ‘The Monuments Men’ tetap punya elemen-elemen adventure dan comedy, namun ada subtext anti perang yang terus membatasi keseluruhan penyajiannya. Walaupun cukup kuat, mungkin ini jadi two sides of coins yang memberikan resepsi beda-beda bagi pemirsanya. Di saat penonton yang mengharapkan hiburan mungkin tak mendapatkannya secara cukup, bagi kritikus-kritikus serius, kompromi ini banyak dinilai masih kurang seimbang dalam patokan mereka. Anyway, here’s the plot.

TMM1

Di tahun 1943, saat Perang Dunia II berlangsung ke arah kemenangan sekutu, Lt. Frank Stokes (George Clooney) mendesak Presiden Truman untuk memberikan kepeduliannya terhadap ulah Hitler yang disinyalir mengambil kesempatan untuk mencuri benda-benda seni bersejarah saat menyerang negara-negara Eropa lawannya. Stokes pun membentuk satuan ‘The Monuments Men’ yang menggabungkan kurator seni, pengelola museum dan ahli sejarah bersama prajurit-prajurit sekutu untuk melacak keberadaan harta karun curian yang disembunyikan di berbagai tempat oleh Hitler. James Granger (Matt Damon), Richard Campbell (Bill Murray), Preston Savitz (Bob Balaban), Walter Garfield (John Goodman) dari pihak AS, Donald Jeffries (Hugh Bonneville) dari Inggris dan Jean Claude Clemont (Jean Dujardin) dari Perancis masing-masing ditugaskan ke lokasi berbeda, dan mereka harus bekerjasama dengan kurator museum di Paris, Claire Simon (Cate Blanchett) yang menyimpan dendam terhadap prajurit Nazi Viktor Stahl (Justus von Dohnányi) yang melarikan isi museum di depan mata Claire. Usaha itu ternyata tak berjalan mudah bahkan harus memakan korban diantara mereka, namun ini juga sekaligus jadi motivasi untuk terus menemukan benda-benda seni itu, kalau perlu berpacu dengan waktu sebelum pihak Rusia masuk menggantikan daerah-daerah dudukan Jerman setelah perang berakhir.

TMM6

Sebagai co-production dari Columbia – Fox bersama Studio Babelsberg yang didanai German Federal Film Fund (DFFF), setnya yang berlokasi dari Amerika, Inggris hingga Jerman memang memperlihatkan akurasi cukup baik, namun selebihnya merupakan loose adaptation dari kisah nyatanya. Sebagian besar nama karakternya diganti bersama jumlah keseluruhan ‘The Monuments Men’ yang dipadatkan menjadi hanya tujuh dari paling tidak puluhan orang yang benar-benar terlibat. Tapi ini jelas dilakukan Clooney yang menulis skripnya bersama Heslov untuk kepentingan storytelling agar tak lantas jadi terlalu melebar, walaupun harus mengorbankan sebagian akurasi sejarah aslinya. In true event adaptations, jelas juga sah-sah saja.

TMM2

Namun mereka memang sedikit keterusan dalam membagi kepentingan karakternya. Filled with well known names, some were even big ones, dalam ensemble cast itu, Selain terlalu samar di motivasi pemilihan karakter-karakter unlikely-nya, skrip Clooney dan Heslov terkesan sedikit mengesampingkan karakter non-Amerika untuk tujuan dramatisasinya. Kita bisa melihat masing-masing elemen wajib genre-nya yang disisipkan ke dalam plot-nya, termasuk juga homage-homage ke film WW2 klasik, namun elemen komedi satir yang berjalan bersama subtext anti perang yang terlihat lebih jelas pun tak menemukan balance yang pas dalam penceritaannya, begitu juga dengan sempalan lovestory antara James Granger dan Claire, belum lagi, meski ini adalah sebuah pilihan, terlalu sedikit kompromi dalam membangun ketegangan dibalik latar perang dunia yang paling tidak akan diharapkan oleh banyak penyuka genre WW2.

TMM7

However, informasi yang digelar sebagai latar real event-nya tetap terasa sangat menarik. Bersama subtext anti perang yang jelas terasa di subgenre yang biasanya jatuh ke tontonan pop ini, ‘The Monuments Men’ juga memberikan sedikit perbedaan. Meski Clooney kelihatan kelewat santai dengan gaya suave-nya sehingga kerap kehilangan emosi yang diperlukan dalam karakternya, tapi chemistry-nya dengan yang lain masih cukup baik. Kecuali Jean Dujardin bersama Bill MurrayBob Balaban yang lebih mendapat porsi duo untuk penempatan komedinya, tak ada yang terlalu spesial juga dengan John Goodman, Matt Damon dan Cate Blanchett, tapi toh tetap sulit untuk menolak paduan ensemble cast semenarik ini. Sinematografi dari award nominee DoP Phedon Papamichael dan scoring dari Alexandre Desplat juga mewarnai penggarapannya dengan bagus.

TMM10

With its ups and downs, ‘The Monuments Men’ jelas bukan film yang jelek. Ia boleh jadi tak sebaik film-film garapan Clooney yang lain atas balance yang tak terbangun dengan maksimal diantara elemen-elemennya, tapi tema dan historical trivias tentang the greatest art heist in history, indeed, yang disampaikannya tetap merupakan sesuatu yang penting serta menarik untuk disimak. Dan dengan deretan nama-nama di ensemble-nya, paling tidak ini bisa cukup mengobati kerinduan ke genre WW2 dan subgenre rarities-nya yang sudah semakin jarang muncul sekarang. (dan)

~ by danieldokter on March 31, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: