THE FAULT IN OUR STARS : A POETICALLY INSIGHTFUL LOOK INTO A SICK-LIT ADAPTATION

THE FAULT IN OUR STARS

Sutradara : Josh Boone

Produksi : Temple Hill Entertainment, 20th Century Fox, 2014

TFIOS7

            Here’s a little irony. Tak seperti template baku banyak melodrama Asia yang mengeksploitasi kematian dan penyakit-penyakit terminal sebagai fondasi tearjerking love stories-nya, Hollywood ataupun film-film luar Asia lainnya sekarang agaknya tergolong cukup jarang menyentuh tema-tema ini. Padahal, salah satu yang membuat trend-nya merebak dulu adalah popularitas ‘Love Story’ (1970), adaptasi novel Erich Segal yang masih diingat hingga sekarang, yang notabene datang dari Hollywood. Okelah, bukan lantas sama sekali tak ada, sesekali, film-film seperti ‘My Sister’s Keeper’, ‘50/50’ ataupun yang jauh lebih mirip, ‘Restless’-nya Gus Van Sant (produksi Amerika-Inggris) masih muncul, namun potensi eksploitatifnya tetap punya batasan berbeda.

TFIOS3

            ‘The Fault In Our Stars’, a much anticipated adaptation dari novel best seller karya solo keempat John Green ini juga kurang lebih seperti itu. Walau plot-nya lebih ultimate, menggambarkan love betwen the terminally ill patients dari dua karakter utamanya seperti ‘Restless’, bahkan lebih, ia tak lantas jadi anotherLove Story’. Tema kanker terminalnya dikemas dalam konteks-konteks berbeda, nyaris seperti romcom seperti ‘Benny & Joon’ atau ‘The Other Sister’ yang masing-masing membahas sort of autism dan keterbelakangan mental. Source-nya pun sama. Beyond the sick-lit controversy in children’s books to young adult yang banyak dituding sebagai eksploitasi tak mendidik, dimana’The Fault In Our Stars’ masuk ke dalam banyak bestselling lists sekaligus critically acclaimed novel, karya John Green ini memang berbeda.

TFIOS10

            Ketimbang mengeksploitasi tema kematian dan penyakit-penyakit terminalnya, Green lebih mengarahkannya menjadi sebuah kisah inspiratif atas ide yang datang saat ia melakukan tugas sosial di tengah anak-anak/remaja penderita kanker di sebuah rumahsakit khusus. Meraciknya dengan banyak simbol dan metafora dari science, math, sejarah hingga sastra, salah satunya judul yang terinspirasi dari penggalan drama Shakespeare, Julius Caesar, juga dengan gaya penyampaian yang sangat child to teen-oriented, ‘The Fault In Our Stars’ jadi terasa lebih berupa kisah humanisme dengan banyak percikan-percikan pengharapan diatas tema sentral lovestory-nya.

TFIOS5

            Walaupun Kanker Tiroid terminal yang sejak lama sudah bermetastasis ke paru-parunya masih membuat Hazel Lancaster (Shailene Woodley) bertahan di usianya yang ke-16 atas sebuah temuan yang mengarah ke eksperimen terapeutik, ia tetap tumbuh menjadi seorang gadis depresif yang dipaksa ibunya (Laura Dern) buat bergabung bersama grup konseling penderita kanker di sebuah gereja. Disanalah ia kemudian bertemu dengan Augustus ‘Gus’ Waters (Ansel Elgort), penderita Osteosarkoma yang sudah kehilangan sebelah kakinya. Berbeda dengan Hazel, Gus yang berteman dekat dengan Isaac (Nat Wolff), penderita tumor mata yang baru kehilangan seluruh penglihatannya bersifat sangat optimis terhadap remisi penyakit setelah tindakan amputasi tersebut. Keduanya menjadi sangat dekat bersama kegemaran dan rasa penasaran mereka terhadap ending novel favorit Hazel, ‘An Imperial Affliction’ karya penulis Belanda misterius Peter Van Houten (Willem Dafoe) yang juga mengisahkan gadis penderita kanker dan dianggap Hazel mewakili keadaannya. Gus kemudian membantu lewat asisten Van Houten, Lidewij (Lotte Verbeek) untuk langsung menemui Van Houten ke Amsterdam. Disana hubungan mereka semakin berkembang, membawa Hazel lebih jadi lebih tegar, bahkan saat sebuah rahasia tentang penyakit Gus kemudian terkuak dengan cinta sebagai satu-satunya harapan untuk saling menyelamatkan dan membawa mereka ke akhir kisah masing-masing.

TFIOS2

            Meski tak mungkin menangkap semuanya secara persis, kredit duo penulis Scott Neustadter dan Michael H. Weber dari ‘(500) Days Of Summer’ dan ‘The Spectacular Now’ (juga filmnya Shailene Woodley) jelas menjadikan mereka orang yang tepat untuk memindahkannya ke skrip. Atmosfer insightful Green diatas dialog-dialog puitis penuh simbol serta metafora yang dihadirkan Neustadter dan Weber menjadi hal paling menarik untuk penyampaian ceritanya. Bukan hanya benar-benar menyampingkan kemungkinan-kemungkinan eksploitatif secara cemen dengan fokus ke penelusuran penyakit yang sekedar jadi latar namun tetap tersampaikan dengan informatif dan cukup akurat, juga membangun chemistry antara karakternya. Meski tak membentuk blend yang benar-benar sempurna, akting Woodley dan Elgort bukan lantas jadi gagal.

TFIOS9

            Okay, turnover karakter Gus mungkin masih sedikit agak lemah di bagian-bagian awal namun bersama pengembangan chemistry-nya, Elgort tetap bisa menghadirkan kerapuhan tanpa terpeleset jadi over sambil tetap menonjolkan sisi charming-nya menjadi leading man yang harus mengimbangi akting Woodley yang jauh lebih baik diatas naik turun emosinya membawa narasi keseluruhan kisah ini. On the other hand, lebih dari penampilan senior-senior seperti Laura Dern dan Willem Dafoe, yang sayangnya oleh skrip itu gagal dengan fungsi perannya sebagai karakter penyambung yang benar-benar natural, Nat Wolff dan Lotte Verbeek sangat mencuri perhatian dengan kemunculan mereka. Masih ada Sam Trammell dari HBO’s ‘True Blood’, aktor berparas sangat mirip Jim Carrey yang juga tak jelek.

TFIOS8

 

               Penyampaian yang sangat teen-oriented dibalik segmentasi soundtrack bagus dari Ed Sheeran (theme song-nya, ‘All Of The Stars’), Birdy dan M83  mungkin juga membuat persepsi rasa dan potensi tearjerking-nya akan sangat relatif, namun agaknya Josh Boone, sutradara yang sebelum ini sudah menghadirkan small star-studded rom-com secantik ‘Stuck In Love’ memang sengaja ingin menangkap nafas asli tone Green dalam novelnya. Bersama scoring Mike Mogis dan Nate Walcott yang tak juga kelewat mendayu-dayu, bahkan di banyak sisi penceritaannya seakan sengaja menahan ledakan-ledakan emosi tanpa satupun klimaks yang melonjak, Boone seperti ingin menarik batasan bahwa ‘The Fault In Our Stars’ bukan sepenuhnya bertujuan untuk mengeksploitasi emosi, tapi lebih menonjolkan sisi thoughful serta uplifting terutama ke pemirsa yang benar-benar merasa related dengan karakter-karakternya. Seperti mengikuti terapi suportif di grup konseling, you might have a lump in your throat, tersentuh dengan sebagian adegannya, tapi ketimbang meneteskan airmata, selipan metafora sejarah Anne Frank, thought and fear of oblivions dan dialog-dialog puitis, terutama yang hadir lewat eulogy-nya jauh lebih thought-provoking terhadap kaitan-kaitan nyata ke balance antara gambaran komikal dan humanisme karakter yang tengah berada dalam state of struggle menghadapi penderitaan-penderitaan mereka. Bahwa pada akhirnya, lovestory antara Gus dan Hazel bisa menjadi everybody’s story.

TFIOS6

         So yes, semuanya memang terpulang lagi terhadap ekspektasi masing-masing penontonnya. Sebagian mungkin mengharapkan ‘The Fault In Our Stars’ bisa lebih banyak menghabiskan tissue yang sudah mereka bawa, namun kenyataannya, source aslinya memang bukanlah sebuah disease-porn dengan tendensi eksploitasi airmata yang kelewat vulgar. Instead, tanpa hal-hal klise itu, ‘The Fault In Our Stars’ tetap bisa terlihat cantik serta sangat menggugah. A poetically insightful look at a sick-lit adaptation, dan itu artinya, tak biasa. (dan)

TFIOS1

~ by danieldokter on June 29, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: