EDGE OF TOMORROW : A CRUISE CONTROL TIME LOOP

EDGE OF TOMORROW

Sutradara : Doug Liman

Produksi : Warner Bros. Pictures, Village Roadshow, 2014

EOT9

            Okay. Walau bukan lagi baru, time loop premise dalam film-film sci fi memang selalu menarik untuk dikembangkan menjadi plot fantasi yang sangat luas dalam genre-nya. Bisa menyenggol time travel theories, butterfly effects, quantum physics, parabolic calculus atau apapun sebutannya untuk menyematkan sebentuk filosofi dalam konklusinya,  bahkan bisa saja keluar jalur ke genre lain seperti salah satu yang tersukses dilakukan ‘Groundhog Day’ ataupun ‘Run, Lola, Run’. But while sci-fi movies with time loop premise usually keep it top secret, sebagai suatu hal yang lazim untuk disimpan, ‘Edge Of Tomorrow’ ini sedikit berbeda. Lewat tagline se-coolLive. Die. Repeat’ serta trailer-trailer-nya, adaptasi mangaAll You Need Is Kill’ karya Hiroshi Sakurazaka yang sudah melalui proses panjang hingga akhirnya dibandrol judul ‘Edge Of Tomorrow’ (yang sebenarnya tak lebih baik dari judul asli manga yang awalnya dijadikan judul) ini terang-terangan menjelaskan premisnya.

EOT2

            Tapi tentu itu bukan sesuatu yang aneh. Faktor cast dan kelas summer blockbuster-nya mungkin juga punya daya jual lebih ketimbang premis itu. Mau dianggap banyak orang pamornya sudah mulai menurun pun, Tom Cruise jelas masih jadi hollywood icons yang menjanjikan dengan tipikalisme tampilannya sebagai sosok heroik tak terkalahkan, dan masih ada nama sutradara Doug Liman. Walau sudah jauh bergerak dari idealisme di awal karirnya lewat serangkaian film yang jadi tonggak kesuksesan indie-wave seperti ‘Swingers’ atau ‘Go’ yang sampai dianggap sebagai versi junior ‘Pulp Fiction’ atas penceritaannya yang inovatif, ‘The Bourne Identity’ dan ‘Mr. And Mrs. Smith’ agaknya sudah cukup memperlihatkan kemampuannya menyajikan blockbuster yang agak beda dari sekedar hura-hura.

EOT6

            Introduksi singkat yang mengantarkan near future plot-nya dimana bumi berada di ambang kehancuran atas invasi alien dengan kemampuan luarbiasa yang dinamakan Mimics dan sudah memporakporandakan hampir seluruh Eropa  membuat manusia menciptakan combat suit khusus untuk memeranginya. Mayor William Cage (Tom Cruise), salah satu perwira tinggi militer yang selama ini berurusan dengan relasi media sama sekali tak menyangka kala Jendral Brigham (Brendan Gleeson) kemudian menerjunkannya sebagai prajurit garda depan bersama tim J-Squad di bawah pimpinan Sersan Farrell (Bill Paxton), sementara ia adalah seorang pengecut yang tak pernah berurusan dengan medan perang. Tak bisa menghindari perintah ini, Cage kemudian mendapati dirinya terjebak di sebuah time loop dengan Rita Vrataski (Emily Blunt), icon perang antar alien dan umat manusia yang juga jadi harapan satu-satunya bagi Cage untuk bisa keluar hidup-hidup, bahkan kalau perlu, sekaligus menyelamatkan dunia.

EOT3

            Sebagai sebuah sci fi, time loop template yang bukan lagi baru ini memang tak menyisakan banyak kelebihan lewat skrip yang ditulis oleh Christopher McQuarrie, Jez Butterworth dan John-Henry Butterworth berdasarkan source manga aslinya. Bukan artinya jelek, namun dibanding banyak sci fi sejenis yang jauh lebih punya dasar ilmiah fisika kuantum seperti ‘Source Code’, ‘Edge Of Tomorrow’ digagas lebih dengan pendekatan pure fantasy dengan penekanan lebih di sisi ‘war for mankind’-nya. Tapi mungkin ini juga salah satu celah dimana pangsanya akan bisa meluas ke penonton-penonton yang sekedar mengharapkan gelaran adegan aksi di layar lebar, dan yang lebih krusial, repeating time loop itu, sedikit beda dengan film-film sci fi berpremis sejenis, bisa dimanfaatkan buat eksplorasi storytelling menarik tanpa harus bersusah payah menyimpan twist njelimet. Setup process-nya tetap terasa wajar membawa penontonnya sekedar seolah berada dalam sebuah permainan konsol videogame yang seru untuk mencari winning hints-nya di setiap proses reset.

EOT1

            Keunggulan utama ‘Edge Of Tomorrow’ secara filmis lebih jelas terlihat dari technical efforts yang digagas Oliver Scholl sebagai production designer dan Nick Davis sebagai visual effects supervisor-nya. Di tangan mereka bersama penyutradaraan Liman, rancangan Mimics berikut massive attacks di tengah adegan perangnya terasa se-intens apa yang kita saksikan dalam ‘Starship Troopers’-nya Paul Verhoeven, lengkap dengan battle scenes dengan set-set solid yang terinspirasi dari WW2 coastal battles ala Invasion of Normandy atau The Battle of Dunkirk seperti yang ada di film-film perang legendaris termasuk ‘Saving Private Ryan’, plus rancangan metal exosuit beramunisi lengkap yang sejak jauh-jauh hari sudah begitu menarik perhatian. Gimmick 3D-nya pun bukan sekedar konversi tak berarti, tapi menyajikan kedalaman yang cantik serta popped-up scene yang asyik.

EOT10

            Terakhir, tentu saja faktor Cruise yang hampir selalu sangat kental sebagai vehicle utama di film-filmnya hingga sering di-tease dengan istilah Cruise Control. Lebih dari antusiasme lebihnya berperan dalam film-film yang jika dilihat lebih dalam punya filosofi scientology yang kuat, aura suave Cruise yang kuat sebagai leading man tetap sangat dimanfaatkan dengan lebih, bahkan jadi sangat asyik buat membangun fondasi fun-nya sebagai tontonan blockbuster. Even mocking Cruises typecasts in many of his films, sebagian humor itu bukannya mendistraksi tapi mampu menyatu ke premis time loop serta tak mengurangi adegan aksi serta perang human vs aliens-nya yang tetap seru. Sempalan romance-nya pun punya batasan yang jelas, cukup terbangun lewat chemistry lewat body language dan eye contact-nya dengan Emily Blunt yang memerankan Vrataski (nama karakter asli dalam manga-nya) dengan maskulinitas dan ketangguhan cukup remarkable. Dukungan Brendan Gleeson, Noah Taylor, Bill Paxton dan sederet pemeran J-squad soldiers itu juga bisa mengiringi pengaturan pace-nya dengan bagus.

EOT8

            So yes, ‘Edge Of Tomorrow’ memang sebuah sci fi yang terasa sangat ambisius, terlebih bila Anda mengikuti proses pengembangan adaptasinya selama ini, tapi lebih serba terus-terang diarahkan dengan penekanan lebih ke sisi fun factor-nya untuk meramaikan gegap-gempita pertarungan film-film summer blockbuster. At times, ia boleh jadi sangat klise, nyaris tanpa surprise, tapi jangan lupa bahwa kombinasi elemen yang ada di dalamnya juga sudah bekerja dengan sangat baik membangun pace kencang serta action scenes yang sangat intense, membuat keseluruhan durasinya benar-benar terasa sekeren tagline-nya. Live. Die. Repeat. Quite a different time loop, with Cruise Control. (dan)

~ by danieldokter on May 31, 2014.

2 Responses to “EDGE OF TOMORROW : A CRUISE CONTROL TIME LOOP”

  1. mantap reviewnya!

  2. Keren reviewnya…

    Hi, link blogroll Cinejour boleh diedit ngga?? Kami sudah pindah ke http://www.cinejour.com

    Kami juga sudah menambahkan blog ini.. Thanks yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: