MARMUT MERAH JAMBU : RADITYA DIKA AND HIS IMPROVED FORMULA

MARMUT MERAH JAMBU
Sutradara : Raditya Dika
Produksi : Starvision, 2014

MMJ1

Soal like and dislike dalam sebuah comedic style memang hal biasa. Trend komedi yang kerap berubah seiring zaman, juga biasa. Tapi yang pasti, baik dalam penulisan novel-novel komedi dan kiprahnya membawa trend comic atau standup comedy, Raditya Dika merupakan salah satu pionir dalam ranah komedi Indonesia sekarang. Walau kurang berhasil lewat debutnya di ‘Kambing Jantan’ dulu, rentang beberapa tahun setelah film itu Dika sudah belajar banyak untuk tak sekedar menyerahkan novelnya ke tangan produser semata. Instead, ia muncul kembali dengan konsep yang benar-benar matang, termasuk merancang webseriesMalam Minggu Miko’ yang jadi companion ke sebagian adaptation film series serta nantinya juga bakal hadir sebagai instalmen layar lebar. Paling tidak, ia kelihatan tahu betul bahwa kiprah seorang komedian sebagai ujung tombak sosoknya sendiri di layar lebar memang membutuhkan lebih dari sekedar satu-dua karya sukses tapi harus terus berlanjut selagi bisa.

MMJ6

And so, setelah ‘Cinta Brontosaurus’ dan ‘Manusia Setengah Salmon’ berikut ‘Cinta Dalam Kardus’ yang digagas dengan atmosfer lebih idealis dibalik kerjasamanya dengan PH berbeda, Dika bahkan melangkah lebih jauh membesut sendiri filmnya. Mau ini dibilang sebagian orang lebih merupakan kesepakatan atau apapun, hanya dari kesuksesan dua filmnya di Starvision itu saja, Dika sudah mampu menaikkan bargaining position-nya, dan dalam adaptasi novel komedi dengan style khas-nya, tentu ia juga yang paling bisa mengarahkan visinya mau dibawa kemana. Dalam style Dika itu juga konsep dan template-nya masih sama. Wujudnya boleh berupa komedi serba ngocol, tapi selalu ada elemen romcom dan bittersweet conclusion lewat simbol-simbol yang tak perlu dalam tapi menarik sekaligus membangun kedekatan rasa dan komunikasi antara penonton ke karakter-karakternya, paling tidak, dalam trend yang ada sekarang. Seperti salah satu influence terbesar Dika dari film-film Woody Allen dulu, where even nerds or ugly ducklings could get an angel soulmate, tapi ia punya batasan tegas untuk menggagas konsepnya sendiri. Like it or not, seperti yang hampir selalu terlihat di sambutannya, it works.

MMJ2

Setelah ‘Brontosaurus’ dan ‘Salmon’, kini ‘Marmut’ menjadi simbol terbaru untuk menceritakan plotnya. Berniat memberikan origami bangau sebagai hadiah di hari perkawinan cinta pertamanya semasa SMU, Ina (Dina Anjani), kisah masa lalu Dika bergulir lewat pertemuannya dengan ayah Ina (Tio Pakusadewo). Sebagai dua orang siswa paling nerd di SMU yang mau tak mau harus jadi sahabat, Dika remaja (Christoffer Nelwan) bersama Bertus (Julian Liberty) membentuk klub detektif setelah gagal dengan segala macam usaha buat merubah status mereka jadi populer. Belakangan, Cindy (Sonya Pandarmawan) yang sebenarnya punya otak jauh lebih encer bergabung dengan mereka. Namun saat harapan mereka terhadap status itu mulai terlihat, semuanya harus berakhir meninggalkan satu kasus tak terselesaikan. Dibalik sebuah pertanyaan yang hanya bisa terjawab dengan satu cara, Dika harus mengumpulkan kembali masa lalunya untuk memecahkan kasus itu.

MMJ9

Sedikit berbeda dengan ‘Cinta Brontosaurus’ dan ‘Manusia Setengah Salmon’ yang separuh jalinan plotnya hanya berupa penggalan sketsa untuk membangun sisi komedinya, dengan narasi back and forth yang tertata dengan baik bersama chemistry Dika dan Tio Pakusadewo yang cukup hangat, ‘Marmut Merah Jambu’ terasa jauh lebih runut sebagai satu kesatuan. Plot komedik yang dibangun lewat kisah-kisah detektif wanna-be yang mengingatkan ke banyak novel-novel remaja kita tempo dulu, walaupun jauh lebih kental di sisi ngocol dan ngawur-nya juga sekaligus jauh lebih menarik, selain punya relevansi yang terhubung cukup baik dengan romantic conclusion ala Dika di penghujungnya.

MMJ7

Pemilihan cast-nya juga sedikit lebih baik. Dina Anjani, Sonya Pandawarman dan Axel Matthew Thomas tampil baik sebagai Ina, Cindy dan Michael. Selain tetap memunculkan beberapa side characters-nya sebagai benang merah seperti Bucek dan Dewi Irawan, masih ada Jajang C. Noer, Tio Pakusadewo, Franda dan Boy Hamzah. Cameo-cameo yang muncul dari Adipati Dolken, Chris Laurent, Ge Pamungkas, Febby Febiola, Jordi Onsu, Kevin Julio, Pandji Pragiwaksono, Roweina dan beberapa standup comedian juga cukup hilarious. Namun porsi terbaiknya tetaplah ada di Christoffer Nelwan dan Julian Liberty sebagai Dika dan Bertus remaja yang mampu membawa hampir keseluruhan komedi ini dengan chemistry juara. Kontras-kontras di penggambaran karakter mereka sekaligus berhasil jadi fokus utama dalam bangunan komedinya, membuat penceritaan Dika jadi terasa jauh lebih lancar. Penggarapan teknis dari well known names seperti Yadi Sugandi di DoP, Andhika Triyadi di scoring serta editing Cesa David Luckmansyah juga cukup baik, dan satu lagi yang paling memikat adalah penggunaan classic balladAnugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki‘ milik Sheila On 7 sebagai theme song yang sangat menyatu ke tone romance-nya bersama ‘Marmut Merah Jambu‘ dari The Nelwans.

MMJ4

So yes, meski template-nya masih tak jauh berbeda dalam mempertahankan style khas komedi ala Dika, lebih dari sekedar komedi dengan sempalan romansa dan konklusi manis yang sangat berpotensi mendapat sambutan hangat seperti biasanya, ‘Marmut Merah Jambumarks Raditya Dikas improved formula yang terus jadi semakin baik. Hit and miss dalam sebuah comedic style toh bukan halangan bagi fanbase dan trend yang sudah lebih dulu terbentuk, dan satu hal yang jelas, bahwa Dika tak hanya sekedar melucu, tapi juga seorang konseptor jempolan yang benar-benar tahu bagaimana memanfaatkan talentanya lewat jalur yang tepat. Go see this one. (dan)

MMJ9a

~ by danieldokter on May 15, 2014.

2 Responses to “MARMUT MERAH JAMBU : RADITYA DIKA AND HIS IMPROVED FORMULA”

  1. Nice review bang. Cuman yg saya rasa dr Marmut ini, utk seorang se-absurd Raditya Dika, rasanya kok jadi terlalu enteng (walau, itu mungkin juga malah bisa memperluas audience-nya, lebih banyak yg ngerti lawakannya😀 ), kurang lawakan dg logika absurd / weird-nya, spt katakanlah, Kambing Jantan. Akibatnya, ini jadi ringan, “feel-good movie”, yg memang cocok buat hiburan yg, yah, seringan kapas. Whereas I’m expecting more weird but hilarious jokes. Dan terjebak juga ke klise – sahabat cewek yg naksir, well, walau ini bukan salah film ini semata, tapi utk org secerdas Radit – harusnya bisa merancang setup yg lebih baik soal pemeran ceweknya. Lha Sonya Panda ini cantiknya spt gitu, walau dibuat agak chubby, sementara kondisi Dika dan Bertus yg desperately needing girlfriend… semua cewe sekolah ditembaki, lha ini ada yg datang sendiri – tidak ada yang tertarik? Kalalupun Dika mungkin ceritanya lebih obsesed dgn Ina, bukankah Bertus bisa kecantol pula? Adalah jauh lebih masuk akal kalau dibuat ceweknya tipe sporty, tomboy (asal tidak dibuat2), bertolak belakang dg karakter Ina, a girl that won’t attract these horny guys, tapi masih menyimpan daya tarik yg lgsg bisa dilihat penonton. Ah, maybe I’m expecting too much, for a simple entertanment🙂 But eventually, good job Dika, you’re a lot more famous and rich now😀 Keep up the good work.. but I still need your weirdness.

  2. […] showcase yang baik; tetap membawa signature komedi dengan konklusi-konklusi soal hati seperti ‘Marmut Merah Jambu’ dan ‘Cinta Dalam Kardus’; namun ‘Single’ benar-benar membawanya naik kelas dengan konsep […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: