TRANSCENDENCE : A ROMANCE MASQUERADING AS A SCI-FI

TRANSCENDENCE
Sutradara : Wally Pfister
Produksi : Alcon Entertainment, DMG Entertainment, Straight Up Films, Warner Bros, 2014

TR12

Walaupun karirnya sebagai DoP baru benar-benar dikenal sejak kerjasamanya dengan Christopher Nolan di ‘Memento’ dan berlanjut ke film-film Nolan setelahnya, Wally Pfister sudah dikenal sebagai notable cinematographer di industri film mereka. Ditambah sejumlah award dan nominasi yang diperolehnya dalam rentang karir itu, one step ahead as a director tentu bukan tak beralasan. Dan jelas pula, sedikit banyaknya, style itu pasti ikut dipengaruhi oleh pendekatan Nolan di film-filmnya. ‘Transcendence’ yang menjadi debut Pfister sebagai sutradara pun masih punya nama Nolan serta istri sekaligus partner-nya Emma Thomas di kursi executive producers.

TR6

Dibalik ambisi itu, pilihan Pfister memang tak sembarangan. Tercatat sebagai salah satu skrip dalam HollywoodsThe Black List’ 2012 yang ditulis oleh Jack Paglen, juga penulis layar lebar debut yang sudah dikontrak menangani reboot layar lebar ‘Battlestar Galactica’ nantinya, premis ‘Transcendence’ yang akhirnya dirilis setelah disimpan sekian lama, juga terlihat sama ambisiusnya. Sesuai judulnya, istilah yang secara filosofi kerap digunakan dalam idealisme teologis itu membenturkan ekses teknologi dengan humanitas dan kelompok radikal berbasis agama. Trailer-nya mungkin tak jauh beda dengan genre sejenis yang berpremis mirip, dari ‘The Lawnmower Man’ bahkan ‘Terminatorfranchise, only somehow we could predict, kiprah Nolan dan Pfister tak mungkin sekedar linear-linear saja seperti yang lainnya. Dan Pfister masih punya kekuatan lain lewat ensemble cast yang sebagian sudah pernah bekerjasama dengan Nolan dan timnya, plus Johnny Depp yang banyak ditunggu bisa melepas typecast karakter Jack Sparrow dalam filmnya. Oh yeah, there will be a twist, tapi mungkin ini bukan sesuatu yang lazim menjadi bagian dari kolaborasi mereka sebelumnya.

TR4

Bersama istri sekaligus partner, Evelyn (Rebecca Hall) dan sahabatnya Max Waters (Paul Bettany), Dr. Will Caster (Johnny Depp) tengah mengembangkan A.I. (Artificial Intelligence) mutakhir lewat sebuah advance technology dari perangkat komputer canggih yang mereka namakan ‘Transcendence’ untuk merubah masa depan umat manusia. Rencana ini tak hanya memancing perhatian pemerintah yang mengutus agen FBI Donald Buchanan (Cillian Murphy) melalui staf ahli Joseph Tagger (Morgan Freeman), namun juga kelompok radikal technophobic R.I.F.T. (Revolutionary Independent From Technology) untuk bereaksi. Penyerangan yang dipimpin oleh Bree (Kate Mara) itu lantas melakukan sabotase di event launching-nya sekaligus berakibat fatal terhadap Will lewat peluru radioaktif yang ditembakkan oleh salah satu anggotanya (Lukas Haas). Mereka kemudian merancang tindakan untuk tetap mempertahankan pikiran Will di akhir hidupnya dengan meng-upload seisi otak Will ke perangkat itu. Mengecoh Bree dan R.I.F.T. yang kemudian menyandera Max sambil berusaha meyakinkannya, Will dalam bentuk A.I.-nya membangun sentra riset baru bersama Evelyn di sebuah kawasan terpencil lewat bantuan kontraktor lokal Martin (Clifton Collins, Jr.). Melanjutkan tujuan awalnya lewat rekayasa nanotechnology yang bisa mereparasi sel dalam kerusakan apapun, penemuan ini dengan cepat memicu harapan banyak orang setelah sebuah video menyebar secara viral, namun di sisi lain justru jadi tantangan baru terhadap eksistensi kemanusiaan. Baik R.I.F.T., Max, Joseph dan Donald yang akhirnya mengetahui lokasi mereka datang menyambangi dengan maksud masing-masing, namun kekuatan Will sudah terlalu jauh untuk bisa mereka hentikan, bahkan ketika Evelyn mulai goyah dengan hati dan kepercayaannya.

TR1

Okay. Panned by critics hingga hanya memperoleh belasan persen total penilaian di situs Rotten Tomatoes yang banyak jadi acuan generasi soc-med sekarang, ‘Transcendence’ memang punya sisi sangat rumit dalam penyampaian keseluruhannya. Bermain di visi-visi science versus humanity dengan sejumlah paradoks bahkan melebar ke aliran-aliran radikal lewat seabrek karakternya, skrip thought-provoking Jack Paglen memang sedikit terlihat kesusahan membangun fokusnya, terlebih ke kalangan penonton yang mungkin masih jarang-jarang mendengar potensi nanotechnology di terapan-terapan rekayasa seluler masa depan sebagai subjek krusial jauh melebihi A.I. computer machine yang seolah hanya jadi media untuk mengembangkan ide itu. Tak heran kalau lantas banyak orang menganggap sisi sci-fi nya kelewat jauh melewati batas yang ada sekarang. Dinilai too much dan keterlaluan, konflik antara teknologi komputer dan cell repairing system-nya jadi sedikit tumpang tindih buat membangun tema ‘machine goes amok’ yang seharusnya cukup klise dalam genre-genre sejenis.

TR2

Lantas, pengarahan Pfister dalam debut penyutradaraannya ini pun agaknya masih cukup jauh dari sempurna. Seakan tak mampu memancing talenta-talenta nama besar dalam ensemble cast ini untuk tampil secara maksimal, kecuali Depp-Hall dan sedikit lebih untuk Bettany, karakter-karakter lainnya pun tak dikembangkan lebih detil dalam motivasi turnover-nya. Baik Kate Mara yang sebatas penggerak kelompok ekstrimis tanpa jiwa, Morgan Freeman dan Cillian Murphy, Clifton Collins, Jr. yang tak bisa memberi penekanannya sebagai benang merah penting dalam pergerakan plotnya, sampai yang terparah, Cole Hauser dan Falk Hentschel yang terpaksa melewatkan penampilan mereka secara terbatas sebagai algojo-algojo tak penting. Chemistry Depp dan Hall sangat kuat, namun selagi Hall berhak mendapat kredit terbesar atas heartfelt performance-nya yang betul-betul bagus, Depp hanya bagus saat berubah wujud menjadi A.I.-nya, sementara sebagai Will asli masih menyisakan sedikit jejak-jejak karakter Sparrow di penyampaian dialognya yang malas-malasan. Bettany cukup baik sebagai karakter yang dijadikan storyteller keseluruhan plot-nya, namun dillematic turnover-nya tetap tak begitu maksimal untuk terlihat benar-benar believable.

TR7

However, baik Paglen dan Pfister mungkin memang sedang menyamarkan konklusi mereka atas twist utama yang ada di dalamnya lewat segala tetek-bengek sci-fi itu. Jauh lebih dalam daripada thought-provoking science versus humanity conflict yang digelar sebagai highlight utama dalam wujud ‘Transcendence’ sebagai sebuah hi-tech blockbuster lengkap dengan adegan-adegan aksi dan efek spesial, basic plot-nya lebih dalam terasa sebagai sebuah love story yang sangat menyentuh. Pfister sebenarnya sudah memulai semuanya dengan penekanan dramatis sangat kuat di bagian-bagian awal. Ia tak langsung membenturkan science dan pertanyaan-pertanyaan humanitasnmya ke ranah love story semacam ‘Her’, tapi menggunakan DoP Jess Hall seolah jadi mata kedua penyampaian sinematografi yang tetap terlihat sangat Pfister serta scoring Mychael Danna, atmosfer romantisasi itu tetap bisa menyeruak dengan baik di tengah-tengah unsur sci-fi-nya. Hanya saja ia sedikit melupakan elemen ini di second act ke awal-awal klimaksnya dengan bombardir action scenes hingga mendekati konklusi twist and turn cukup unik yang akhirnya membuat ‘Transcendence’ kembali jadi sangat cantik dan solid sebagai sebuah romance driven sci-fi. Bahwa pada akhirnya, kita bisa jelas melihat penyematan elemen-elemen sci-fi versus humanity itu, no matter how thought-provoking, memang hanya sekedar topeng untuk menyampaikan kisah-kisah ala Rahwana dalam nafas ‘how far would you go for someone you loved’ diatas sebuah romance genre dan konklusi yang sebenarnya hendak mereka bangun.

TR5

So, seperti banyak sci-fi lain yang masih harus berurusan dengan persepsi-persepsi beda penontonnya terhadap pendekatan teknologi yang dijadikan subjek utamanya, tak heran kalau ‘Transcendence’ akan memicu resepsi-resepsi yang mixed dan sangat bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Those who loved a romance driven sci-fi akan dengan mudah bisa menyukainya, tapi sebagian lagi akan keberatan dengan elemen sci-fi yang mereka anggap melebar serta keluar jalur. Just put it like this. See it by science versus humanity, you might be lost in the middle. See it by heart, you got yourself a moving and wonderful love story. I’d gladly prefer this as a date movie, and if you’re with me, go see it and don’t listen to such bad critics. A romance masquerading as a sci-fi genre, and still, a very fascinating one! (dan)

TR11

~ by danieldokter on April 18, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: