ME & YOU VS THE WORLD : LOVE AMONG AGE GAP

ME & YOU VS THE WORLD
Sutradara : Fajar Nugros
Produksi : PT Rapi Films, 2014

MYW2

Masih ingat taglineEndless Love’ versi asli tahun 1981 yang merupakan adaptasi dari novel karya Scott Spencer? It sounded like this ; She’s 15. He’s 17. The Love Every Parents Fear. Apa yang dipaparkan dalam plot-nya adalah sebuah bad influence bagi usia si gadis yang dianggap belum benar-benar dewasa, disamping tambahan beberapa aspek dalam karakterisasi pasangan yang tak begitu jauh terpaut usia di tengah gejolak hormonal remaja keduanya. Then consider this. Diatas banyak alasan-alasan dari interaksi sosial sampai kesehatan dibalik usia marital yang dianjurkan, walau bukan juga konsensus resmi, sebenarnya seorang pria dianjurkan memilih jodoh yang memiliki tautan usia beberapa tahun di bawahnya, karena perbedaan proses hormonal kedua gender ini yang biasanya menempatkan wanita di atas usia 30 tahun cenderung lebih tua dari usia sebenarnya. Catat lagi, itu anggapan rata-rata.

MYW6

Kalau mau tahu lebih jelas, silahkan baca-baca lebih jauh. Pendapat tiap orang bisa saja berbeda tanpa adanya patokan pasti, tapi yang jelas beda usia terlalu jauh pun jelas dianggap tak pantas. Toh novel asli karya penulis Stanley Meulen yang dijadikan source film ini pun bukannya seperti film-film yang secara ekstrim memandang age gap sebagai konflik fisik dan psikologis sangat krusial seperti ‘Lola’ (Richard Donner, 1970) atau beberapa versi ‘Lolita’, bahkan kalau mau dibandingkan dengan film kita ‘I Love You, Om’. Lagi-lagi ini adalah perbedaan persepsi. Jika diulik, cukup banyak komen miring tentang source asli yang memuat percintaan seorang pria berusia 28 tahun dengan siswi sekolah 14 tahunan (disini jarak usia itu dikecilkan lagi), dimana perbedaan rentang usia ini sudah dianggap sebagai pedophile act oleh banyak generasi muda sekarang. Lagi-lagi, ini tergantung beda-beda persepsi. Kalaupun ada konsekuensi tertentu dalam hubungan seperti itu, sah-sah saja, terutama seperti yang lebih terasa difokuskan ke dalam plotnya, di masalah-masalah perhatian terhadap proses pendidikan formal yang masih berjalan. Tapi apakah rentang usia itu lantas bisa jadi konflik kuat dengan persepsi sama buat semua orang? Buat sebagian yang memiliki kesamaan pengalaman dan menemukan konflik, mungkin saja sangat klik dengan plot-nya, tapi bagi sebagian lagi, belum tentu. Apalagi, dengan penempatan cast yang tak bisa juga terlalu jelas menekankan age gap-nya. But however, adaptasi ini memang lebih ditujukan buat sebuah hiburan, hingga merubah beberapa aspek hingga setting-nya sampai ke India.

MYW3

Bersama sahabatnya Baron (Gofar Hilman), Jeremy (Rio Dewanto), pria 26 tahun pencinta alam dan extreme sports yang tengah meniti karir di perusahaan event organizer lewat konsep paket ‘Menaklukkan Dunia’ mempromosikan idenya ke sekolah-sekolah. Disanalah Jeremy kemudian bertemu dengan Sera, bintang sekolah di SMU-nya, yang kemudian terpaksa mengikuti teman-temannya ke acara rafting yang digelar Jeremy. Walau awalnya perkenalan itu tak mulus, lama kelamaan Sera dan Jeremy mulai jatuh cinta. Salahnya, Jeremy terlalu dalam membawa Sera menyelami dunia dan hobinya, hingga prestasi sekolahnya mulai menurun dan mau tak mau membuat ayah dan ibu Sera (Bucek dan Zoya Amirin) ikut turun tangan terhadap hubungan terpaut perbedaan usia ini.

MYW4

Tak ada yang terlalu salah dengan storytelling Fajar Nugros yang memang sudah cukup terbiasa menangani genre dengan pangsa penonton yang tak jauh berbeda dengan film-filmnya yang lain, namun kekurangan terbesar ‘Me & You Vs The World’ agaknya ada pada skrip Endik Koeswoyo (juga menulis skrip ‘Kesurupan Setan’ yang dirilis bersamaan) dalam menerjemahkan potensi-potensi konflik yang tertuang dalam plot novel aslinya. Selain mengecilkan perbedaan usia, mungkin karena kepentingan pemilihan cast-nya, salahnya Endik nyaris menghilangkan detil-detil latar karakterisasi dua tokoh utamanya yang sekilas digambarkan cukup bertolak belakang pada awalnya. Baik penempatan karakter mantan kekasih Jeremy yang diperankan Manohara dan tato di sekujur tubuh Jeremy terasa hanya bagai penjelasan dangkal, dan juga membuat motivasi turnover karakter Sera dari seorang cewek kutubuku menjadi remaja liar yang bosan dengan rutinitasnya jadi kurang jelas. Dan yang terparah, terlalu sibuk dengan proses hura-hura petualangan Jeremy-Sera, plot itu jadi sedikit meninggalkan ‘The World’ yang seharusnya bisa jadi metafora menarik di tengah konflik-konfliknya. Apa yang hadir akhirnya seakan tak punya konflik jelas dibalik hubungan beda usia itu, hanya menyisakan ekses dangkal soal pendidikan Sera yang berantakan, or at least, karir Jeremy sebagai satu-satunya konflik dalam tantangan hubungan mereka.

MYW5

Though however, sebagai hiburan, ‘Me & You Vs The World’ bisa bekerja dengan cukup baik oleh penampilan Rio Dewanto dan debut Dhea Seto (meskipun satu lagi filmnya yang diarahkan Nugros, ‘Luntang-Lantung’ sebenarnya syuting lebih dulu). Chemistry mereka masih hit & miss di beberapa adegan, namun Dhea cukup bisa mengimbangi passionate act Rio untuk menerjemahkan proses ketertarikan yang sedikit diubah dari novelnya untuk tak kelihatan kelewat instan. Paling tidak, masing-masing terlihat sangat berusaha menghidupkan karakter mereka di tengah skrip yang lumayan berantakan itu.

MYW7

Pemeran-pemeran pendukungnya juga cukup baik, terutama Gofar Hilman, Bucek dan Ashilla Zahrantiara, jebolan Idola Cilik yang ikut mengisi theme songMe & You’ yang cukup catchy dan terdengar seperti theme song sinetron era ’90-an. Dan walau memang lebih dipenuhi adegan outdoor sports untuk memberi penekanan hiburannya, adegan-adegan itu bisa jadi sisi cukup menarik bersama tentu saja pemindahan set-nya yang jauh-jauh syuting hingga ke India untuk menyorot eksotisme beberapa tourism sites-nya, dari kekumuhan Delhi ke Jaipur dan Agra dengan tampilan Taj Mahal-nya. Bersama cameo Atiqah Hasiholan dan Piyu, meski hanya terbatas bak asesoris dengan menyisakan salah satu end credits bonus scene di tengah perayaan Holi dibalik penggunaan lagu ‘Balam PichkariVishal Dadlani dan Shalmali Kholgade dari ‘Yeh Jawaani Hai Deewani’ bukan benar-benar jadi bagian filmnya, scene ini harus diakui bisa memberikan feel entertaining cukup meriah di penghujungnya. Yes, ‘Me & You Vs The World’ mungkin gagal untuk benar-benar mengangkat konfliknya, tapi faktor-faktor ini bisa menyelamatkannya sebagai tontonan yang cukup menghibur, dan jelas jauh lebih layak ketimbang dua film Indonesia lain yang hadir pekan lalu. (dan)

MYW1

~ by danieldokter on April 21, 2014.

2 Responses to “ME & YOU VS THE WORLD : LOVE AMONG AGE GAP”

  1. Terimakasih reviewnya Om Daniel… Smeoag kedepan saya bisa menulis lebih baik lagi… Salam Hangat…

  2. Amiin. Salam kenal mas Endik. Semoga terus berkarya demi kemajuan film kita ya🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: