X-MEN : DAYS OF FUTURE PAST ; AN ULTIMATE X-MEN SYMPHONY

X-MEN : DAYS OF FUTURE PAST 
Sutradara : Bryan Singer
Produksi : 20th Century Fox, Marvel Entertainment, Bad Hat Harry Productions, The Donners’ Company, 2014

DOFP11

Believe it or not, genre superhero bukanlah selalu jadi peringkat teratas dalam blockbuster line-ups satu saat dulu. Malah sempat ditinggalkan di tahun ’80-an atas jebloknya banyak adaptasi komik bergenre sejenis yang digarap seadanya berdasar trash movie trend saat itu, pamornya kembali naik lewat ‘Batman’-nya Tim Burton di tahun 1989. Namun setelah itu, eksistensinya kembali mengalami pasang surut hingga akhirnya Bryan Singer muncul lewat ‘X-Men’ di tahun 2000. Rencana panjang adaptasi yang akhirnya terwujud dengan sebuah pembaharuan yang awalnya membuat banyak fans-nya khawatir terhadap rombakan tone colorful comic-nya menjadi serba gelap itu ternyata bukan saja membuat breakthrough luarbiasa, membawa Hugh Jackman yang menyabet role Wolverine dari tangan Dougray Scott menjelang pre-produksi ke popularitas barunya, tapi juga meletakkan fondasi baru genre ini sebagai standar emas produk-produk blockbuster yang terus jadi semakin besar hingga sekarang. Sekuelnya malah lebih dahsyat lagi melangkah ke inovasi makin solid plus salah satu sekuel yang sampai sekarang selalu masuk dalam deretan sekuel yang lebih baik dari pendahulunya.

DOFP3

Sayangnya, sebagai franchise, masa depan ‘X-Men’ mulai kabur setelah instalmen ketiganya. Walau tetap sukses di perolehan box office, di tangan Brett Ratner yang menggantikan Singer saat ia memilih hengkang demi membesut ‘Superman Returns’, atas pilihan penulis Simon Kinberg dan Zak Penn membawa story arcsThe Dark Phoenix Saga’ potensi kontinuitas ke masa depan franchise-nya jadi berantakan. Bukan hanya membunuh key characters dan menyebabkan kelanjutannya tak lagi bisa kemana-mana, hampir semua yang ada disana dari cast baru ke efek spesialnya benar-benar hancur lebur. Studio yang tak mau pusing mengakhiri franchise-nya pun bergerak ke spin-offX-Men Origins : Wolverine’ yang sebenarnya lebih ke versi lain dengan story arcs berbeda yang tetap memunculkan mutants ensemble atas comic source-nya. Ini masih berlanjut ke ‘The Wolverine’ yang lebih fokus sebagai sebuah spin-off, namun ‘X-Men : First Class’ dari Matthew Vaughn dan membawa kembali Singer di kursi produser-lah yang paling sukses membuka jalan baru lewat subpart berbeda dari franchise-nya sebagai trilogi baru. Re-introduce origin story-nya dengan atmosfer retro spy genre ala James Bond lawas, mereka benar-benar berhasil menyelamatkan franchise-nya baik dalam perolehan box office maupun memenangkan hati para real fans-nya.

DOFP7

Ide mengangkat komik ‘Days Of Future Past’, salah satu storyline dari Marvel Comics’ ‘The Uncanny X-Men’ #141-142 karya Chris Claremont & John Byrne yang dianggap salah satu part terbaik dari ‘X-Men’ mungkin datang dari produser Lauren Shuler Donner, namun Singer benar-benar melihat masa depan baru untuk franchise-nya. Bersama Matthew Vaughn yang tetap membesut ide ceritanya berasama scriptwriter Simon Kinberg dan Jane Goldman, ia merancang sebuah sekuel, prekuel sekaligus bridge dari tiga sub part franchise dalam rentang panjang itu dengan satu tujuan, lengkap dengan sebagian cast lama yang kembali bergabung. Membangun kontinuitas baru terhadap ‘First Class’ sekaligus memperbaiki kerusakan instalmennya dari berbagai sisi terutama atas kesalahan Ratner yang juga diakui Kinberg yang menulis ‘The Last Stand’ sebagai blunder besar dalam franchise-nya. Ini jelas bukan hal mudah, apalagi saat dua instalmen awal terbaiknya akan ikut jadi korban. Tapi inilah langkah yang mereka pilih buat mewujudkan ide besar dalam sejarah adaptasi ‘X-Men’ tadi. Antusiasme fans-nya sudah merebak sejak jauh-jauh hari, dan Singer siap untuk memberikan bukti.

DOFP12

Serangan Sentinel, robotic soldiers yang dirancang untuk beradaptasi ke seluruh kemampuan mutan di masa depan mulai berujung pada kepunahan kaum ini. Dari sebuah bunker di Moskow, Bishop (Omar Sy), Iceman (Shawn Ashmore), Blink (Fan Bingbing), Sunspot (Adan Canto) dan Warpath (Booboo Stewart) akhirnya bergabung lewat bantuan Kitty Pryde (Ellen Page) ke sebuah kuil di Cina bersama Storm (Halle Berry), Wolverine (Hugh Jackman) serta Professor X / Charles Xavier (Patrick Stewart) dan Magneto (Ian McKellen) yang tak lagi saling berseberangan. Untuk mencegah kepunahan itu hanya ada satu cara. Mengirim Wolverine sebagai mutan satu-satunya yang bisa kembali jauh ke masa lalu untuk merubah titik balik sejarah penemuan Sentinel oleh Bolivar Trask (Peter Dinklage) yang malah menjadi martir sejak dihabisi oleh Mystique (Jennifer Lawrence). Sadar bahwa ini bukan tugas yang mudah, apalagi Wolverine harus masuk ke tengah pertikaian runcing Professor X dan Magneto muda (James McAvoy & Michael Fassbender), ia harus berpacu dengan waktu sebelum Sentinels menemukan tempat persembunyian mereka di masa depan.

DOFP6

Di tangan Singer yang kembali sebagai helmer-nya, ‘X-Men : Days Of Future Past’ memang penuh dengan konsekuensi. Walau diadaptasi dengan pergantian karakter utama dibalik time-travel quest itu demi tetap menonjolkan karakter Wolverine yang sudah menjadi lead terdepan franchise ini, skrip Simon Kinberg di tengah penyesalannya atas ‘The Last Stand’ kini terlihat sangat hati-hati menangkap esensi penceritaan source-nya termasuk tendensi Singer merancang fusi dari tiap subpart franchise tadi. Apalagi, kekuatan McAvoy dan Fassbender di ‘First Class’ tak bisa dikesampingkan begitu saja plus Stewart dan McKellen, ditambah lagi fokus barunya terhadap lonjakan karir Jennifer Lawrence dalam beberapa tahun belakangan. Sekarang bukan saja porsi lead-nya mesti berbagi, tapi ini mau tak mau membangun resiko terhadap side characters lainnya. Belum lagi soal sebagian pemirsa yang mungkin tak mengikuti semua instalmen atau tak benar-benar menyelami source material-nya yang mungkin akan sedikit kepayahan mengikuti timebending paradoxes dan elasticity dalam storytelling-nya.

DOFP8

But surprisingly, twist and turn yang diracik Kinberg bersama penyutradaraan Singer dalam tendensi itu benar-benar bisa bekerja dengan baik. Mungkin tak sepenuhnya sempurna, namun bisa dibilang ini adalah usaha terbaik yang bisa mereka lakukan lewat durasinya yang sudah cukup melebar. Tak lagi menjadi milik Jackman seorang, masing-masing karakter barunya bisa diperkenalkan dengan porsi cukup penting, mostly Peter Maximoff a.k.a. Quicksilver dalam salah satu adegan paling jagoan yang menonjolkan gimmick 3D-nya secara maksimal. Sementara walau tak tampil terlalu banyak, bahkan kabarnya tampilan Rogue (Anna Paquin) dibabat habis di final editing, sebagian cast lamanya tak lantas jadi sekedar numpang lewat. Masih ada pula Nicholas Hoult yang kembali menjadi Beast, Lucas Till sebagai Havok (keduanya dari ‘First Class’), Evan Jonigkeit sebagai Toad termasuk peran baru William Stryker versi muda yang diperankan Josh Helman dan tentu saja Peter Dinklage sebagai Trask. Even penampilan sejumlah cameo tambahan termasuk James Marsden dan Famke Jannsen, masing-masing cast lama yang kembali bisa jadi highlight yang sangat menarik terutama bagi fans yang kecewa dengan apa yang mereka lihat dalam ‘The Last Stand’. Selebihnya, mereka tetap memberi penekanan bahwa sama seperti Jackman, franchise ini juga kini merupakan showcase berimbang bagi McAvoy – Lawrence and mostly Fassbender, tanpa juga melupakan Patrick Stewart dan Ian McKellen di tengah permainan chemistry luarbiasa lewat interaksi akting mereka semua.

DOFP5

Dalam sisi lainnya, ‘Days Of Future Past’ juga tak kalah hebat. Menggunakan seluruh kekuatannya dibalik wujudnya sebagai sebuah long awaited summer blockbuster, penggarapan teknisnya tak main-main. Pace dan intensitas action-nya mungkin tak seheboh ‘X2’ yang tetap paling dahsyat dalam soal itu, tapi memberi penekanan dalam tone penceritaan ‘First Class’ yang punya kedalaman lebih, dengan kombinasi bagus dan jelas tak sekacau mutant rumble di ‘The Last Stand’ yang asal heboh dengan detil tak menentu. Vintage looks di past part-nya mungkin masih agak jomplang dengan sinematografi John Mathieson serta departemen kostum serba retro yang tampil benar-benar sempurna di ‘First Class’, namun paling tidak, sinematografi dari Newton Thomas Sigel yang dikenal dengan partnership-nya ke Singer dari ‘The Usual Suspects’ masih cukup memberi batas perbedaan timeline future dan past-nya dengan color tone yang cukup baik berikut lagu-lagu era ’70-an yang berseliweran di beberapa adegan pentingnya. Masih ada pula score paling memorable dari semua instalmennya, ‘The X-Men Suite’ dari John Ottman yang sudah tampil mencuri perhatian sejak logo pembuka 20th Century Fox tampil ke layar sekaligus membuktikan acknowledge Singer ke ‘X2’ sebagai salah satu pencapaian terbaik franchise-nya.

DOFP13

Dan mari tak meributkan soal kontinuitas atau koherensi ini itu yang tak bakal ada habis-habisnya lewat seabrek argumen masing-masing pemirsa ataupun fans setia franchise-nya. Mau sebagian besar terjawab, dalam usaha sesulit ini jelas ada satu-dua kebocoran yang tetap meninggalkan pertanyaan tak penting. Satu yang jelas, diatas semuanya, hal terbaik dalam ‘Days Of Future Past’ adalah bangunan emosi dalam poetical dramatization yang tak lantas terlupakan begitu saja dalam gelaran penuh aksinya sebagai sebuah summer blockbuster. Semua elemennya, dari dialog dan pengadeganan ‘Days Of Future Past’, dari detil-detil karakter dan interaksi masing-masing key characters-nya, love-hate relationship Charles dan Eric yang makin solid bersama theme song klasik milik Roberta FlackThe First Time Ever I Saw Your Face’ yang menggelar romantic feel diantara kerasnya perseteruan para mutan ini, sampai pertentangan human vs mutant yang disampaikan lebih manusiawi diatas grittier tone adegan-adegan aksi mutant struggle-nya, memang terasa paling emosional dari semua instalmen yang ada, seolah menunjukkan kecintaan Singer terhadap salah satu titik terpenting dalam karirnya ini, serta juga Kinbergs redemption dari kekacaubalauan yang diakibatkannya bersama Ratner di ‘The Last Stand’. Bahwa pada akhirnya mereka memilih jalan ekstrim untuk menggabungkan banyak komposisi berbeda yang pernah ada lewat esensi-esensi terpenting source materials yang justru tampil makin solid melalui detil-detil bangunan karakternya, mereka tak sedang sekedar menyambung kontinuitas, but way more than that, creating a symphony in-betweens. AndDays Of Future Past’ is the ultimate one. Now be sure to stay until the very end of the credits, karena ada important characters clue ke sekuel yang bakal menampilkan villain paling tangguh para mutan ini di ‘X-Men : Apocalypse’ nantinya. Whoa! (dan)

~ by danieldokter on May 27, 2014.

6 Responses to “X-MEN : DAYS OF FUTURE PAST ; AN ULTIMATE X-MEN SYMPHONY”

  1. mantap reviewnya!

  2. Mantap banget review nya. Saya juga sangat sedih atas kekacau-balauan Xmen The Last Stand. Tapi bersorak gembira saat Prof X masih hidup dan Magneto masih punya kekuatan saat di ending The Wolverine. Semoga aja masih tayang di Bioskop NSC Jember hari minggu nanti.

  3. great review. it’s very detail

  4. i hate it when you change from english to indonesian in every sentence. seriously, choose one language and stick to it. it just makes you sound like a poser. otherwise, great review.

  5. […] X-MEN: DAYS OF FUTURE PAST – Richard Stammers, Lou Pecora, Tim Crosbie and Cameron Waldbauer […]

  6. […] X-MEN: DAYS OF FUTURE PAST – Richard Stammers, Lou Pecora, Tim Crosbie and Cameron Waldbauer […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: