HIJRAH CINTA : A WELL MADE AND SUPERBLY ACTED LOVE STORY

HIJRAH CINTA

Sutradara : Indra Gunawan

Produksi : MVP Pictures, 2014

HC9

            Seperti antusiasme kebanyakan orang menyaksikan liputan-liputan selebritis, biopics, memang masih jadi komoditi unggulan untuk film Indonesia. Keberhasilannya jelas tergantung dua faktor terbesar di luar faktor-faktor sinematis lainnya. Seberapa jauh sosoknya menginspirasi banyak orang, dan yang kedua, kemana pendekatannya dibawa untuk membangun emosi. Dalam konteks pertama, sosok alm. Ustadz Jefri Al-Buchori – dibalik sebutannya sebagai ustadz gaul / ustadsz seleb yang kerap disapa Uje, jelas memenuhi syarat untuk dijadikan sebuah biopic.

HC3

           Bukan saja karena sosoknya yang inspiratif sebagai pendakwah setelah lepas dari titik terendah kehidupannya sebagai seorang pecandu obat-obatan terlarang, riwayat hidupnya memang menyenggol banyak selebritis lain yang cukup dikenal dan masih pula menyisakan sosok Pipik Dian Irawati – akrab disapa dengan Umi Pipik sebagai warisan terbesarnya di ranah profesi yang sama. Lebih lagi, Umi Pipik merupakan amunisi emosi kuat untuk memindahkan kisah mereka ke jalur yang jauh lebih universal diatas sebuah love story yang menggambarkan ketabahan seorang wanita dalam perjuangan tokoh utamanya. Walaupun mungkin masih terbentur di segmentasi reliji atas profesi itu, tapi paling tidak, ini adalah sebuah true love-tale yang cukup universal, dan adalah sebuah kejelian pasar untuk melepasnya di momen Idulfitri yang masih jadi salah satu standar emas perilisan film-film lokal kita.

HC4

            And no, skrip yang ditulis Hanung Bramantyo memang tak serta-merta membahas sepak terjang Uje sebagai pendakwah. Menahan penceritaannya di ranah kisah cinta menyentuh itu, bersama Dapur Film dan Indra Gunawan, astrada Hanung di film-film seperti ‘Pengejar Angin’, ‘Perempuan Berkalung Sorban’ dan ‘Get Married’, ia membawa kita kembali ke masa-masa kejatuhan Uje (Alfie Alfandy) dalam titik terendah hidupnya, dan bagaimana perjuangan seorang Pipik (Revalina S. Temat) begitu teguh mencoba menyelamatkannya. Talenta yang dimilikinya dalam meniti karir di dunia hiburan ternyata menyeret Uje ke obat-obatan terlarang lewat Yosi (Ananda Omesh), seorang bandar yang selalu membantunya. Padahal, Uje datang dari keluarga soleh dengan ibunya Umi Tatu (Wieke Widowaty) yang berprofesi sebagai seorang pendakwah. Ia diusir oleh bapaknya (Piet Pagau), ditinggalkan oleh sahabat-sahabatnya termasuk Valentino (Gugun Gondrong) yang tak bisa lagi mempercayainya. Hanya Pipik, rekan sesama model yang sejak awal saling tertarik dengan Uje, yang terus setia berdiri di sampingnya, walau tetap diingatkan oleh sahabatnya, Widi (Fikha Effendi). Melepas karir modelnya bahkan rela mengenakan hijab atas permintaan Umi Tatu demi menghindari tudingan masyarakat, Pipik yang baru belakangan mengetahui masalah Uje tak pernah menyerah. Terus berusaha membawa Uje hijrah ke jalan yang lebih baik, sekaligus menjadi saksi dari perubahan hidupnya.

HC2

            Inilah yang menjadi faktor keberhasilan ‘Hijrah Cinta’ sebagai sebuah biopic yang bisa membangun emosinya dengan mengharu-biru. Bahwa Hanung, Indra dan tim mereka tak membawa kita menyaksikan kisah lahirnya seorang pendakwah terkenal dengan segala macam pesan moral berlimpah untuk menekankan sisi relijinya, tapi memindahkan template-nya dengan halus ke tema-tema ‘how far would you go for someone you loved’ yang begitu menyentuh. Skrip dengan penceritaan back and forth beserta line-line dialog yang kuat itu dengan efektif menempatkan sosok Uje dengan manusiawi diantara karakter-karakter pendamping lain tanpa melebih-lebihkannya sebagai idola banyak orang, sementara titik emosinya dibangun begitu hidup lewat sosok Pipik pada titik sentralnya. Peranan Hanung memang tetap terasa di tengah penyutradaraan Indra, namun storytelling-nya cukup efektif untuk tak terus-menerus mengulang adegan-adegan teler yang seperti biasa jadi salah satu spesialisasi banyak sineas kita. Kita juga sudah tahu ke titik mana ending tragis itu akan dibawa di pengujungnya, namun scene-nya dibangun dengan subtext personal yang mendalam.

HC7

            Namun secara sinematis, hal terbaiknya tetaplah ada di tangan Alfie Alfandy bersama Revalina S. Temat. Melawan banyak persepsi berbeda atas peran Uje yang jatuh ke tangan Alfie sebelumnya, aktor yang sebelumnya lebih banyak berkiprah di peran-peran komedi, termasuk satu yang paling diingat, sebagai Bo’im di rebootBangun Lagi Dong, Lupus’, Alfie menjelma nyaris sepenuhnya menjadi sosok Uje yang dikenal banyak orang selama ini. Meski tetap harus didukung make-up yang baik dari Cherry Wirawan dan timnya, mimicking acts dari ekspresi, gestur hingga ke tone suara dilakoninya secara begitu meyakinkan. Sementara dengan pengalaman jauh lebih senior, Revalina mengimbangi aktingnya dengan garis batas jelas tanpa harus meniru-niru sosok Pipik, tapi bekerja dengan emosi luarbiasa di sejumlah tearjerking moments terbaiknya. Berdua, mereka membentuk chemistry luarbiasa, dan masih ada dukungan yang solid dari Valentino sebagai Gugun Gondrong, Ananda Omesh dengan transformasi emosi yang kuat menjadi Yosi tanpa terus tampil bak orang teler, bahkan Epy Kusnandar dalam penampilan singkat di salah satu adegan terkuat film ini.

HC5

 

            Sisi teknisnya pun baik. Di luar theme song berjudul sama dari Melly Goeslaw yang dibawakan Rossa bagus namun terdengar tak jauh dari theme song Islami tipikal biasanya, scoring dari Andhika Triyadi tak lantas harus berlebihan mencoba memperkuat emosi yang sudah terbangun dengan baik, begitu juga sinematografi Faozan Rizal dalam beberapa penekanan emosinya, termasuk di adegan dermaga sebagai konklusi perjuangan cinta Uje dan Pipik itu. Apalagi tim tata artistik dari Allan Sebastian. Meng-handle setting akhir ’80 ke ’90-an dengan pernak-pernik ikoniknya, hasilnya cermat sekali. Oke, lagi-lagi, sebuah biopic memang masih akan berurusan dengan empati yang berbeda-beda dari segmentasi pemirsanya. Sebagai sebuah biopic, seperti persepsi berbeda terhadap fenomena ustadz gaul atau seleb, keberadaan sosok Uje dan Pipik sebagai pendakwah di konteks itu mau tak mau juga memberi sedikit resistensi untuk membuat ‘Hijrah Cinta’ bisa benar-benar maksimal jadi tontonan universal bagi semua kalangan baik dalam maupun luar relijinya. Tetap segmented, tapi paling tidak, ‘Hijrah Cinta’ sama sekali tidak ingin bicara soal reliji dalam emotional core-nya. See it at its deepest layer, and you’ve got yourself a well made and superbly acted love story. A true love story. (dan)

~ by danieldokter on August 4, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: