TRANSFORMERS : AGE OF EXTINCTION ; BAY GOES MAXIMUM OVERDRIVE

TRANSFORMERS : AGE OF EXTINCTION 

Sutradara : Michael Bay

Produksi : Paramount Pictures, di Bonaventura Pictures, Hasbro, China Movie Channel, Jiaflix Enterprise, 2014

TF410

            If it really means a destiny you can’t avoid, then to his haters, Michael Bay might be the real fault in their stars. Oh yeah, bukan saja karena orang-orang yang membenci eksploitasi Bay dalam menggarap action dengan tons of destructions itu rata-rata memang sejatinya adalah para moviegoers, Bay memang sudah menciptakan fenomena unik dalam industri perfilman, khususnya dalam hal groundbreaking technology yang hampir selalu muncul di film-filmnya. Fondasinya jelas serba dangkal, if that’s how you describe it, luarbiasa klise, money oriented, tapi rata-rata kiprahnya selalu menciptakan standar baru dalam teknologi visual. Raising the bars bagi penggunaan efek-efeknya. Even lineup Criterion Collection yang dijadikan standar tertentu bagi sebagian penikmat film saja harus mengakui dua karya Bay yang sebenarnya benar-benar sangat mainstream.

TF43

            Dan ‘Transformers’, jelas adalah sebuah franchise yang sangat dibenci para haters, mostly critics, tapi lagi-lagi, selalu mereka tonton dengan antusiasme lebih, entah untuk menemukan kejelekan atau mencari silver linings. But then again, inilah industrinya. Dimana sebuah penilaian sebenarnya punya patokan-patokan berbeda antara penikmat dan pengamat, penonton ataupun kritikus bahkan kalangan sama dengan standar-standar berbeda. Bahwa standar-standar itu tak melulu harus ada di kedalaman penceritaan maupun tetek-bengek sejenisnya, tapi seperti theme park rides yang seru, punya kekuatan hiburan dan never before seen visual excitement.

TF45

            Bay jelas tahu itu. Sekali ini, seakan tengah naik pitam dengan cercaan panjang tadi, ia menyiapkan sebuah ultimate challenge terhadap pemirsanya, dan pukulan balik ke haters-nya. Memilih untuk meneruskan franchise yang diangkat dari produk Hasbro ini, tetap dengan dukungan Steven Spielberg sebagai executive producer-nya, ia menggagas instalmen keempat ‘Transformers’ dengan bombardir tanpa batas. Menggamit investor dari China sebagai pelaku joint venture-nya, dengan sedikit pembaharuan di cast dan soundtrack, ia menunjukkan bujet ketat dibalik seabrek product placement, bahkan terang-terangan menyentil ‘Pacific Rim’ yang bermain di wilayah tak jauh beda,  bisa bekerja menciptakan teknis visual dan box office yang solid di tengah overlong 165 mins durasinya. Like a guy raving mad, Bay melaju sekencang-kencangnya. Maximum overdrive.

TF48

                Dibuka dengan sepenggal prolog prehistorik, ‘Age Of Extinction’ berlanjut lima tahun setelah event di ‘Dark Of The Moon’, dimana bukan hanya Decepticons, tapi para Autobots juga sudah tersingkir dan balik diburu pemerintah bersama agen CIA Transformers-phobic Harold Attinger (Kelsey Grammer) lewat bantuan bounty hunter dari spesies mereka sendiri, Lockdown (disuarakan Mark Ryan) dan ilmuwan ambisius Joshua Joyce (Stanley Tucci) yang mengembangkan teknologi Transformers buatan manusia dari bahan baku baru yang jauh lebih dahsyat bernama Transformium. Jauh di pinggiran Texas, Cade Yaeger (Mark Wahlberg), duda penemu amatir bersama asistennya Lucas (T.J. Miller), tak sengaja menemukan Optimus Prime (tetap disuarakan Peter Cullen) yang bersembunyi sebagai truk rongsokan. Penemuan ini dengan cepat tercium oleh Attinger dan menempatkan putri Yaeger, Tessa (Nicola Peltz) serta kekasihnya Shane Dyson (Jack Reynor) dalam bahaya. Menyadari niat baik Yaeger, Optimus pun mengumpulkan Autobots yang tersisa ; Bumblebee, Hound (John Goodman), Crosshairs (John DiMaggio) dan Transformers samurai Drift (Ken Watanabe). Melarikan diri dari kejaran CIA dan Lockdown berikut Galvatron (disuarakan Frank Welker), human-made Transformers  inkarnasi Megatron, bersama the Seed, sebuah bom yang disiapkan merubah Hong Kong menjadi transformium, menuju pertempuran klimaks di Beijing, mau tak mau Optimus dan rekan-rekannya harus sekali lagi berperang demi keselamatan umat manusia.

TF46

              There you go. Meski mengganti karakter manusia utamanya dari Shia LaBeouf menjadi Mark Wahlberg sambil menambahkan elemen father-daughter-boyfriend conflict alaArmageddon’ dalam plotthe hunters become the hunted’ yang membawa celah origin baru Transformers plus kemunculan Grimlock dan Dinobots, Transformers’ legendary knights yang sejak lama ditunggu, jelas tak ada yang benar-benar baru dalam plot yang kembali ditulis Ehren Kruger dari dua instalmen sebelumnya. Bergerak ke ranah-ranah yang lebih gelap sekalipun, termasuk sedikit lebih menonjolkan kontroversi-kontroversi collateral damage yang tengah banyak dibicarakan banyak orang dalam deskripsi blockbusters, Bay tetaplah Bay. Dramatisasinya tetap se-klise biasanya, lebih dibangun dengan menonjolkan signature dan warna-warna khas adegannya ketimbang eksplorasi karakter, lengkap dengan kibaran bendera untuk penekanan American patriotism dan pretty-sexy young female lead-nya berlarian di tengah chaos pertempuran intergalactic robots ini.

TF41

              Sameold, sameold, meski Bay tetap meng-handle emosi-emosi dangkalnya tetap bisa bekerja dalam batasan blockbusters as true form of entertainment dibalik anthemic scoring serba megah dari Steve Jablonsky (also additional score dari Hans Zimmer), sound design dari electronic musician Skrillex dan theme songBattle Cry’ yang kini membawa Imagine Dragons menggantikan Linkin’ Park, karakter-karakter manusianya pun cukup diberi batasan superfisial dengan dialog-dialog tolol tanpa melebihi feel manusiawi para Autobots di tengah dilema mereka sebagai pembela umat manusia. That they’re bleed, hurt and as mortal as human dibalik ketangguhan luarbiasanya. Wahlberg dan Reynor tak jauh beda dengan LaBeouf, Peltz pun nyaris serupa dengan any Transformers’ babes, hingga Stanley Tucci yang menggantikan gambaran grey-comical John Torturro di instalmen-instalmen sebelumnya. Pendeknya, garis bawahnya cukup tegas, that one important rule in blockbusters, dumb could be fun.

TF42

            Tapi disini juga racikan di sepanjang durasi panjang itu tak lantas jadi terlalu melelahkan. Selain subplot anti-government-nya sedikit lebih baik tanpa military fetish ala Bay yang kelewatan, perpindahan set ke Hong Kong dan Beijing tergarap dengan cukup baik, dengan guest stars-cameos aktor Asia seperti Li Bingbing, and if you noticed, ada Ray Lui, Michael Wong serta ex Super Junior Han Geng, dan yang terpenting bagi real fans-nya ; kemegahan visual dinobots dan antusiasme terhadap kemungkinan sekuel yang bisa jadi bakal bergerak menuju Cybertron atas eksistensi misterius ‘The Creator’ yang masih dihadirkan secara samar disini. Ditambah karakter-karakter baru Transformers yang lebih terbatas hingga masing-masing bisa terfokus lebih detil, terutama Drift, Samurai Transformer yang disuarakan Ken Watanabe serta clear patterns dari giant robots movies, westerns, spy actions and some industrial satire, most of all, it’s like many blockbusters rolled into the explosive one.

TF44

               Dan jangan tanya soal sisi teknis serta visualnya. Okay, penggarapan Bay secara keseluruhan juga masih tak jauh dari biasanya. Tapi kolaborasinya bersama remarkable DoP Amir Mokri sejak ‘Bad Boys II’ dan ‘Dark Of The Moon’ terasa semakin sakti disini. Mengisi small moments-nya dengan sangat elegan, tetap menyisakan taste dari indie roots-nya, keseluruhan durasi panjang itu dipenuhi banyak sekali iconic – jawdropping moments, even more than dozens never before seen visual achievements bersama kerja solid ILM (Industrial Light And Magic) dengan supervisi Pat Tubach di visual effects-nya. Lihat bagaimana mereka meng-handle eksotisme Hong Kong dan Beijing diatas set asli maupun pengganti yang digabungkan dengan bagus sambil tetap merekam proses transforming, giant robots’ realistic shape-shifting, aksi Autobots menangkap human characters-nya yang terlempar dan melayang-layang, ekspresi mata mereka ke penampakan Dinobots ini dengan clarity, kompleksitas serta detil-detil mencengangkan, serba jelas dan di tengah set siang hari pula. Bahkan penggabungan practical effects ledakan, animated effects, rigid effects di race dan massive destruction scenes serta particle effects sangat detil bisa berpadu dengan astonishing popped-up 3D gimmick atau IMAX treatment yang begitu keren. Semua dengan bujet yang tak sebesar film lain dengan pencapaian yang masih rata-rata berada di bawahnya, dimana penempatan product placement seperti apapun akan dengan mudah membuatnya bisa termaafkan.

TF47

              So, inilah Bay-someness, his special aesthetics dalam membangun keunggulan dan kompleksitas visual ke dalam karya-karyanya. Satu yang jelas tak dimiliki semua sineas, dan tak boleh diremehkan begitu saja dalam keberadaan film sebagai blockbuster dengan bombardir hiburan yang sangat menghentak sekaligus memanjakan mata. Just when we thought it couldn’t go any bigger, he still push it over the limits. Sebagian orang, mostly serious critics, mungkin tak akan bisa dengan mudah memahami sisi ini, but then again, seperti excitement mengarungi theme park rides yang seru, in the scale of the whole theme park, ini tetap sebuah power factor that comes bigger, louder, longer and even better. Bahwa critical bombs pun tak akan mampu menahan haters-nya sendiri untuk tak ikut menikmati hype serbuan Transformers dalam intensitas tanpa batas terhadap perolehan box office-nya. Goes maximum overdrive and off limits, this one is more than meets the eye, oops… expectationsBay rules! (dan)

TF49

~ by danieldokter on June 30, 2014.

One Response to “TRANSFORMERS : AGE OF EXTINCTION ; BAY GOES MAXIMUM OVERDRIVE”

  1. Saya gak pernah nonton film Transformers yg ke-3. Gara2 sudah lelah dgn suguhan Bay-someness ini. Tapi jujur film ke 4 saya berharap lebih karena ada Mark Whalberg. Eeehhh … Ternyata setelah nonton, Mark oke-oke aja berdialog jelek dalam film ini. Yah ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: