GODZILLA : REVIVING A CLASSIC IN ALL THE RIGHT WAYS

GODZILLA
Sutradara : Gareth Edwards
Produksi : Legendary Pictures, Warner Bros, 2014

GZ11

Problem dalam sebuah revival of an adaptation mungkin selalu sama. Apalagi, sebuah over decades franchise yang sudah punya fanbase mendunia dan sangat dikenal walaupun sebatas titel atau karakternya. Dalam level-level yang berbeda, hanya ada dua pilihan secara keseluruhan. Stay true to or respect its source, yang artinya menghargai fans, atau melencengkannya dengan harapan menggamit penggemar baru yang belum memahami source itu dalam interpretasi yang juga baru. But please note. Terkadang, satu dua franchise, as a source, sungguh punya karakteristik berbeda.

GZ9

Godzilla’ atau ‘Gojira’ agaknya ada di rare box itu. Ia bukanlah sekedar franchise-franchise lazim seperti misalnya adaptasi superhero kebanyakan yang dalam perkembangannya punya terlalu banyak pendekatan beda-beda yang bisa disesuaikan kesana kemari atas alasan-alasan lapisan penggemar berlainan ciri. Sejak pengenalan perdananya di film produksi Toho Co., Ltd. tahun 1954 karya Ishiro Honda, walau merambah komik, novel, videogame ataupun serial teve animasi, bahkan langsung jadi milik dunia lewat joint venture remake-nya dengan Amerika di tahun 1956, Godzilla sudah menjadi pop culture yang dianggap sakral bagi penggemarnya, mostly dari negara asalnya, Jepang.

GZ8

Dari sebuah metafora tentang isu bom atom yang menghantui sejarah negara asal itu, ia sekaligus jadi pionir ke genre kaiju/monster dengan pengembangan unik melalui puluhan film serta spin-off dalam sejarah panjangnya. Mau disama-samakan dengan naga oleh banyak orang atas penggambaran yang menggabungkan beberapa dinosaurus, ide asalnya sebenarnya dideskripsikan sebagai penggabungan gorilla dengan paus dari ukuran gigantis, kekuatan serta tempat asalnya sebagai penghuni lautan. Dari disastrous monster, it went to fight monsters seolah sesosok icon dewa penjaga bumi, tapi tak pernah juga melupakan metafora tadi terhadap bumi manusia sebagai collateral damage-nya. Prosesnya bisa kemana saja, namun dua elemen utama ini akhirnya memang sulit dilencengkan terlalu jauh oleh orang-orang yang menangani instalmen-instalmen kelanjutannya. Sebutan internasional yang melekat pada sosoknya, ‘King Of The Monsters’ sudah menjelaskan semuanya cukup dengan singkat.

GZ4

Dan semua pasti masih ingat versi Hollywood tahun 1998 yang dibesut Roland Emmerich di tahun 1998. Tak ada yang terlalu salah dalam elemennya sebagai sebuah re-telling, termasuk juga masalah perkembangbiakan via telur yang memang pernah ada dalam sekuel-sekuel klasiknya, namun yang paling fatal adalah penggambaran sosoknya sebagai sesosok dinosaurus kadal raksasa yang benar-benar menggerus habis sosok yang selama ini dikenal fans-nya. Bahkan pihak Toho yang menyesali pemberian copyright-nya belakangan menamainya dengan ‘Zilla’ saja di instalmen ‘Godzilla : Final Wars’ tahun 2004.

GZ10

Lebih dari satu dekade berikut sejak kegagalan itu mungkin sudah cukup menunggu sineas-sineas baru yang pantas mengembalikannya secara layak. Dari gagasan Yoshimitsu Banno, sutradara ‘Godzilla vs Hedorah’ yang akhirnya mengalihkan rencananya membuat shortGodzilla’ dalam format IMAX 3D ke proyek layar lebar yang menggamit produser Brian Rogers dan belakangan, Thomas Tull dari Legendary Pictures, masuklah sutradara Gareth Edwards yang juga mengaku sebagai fans dan sudah mengenalnya sejak dini. Debutnya, ‘Monsters’ walau tak punya kaitan inspirasi terhadap Godzilla sudah menunjukkan sebuah nuansa melankolia yang cenderung punya tema disaster penuh eksplorasi dan ekses mendalam dari ketakutan-ketakutan yang sama seperti film pertama Godzilla. Dibalik kolaborasi ini, mereka semua punya visi yang sama, bahwa concern terbesarnya adalah membawa Godzilla kembali ke ranah yang benar. Bringing justice to Emmerich’s failure in 1998. Sempat bergonta-ganti penulis berdasar ide cerita dari David Callaham (‘The Expendables’), Max Borenstein, seorang sineas dan penulis independen yang beberapa karyanya sudah tercatat di ‘The Black List’ akhirnya merampungkan skrip yang disetujui dengan bantuan Frank Darabont di final touch-nya. Instead of being a straight reboot, versi mereka masih punya sejumlah modifikasi namun tone-nya benar-benar diarahkan menyerupai origin Godzilla dengan konsep menggabungkan beberapa elemen paling penting dalam rentang panjang sejarah instalmen-instalmen yang ada.

GZ10a

Di tahun 1999, ilmuwan Ichiro Serizawa (Ken Watanabe) dan asistennya Vivienne Graham (Sally Hawkins) menelusuri penemuan fosil mirip makhluk purbakala raksasa di Filipina dengan jejak-jejak perkembangbiakannya. Sementara sebuah situs nuklir di Janjira, Tokyo, mengalami kebocoran, meninggalkan seisi kawasan yang dikarantina dengan teknisi Joe Brody (Bryan Cranston) dalam trauma dan obsesi berkepanjangan. Peristiwa beruntun di dua tempat berbeda itu mulai menemukan jawaban ketika berselang 15 tahun kemudian putra Joe, Ford Brody (Aaron Taylor-Johnson), penjinak bom US Navy dipanggil ke Tokyo setelah petugas menemukan Joe yang mendapati sinyal gelombang suara nekat menerobos kawasan karantina Janjira, berujung pada sebuah insiden mengerikan dari serangan monster yang mereka sebut MUTO (Massive Unidentified Terrestrial Organism) dan hidup dari daya radioaktif nuklir. MUTO yang menyerang sebuah kapal selam nuklir di Honolulu kemudian memancing kemunculan Godzilla, monster yang eksistensinya sudah disinyalir pihak peneliti dan militer sejak puluhan tahun lalu. Erizawa yang masih bertanggungjawab terhadap penemuan ini kemudian membiarkan Ford yang terpaksa meninggalkan istri (Elizabeth Olsen) dan putranya ikut ke dalam military team-nya untuk menangani hulu ledak yang keburu dicuri MUTO, sementara pertarungan para monster ini berlanjut memporakporandakan Las Vegas hingga San Francisco tanpa meninggalkan banyak pilihan pada umat manusia atas eksesnya. And all hell breaks loose.

GZ2

Walau selalu punya human characters dalam instalmen-instalmennya, bukan pula hanya satu-dua, pattern franchiseGodzilla’ sejak dulu bukan juga berfokus pada mereka-mereka ini, melainkan jelas ke sosok yang memegang titel franchise itu bersama monster-monster lain yang menjadi oponnent Godzilla di pengembangan instalmennya. Begitupun, dengan modifikasi plot yang ada, Gareth Edwards jelas-jelas mengembalikan pola pace-nya ke dua versi film perdana dari Toho. Sebuah pattern slow burn bernada melankolis dengan penekanan yang diusahakan kelihatan lebih seimbang berikut pengenalan panjang beserta elemen-elemen yang meski sedikit berbeda namun masih berada dalam batasan-batasan source orisinilnya. Bahkan tone sinematografi dari Seamus McGarvey, Academy Award nominee dari ‘Atonement’ dan juga menggarap ‘The Avengers’, serta scoring Alexandre Desplat punya nuansa vintage yang sangat kental. Sayangnya keikutsertaan Akira Takarada, salah satu muse-actor Toho yang sudah tampil sejak ‘Godzilla‘ (1954) dan 5 instalmen lainnya sebagai cameo disini di-cut dalam versi finalnya.

GZ11a

Menolak juga untuk membawa ‘Godzilla’ benar-benar dari awal secara penuh sebagai monster yang harus berhadapan dengan manusia sebagai lawan satu-satunya seperti King Kong, Gareth Edwards dan timnya sekaligus menangkap esensi-esensi penting dalam sejarah franchise itu. Tetap meng-capture eksistensi Godzilla sebagai punishment to human arrogancy walaupun cukup secara samar lewat flashback berbeda dari event Hiroshima bombing, tapi sekaligus juga menghadirkan sosoknya sebagai earth’s guardian angel dengan batasan-batasan antihero buat tetap mengedepankan nature’s punishment excess-nya. Tak ada lagi penokohan hitam putih manusia yang dibenturkan dengan eksistensi Godzilla, tapi malah menambah dramatisasi diantara interaksi human characters-nya. Meski efeknya jadi tak benar-benar bisa seimbang dan membuat banyak orang merasa talenta dibalik nama bintang-bintang kelas satunya termasuk Bryan Cranston, Juliette Binoche, David Strathairn, Sally Hawkins, Elizabeth Olsen bahkan Ken Watanabe tersia-sia dengan short appearance dan sebagian pendalaman emosi yang sekedar dangkal menyisakan hanya Aaron Taylor-Johnson yang menguasai layar selain Godzilla, ini jelas bukan sesuatu yang mudah, apalagi fondasinya tetap mengarah ke dua film perdana Toho beserta joint venture Amerika tahun 1956-nya.

GZ12

Namun Gareth Edwards jelas tahu bahwa ia memiliki amunisi lain untuk membangun Godzilla versinya dengan penuh respek yang hampir sepenuhnya berpihak pada keinginan real fans yang sudah mengetahui seluk-beluk sejarah franchise-nya. Creature design-nya tak main-main. Menghidupkan kembali sosok Godzilla seperti milik Toho yang sudah dikenal selama ini namun dengan detil-detil lebih lagi, mereka merancang Godzilla baru berukuran 350 ft buat lebih menekankan efek penghancurannya. Untuk lebih memperjelas detilnya, pionir efek spesial Jim Rygiel dari ‘Lord Of The Rings’ bukan saja menggagas penggabungan elemen-elemen wajah beruang, elang dan anjing ke dalam wajah asli Godzilla tapi juga sampai fighting movement-nya berdasar animal studies, antara lain dari beruang dan Komodo Dragon, spesies komodo terbesar diantara spesies yang ada, lengkap dengan supervisi dari Andy Serkis untuk menonjolkan jiwa dan dinamisasi dari setiap gerakan berikut roaring legendaris yang dimodifikasi Oscar nominee sound designer Erik Aadahl dari ‘Transformers : Dark Of The Moon’ berdasarkan rekaman orisinil langsung dari Toho. Pun begitu halnya dengan MUTO yang jadi karakter baru lawan Godzilla. Meski cenderung kelewat mirip dengan ‘Warrior Bugs’ di ‘Starship Trooperswith a cross ofRodan’ di salah satunya, sosoknya dalam monsters fight scenes itu benar-benar terlihat punya opponent level sepadan dengan Godzilla.

GZ3

Hasilnya, Gareth Edwards memang benar-benar bisa menghasilkan masing-masing kemampuan terbaik dari timnya. Walau pace-nya se-konvensional film orisinil dengan monsters rumble berikut Godzilla appearance yang baru muncul nyaris melebihi paruh film, juga dengan putusan konversi 3D hampir tak berarti, tensi ketegangannya mampu tampil terjaga dari awal hingga ke klimaks pertempuran para monster ini. Histeria massa sebagai collateral damage-nya boleh jadi kurang detil, namun feel eerie dan melankolis dalam disastrous atmosphere yang selalu muncul dalam genre Kaiju orisinil Jepang tetap tampil ke depan lebih dari sekedar sheer excitement secara konsisten hampir di semua adegannya, hingga yang terpenting, stunning visuals yang tak hanya dibangun dengan artistik set yang keren (lihat adegan chinatown lanterns atau falling troops with lightning flashes itu, diantaranya) tapi juga mampu menangkap detil-detil monsters fight scenes secara luarbiasa baiknya dengan perbandingan teknologi yang ada sekarang. Even mostly in night sets, gerakan-gerakan yang ditampilkan komposisi efek dimana kita bisa melihat detil-detil fighting movement Godzilla ke MUTOs opponent-nya hingga senjata pamungkas atomic breath-nya yang keren bahkan membuat apa yang kita saksikan dalam ‘Pacific Rim’, terasa tertinggal cukup jauh ke belakang.

GZ6

Like it or not, baiknya Anda melihat lagi sejarahnya ke belakang. Bahwa pengenalan source dalam memilih film kadang memang sangat diperlukan untuk sebuah kenyamanan menikmati karya-karya adaptasi, terlebih yang didasari reviving ambition untuk mengembalikan sebuah reboot dengan respek penuh ke kekuatan orisinilnya. Toh tetap tak ada salahnya untuk sedikit lebih mengulik instalmen-instalmen sebelumnya, menelusuri pattern-nya untuk lebih mengenal sosok monster legendaris sebesar dan semendunia Godzilla. For all these, Gareth Edwards jelas sudah mengerjakan tugasnya dengan sangat baik. Made with full respect, capturing crucial elements from over decades franchise, he has takenGodzillaback to its original greatness, reviving this classic in all the right ways. Now go ROOOAAARRR and experience the rumble! (dan)

GZ5

~ by danieldokter on May 16, 2014.

3 Responses to “GODZILLA : REVIVING A CLASSIC IN ALL THE RIGHT WAYS”

  1. mantap sekali review-nya. jujur suka banget dengan film Godzilla (2014) kali ini.

  2. Review ini adalah segala hal yang ingin saya katakan tentang film Godzilla (2014) ini. Meskipun semua teman di Path bilang film ini membosankan dan fire breath itu terlihat konyol, saya tetap membela my favorite kaiju ini habis-habisan. Baru kali ini rasanya Hollywood membuat adaptasi Japanese culture dengan benar dan full respect in its sources.

  3. Karena saya juga tidak tahu m enahu spt apa the classic Godzilla, tetapi kalau dr segi cerita nampaknya Godzilla 2014 ini memang tidak lari dari pakem klasiknya. OK, godzilla yg skrg tampak jauh lebih keren dari versi Emmerich yg lebih mirip T-Rex. Tapi satu saja yg saya kurang sreg, ya selera org beda2 sih – ya the villain monster. MUTO, menurut saya sangat nggak keren bentuknya. Kaiju2 di Pacific Rim jauh lebih cool.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: