DAWN OF THE PLANET OF THE APES : AN EMOTIONALLY GRIPPING MO-CAP TOUR DE FORCE

DAWN OF THE PLANET OF THE APES 

Sutradara : Matt Reeves

Produksi : Chernin Entertainment, 20th Century Fox, 2014

DOA1

            Sebelum kemana-mana, let me ask you one thing. How well did you rememberPlanet Of The Apes’? Oh, tentu bukan versi Tim Burton, yang meski punya visual effects sangat unggul namun lebih ke pure fantasy ataupun predecessor-nya yang juga jadi salah satu summer blockbuster terbaik tiga tahun lalu, tapi franchise awal dari tahun 1968-1973, not to mention serial teve dan animasinya. Sama seperti gagasan panjang yang ada dalam source aslinya, novel berjudul sama karya penulis Perancis Pierre Boulle, yang harus diingat, reboot ini bukanlah kali pertama mereka mengangkat interspecies conflict between apes and human dengan latar politik dan thought-provoked revolution theme yang kental di dalamnya. Pun bagi yang kelewat memuji darker exploration-nya, tak ada yang bisa mengungguli sekuel adaptasi pertamanya, ‘Beneath The Planet Of The Apes’ (1970) yang benar-benar melawan arus di tengah salah satu ending paling nihilistik yang sangat menakutkan di zamannya, di luar ribut-ribut soal justifikasi keterlibatan aktor Charlton Heston dalam pakem sekuel masa itu.

DOA6

            But, jauh dari sekedar nafas asli source-nya, kekuatan terbesar ‘Rise Of The Planet Of The Apes’ yang sebenarnya punya premis mirip dengan instalmen keempat/kelima franchise aslinya, adalah eksplorasi emosi dalam menuangkan tema itu. Jauh lebih dalam dari sekedar war ideas dan beda-beda interkoneksi dua spesies yang masih saling terhubung dari teori evolusi ini, ataupun usaha-usaha untuk membalik timeline di tengah twist post apocalyptic earth menjadi sebuah reboot dengan penjelasan origin lebih lagi buat menghubungkannya langsung ke core revolution theme itu. Padahal sebelumnya tak banyak yang meyakini langkah mereka memilih sutradara Rupert Wyatt serta duo penulis Rick Jaffa dan Amanda Silver untuk bisa berperang bersama summer blockbuster lain di tahun 2011 yang jelas-jelas jauh lebih high-profile darinya. Dan jangan lupakan pula pencapaian performance capture ataupun mo-cap, apapun sebutannya, serta visual effects lain dari Weta Digital yang sudah menunjukkan bahwa teknologi sinema sudah sampai ke detil-detil yang dulu tak pernah bisa terbayangkan.

DOA3

            Di tangan sutradara barunya, Matt Reeves, dari ‘Cloverfield’ dan ‘Let Me In’ yang jelas sudah punya profil lebih dibanding Wyatt di film pertama, masuknya penulis Mark Bomback dari ‘Total Recall’ dan ‘The Wolverine’, tetap bersama Jaffa dan Silver untuk menyambung benang merah kekuatan emosi itu, sekuel ini jelas menjanjikan. Selain efek-efek mo-cap yang sudah terlihat sangat dahsyat dari promo-promo-nya, mereka dengan berani membawa gagasan revolusi primata ini kembali mendekati plot aslinya. Rentang timeline-nya tetap jauh seperti instalmen-instalmen lamanya, namun kini dengan serangkaian shorts yang jadi penghubung untuk menjelaskan apa yang terjadi setelah ending ‘Rise’. Dengan konsep sama, bahkan nyaris tanpa star factor kecuali Gary Oldman yang jauh lebih dikenal ketimbang Jason Clarke dan Keri Russell, mereka tetap meletakkan kekuatan utamanya pada performa Andy Serkis sebagai Caesar, kini ditambah Toby Kebbell yang melanjutkan peran Koba, primata pendendam yang sudah muncul sebelumnya (di film pertama diperankan Christopher Gordon).

DOA11

            10 tahun setelah serangan virus ALZ-113 dari film pertama mulai memusnahkan peradaban umat manusia sejak tahun 2016, Caesar (Andy Serkis) memimpin spesiesnya ke tengah pedalaman Muir Woods. Disana, lewat anak Caesar bersama Cornelia (kini diperankan Judy Greer), Blue Eyes (Nick Thurston), mereka kembali berhadapan dengan sekelompok manusia yang karena panik menembak Ash (Doc Shaw), anak sahabat Caesar, Rocket (Terry Notary). Curiga dengan aktifitas manusia yang memasuki wilayah mereka untuk mencari source energi hidroelektrik, meski Caesar mengampuni mereka, atas saran Koba (Toby Kebbell) yang masih menyimpan kebencian terhadap kaum manusia, menyelidiki eksistensi mereka di sebuah situs terisolasi di San Francisco. Malcolm (Jason Clarke), salah satu dari mereka, bersama istrinya Ellie (Keri Russell) dan putranya, Alexander (Kodi Smit-McPhee), berusaha mempertahankan perdamaian dengan meyakinkan pimpinan manusia, Dreyfus (Gary Oldman) untuk membiarkannya mendekati Caesar. Sayangnya, Koba yang bergerak sendiri atas prasangka berlebihannya membuat semuanya berantakan. Berbalik merancang pemberontakan, perang antara dua spesies ini pun tak terhindarkan di tengah prinsip berbeda untuk mempertahankan eksistensi masing-masing.

DOA2

            Sama seperti pendahulunya, kekuatan utama ‘Dawn Of The Planet Of The Apes’ juga ada pada eksplorasi emosi yang sangat solid bersama plot yang bergulir sejak awal. Bertolak belakang dengan franchise aslinya yang kerap kurang memberi batas jelas dengan keberpihakan yang saling berpindah di sepanjang instalmennya, bersama Bomback, Jaffa dan Silver sekali lagi berhasil memberi penekanan-penekanan kuat dalam latar kisah-kisah revolusi tanpa penghakiman, menempatkan karakter-karakternya dengan lapis-lapis motivasi berbeda, meski masih punya batasan hitam putih, but with various causes and consequences secara sangat wajar, menggugah emosi sekaligus thought-provoking atas banyak peristiwa yang ada sekarang ini.

DOA4

        Yang lebih membuatnya terasa unik, bersama eksplorasi solid itu, mereka juga tak sekali pun menghilangkan feel-nya sebagai sebuah blockbuster. Meski memang terbentur pada kepentingan fun factor yang digerus sedalam mungkin, lebih ke tipikal sekuel blockbuster melankolis kegemaran kritikus dan penikmat tontonan serius ala ‘Empire Strikes Back’ bahkan ‘The Dark Knight’, Reeves menjaga keseimbangan storytelling-nya tak jadi kelewat berputar-putar secara ruwet atau njelimet. Dialog-dialog dan turnover para karakternya tetap terasa sangat pop dengan mengandalkan quote-quote cukup memorable baik dari interaksi spesies sama ataupun berbeda, terlebih buat memberi penjelasan bahasa primata lewat subtitel hingga kemampuan sebagian apes character ini berbahasa manusia, semua bisa dihadirkan dengan wajar serta cukup pas. Ini juga yang membuat pace-nya sedikit bisa melebihi ‘Rise’. Mungkin tak sampai sedahsyat salah satu promo poster-nya yang lagi-lagi menjual tampilan Golden Gate Bridge menggantikan ikon patung Liberty di franchise lamanyanamun peningkatannya menuju klimaks rampage battle itu masih terbilang sangat seru. Satu yang terpenting, bahkan dengan detil yang membuatnya jadi seolah missing link dari instalmen-instalmen selama ini, mereka tak perlu menggagas konklusi-nya jadi se-nihilistik ‘Beneath The Planet Of The Apes’ sambil menahan realitanya untuk tak terbentur jadi sebuah pure fantasy tanpa kedalaman lebih, dan dengan sendirinya sudah punya pakem baru untuk membangun atmosfernya sendiri, tapi tak juga berarti mengkhianati political elements yang ada dalam source aslinya.

DOA9

           Dan jangan tanyakan sisi teknisnya. Performance capture dan visual effects tambahan lain dari Weta Digital yang dimotori Joe Letteri dan Dan Lemmon bahkan secara luarbiasa melampaui detil-detil pencapaian mereka di film pendahulunya. Lihat saja serangkaian proses-proses teknis pembuatannya, yang mengundang ketakjuban kala melihat hasilnya. Dari tiap gerakan, ekspresi hingga sorot mata para primata terutama tokoh-tokoh sentralnya, karakterisasi itu sudah terbangun sedemikian detil, bahkan lebih dari live actors-nya. Sinematografi Michael Seresin, DoP senior belum pernah tampil sebagus ini sejak kiprahnya di ‘Midnight Express’ dulu, begitu pula pace editing dari William Hoy, editor senior yang memang sudah biasa meng-handle film-film besar sampai kecil degan kedalaman lebih, dan scoring dari Michael Giacchino pun terdengar jauh lebih epik serta megah dibanding apa yang dilakukan Patrick Doyle di film sebelumnya. Konversi 3D-nya memang tak menyembul, tapi memberikan depth yang bagus.

DOA5

         Kalaupun ada satu-satunya kekurangan, justru pada deretan human characters-nya yang tak bisa sebaik ensemble yang ada di ‘Rise Of The Planet Of The Apes’. Jason Clarke masih cukup lemah meng-handle potensinya sebagai lead, Keri Russell dan Kodi Smit-Mc Phee tak diberi kesempatan lebih, dan Gary Oldman, meski tetap tak perlu ditanyakan kualitas keaktorannya, tak mendapat justifikasi ending yang layak buat penjelasan karakter yang tetap hanya terbatas sebagai side character tanpa bisa mengungguli John Lithgow di instalmen pertamanya. Tapi toh pakem franchise-nya memang kerap lebih menempatkan aktor-aktor yang mengisi peran primata seperti yang ada di judulnya, sebagaimana dulu Roddy McDowall lebih diingat ketimbang Charlton Heston atau aktor-aktor lain seperti James Francsicus atau Ricardo Montalban yang melanjutkan sekuel-sekuelnya. Andy Serkis dan Toby Kebbell adalah dua yang sangat patut mendapat kredit lebih tanpa memunculkan sosok asli mereka dalam permainan mo-cap yang sebenarnya juga punya eksplorasi akting sama bahkan mungkin jauh lebih sulit ini.

DOA8

         So, memang tak berlebihan kalau resepsi ‘Dawn Of The Planet Of The Apes’ baik dari sisi kritikus maupun penonton terdengar sangat meyakinkan. Ini memang bukan sekedar summer blockbuster yang melulu hanya menjual fun factor, yang tetap perlu ada satu atau dua di tengah pameran boom-bangs dan gegap gempita keseluruhan selebrasinya. Bukan saja jadi kandidat summer blockbuster terbaik tahun ini, but also one of the year’s best and absolutely the best among allPlanet Of The Apesinstallments. An emotionally gripping mo-cap tour de force! (dan)

DOA7

~ by danieldokter on July 16, 2014.

2 Responses to “DAWN OF THE PLANET OF THE APES : AN EMOTIONALLY GRIPPING MO-CAP TOUR DE FORCE”

  1. […] DAWN OF THE PLANET OF THE APES – Joe Letteri, Dan Lemmon, Daniel Barrett and Erik Winquist […]

  2. […] DAWN OF THE PLANET OF THE APES – Joe Letteri, Dan Lemmon, Daniel Barrett and Erik Winquist […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: