YASMINE : BRUNEI’S FIRST PUNCH FROM THE HEART

YASMINE

Sutradara : Siti Kamaluddin

Produksi : Origin Films, 2014

YAS4

            Okay. You might have heard everything luxurious about Brunei. But no, soal film, mereka memang tertinggal jauh dari negara-negara Asia Tenggara yang lain. Begitupun, selalu ada yang pertama untuk semua hal, dan inilah momentum Brunei untuk perfilman negaranya. Datang dari semangat dan gagasan seorang Siti Kamaluddin, sutradara asal Brunei yang juga berdarah Singapura, bersama saudaranya Khairuddin Kamaluddin di kursi produser, nafas feminisme dari tema coming of age – martial arts drama dibalik keberadaan Brunei sebagai negara yang menerapkan syariat Islam membuat ‘Yasmine’ yang dibandrol subjudul ‘The Final Fist’ untuk peredaran internasionalnya ini langsung mendapat buzz lebih kuat dari langkahnya ke berbagai festival internasional, diantara Hong Kong, PiFan dan Cannes. Sayang, entah atas keputusan siapa, theatrical poster-nya untuk bioskop-bioskop kita sama sekali tak menarik.

YAS11

            Terlepas dari itu, Indonesia agaknya boleh bangga menjadi bagian penting dari momentum awal kebangkitan sinema mereka. Walau kru-nya turut melibatkan Malaysia terutama di peralatan dan sebagian well known actors-nya seperti Carmen Soo, Nabila Huda (putri Amy Search), Dato’ M. Nasir dan Dian P. Ramlee, anak angkat sineas legendaris P. Ramlee, Australia di tata kamera dan desain produksi, Hong Kong dengan menggamit Chan Man-ching, koreografer aksi di sederet film Jackie Chan hingga ‘Hellboy II : The Golden Army’ hingga Polandia, talenta-talenta kita mengisi elemen-elemen utama dalam produksinya. Ada Salman Aristo sebagai penulis skripnya, Cesa David Lukmansyah sebagai editor, Aghi NarottamaBemby Gusti di music scoring, Khikmawan Santosa di tata suara, Nidji untuk lagu tema ‘Menang Demi Cinta’, dan tentu saja aktor-aktor yang dijual lebih sebagai supporting cast-nya ; Reza Rahadian, Agus Kuncoro, Dwi Sasono plus Arifin Putra. So, sejauh mana relevansi tema coming of age – martial arts yang diusung Siti dalam ‘Yasmine’ bagi kebangkitan film Brunei sendiri?  Let’s look at the plot, first.

YAS9

            Masalah finansial sang ayah, Fahri (Reza Rahadian), yang hanya punya profesi sebagai seorang pustakawan terpaksa membuat Yasmine (Liyana Yus) terpisah dari teman-teman sekolahnya. Pindah ke sekolah rakyat yang makin melebarkan gap diantara mereka, perasaan Yasmine yang lama terpendam pada Adi (Aryl Falak), mantan teman sekolah yang sudah menjadi atlit silat profesional dan kini dekat dengan musuh bebuyutannya, Dewi (Mentari De Marelle) membangkitkan motivasi Yasmine untuk ikut serta dalam kejuaraan silat nasional antar sekolah. Ia pun mengajak dua teman barunya, Nadiah (Nadiah Wahid) dan Ali (Roy Sungkono) untuk berguru pada Jamal (Agus Kuncoro), mantan jagoan silat setelah master Tong Lung (Dwi Sasono), pembimbing silat sekolahnya tak memberikan apa-apa bagi mereka. Sayangnya, Yasmine mendapat pertentangan keras dari Fahri dan rahasia masa lalu yang selama ini disimpan Fahri rapat-rapat darinya. Belum lagi niatnya karena rasa cemburu itu mulai berkembang jadi ambisi yang kian merusak persahabatannya dengan Nadiah serta Ali yang mulai jatuh cinta padanya. Kini Yasmine benar-benar berada di persimpangan untuk menentukan motivasi, tujuan serta jati diri yang selama ini tak pernah disadarinya.

YAS7

            Kalau mau jujur, kombinasi kisah-kisah coming of age dengan genre martial arts, bukanlah lagi sesuatu yang baru., dan dalam konteks itu, ada ‘The Karate Kid’ yang legendaris hingga yang baru saja berlalu, ‘Sang Pemberani’ yang juga ditulis oleh Salman Aristo namun sangat mentah di penggarapannya. Okelah, kalaupun banyak sisi yang bisa tergali dari sana termasuk mengedepankan budaya Silat Melayu dalam tendensi penting momentum kebangkitan perfilman mereka, sejak dulu, plot soal pencarian jati diri yang berujung pada pembuktian dalam sebuah turnamen olahraga malah sudah masuk ke kotak tired plot bagi banyak orang. Lantas karena ini punya nafas feminisme? I guess not. Instalmen ke-4 ‘The Karate Kid’ pun memindahkan karakternya ke wanita, dan masih banyak pula film Asia lain dalam genre dan tema yang sama.

YAS10

            Tapi Siti mungkin tahu, bahwa ia punya formula yang pas untuk disuguhkan lewat karya perdananya ini. Bukan saja soal pengenalan kultur lintas usia dan deskripsi geografis Brunei lewat sinematografi dari James Teh (Australia) yang jelas akan menarik untuk disimak di film pertama dari negaranya, nafas anak muda di tema coming of age yang mewarnainya dengan sangat ceria mengimbangi dramatisasinya dengan komedi ataupun dentuman pukulan yang jelas akan berbeda di tengah garapan Chan Man-ching sebagai koreografer dan action director-nya. Bersama editing Cesa, ini membentuk blend yang sangat up-to-date, bahwa di tengah tema-tema seperti itu, adegan aksi terutama turnamen silat dengan hard punch and kicks-nya tetap bisa terasa memicu adrenalin tanpa terlihat main-main. Tata suara Khikmawan pun bekerja dengan balance yang bagus bersama anthemic theme song dari Nidji dan scoring Aghi – Bemby yang pas sekali memanfaatkan latar belakang kulturnya.

YAS12

          Sementara soal penuangan ide ke skripnya, walaupun Salman Aristo sudah terlihat jelas membangun konflik-konflik motivasinya dengan rapi bahkan cukup dalam bicara batas abu-abu ambisi, cinta dan keteguhan hati karakter-karakternya dibalik sebuah twist yang meski mudah tertebak tapi punya penekanan penting soal filosofi silat, storytelling dari Siti belumlah benar-benar sempurna. Masih ada beberapa kontinuitas yang masih naik turun di sepanjang penceritaan itu, meninggalkan beberapa karakter sampingan yang sedikit tak tergarap cukup, padahal jadi dayatarik tersendiri dari segmentasi negara penontonnya. Tapi jauh diatas semuanya, ‘Yasmine’ benar-benar bersinar dengan sebuah kekuatan ekstra dari jajaran cast utamanya. You just can’t say no to those lovely ensemble.

YAS2

            Sulit rasanya percaya bahwa aktor-aktor muda di deretan supporting cast itu, Nadiah Wahid dari Brunei, Roy Sungkono dan Mentari De Marelle dari Indonesia serta Aryl Falak dari Malaysia bisa tampil begitu baik dan membentuk chemistry sangat erat di penampilan perdana (sebagian untuk layar lebar) mereka. Sementara, Reza Rahadian, Dwi Sasono dan Agus Kuncoro yang kelihatan sangat fasih menampilkan dialek Melayu Brunei berganti-ganti menunjukkan mengapa kualitas keaktoran mereka sangat layak menjadi daya jual spesial untuk ‘Yasmine’.

YAS8

            Namun juaranya tetaplah Liyana Yus yang sangat berhasil membawa ‘Yasmine’ begitu mengalir untuk disaksikan, membuat kita melupakan semua kekurangannya dengan sebuah incredible screen presence aktris utamanya. Melebihi kemampuan akting menokohkan seorang remaja yang terombang-ambing dalam pencarian jati diri bahkan kecantikan gestur dan gerakan meng-handle koreografi silat-nya, bisa terlihat ceria, lembut, emosional sekaligus garang, Liyana benar-benar menunjukkan bahwa dirinya punya aura lead sejati yang sulit untuk dipertanyakan lebih jauh lagi. Sebuah irresistible appearance yang benar-benar menghidupkan ‘Yasmine’ buat bercerita tentang semua perjuangan seorang remaja belia di tengah tantangan, made us deeply root for her character.

YAS1

            So, inilah kiprah pertama Brunei di kebangkitan film layar lebarnya. Go see it, dan jangan pedulikan tampilan posternya disini. Dengan hasil serta gaung mendunia yang sungguh tak sekedar main-main, ini memang layak didukung dan mudah-mudahan perfilman mereka bisa tetap konsisten ke depannya nanti. This is Brunei’s first punch, and one that comes from the heart! (dan)

~ by danieldokter on August 25, 2014.

10 Responses to “YASMINE : BRUNEI’S FIRST PUNCH FROM THE HEART”

  1. Just to give some clarification ya, filem pertama Brunei ialah Ada Apa Dengan Rina, hasil buatan RegalBlue Production.

    Bisa ikuti ceritanya di Wikipedia.

    • Ada apa dengan Rina…itu sesuai untuk ditonton dalam negeri saja kerna quality yang sangat rendah dan jalan cerita yang sama seperti salah satu Senario The movie(Malaysia). Kerana jalan cerita yang sama cuma alihan bahasa diubah kepada bahasa Brunei. Untuk menjaga nama Brunei supaya tidak disaman oleh mana2 pihak terutamanya production diMalaysia, Drama Ada apa dengan Rina hanya ditayangkan dalam Negeri Brunei saja. Itu lah perbezaanya dengan filem Yasmine.

      • Sama seperti senario the movie? Have you really watched Ada Apa Dengan Rina? Jangan menabur fitnah, bung. Nanti orang Brunei marah. Selidik dulu sebelum berkata-kata. Tonton dulu sebelum menilai. Jangan menuduh membabi buta. Be wise.

      • apa kamu sudah pernah nonton Ada Apa Dengan Rina?
        Saya menonton keseluruhan movie Senario kerana saya adalah peminat tegar Senario namun tidak ada satu pun persamaan dengan Ada Apa Dengan Rina.

        Maaf, tapi kamu sudah menabur fitnah.

        Jangan terlalu menyanjungi orang lain sehingga menjadi buta dan tidak nampak hasil kerja keras production lain ya mas.

        kita jadi manusia, jangan jadi binatang yang ngak punya perasaan.
        kita jadi manusia kerana manusia diberi akal utk berfikir.
        kalau kamu ngak pasti apa cerita Ada Apa Dengan Rina, sila diam aja. ngak perlu berdiskusi tentang nya.

  2. Of course we heard about ‘Ada Apa Dengan Rina?’ too, but I believe many of us outside Brunei didn’t get the chance to see it until now. Answering some Indonesian press’ questions about that film, Siti herself also gave her visions about the movie, that ‘Ada Apa Dengan Rina?’ was made more like a TV drama in the standards of production treatment. You can check the interview here : http://www.muvila.com/read/yasmine-mimpi-lama-brunei-darussalam/page/0/1

    • If you are dream of becoming a good writer, know the facts, learn the facts and investigate thoroughly. Don’t just take others words for granted. That, bung, is my advice to you. If you want to good and reliable writer, that is🙂

    • Ada Apa Dengan Rina telah ditayangkan di Thailand.
      Kami kurang pasti mengapa ngak di tayangkan di Indonesia.
      Mungkin Indonesia levelnya bukan “international” .. hanya “nusantara” sahaja, sedang Thailand level nya INTERNATIONAL.

      by the way, Siti’s comment tentang Ada Apa Dengan Rina, I believe hanya kerana Dendam sahaja. NOT PROFESSIONAL enough.

  3. And another thing. You said “Sementara, Reza Rahadian, Dwi Sasono dan Agus Kuncoro yang kelihatan sangat fasih menampilkan dialek Melayu Brunei”. Kamu pasti sekali? Kamu pernah dengar orang Brunei bertutur Bahasa Melayu Brunei? Bahasa yang dituturkan di dalam Yasmine ibarat bahasa rojak. Rosak bahasa. Bahasa Melayu Brunei jadi rosak. Bahasa Indonesia jadi rosak. I’ve watched Yasmine. I love the music score and the cinematography. Tahniah Indonesia, tahniah James Teh. But the dialogue? Itu bukan dialek Melayu Brunei. Saya tahu. Saya orang Brunei.

    Selalu ingat nasihat saya, selidik dulu sebelum berkata-kata, bung.

  4. […] https://danieldokter.wordpress.com/2014/08/25/yasmine-review-2014/ […]

  5. What i don’t realize is in truth how you are no longer actually
    much more smartly-preferred than you might be now. You’re very intelligent.
    You recognize therefore significantly relating to
    this topic, made me personally imagine it from so many numerous angles.

    Its like men and women aren’t interested
    until it’s something to accomplish with Woman gaga!

    Your individual stuffs outstanding. All the time take care of it up!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: