LUNTANG LANTUNG : A DELIGHTFUL COMEDY FOR ITS TARGET AUDIENCE

LUNTANG LANTUNG
Sutradara : Fajar Nugros
Produksi : MMA Pictures, Maxima Pictures, Demi Istri Production, 2014

LL8

Dulu sekali, sebenarnya kota Medan memiliki peran cukup besar dalam banyak produksi film nasional, dan bukan pula yang sekedar asal-asalan. Walau sebagian besar tetap merupakan produksi kerjasama dengan ibukota termasuk kru dan pemerannya, film-film ini juga dikenal sebagai produksi daerah yang bukan saja memperkenalkan talenta-talenta setempatnya secara cukup sejajar dengan nama-nama yang lebih luas dikenal, tapi juga memuat kultur etnis, budaya serta pengenalan wilayah yang seakan jadi persyaratan penting. Tercatat diantara yang paling dikenal ada ‘Turang’ (1957) karya Bachtiar Siagian yang memenangkan piala Citra untuk Film dan Sutradara Terbaik FFI 1960, ‘Piso Surit’ (1960) masih dari Bachtiar, ‘Sungai Ular’ (1961), ‘Buaya Deli’ (1973), serta ‘Sorta’ dan ‘Musang Berjanggut’ (keduanya produksi 1983). Sayangnya, setelah itu, kiprah Medan mulai menghilang. Sempat muncul lagi di tahun 2008 lewat ‘Tapi Bukan Aku’ dari Anthony Pictures, namun gagal baik secara kualitas dan penjualan.

LL6

Meneruskan legacy kedaerahan itu, ‘Luntang Lantung’ kini mencatat debut awal PH lokal MMA Pictures dengan produser Novita Sumargo. Menggamit Maxima Pictures dan Demi Istri Production, kisahnya diangkat berdasar novel komedi berjudul sama (namun sempat bergonta-ganti menjadi ‘Lontang-Lantung’ dalam penerbitannya), karya Roy Saputra namun dimodifikasi untuk memasukkan kultur Medan secara lebih lagi lewat skrip yang ditulis Alim Sudio bersama Mia Amalia dan Rahmat H.C.. Sesuai dengan target audience novelnya, tetap dalam wujud komedi, ‘Luntang Lantung’ memang lebih diperuntukkan bagi pemirsa remaja atau belia dimana tema utama tentang persahabatan tiga karakter utamanya yang malang-melintang mencari pekerjaan digelar bersama sebuah romcom yang lebih menonjol. Seperti ‘Me & You Vs The World’ yang juga disutradarai Fajar Nugros memperkenalkan Dhea Seto, putri Seto Muljadi (Kak Seto) sebagai female lead-nya namun lebih dulu beredar, ‘Luntang Lantung’ sebenarnya merupakan debut awal Dhea di layar lebar. Dan ada pula standup comedian Medan yang cukup populer, Nugroho Achmad dengan stage name Lolox, memerankan Togar yang memang seorang etnis Batak di novelnya.

LL2

Memiliki nama pasaran, Ari Budiman (Dimas Anggara) selalu merasa tak beruntung dalam usahanya mencari pekerjaan yang layak seusai kuliah bersama dua sahabatnya, Togar Simanjuntak (Lolox) dan Suketi (Muhadkly Acho). Sementara Suketi duluan diterima di sebuah perusahaan, Togar memilih berwiraswasta membuka bengkel sendiri. Melawan idealismenya, Ari yang kemudian tertarik pada adik perempuan Togar, Tiur (Dhea Seto) pun terpaksa menerima pekerjaan sebagai sales oli, hingga satu saat kesialan atas nama pasarannya berbalik menjadi keberuntungan ketika ia dipanggil untuk mengisi posisi manager IT dengan gaji melimpah. Dengan kesuksesannya, Ari mulai dekat dengan rekan kerjanya, cewek materialitsis Bella (Kimberly Ryder). Nyaris melupakan Tiur dan persahabatannya dengan Togar dan Suketi, Ari akhirnya dihadapkan pada sebuah ujian kejujuran sekaligus keinginan hatinya merebut Tiur yang sudah hijrah ke Medan kembali dari tangan Ronald (Ge Pamungkas) yang dijodohkan paman Tiur (Joe P. Project) dengannya.

LL3

Untuk target audience-nya, jelas tak ada yang salah dengan ‘Luntang Lantung’. Tanpa harus bergantung ke persyaratan filmis kelewat njelimet dari plot hingga logika penceritaannya, tendensi utamanya jelas hanya sejauh mana potensinya memancing tawa untuk segmentasi hiburan yang dihadirkan. Kelucuan yang dibangun Nugros lewat skrip Alim – Mia – Rahmat dengan narasi ‘breaking the fourth wall’ yang memang erat dalam genre komedi, dimana karakter utamanya kerap berdialog ke penonton cukup bekerja di tangan Dimas Anggara. Chemistry-nya baik dengan Lolox, Muhadkly Acho bahkan Ge Pamungkas yang ketiganya merupakan standup comedian tak lantas membuat Dimas kepayahan buat berinteraksi ke tengah joke-joke slapstick mereka. Meski part Lolox dengan punchlines-nya yang sangat khas Medan mungkin akan jadi segmented, mostly ke penonton daerahnya, beberapa comedy scenes dan culture bumps yang disempalkan Nugros mengisi modifikasi novel asli itu pun bisa dibilang masih cukup konsisten dengan keseluruhan tone-nya.

LL7

Sementara Dhea Seto, meski mungkin masih terlalu dini untuk menilai signature aktingnya, paling tidak memiliki inner charm ke peran-peran yang bisa masuk dengan sesuai pada sosoknya, dan yang terpenting, ia bisa membangun chemistry yang baik dengan pasangan mainnya. Mengiringi template komedinya yang serba ringan, chemistry-nya dengan Dimas sangat bekerja menghidupkan sisi romcom yang lebih dijadikan fokus dalam adaptasi filmnya. Pemeran pendukungnya pun bisa mengisi pace komedinya dengan style komedi yang meski kebanyakan slapstick saling berbeda satu dengan lainnya tanpa mendistraksi karakter-karakter intinya. Ada Soleh Solihun, Mak Gondut (Lina Marpaung), Ronny P. Tjandra dan walaupun kelepasan ke dialek Batak tipikal yang sebenarnya over, Joe P. Project tetap masih bisa memancing tawa lewat penampilannya. Masih ada pula Kimberly Ryder sebagai daya tarik lainnya.

LL5

Namun hal paling menarik dalam ‘Luntang Lantung’ tentulah sempalan kultur Medan yang dihadirkan Nugros. Meski mungkin lebih jitu buat memancing antusiasme lebih bagi daerahnya dan hanya menempati sepertiga atau perempat akhir filmnya, Nugros bisa menampilkan landmark dan budaya khas Sumut khususnya Medan ke bagian-bagian klimaks itu. Dari panorama objek wisata Danau Toba, Samosir dan Tongging, balapan becak Medan, landmark-landmark lain seperti Rusun Sukaramai yang terkenal dengan keunikan pembauran serta kelas etnis Tionghoa sangat berbeda yang jarang-jarang didapat di Indonesia, Merdeka Walk hingga Ucok Duren yang paling terkenal sebagai santapan khas wisatawan lokal hingga internasional untuk berjalan bersama bangunan komedinya.

LL4

Luntang Lantung’ memang bukan produk filmis yang memerlukan penelusuran lebih selain sebagai hiburan dalam genre romcom yang diusungnya. Walau kepentingannya mungkin lebih di soal-soal produksi dari daerah dimana promosinya juga lebih gencar dilakukan secara lokal, belum lagi harus bersaing dengan ‘Marmut Merah Jambu’-nya Raditya Dika dan blockbuster luar yang jelas lebih high profile secara universal, tapi ini jelas bukan sekedar komedi asal-asalan. Jumlah penontonnya hingga akhir minggu pertama juga agaknya masih cukup jauh dari yang diharapkan, namun paling tidak, keberadaannya sebagai salah satu produksi lokal Medan punya kualitas cukup baik dengan sambutan cukup hangat dalam peredaran di Medan sendiri. Sejauh bisa memancing tawa sebagai hiburan yang cukup segar, ‘Luntang Lantungwas a delightful comedy that successfully hit its target audience. Mudah-mudahan MMA Pictures tak berhenti hanya sampai disini. (dan)

~ by danieldokter on May 13, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: