THE AMAZING SPIDER-MAN 2 : RISE OF ELECTRO ; BIGGER, LOUDER AND BETTER

THE AMAZING SPIDER-MAN 2 : RISE OF ELECTRO
Sutradara : Marc Webb
Produksi : Columbia Pictures, Marvel Entertainment, 2014

TASM217

Berpindah ke tangan Marc Webb dengan reboot yang banyak dianggap terlalu cepat, ‘The Amazing Spider-Man’ (2012) ternyata mampu menampilkan banyak sisi beda dengan presentasi Sam Raimi terhadap salah satu karakter komik superhero Marvel paling dikenal ini. Lewat skrip James Vanderbilt, Alvin Sargent dan Steve Kloves, Webb membesut versi yang lebih setia ke nafas komik klasik Spider-Man, a teenage romance masquerading as superhero genre, dengan chemistry apik Andrew GarfieldEmma Stone dan origin process yang lebih logis. Walau masih dipenuhi efek CGI plus gimmick 3D yang tentu akan bekerja sekali untuk Spidey’s web swinging scenes dan adegan aksi sebagai resep wajib sebuah blockbuster superhero, versi Webb memang terasa jauh lebih lembek dari Raimi, tapi heart factor yang ditambahkan ke dalamnya, mengeksplor lebih intim family relationship Peter Parker ke Uncle Ben – Aunt May dan love story-nya dengan Gwen Stacy juga adalah sebuah kekuatan lain, dan yang terpenting, ia memunculkan salah satu trademark Spider-Man yang luput menjadi fokus Raimi ; a loud and big-mouthed Spidey saat beraksi menumpas kejahatan.

TASM25

Bertengger di urutan ke-7 film terlaris 2012 dengan perolehan worldwide lebih dari 700 juta dolar AS, tentu membuat franchise barunya layak mendapat treatment lebih. Berbeda dengan banyak franchise plan sejenis, Sony Entertainment pun menggagas ‘The Amazing Spider-Man’ sebagai quadrilogy instead of a trillogy, lengkap dengan planning tambahan yang dipublikasikan belakangan, kesempatan besar terhadap dua spin-off, ‘Venom’ dan ‘The Sinister Six’ yang bakal menggamit Alex Kurtzman dan Drew Goddard masing-masing sebagai sutradaranya. Sekuel ini sendiri sempat mengalami beberapa masalah, dari skrip Vanderbilt yang akhirnya ditulis ulang oleh Alex Kurtzman dan Roberto Orci ; duo produser dan penulis yang sudah terbukti punya visi luarbiasa meng-handle produk-produk franchise dan nyaris tak pernah mengecewakan geeky fans-nya, bersama Jeff Pinkner yang juga sudah bekerjasama dengan mereka di serial ‘Alias’ dan ‘Fringe’, hingga porsi Shailene Woodley sebagai Mary Jane yang dihapus setelah sempat di-shoot, membuyarkan keikutsertaannya di instalmen selanjutnya.

TASM212

Toh bukan berarti Kurtzman-Orci plus Spinkner kemudian melencengkan fondasi yang sudah dibangun Vanderbilt di instalmen awalnya. Tetap berpegang ke elemen-elemen jagoan yang membuat reboot barunya jadi sangat kuat, mereka menambahkan banyak hal dari tribute ke theme animasi klasiknya, unfolding twist ke origin story yang masih disimpan di film pertama, pemilihan villain dengan beberapa inovasi baru serta porsi aksinya sebagai produk summer blockbuster, bahkan merombak sedikit pola awalnya untuk menggali salah satu sisi paling kelam sejarah komiknya dari comic series The Amazing Spider-Man #121-122 (Juni – Juli 1973) yang cukup legendaris itu. Pemilihan Jamie Foxx sebagai Electro mungkin sedikit mengkhawatirkan, begitu pula kisah Green Goblin dan Harry Osborn, belum lagi setup-setup ke villain terkenal lainnya termasuk Paul Giamatti dan isunya memerankan Rhino, namun cast Dane DeHaan sebagai Harry juga menyimpan potensi eksplorasi yang cukup menjanjikan.

TASM214

Dibalik dilemanya atas pesan terakhir kapten George Stacy (Denis Leary), Peter Parker (Andrew Garfield) yang baru saja lulus sekolah memilih mundur dari hubungan naik turunnya dengan Gwen Stacy (Emma Stone) sambil terus melanjutkan kiprahnya sebagai Spider-Man. Namun kembalinya sahabat masa kecilnya Harry Osborn (Dane DeHaan), pewaris OsCorp industries ke Manhattan untuk menggantikan sang ayah, Norman Osborn (Chris Cooper) yang digerogoti penyakit genetik misteriusnya membuat timbulnya masalah baru. Bukan saja ambisi Harry yang ternyata mewarisi penyakit Norman, tapi juga mendorong Peter untuk kembali menelusuri jejak eksperimen ayahnya, Richard Parker (Campbell Scott), yang menghilang tiba-tiba sejak masa kecilnya. Sementara pekerja OsCorp, Max Dillon (Jamie Foxx) yang sempat diselamatkan Peter di sebuah insiden mengalami kecelakaan yang merubahnya menjadi generator hidup bernama Electro.

TASM213

Mengiringi proses unfolding plot ke origin story yang masih dibiarkan terbuka di instalmen pertamanya, ‘The Amazing Spider-Man 2’ dibuka dengan rentetan opening scene penuh aksi sangat seru dibalik a show of tribute dan gimmick 3D yang bekerja dengan sempurna sebagai eye-popping cinematic treatment-nya. Sambil memasukkan setup-setup ke plot selanjutnya, skrip Kurtzman – Orci dan Pinkner terasa sangat terstruktur dengan rapi untuk perkenalan satu demi satu karakter barunya. Mungkin ada sedikit ketimpangan dalam peletakan fokus villain yang dijadikan subjudul dengan penggabungan source yang sebenarnya jauh lebih penting sebagai klimaks sangat menyayat yang mereka pilih bersama resiko durasi yang agak melebar serta final showdown yang bagi sebagian orang tak bisa menyaingi opening scene-nya, tapi tetap tak lantas jadi tumpang tindih antara satu dengan yang lainnya. Dan satu hal terbaik, mereka sekaligus meletakkan clue-clue menuju pengembangan sekuelnya nanti, juga dalam pembagian setup yang kuat di sepanjang film menuju klimaks yang kembali dipenuhi homage bagi fans dan pembaca komiknya, meskipun tampilan villain baru di penutupnya mungkin akan menuai banyak protes. Dengan cepat, adegan penutup itu bisa menggantikan atmosfer heartfelt-nya menjadi sebuah show of sheer ecstasy yang luarbiasa keren.

TASM216

Tetap berjalan diatas fondasi dramatisasi dan romansa menyentuh lewat family relationships dan lovestory Peter – Gwen plus kisah persahabatan Peter – Harry yang saling terhubung dengan keseluruhan plotnya, chemistry diantara cast-nya juga terasa begitu hidup. Sambil memberikan batasan akting yang asyik saat menjadi Peter Parker dan Spider-Man, Andrew Garfield kelihatan kian masuk ke dalam perannya, membangun chemistry sempurna dengan semua lawan mainnya, terutama Emma Stone. Sebagai Harry, Dane DeHaan juga kembali menampilkan signature introvert badboy-nya yang cukup eksplosif, sementara Jamie Foxx, walaupun sedikit terlihat agak aneh saat menjadi Electro dengan polesan CGI-nya, tampil sangat terjaga dengan pendalaman psikologis yang baik sebagai Max yang memiliki kecenderungan narsisistik terpendam. Karakter-karakter baru lainnya juga cukup kuat meski tak mendapat banyak kesempatan, dari Colm Feore, Felicity Jones yang pasti bakal diketahui fans punya potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu karakter komiknya dan Paul Giamatti yang tampil sangat berbeda dari biasanya. Masih ada Campbell Scott dan Embeth Davidz yang mengulang perannya, dan Sally Field, sekuat predikat keaktorannya memerankan Aunt May dengan sempurna.

TASM23

Di sisi teknis, sekuel ini juga tak kalah bagus. Sinematografi Daniel Mindel, DoP cukup senior yang sudah beberapa kali bekerjasama dengan Kurtzman – Orci, pace editing dari Pietro Scalia dan Elliott Graham bersama tim efek spesial dari Sony Picture Imageworks dan Ironhead Studios membagi adegan-adegan web swinging yang cantik dengan aksi Spider-Man di level yang sangat jauh meningkat dibanding instalmen pertamanya. Kostum baru Spider-Man yang lebih dekat ke komiknya juga oke, dan keputusan untuk menyerahkan porsi scoring dari James Horner ke Hans Zimmer menyajikan sisi baru yang sangat fresh. Membentuk grup kolaborasi The Magnificent Six yang diisi Johnny Marr dari The Smiths, Michael Einziger dari Incubus, Junkie XL (Tom Holkenborg), David A. Stewart, Andrew Kawczynski dan Steve Mazzaro plus Pharrell Williams, main theme dan scoring barunya tampil sangat heroik, epik dan melodius sekaligus dipenuhi mash-up berbagai genre dari dubstep, RnB hingga rock yang sejalan dengan pemilihan nomor-nomor soundtrack dan theme songIt’s On Again’ dari Alicia Keys featuring Kendrick Lamar yang jarang-jarang dijumpai di genre sejenis sebelumnya.

TASM211

So yes, kolaborasi Kurtzman dan Orci, kali ini ditambah Pinkner, sekali lagi sudah menunjukkan kepiawaian mereka menangani franchise-franchise sejenis dengan fanbase sangat luas. It might still has some flaws, tapi pencapaiannya harus diakui sudah menyamai ‘Spider-Man 2’ milik Sam Raimi sebagai sekuel yang jauh lebih eksplosif dari pendahulunya, apalagi versi Webb dilengkapi dengan heart factor dan struktur dramatisasi sangat kuat. With new costume, new theme, without ever losing its true pulse of romance, ‘The Amazing Spider-Man 2is bigger, louder and better! See it only, only in 3D! (dan)

TASM215

Some tips, jangan buru-buru keluar (kecuali Anda menyaksikan versi IMAX-nya) karena ada mid credits sceneX-Men : Days Of Future Past’ sebagai kesepakatan promo antara Webb dan kontraknya dengan Fox walaupun kemungkinan crossover antara dua franchise Marvel di luar Marvel Studios ini dibantah. Bagi pengguna aplikasi Shazam, akan ada fitur tambahan juga untuk the upcomingThe Sinister Six’. Enjoy!

~ by danieldokter on May 1, 2014.

One Response to “THE AMAZING SPIDER-MAN 2 : RISE OF ELECTRO ; BIGGER, LOUDER AND BETTER”

  1. Flmnya lc,tp mlh Sad ending,huff. apakah dicerita komiknya,karakter Gwen memang mati? dan syng bngt g bs lht teaser X-Men: Days of Future Past krn wkt credit title mlah dimatiin ma phk bioskop, ughh nyebelin!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: