RUNAWAY : PRETTY FACES ROMANCE WITH A NOD TO ’80s -‘90s HK CINEMA

RUNAWAY 

Sutradara : Guntur Soeharjanto

Produksi : Maxima Pictures, 2014

R8

            Here’s the truth. Maxima Pictures adalah salah satu PH kita yang paling unggul dalam masalah kemasan promosinya, sekaligus juga punya kejelian lebih, mengambil resiko dalam memanfaatkan trend atau popularitas bintang-bintang di film mereka. ‘Runaway’ ini pun begitu. Dengan jualan utama Al Ghazali, putra rocker kontroversial Ahmad Dhani yang tengah menanjak popularitasnya, agaknya mereka yakin bisa bersaing di tengah momen Idulfitri bersama sejumlah film Indonesia yang lain. Tak salah memang, karena tanpa bakat akting sekali pun, rasanya pemirsa belia, mostly girls, memang sudah bisa dipastikan akan punya antusiasme lebih menyaksikan penampilan debut Al sebagai lead di film layar lebar. Sama seperti kecenderungan penonton kita terhadap pretty faces factor dalam memilih tontonan, melihat wajahnya saja sudah puas, kira-kira begitu.

R6

 

            However, ‘Runaway’ memang tak disiapkan secara ala kadarnya. Dari jauh hari, ekspektasi itu sudah dibangun lewat teaser-teaser BTS syutingnya yang jauh-jauh mengambil lokasi HK sebagai genre drama aksi, atau tepatnya sebuah action romance. Tak tanggung-tanggung, tenaga koreografi aksi dari sana pun diikutsertakan untuk, katanya, membangun genre action yang lebih ditujukan untuk penonton muda. Dipasangkan dengan Tatjana Saphira dan Kimberly Ryder, lengkaplah sudah daya jual ‘Runaway’ yang semula berjudul ‘Musa’ namun urung dipakai untuk tak mendistraksi persepsi bahwa ini adalah film reliji, bagi segmentasi pasarnya. Tapi sebaik apa mereka bisa menghadirkan nafas baru dalam genre-nya di sinema kita?

R3

            Template Cinderella love story ini mengisahkan Tala (Tatjana Saphira), gadis yang terpaksa menjalani kehidupannya di negeri orang sebagai pencopet bersama pamannya, Toni (Edward Akbar), demi menopang ibunya (Dewi Irawan), mantan TKW yang tengah sakit keras dan terjebak masalah keimigrasian di Hong Kong. Masalahnya, ketimbang menjaga Tala, Toni yang kecanduan judi ini juga kerap bersikap manipulatif. Disitulah akhirnya Tala tak sengaja berkenalan dengan Musa (Al Ghazali), putra konglomerat Surya (Ray Sahetapy) yang menjadi salah seorang korbannya. Sejak awal, Musa memang punya masalah dengan Surya atas sebuah insiden masa lalu keluarga mereka. Melawan keinginan Surya untuk mendekatkannya pada putri rekan bisnisnya (Kimberly Ryder), Musa dan Tala seolah menemukan jawaban atas masalah masing-masing diatas hubungan mereka yang semakin berkembang. Tapi mau lari kemanapun, dua dunia jauh berbeda, belum lagi ulah Toni yang selalu memperburuk keadaan, jelas menghadang masa depan mereka.

R7

            Penyuka film-film Hong Kong tahun ’80 ke ’90-an pasti bisa merasakan deja vu  ke tema-tema seperti ini. Mau karakternya dibongkar-pasang pun, tema kisah cinta berbeda status ini kerap hadir di sinema mereka era itu. Pakemnya pun sama klise, berupa romance yang dibumbui action sebagai topping-nya, dengan salah satu karakter abu-abu pembuat onar menuju konklusi yang rata-rata sama saja, mostly menempatkan lagu temanya, disini berjudul ‘Kurayu Bidadari’, ciptaan Vega Antares yang dinyanyikan Al sendiri sebagai singel solo perdananya dengan bait-bait awal yang menyerupai ‘Now And Forever’-nya Carole King, agar bisa bekerja membangun emosi ke sasaran penontonnya.

R5

            However, penulis skrip langganan Maxima, Alim Sudio, memang tampaknya cukup fasih dan punya banyak referensi dalam penggunaan template itu. Bersama sutradara Guntur Soeharjanto yang biasanya selalu bisa menyuguhkan storytelling lancar di plot-plot ringan, apalagi dengan set dan landmark HK yang dimanfaatkan dengan baik lewat sinematografi Enggar Budiono, romance parts di bagian-bagian awalnya bisa hadir dengan set-up yang sangat renyah buat dinikmati dalam konteksnya sebagai tontonan hiburan. Plus chemistry on screen couple Al dan Tatjana yang muncul begitu impresif, ‘Runaway’ sebenarnya sudah dimulai dengan start-up yang asyik. Oke, Guntur mungkin tahu mengarahkan Al tanpa perlu berakting susah payah kecuali dalam serangkaian usaha latihan beladiri-nya, namun Tatjana benar-benar bersinar memerankan Tala dengan pesona irresistibly beautiful-nya. Semua masih sesuai dengan pakemnya dalam konteks-konteks komersil sebuah pretty faces romance, bahwa mereka paham benar apa yang mau dijual dalam ‘Runaway’.

R4

            Pemeran pendukungnya pun memberikan sentuhan yang cukup bagus. Akting tipikal Ray Sahetapy bersama style komikal Edward Akbar dan Mario Maulana untuk mengisi sempalan komedinya tampil secara proporsional sesuai dengan kebutuhan pendekatan genre campur aduk ala HK cinema-nya, dan meskipun lagi-lagi penulis kita menempatkan aktris sekuat Dewi Irawan kembali harus melakoni adegan batuk-batuk darah, komitmennya berakting jelas tak pernah main-main. Masih ada Kimberly Ryder untuk melengkapi ensemble of pretty faces-nya berikut ayahnya, Nigel Ryder, yang sebelumnya sudah pernah bermain bersama Kimberly dalam ‘The Witness’, dan yang seharusnya bisa jadi highlight, namun tidak begitu, Willy Dozan sebagai karakter antagonis dalam penekanan mixed-up action diatas nafas romance-nya.

R2

            Sayangnya, duapertiga awal yang sudah berjalan dengan baik itu harus sedikit dirusak oleh elemen action-nya sendiri. Tak mengapa sebenarnya menghadirkan sisi aksinya hanya sebatas selipan untuk menggeber klimaks sebagaimana template yang digunakan Alim dalam skrip penuh nods itu, namun sepertiga akhir ‘Runaway’ tampil begitu kedodoran dan kelewat buru-buru menaiki konklusi klise-nya. Walau bagi segmentasi pemirsa tertentu emosi di bagian-bagian akhir ini bisa saja bekerja, tapi adegan action-nya tampil dengan intensitas mengecewakan tanpa bisa mengimbangi sekelebat adegan-adegan aksi yang lumayan di bagian lain. Seolah ada resistensi untuk bisa benar-benar tampil habis-habisan, serta sungguh jauh dari kata maksimal. Lagi-lagi, dalam banyak kelemahan film kita di wrapping rangkaian adegan penutupnya, ‘Runaway’ jadi kehilangan emosi dan kecantikannya secara cukup drastis. Sayang sekali. (dan)

 

~ by danieldokter on August 5, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: