THE OTHER WOMAN : ODD PAIRINGS AND SWEET REVENGE COMEDY RARITIES

THE OTHER WOMAN
Sutradara : Nick Cassavetes
Produksi : LBI Productions, 20th Century Fox, 2014

TOW7

Walau menyandang nama sutradara John Cassavetes dan aktris Gena Rowlands sebagai orangtuanya, awal-awal karir Nick Cassavetes sebagai aktor di Hollywood bukanlah sesuatu yang pantas dibanggakan. Berjuang di peran-peran kecil hingga kerap muncul di sejumlah B-grade erotic flicks seperti ‘Body Of Influence’ atau ‘Sins Of The Night’ setelah ‘The Delta Force 3’ juga tak mampu menyamai pendahulunya, tanpa disangka, ia beralih menjadi scriptwriter/director yang seketika banyak dilirik kritikus lewat ‘Unhook The Stars’ dan ‘She’s So Lovely’ yang dirilis berturut-turut di tahun 1996 dan 1997 dalam pergerakan trend produksi-produksi independen Miramax Pictures. Terlebih ‘She’s So Lovely’ menjadi tonggak dari kiprah Nick sebagai acclaimed director karena bukan saja mengangkat skrip milik ayahnya 8 tahun setelah meninggal, tapi juga mengantarkan Sean Penn meraih Best Actor di Cannes 1997.

TOW10

Dan tak hanya itu, dua film itu sekaligus menunjukkan signature Nick sebagai sutradara pria yang mampu mengeksplorasi femininity issues secara mendalam, yang tetap dilanjutkannya dalam ‘The Notebook’ (2004), ‘My Sister’s Keeper’ (2009), ‘Yellow’ (2012), dan film terbarunya ini. Mengangkat atmosfer feminisme yang kental, namun kali ini bermain di wilayah pure comedy lengkap dengan sick jokes-nya, The Other Woman’ juga membidik tema sweet revenge yang sudah jarang disentuh Hollywood sejak, mungkin yang paling diingat, ‘The First Wives Club’ dulu. So yes, biar tak akrab bagi Hollywood tapi sering jadi resep generik di film-film Asia termasuk Indonesia, Nick adalah orang yang tepat untuk mengarahkan ‘The Other Woman’. Apalagi penulisnya, Melissa Stack, juga tengah menyiapkan skrip Black List-nya ‘I Want To F— Your Sister’ dalam sebuah film arahan Paul Feig (‘Bridesmaids’) yang kurang lebih punya nuansa sama dengan ‘The Other Woman’. Namun highlight ammo-nya adalah kolaborasi Cameron Diaz dengan Leslie Mann a.k.a. Ms. Judd Apatow, yang tentu akan memberi pendekatan berbeda dalam nafas komedi ala Apatow seperti di film-filmnya yang biasa.

TOW1

Carly (Cameron Diaz), wanita karir yang masih hangat-hangatnya menjalin hubungan dengan Mark (Nikolaj Coster-Waldau) tak pernah menyangka kalau Mark ternyata seorang pria beristri. Atas saran ayahnya, playboy tua Frank (Don Johnson), Carly yang nekat menyambangi Mark ke rumahnya pun akhirnya berjumpa dengan Kate (Leslie Mann), istri Mark. Kate yang bisa membaca situasi ini lama kelamaan mulai dekat dengan Carly dan malah menemukan kenyataan bahwa Mark juga tengah mengencani Amber (Kate Upton), wanita dengan usia jauh dibawah mereka. Menyadari mereka semua adalah korban kenakalan Mark, terlebih Kate yang digunakan Mark untuk menjalankan bisnis kotornya, tiga wanita ini mulai merancang pembalasan telak baginya.

TOW11

Mostly for women, femininity issues dalam ‘The OtherWoman‘ yang menjadikan tiga karakter utamanya sebagai korban yang lantas berdiri bersama membela kaumnya, meski bangunan komedinya akan sangat klise, jelas akan sangat mengenai sasarannya. While everyone of us could see the generic third act dimana karakter Mark dijadikan bulan-bulanan dalam sebuah sweet revenge comedy pattern, ini tak ubahnya seperti film-film ala ‘Home Alone’ yang bakal membantai habis tokoh antagonisnya di penghujung cerita. All in the name of comedy. Mau dicela banyak kritikus yang seakan menolak generalisasi ini dalam bentuk slapstick comedy sekalipun, mungkin karena banyak femininity issues dalam sebuah komedi akhir-akhir ini punya pendekatan berbeda, ‘The Other Woman’ memang punya resep jitu buat pemirsa wanita, terutama penonton-penonton Asia.

TOW4

Toh sebenarnya skrip Melissa Stack tetap terlihat menolak untuk menjadikannya benar-benar se-klise yang banyak dituduhkan ke filmnya. Dengan sensitifitas lebih Nick Cassavetes mengeksplorasi tema-tema yang sangat wanita, ia tetap mencoba menyelipkan dramatisasi ke dalamnya, terutama lewat karakter Kate yang diperankan Leslie Mann dengan awkward comedic style-nya yang sudah banyak kita saksikan di film-film lain. Cameron Diaz juga bukan tak bagus. Meski nyaris terlihat kelewat tua untuk bersanding dengan Mann sebagai the other woman, signature komedinya yang menjual slapstick penuh ketololan seperti biasa itu juga masih ampuh buat mengundang tawa, sementara ada model Kate Upton yang hadir ke tengah-tengah sebagai penyeimbang lewat pameran tampilan seksinya, plus Nicki Minaj buat meramaikan kolaborasi ini. Dan tentu menarik menyaksikan transformasi Nikolaj Coster-Waldau ke genre komedi. Meski bukan berarti ia tak pernah terjun ke genre lain selain thriller atau action di film-film negara asalnya, Denmark, sosoknya memang lebih dikenal lewat peran-peran gahar seperti dalam ‘Game Of Thrones’. Masih ada Taylor Kinney yang harusnya cukup penting namun tak mampu berbuat lebih dan terakhir, Don Johnson, di tengah tampilannya yang makin menua juga masih sangat bekerja membuat ‘The Other Woman’ jadi makin menarik bersama lagu-lagu pengisi soundtrack lintas generasinya dari Cyndi Lauper, Air Supply ke Lorde dan theme songI’m Coming Out‘ versi Keyshia Cole.

TOW3

Sayangnya ‘The Other Woman’ punya satu kekurangan yang meski tak sampai fatal namun cukup mengganggu. Mann dan Diaz yang diserahi kesempatan penuh untuk menampilkan comedic signature-nya masing-masing sayangnya terlihat kelewat asyik bermain sendiri-sendiri, membuat chemistry dalam kolaborasi mereka jadi kerap mengalami hit and miss tanpa mampu membentuk blend yang sempurna, juga meninggalkan Kate Upton seperti pelari yang terlalu sulit mengejar keduanya, even with boobs play yang sudah dieksploitasi sedapat mungkin. But then again, what the heck. Tujuan ‘The Other Woman’ sesuai genre-nya toh buat memancing tawa. Selagi plot sweet revenge dan tema-tema ‘sisters are doin’ it for themselves’-nya mampu membuat kita terhibur dengan pattern yang menempatkan sang antagonis benar-benar di-push menjadi bulan-bulanan di penghujungnya, ini jelas sama sekali bukan komedi yang gagal. They might formed the odd pairs yang tak sejalan antara maksud dengan pencapaian akhirnya, tapi untuk tema yang sudah jarang-jarang muncul di feminine comedy, ‘The Other Womanis still freshly hilarious. (dan)

TOW12

~ by danieldokter on April 30, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: