SELAMAT PAGI, MALAM : NECESSARY ROUGHNESS ON JAKARTA NIGHT RIDE

SELAMAT PAGI, MALAM

Sutradara : Lucky Kuswandi

Produksi : PT Kepompong Gendut, Sodamachine Films, 2014

SPM3

            Ada banyak cara untuk mendefinisikan Jakarta. Sebagai social satire, in movies, dalam berbagai macam bentuk dan pendekatannya, yang rata-rata memang bertujuan untuk membawa penonton terutama segmentasinya berkaca dan menertawakan diri mereka sendiri, ini juga bukan hal baru. Dari ‘The Big Village’ hingga ‘Arisan’, masing-masing membawa kritik sosialnya ke dinamika lintas zaman dan generasi diatas trend-trend yang berbeda terhadap kehidupan metropolitan dan krisis identitas manusia-manusia yang ada di dalamnya.

SPM2

         Namun seorang Lucky Kuswandi, sineas yang sudah cukup lama malang-melintang di scene film indie hingga akhirnya bergerak ke layar lebar lewat salah satu segmen dalam dokumenter ‘Pertaruhan (At Stake)’ dan debut feature-nya ‘Madame X’, memang membuat apa yang hadir dalam ‘Selamat Pagi, Malam’ tetap terasa fresh. Kacamata atas protes-protesnya mungkin berdiri di hal-hal yang tak jauh beda dengan yang lain, mostly menyentil artificalism dalam lifestyle kebanyakan pelakunya, namun penyampaiannya tak sama. Menyempitkan benang merah penggarapan interwoven plot-nya ke perjalanan mengarungi sebuah malam di Jakarta lewat karakter-karakter yang ada, kiprahnya juga membentuk blend yang bagus ke style new wave – kontemporer produksi-produksi Kepompong Gendut-nya Sammaria Simanjuntak yang sudah kita lihat dalam ‘Cin(t)a’ dan ‘Demi Ucok’. Ada banyak kegelisahan yang ia munculkan lewat naskah yang memang ditulisnya sendiri dan kabarnya memakan keseluruhan proses 8 tahun, namun penyampaiannya punya keseimbangan yang bagus diantara fokus masing-masing segmen dan karakter yang dipadukan jadi satu itu.

SPM1

              Sepulangnya dari menimba pendidikan di New York, Anggia / Gia (Adinia Wirasti) merasakan Jakarta tak lagi sama seperti rumahnya dahulu. Satu-satunya harapannya, Naomi / Nai (Marissa Anita), pasangannya di New York yang lebih dulu pulang ke Jakarta, ternyata sudah berubah mengarungi kehidupan hedonis, kebarat-baratan dan penuh topeng demi pengakuan status di segmentasi pergaulannya. Sementara Indri (Ina Panggabean), seorang pegawai gym, terus mencoba menaikkan derajat hidupnya dengan memilah-milih pasangan lewat random chatting via smartphone-nya. Ada pula Ci Surya (Dayu Wijanto), seorang wanita paruh baya yang berada dalam sebuah state of shock kala mengetahui alm. suaminya yang baru saja meninggal ternyata punya simpanan wanita malam di sebuah klub. Semuanya terjebak dalam pertentangan jiwa masing-masing, di tengah kehidupan artifisial atas harapan, nafsu dan mimpi-mimpi kaum urban yang berbeda, dimana semuanya meledak dalam perjalanan semalam yang bertemu di sebuah benang merah. Motel bernama Lone Star. Jakarta.

SPM4

          Hal paling menarik dalam ‘Selamat Pagi, Malam’ adalah kontras dari bentukan karakter-karakter yang dipilih Lucky untuk menyampaikan kegelisahannya memandang apa yang ada di sekitarnya sekarang. Bahwa ia tak lantas membangun sisi satirikalnya jadi terbatas hanya dalam deskripsi penuh hura-hura, dan bukan pula jadi melulu berupa sarkasme serba cerewet. Diatas sebuah atmosfer malam Jakarta yang sekaligus menangkap kecantikan dan keburukan penuh kegelisahan itu tak hanya puitis tapi juga luarbiasa kasar serta nakal, tiga karakter utama beserta pendamping-pendampingnya itu berpadu menciptakan sebuah balance yang benar-benar terasa hidup. Dialog-dialognya sangat menohok, dan kontras set yang dibangun production designer Christyna Theosa beserta tim artistiknya membuat deskripsi benturan derajat serta keinginan berbeda itu jadi penuh simbol bahkan secara solid dituntaskan dengan near ending scene dibalik alunan acapella lagu klasik ‘Pergi Untuk Kembali’ dari karakter Dira Sugandi yang sangat haunting. Pretty, dark, sekaligus kontemplatif.

SPM7

            Kekuatan kedua jelas ada di pemilihan cast-nya. Ketimbang bermain dengan wajah-wajah yang sudah sangat dikenal, mereka mengutamakan tampilan realisme untuk membuat interwave antar segmen-segmennya menciptakan relatable feel ke penontonnya. Di luar Adinia Wirasti yang memang bekerja dengan baik sebagai main vehicle dibalik tipikalisme karakter serba cuek dan free spirited-nya, seluruh cast-nya dengan mengejutkan tampil dengan luarbiasa, mostly Marissa Anita. Bukan saja meng-handle porsi besar pertama perannya dengan begitu cantik, chemistry-nya dengan Adinia juga juara. Ina Panggabean, Trisa Triandesa, Dayu Wijanto dan Mayk Wongkar juga bermain begitu lepas, sama sekali tak malu-malu, even ketika Lucky membombardir kenakalannya ke sejumlah adegan yang beresiko berhadapan dengan sensor lebih. Begitupun, kasar-kasarnya joke dan sindiran ini tak lantas membuat pengadeganan mengarungi Jakarta night ride ini jadi tak relevan. Necessary roughness on the look of Jakarta’s face, dan melemparkan struggling choices dan social critics lain tepat ke tengah-tengah pemirsanya, untuk berkaca dan menertawakan diri mereka sendiri. Sama seperti sindirannya, hilarious on the surface, tapi menyedihkan di dalamnya.

SPM5

            Dalam penyampaian kontemporer di sisi sinematisnya, ‘Selamat Pagi, Malam’ yang punya international title keren, ‘In The Absence Of The Sun‘ ini juga cukup solid. Tata kamera dari M. Budi Sasono yang merekam sisi-sisi Jakarta malam hari itu bersinergi dengan pas bersama simbolisme yang dihadirkan Lucky, detil-detil tata rias dan kostum, masing-masing dari Stella Gracia dan Yufie Safitri untuk menekankan layer-layer derajat serta mimpi itu juga bagus, begitu juga tata musik dari Ivan Christian Gojaya. Masih ada juga cameo serta penampilan singkat yang menarik baik dari wajah-wajah yang selalu muncul di produksi Kepompong Gendut ; Lina Marpaung aka Mak Gondut, Sunny Soon dan Sammaria Simanjuntak sendiri, Adella Fauzi, Nazyra C. Noer, Paul Agusta, Aming, Dira Sugandi bahkan pengamat film senior Indonesia Yan Widjaya yang muncul hanya lewat foto. Dan terakhir, tentu saja lagu-lagu untuk mengiringi soundtrack-nya, yang selalu jadi kekuatan ekstra di produksi PH ini. Ada ‘Selamat Pagi Malam’ dari Agustine Oendari, ‘To NY’ dari Aimee Saras dan ‘Pergi Untuk Kembali’ dari Karta Tanuwidjaya.

SPM8

            Lagi-lagi, dengan waktu perilisan yang sebenarnya pas menjelang HUT Jakarta, dimana social satire yang menohok wajah kehidupan di kotanya harusnya bisa jadi sesuatu yang spesial, sayang sekali sambutan penonton kita jauh dari yang diharapkan. Okelah, walau harus berhadapan dengan segmentasi penonton, mostly penghuni Jakarta atau paling tidak kota-kota besar lain yang bisa benar-benar menyelami sarkasme-sarkasmenya, tapi sambutan  terhadap ‘Selamat Pagi, Malam’ seharusnya bisa jauh dari kenyataan yang ada. Tapi satu yang pasti, ini adalah social satire dengan keseimbangan protes serta nafas kontemplasi yang pas. That even at the worst nights, ia tetap menyemangati kita buat bertahan menunggu pagi. Take you dive into Jakarta night scenes where artifical lives and real passions collide, ‘Selamat Pagi, Malamis exuberantly hilarious! (dan)

SPM6

~ by danieldokter on June 24, 2014.

One Response to “SELAMAT PAGI, MALAM : NECESSARY ROUGHNESS ON JAKARTA NIGHT RIDE”

  1. […] Read the full review here (In Indonesian) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: