CAHAYA DARI TIMUR : BETA MALUKU ; AN EXTRAORDINARY AND INSPIRING NOTE OF HOPE

CAHAYA DARI TIMUR : BETA MALUKU 

Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

Produksi : PT Visinema Pictures, 2014

CDT12

            Dari banyak cabang olahraga, sepak bola, agaknya cukup sering muncul di film kita. Walaupun masing-masing punya fokus dramatisasi berbeda dalam wrapping keseluruhannya, dari yang dikemas sebagai film anak seperti ‘Garuda Di Dadaku’ atau ‘Tendangan Dari Langit’ ke sentuhan satir sosial di ‘Hari Ini Pasti Menang’,  pola dasarnya rata-rata sama, berupa kisah perjuangan dari karakter-karakter zero to hero ataupun pencarian-pencarian jatidiri menuju kemenangan penuh makna. Begitu juga dengan kebanyakan sports theme di film-film luar, dimana sebagai penonton, kita semua sudah tahu kemana kita akan dibawa. Namun disitulah bentukan motivasi dalam racikan plotnya menjadi sesuatu yang lebih penting untuk membangun letupan-letupan emosinya. Dimana seperti saat kita mendukung satu kesebelasan dalam real match-nya, interaksi antara karakter-karakter itu mampu mengarahkan empati kita untuk memunculkan harapan-harapan dalam proses finalnya.

CDT19

            ‘Cahaya Dari Timur’ jelas punya fondasi yang menarik untuk itu. Bukan hanya karena ia membawa kisah sejati yang begitu inspiratif dibalik jasa sebuah sosok nyaris tanpa nama terhadap sebagian atlit sepakbola dari Timur Indonesia yang cukup dikenal, tapi juga atas pesan-pesan penting tentang persatuan dalam keberagaman yang meski cakupannya sempit, tapi berdiri diatas konflik panjang yang masih menyimpan luka diantara sebagian penduduk Ambon, Maluku, yang benar-benar menjadi bagian sejarahnya.

CDT3

         Datang dari pengalaman sineas Angga Dwimas Sasongko saat berkunjung ke Ambon dan bertemu dengan seorang tukang ojek mantan pemain Tim Nasional U-15 Indonesia, sebelum berjuang bertahun-tahun mewujudkan proyeknya, ia tahu kalau ini akan menjadi sebuah extraordinary human story yang kuat. Beruntung akhirnya ia mendapatkan dukungan solid dari orang-orang yang mau memberikan kepeduliannya, diantaranya Arifin Panigoro, Gita Wirjawan, Yoris Sebastian hingga Glenn Fredly di kursi produser, sementara dua rekannya yang ikut menulis skrip juga punya catatan spesial. Irfan Ramli memberikan insight karena benar-benar berada disana saat konfliknya terjadi, sementara Swastika Nohara yang menyusun konstruksi adegannya juga sudah teruji baik dari tema olahraga serupa di ‘Hari Ini Pasti Menang’ maupun informasi pengenalan kawasan dari sejumlah tulisannya. Judul ‘Cahaya Dari Timur’ yang datang atas ide Andibachtiar Yusuf ini juga sekaligus direncanakan jadi bagian dari gerakan ‘Voice From The East’ yang bakal mengangkat kisah-kisah inspiratif dari belahan Timur Indonesia itu.

CDT18

           Berada di tengah-tengah konflik golongan dan agama di Ambon, awal tahun 2000, serta menyaksikan sendiri eksesnya terhadap anak-anak disana, mendorong niat Sani Tawainella (Chicco Jerikho), pengojek mantan pemain Tim Nasional U-15 Indonesia di Piala Pelajar Asia 1996 yang gagal menjadi pemain profesional untuk menyelamatkan anak-anak di desa Tulehu tempat ia dan keluarganya berdiam. Ia mengalihkan perhatian dengan mengajak mereka berlatih sepakbola. Bersama Rafi Lestaluhu (Frans ‘Hayaka’ Nendissa), rekannya yang sempat jadi pemain profesional namun pulang akibat cedera, di tengah kesulitan ekonomi menghidupi keluarganya, sekolah sepakbola informal ini tetap bertahan hingga konflik mereda dan anak-anak ini tumbuh menjadi pemain sepakbola muda berbakat yang mulai menarik perhatian banyak orang. Sayang, Rafi kemudian mengambil alih semuanya menjadi sekolah sepakbola resmi pertama dari Tulehu atas tuduhan bahwa baik secara ekonomi maupun waktu, Sani tak bisa konsisten menjadi pelatih mereka. Sani yang sakit hati lantas beralih melatih sebuah kesebelasan dari sebuah SMU atas ajakan Josef Matulessy (Abdurrahman Arif) walaupun awalnya ditentang karena kepercayaan yang berbeda dengan kebanyakan muridnya, dan terpaksa berhadapan dengan timnya sendiri dalam kompetisi antar desa. Lagi-lagi dikalahkan Rafi, ternyata ia yang terpilih sebagai pelatih  tim Maluku yang hendak diberangkatkan ke kompetisi nasional U-15 Indonesian Cup di Jakarta. Kali ini bukan hanya soal kalah menang atau penggalangan dana untuk mencukupi biaya keberangkatan, tapi selain harus berhadapan dengan keputusan Haspa (Shafira Umm), sang istri yang menganggap obsesi Sani sudah terlalu jauh meminta pengorbanannya, timnya mulai terpecah atas perbedaan status dan kepercayaan masing-masing. Dan hanya sebuah keteguhan hati yang bisa menyatukan semuanya.

CDT11

          Oke. Bagi sebagian orang, durasi melebihi 120 menit untuk menyaksikan sebuah film mungkin sedikit menjadi masalah. Namun di saat film-film lain tak mau repot membaginya ke dalam dua bagian walau sebagian besar tak juga diperlukan, proses panjang perjuangan Sani memang sangat relevan untuk dibahas lebih. Bukan hanya karena rentang waktu nyatanya memang panjang, detil-detil penting dalam motivasi hampir keseluruhan karakter pentingnya memang diperlukan dalam membangun emosi yang sulit secara terstruktur. Apa yang ditampilkan Angga, Irfan dan Swastika dalam skripnya sudah sangat efektif dalam persyaratan itu. Semua pengenalan karakter, setup serta motivasi-motivasi yang muncul dalam penceritaannya punya detil yang cukup, tak berlebih, serta tak pula menempatkan karakter sentralnya sebagai martir yang serba heroik.

CDT1

           Instead, mereka membangunnya bertahap dalam batasan-batasan yang sangat manusiawi, membuat sisi-sisi dilematis konflik dalam interaksi karakternya juga tergelar secara humanis, ditambah cara bertutur Angga yang sudah kita lihat dalam ‘Hari Untuk Amanda’. Okelah kalau ‘Jelangkung 3’ baru permulaan dan bukan juga jelek. Tapi dalam ‘Hari Untuk Amanda’, bukan hanya lancar, di tangannya even plot se-simpel itu bisa tersampaikan begitu cantik serta mengaduk-aduk emosi sedemikian rupa. Kita bisa miris melihat betapa niat baik Sani kerap tergelincir menjadi obsesi yang menempatkan kelangsungan hidup keluarganya berada di ujung tanduk, menggerusnya jauh dari sosok suami yang sepenuhnya baik, tapi tetap sulit menolak untuk berdiri di sisi tiap motivasi dan tujuannya.

CDT14

        Memikul tanggungjawab sebagai vehicle utamanya, Chicco Jerikho tampil begitu total dengan performa hebatnya meng-handle porsi perdana sebagai leading role secara tak terduga. Menunjukkan talenta aktingnya sebagai Sani, dengan permainan dialek yang nyaris sempurna, ia bisa terlihat bagai seorang martir perdamaian yang lovable tanpa harus meninggalkan sisi rapuh sebagai suami, ayah serta pelatih yang bisa meledak-ledak tapi tak sekalipun jadi over. Begitu juga dengan karakter-karakter lainnya, dari rekan, seteru, keluarga, side characters lain hingga anak-anak didik bahkan orangtua mereka. Baik Salim ‘Salembe’ Ohorella (Bebeto Leutually), Hari Zamhari ‘Jago’ Lestaluhu (Aufa Assegaf) dan Alvin Tuasalamony (Burhanuddin Ohorella) bahkan Rafi yang diperankan musisi Ambonese hiphop Frans ‘Hayaka’ Nendissa ; semua adalah putra Maluku asli yang mendapat porsi terbanyak dalam penceritaan dan memerankannya dengan luarbiasa terutama Bebeto dan Frans, digambarkan tak lebih dari manusia biasa dibalik perasaan, motivasi dan kepentingan mereka masing-masing.

CDT2

             Cast lainnya pun tak kalah bagus dibalik penataan dialek yang benar-benar detil. Predikat senior Jajang C. Noer sebagai ibu Alvin dan Norman R. Akyuwen yang memang punya latar sebagai acting coach jelas tak perlu ditanya. Sementara Shafira Umm menghadirkan chemistry bagus dengan Chicco dibalik penampilannya yang sangat wajar, Abdurrahman Arif sebagai Josef muncul dengan pendalaman akting jauh berbeda dibanding biasanya, even Glenn Fredly yang ikut di-cast sebagai Sufyan, hingga akting cast-extras terkecilnya, sebagian adalah tokoh daerah asli, juga tergarap dengan sangat baik. Ini juga yang membuat adegan-adegan yang berpotensi jatuh menjadi cemen seperti beberapa scene yang dengan terus-terang menyemat pesan unity in diversity-nya jadi bisa bukan saja terlihat wajar tapi justru sangat menyentuh dan membuat penontonnya ikut tergerak.

CDT15

        Dan bukan hanya cara bertutur dalam bangunan emosinya, latar Angga dalam iklan dan videoklip juga membuat sisi kisah sejati perjuangannya jadi tampil begitu menarik. Penggarapan teknisnya sungguh tak main-main. Bersama sinematografi cantik Roby Taswin (‘Sanubari Jakarta’, ‘Mereka Bilang Saya Monyet’) yang juga merekam lanskap Tulehu serta keseluruhan lokasi asli Maluku lain punya kontras dan kekuatan seimbang dari adegan-adegan konflik ke keindahan situs-situs kawasannya, semangat-semangat dalam adegan pertandingan sepakbola-nya tergelar dengan intensitas luarbiasa. Tanpa mencoba menahan-nahan feel-nya, bagian-bagian klimaks itu muncul dengan feel sekelas banyak film luar dengan sports theme sejenis, bukan hanya tentang sepakbola, dari Asia seperti ‘A Barefoot Dream’ hingga banyak lagi dari Hollywood.

CDT10

          Penempatan slo-mo scenes, detil-detil sports choreography-nya, editing Yoga Krispratama, plus tata suara dari Satrio Budiono, scoring Nikita Dompas dengan sentuhan etnis ke anthemic atmosphere mengiringi football match-nya dan tentu saja lagu-lagu pengiring terutama theme song berjudul unik ‘Tinggikan’ yang dihadirkan Glenn Fredly dengan begitu menggugah, bagian-bagian ini seakan dilepas dengan amunisi bertahap, bahkan dengan selipan-selipan permainan tensi sambil tetap menyempalkan pesan, hingga akhirnya siap meledak menuju scene penalti yang terasa sangat glorious di penghujungnya. Rollercoaster of intense emotions yang tak hanya menempatkan penontonnya gregetan dalam tanjakan emosi secara konstan hingga ingin ikut bersorak memberi dukungan, tapi juga sibuk menyeka airmata termasuk atas hal-hal sepele yang selama ini terasa tak berarti dibalik banyak sudut pandang berbeda, bahwa betapa sebuah pembuktian diatas harapan-harapan baik untuk menyamakan persepsi-persepsi jelek akan perbedaan bisa terasa begitu berarti. Meski skupnya terbatas soal Maluku, tapi isu-isu itu menjadi sangat aktual dan relevan terhadap borok-borok sama yang masih terjadi di Indonesia sampai sekarang.

CDT16

          So, being over 4 years in the process, mungkin seperti inilah seharusnya hasil dari sebuah karya yang digagas sebagai labor of love dari pembuat dan seluruh stakeholder-nya. Satu lagi masterpiece dari Angga, one of Indonesian’s finest yang tak hanya bercerita dengan penuh pesan serta gagasan, tapi juga menghibur dengan membawa semangat serta harapan, apalagi bersama niat untuk membawa penayangannya menjangkau banyak daerah yang belum tersentuh sarana tontonan yang layak, yang hanya bisa terwujud dengan dukungan kita sebagai penonton film Indonesia yang benar-benar pantas untuk didukung. More than just football or sports, ‘Cahaya Dari Timur : Beta Malukuis a truly heartful and deeply moving human story. An extraordinary and also inspiring note of hope. Now let’s be the part and pay it forward! (dan)

~ by danieldokter on June 22, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: