MARI LARI : THE MARATHON OF LIFE

MARI LARI 

Sutradara : Delon Tio

Produksi : NaTIOn Pictures, 2014

ML1

            Let’s take a look back. Kapan film Indonesia terakhir punya sports theme tentang lari? Not sinceGadis Marathon’ (1981), but oops, itupun adalah unofficial ripoff, produk copy paste tanpa malu-malu dari joint venture AS-Jepang ‘My Champion’ yang dibintangi Chris Mitchum dan Yoko Shimada, yang beredar nyaris bersamaan disini. So, sekarang, ketika olahraga-nya kembali jadi trend yang berkembang lebih jadi sebuah kepedulian bahkan menjamur ke banyak komunitas, seperti salah satu yang paling besar, Indo Runners, mungkin sudah saatnya tema itu diangkat kembali ke layar lebar.

ML4

            Tapi ‘Mari Lari’ yang jadi debut penyutradaraan Delon Tio ini bukanlah sebuah sport movie biasa, bukan pula dalam bentuk paling basic berupa drama yang sekedar menggunakan tema olahraganya sebagai sekedar pelengkap. Beranjak dari kursi produser lewat film-film seperti ‘Claudia/Jasmine’, ‘Rumah Dara’ dan ‘Simfoni Luar Biasa’, rata-rata adalah film kita yang bagus, Delon memang menggagas ‘Mari Lari’ dengan passion lebih sejak awal. Mungkin karena ia juga seorang pelaku olahraga ini sekaligus bagian dari komunitasnya, begitu juga penulisnya, Ninit Yunita, juga memulai debut scriptwriter-nya disini, dua tema yang menyorot olahraga serta filosofi lari itu sama-sama berperan sebagai subjek sekaligus fondasi kuat bagi dramatisasi plot-nya. Tentang hubungan keluarga, father to son, dan pencarian tujuan dari proses yang tak pernah terselesaikan. The marathon of life.

ML9

            Sebagai anak satu-satunya dari seorang motivator mantan atlet lari, Rio (Dimas Aditya) tak punya disiplin seperti Tio Kusumo (Donny Damara), ayahnya. Selalu berlindung pada ibunya (Ira Wibowo) dari kecil, ia tak pernah menyelesaikan apa yang sudah dimulainya. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga kuliahnya dropout dan Rio diusir keluar dari rumah. Sambil kuliah di jurusan baru tapi lagi-lagi mandeg di penulisan skripsi, Rio bekerja sebagai sales underdog di sebuah showroom mobil atas bantuan sahabatnya (Dimas Argoebie). Semua masih sama hingga akhirnya sang ibu meninggal.  Terpaksa kembali ke rumah untuk menghormati permintaan terakhirnya, Rio akhirnya termotivasi untuk memberi pembuktian pada ayahnya, menggantikan ibunya untuk bergabung dalam sebuah marathon di Bromo. Namun persyaratan dari Tio bukan mudah, dan untuk mempersiapkan janjinya, Rio akhirnya bergabung dengan komunitas lari Indo Runners dimana ia bertemu dengan Anisa (Olivia Lubis Jensen). Memulai semua kembali dari awal, namun kali ini dengan sebentuk keteguhan untuk benar-benar mencapai garis finish.

ML6

            Sebagai bagian dari komunitas dengan kepedulian lebih itu, Delon dan Ninit memang mempersiapkan plot-nya dengan benar-benar matang. Basic-nya tetap sebuah human story, mostly about father to son, diatas pakem zero to hero genre sejenis dari karakter utama yang tak pernah bisa menyelesaikan semua yang dimulainya. Tapi disana juga filosofi-filosofi lari itu bisa tertuang dengan sejalan. Bagaimana masing-masing karakternya bisa bertahan hingga mereka mencapai garis akhir tujuannya, dengan seabrek problem dari masalah kuliah, kerja hingga sempalan kisah cinta yang membuat penontonnya merasa begitu connected tanpa harus jadi tumpang tindih tapi tetap menonjolkan benang merah soal lari ke tengah-tengahnya. Dan di sela-sela perpaduan filosofi itu mereka dengan leluasa bisa menyampaikan informasi lebih tentang trend, style, pandangan-pandangan komunitas sekaligus menyebarkan kepeduliannya. Dari sejarah marathon yang digelar dengan menarik lewat sentuhan animasi, tips untuk bisa menjadi pelari yang baik sampai info-info gizi dan kesehatan untuk bisa bertahan di lapangan.

ML2

            Dan inilah hal terbaik dalam ‘Mari Lari’. Script-wise, kekuatan utama dalam skrip Ninit adalah setup, motivasi karakter hingga proses-proses interaksi yang digelar sangat terstruktur luarbiasa rapi sedari awal. Ia tahu kapan harus melepas dan menahan bagian-bagian konflik serta kepentingan karakter-karakternya untuk membentuk sinkronisasi racikan yang bagus antara elemen-elemen filosofi, human story juga informasi-nya. Bahkan karakter-karakter terkecilnya yang diperankan oleh Ira Wibowo, Verdi Solaiman, Dimas Argoebie, Ibnu Jamil atau Amanda Zevannya punya peran untuk membangun setup tiap karakter utamanya secara lebih kuat. Membuat pemirsanya secara perlahan merasa terhubung ke karakter-karakter ini. You could expect differently, but in the end, hanya fokus utamanya yang mengantarkan pemirsanya ke garis akhir kisahnya.

ML8

          Penyutradaraan Delon juga dengan baik memberi batasan jelas untuk tak tergelincir ke dramatisasi cemen yang di kebanyakan film kita akhirnya jadi bingung menyelesaikan konflik demi konflik yang mereka gelar secara berlebih. Restrained at times, bahkan tanpa scoring serba mellow yang terlalu mengarahkan emosinya dari Ricky Lionardi, tapi menggantikannya dengan atmosfer anthemic bersama pemilihan lagu-lagu yang sama bagusnya, salah satunya theme song daur ulang ‘Marilah KemariTitiek Puspa (now titledMarilah Berlari’) dari Alexa, permainan emosi ini jadi terbangun dengan sangat baik, tak sekalipun jadi overdramatized dengan proses-proses yang benar-benar wajar. Tak seketika saling berpelukan dan selesai seperti rata-rata yang kita lihat di film sejenis. Ada sedikit resiko di pace-nya, tapi percayalah, tak lantas jadi berpanjang-panjang dan tetap membuat penontonnya merasa tersentuh di konflik-konflik utamanya.

ML3

           Chemistry-nya pun jadi mengalir bersama style penceritaan itu. Dimas Aditya dan Donny Damara jadi vehicle utama yang sangat sukses membangun father to son theme yang kuat, tapi bukan berarti mengecilkan mother’s part-nya, sementara Olivia Jensen juga jadi distraksi manis yang memperkuat motivasi karakter Rio dengan wajar dan tak berlebihan. Selebihnya masih ada penggarapan teknis yang baik dari tata kamera Aryo Chiko B., merekam scene-scene marathon-nya dengan menarik berikut sepenggal lokasi Bromo tetap bagus tanpa harus menggeser fokus penceritaannya. Kalaupun harus ada sedikit kritik, product placement-nya kadang masih terasa kasar walaupun tak sampai mengganggu.

ML5

             Pada akhirnya, memang sayang sekali kalau lagi-lagi produk sebaik ini mesti mengalah dengan sistem serta minimnya jumlah penonton terutama dari komunitas terkait yang mau meluangkan waktu mereka untuk sebentuk dukungan lebih layak dengan datang ke bioskop menyaksikannya. But I tell you what. Sungguh bukan sesuatu yang mudah mendapat film kita yang berani menyentuh tema berbeda, here, running as quite rare sports theme, dan menghidangkannya dengan filosofi serta nilai informasi yang solid, juga menyebarkan kepeduliannya seperti ini. ‘Mari Lari’ sudah melakukan semuanya dengan sangat baik. A story about life’s finish line that comes from the heart, made by heart, and without being overdramatized, wrapped with love. The marathon of life. (dan)

ML7

Nice promotion poster by @IskandarSalim

~ by danieldokter on June 16, 2014.

One Response to “MARI LARI : THE MARATHON OF LIFE”

  1. […] dimulai. 2. Review Detik.com: Mari Lari: Sebuah Start yang Mengesankan. 3. Review Daniel Dokter: Mari Lari: The Marathon of Life. 4. Review Candra Aditya: Mari Lari? No, I don’t Want to. 5. Review Arul Fittron: Mari Lari: […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: