SEBELUM PAGI TERULANG KEMBALI : A GLIMPSE TO INDONESIAN CLASSIC CINEMA

SEBELUM PAGI TERULANG KEMBALI
Sutradara : Lasja F. Susatyo
Produksi : Cangkir Kopi, 2014

SPTK12

Tak semua film dibalik kepentingannya sebagai media kampanye ataupun PSA (Public Service Announcement) itu salah. Tergantung tujuan dan cara penyampaiannya, ia tak juga harus menanggalkan estetisme-nya sebagai sebuah tontonan yang baik. Meneruskan kiprah mereka dari omnibus yang lebih terang-terang berupa PSA namun dikemas secara berbeda, ‘KvsK (Kita Versus Korupsi)’ tempo hari, M. Abduh Aziz dan Cangkir Kopi kini menggagas sebuah feature berjudul puitis, ‘Sebelum Pagi Terulang Kembali’ yang disutradarai Lasja F. Susatyo dari salah satu segmen omnibus itu. Tetap didukung oleh KPK, TII (Transparency International Indonesia), MSI (Management System International), USAID, ICW (Indonesian Corruption Watch) serta beberapa NGO dan media lain terkait tujuannya, template-nya memang masih berupa kampanye antikorupsi.

SPTK8

Sebagai pejabat pemerintah yang lurus, Yan Prasetyo (Alex Komang) bersama istrinya, Ratna (Nungki Kusumastuti), seorang dosen filsafat di universitas sayangnya tak bisa menurunkan idealisme mereka ke tiga orang anak dengan masalah berbeda. Firman (T. Rifnu Wikana), anak sulung mereka adalah pengangguran yang baru saja ditinggal istrinya dan malah main api dengan Nisa (Maryam Supraba), istri Jaka (Ringgo Agus Rahman), supir pribadi kesayangan Yan. Sementara si bungsu Dian (Adinia Wirasti) malah masuk ke dalam kehidupan hedonis Hassan (Ibnu Jamil), anggota dewan yang haus kekuasaan dan mengandalkan koneksi kotor rekan-rekan pejabatnya. Pun begitu halnya dengan Satria (Fauzi Baadila) yang terlihat sangat mandiri namun menyimpan ambisi yang selama ini dirasanya dibayang-bayangi idealisme sang ayah. Semua masalah ini akhirnya memuncak saat ambisi Satria mulai melanggar batas atas bujukan Hassan lewat sebuah tender proyek yang ditanggungjawabi Yan, sementara Nenek Soen (Maria Oentoe), ibu Yan, hanya bisa menjadi saksi dari kehancuran pelan-pelan keluarga ini.

SPTK9

Ketimbang tampil terang-terangan lewat sebuah kampanye antikorupsi dengan narasi investigatif yang serba gamblang, penulis skrip Sinar Ayu Massie yang juga merupakan salah satu penulis dalam ‘KVsK’ serta dua film Lasja sebelumnya, ‘Mika’ dan ‘Cinta Dari Wamena’ lebih menyorot metafora kehidupan keluarga dalam penyampaian human values itu. Membidik terms ‘korupsi’ sebagai bentuk dekadensi berbeda kaum urban dari karakter-karakternya secara manusiawi dan serba down to earth, konflik-konflik yang digelarnya dengan benturan-benturan realitas dengan idealisme itu sekaligus mengeksplorasi sebuah kekuatan integritas dari bentuk terkecil interaksi sosial bernama keluarga.

SPTK7

Di satu sisi, ini menciptakan kekuatan bagi ‘Sebelum Pagi Terulang Kembali’ tak hanya sebagai sebuah media kampanye namun juga dramaturgi yang taktis dalam wujudnya sebagai sebuah family drama. Sayangnya, eksplorasi keluarga ini juga sekaligus jadi bumerang ke pace film atas narasi yang ada. Sinar kelihatan kelewat fokus membelit konflik itu seakan ingin mencakup semua realitas yang ada lewat bangunan character driven script dengan jumlah karakter seabrek tanpa habis-habisnya sepanjang tigaperempat film, bahkan dengan penambahan karakter lagi dan lagi, meninggalkan fokus lain dibalik kampanye antikorupsi berikut garis akhir third act-nya. Walau tetap jadi salah satu konfilk yang tak lantas tertinggal dalam pergerakan penceritaannya, konklusinya jadi terasa sangat terburu-buru dibalik durasi yang sudah berjalan cukup panjang.

SPTK4

Begitupun, hal terbaik dalam ‘Sebelum Pagi Terulang Kembali’ memang ada di ensemble cast-nya. Hadir dengan chemistry luarbiasa, seluruh cast-nya kelihatan tak main-main dengan kualitas keaktoran mereka. Alex Komang, Nungki Kusumastuti, T. Rifnu Wikana, Adinia Wirasti luarbiasa bagus, Maria Oentoe dengan kekuatan voice acts jempolannya, bahkan Fauzi Baadilaa yang biasanya bermasalah dengan over-expressive acts di film-filmnya, membentuk penyatuan yang baik sebagai sebuah keluarga. Bahkan dalam konflik-konflik yang luarbiasa digelar memuncak oleh skrip Sinar, pengarahan Lasja tak pernah melupakan gambaran kehangatan dalam interaksi karakter mereka sebagai keluarga, yang tetap menyeruak memberikan sentuhan kuat dalam dramatisasinya.

SPTK5

Pemeran-pemeran pendukungnya pun tak kalah bagus. Maryam Supraba, Ringgo Agus Rahman, Ibnu Jamil, Sabai Morscheck, Joko Anwar, Richard Oh, Yayu A.W. Unru, Arswendi Nasution, Inong Ayu hingga Roy Marten pun tetap bisa bekerja dengan baik di tengah padatnya penokohan multikarakter yang digelar Sinar dalam skripnya. Seorang rekan sempat mengatakan betapa ‘Sebelum Pagi Terulang Kembali’ mampu melepas rasa kangennya terhadap ‘drama rumahan’ dalam sejumlah film klasik kita seperti ‘Ibunda’, ‘Pacar Ketinggalan Kereta’ dan beberapa film Teguh Karya lainnya, lantas film-film seperti ‘Ayahku’, ‘Kembang Semusim’ atau banyak lagi yang sudah hampir pupus sejak awal ’90-an. I believe, ini lebih mengarah pada sebuah family drama yang sebenarnya lebih layak jadi identitas spesial film kita dulu, menonjolkan konflik-konflik yang meski klise tapi terasa sangat membumi di tengah set yang minim namun tergarap dengan kekuatan lebih.

SPTK1

Dan penggarapan teknis juga yang sangat membantu membuat ‘Sebelum Pagi Terulang Kembali’ jadi punya feel seperti itu, terutama dari pemilihan set dan angle-angle dari DoP Nur Hidayat terutama situasi rumah yang dibuatnya bisa ikut menjadi bagian kuat untuk penyampaian konflik-konfliknya. Tata artistik dari Oscart Firdaus dalam penekanan strata sosial dan beda-beda batas lifestyle karakternya juga sama baiknya. Editing Sastha Sunu mungkin terpaksa sedikit terasa berkejaran dengan padatnya konflik yang digelar Sinar, namun bukan lantas jadi melemahkan keseluruhan film, sementara scoring dari Riza Arshad juga bekerja dengan baik dalam emosi-emosinya. But overall, sangat menyenangkan melihat Lasja F. Susatyo kembali pada jalur kekuatannya setelah ‘Mika’ dan ‘Cinta Dari Wamena’ yang dipenuhi kekurangan fatal itu. Mengarahkan sebuah kesederhanaan jadi sekomunikatif ini, lengkap dengan fokus lebihnya di penempatan lagu yang jarang tertinggal di film-filmnya.

SPTK10

Lagi-lagi, yang membuat kita merasa miris adalah sambutan penonton terhadap filmnya. Bukan berarti ‘Sebelum Pagi Terulang Kembali’ sama sekali tak dipromosikan dengan baik, namun perhatian penonton yang terpecah pada sekaligus tiga film Indonesia yang beredar di saat yang sama dalam taraf entertainment jauh berbeda sayangnya harus membuat film bagus dengan pesan baik ini luput dari perhatian banyak orang. But I urge you to watch this. Nanti dulu kalau Anda memang enggan dicekoki dengan kampanye-kampanye antikorupsi atau PSA dalam kemasan film, namun yang jelas, selain menikmati ensemble cast-nya, tak banyak film sekarang yang mengingatkan kita pada masa keemasan film Indonesia dulu. For a glimpse to Indonesian classic movies, percayalah. ‘Sebelum Pagi Terulang Kembaliis truly a rare gem in our cinematic history, yang sayang sekali dilewatkan begitu saja. (dan)

~ by danieldokter on May 12, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: