HERCULES : A NEW RETELLING LIKE YOU’VE NEVER SEEN BEFORE

HERCULES

Sutradara : Brett Ratner

Produksi : Flynn Picture Company, Radical Studios, Paramount Pictures, MGM, 2014

HER2

            Dari Steve Reeves ke Lou Ferrigno, termasuk serial TV legendaris Kevin Sorbo ke versi Kellan Lutz barusan, ‘Hercules’ adalah sosok mitos/legenda yang tak berhenti diangkat ke layar lebar. Bagi sebagian orang, ini sudah seperti tired myth yang tak lagi menyisakan dayatarik kecuali bagi generasi baru calon penikmatnya. Apalagi ketika ‘The Legend of Hercules’ dari Summit Entertainment barusan hampir tak memberi gaung apa-apa seperti yang diprediksikan banyak orang.

HER3

            Begitupun, retelling yang satu ini, yang diangkat dari novel grafis ‘Hercules : The Thracian Wars’ dari Radical Comics, yang awalnya sempat jadi subjudulnya, karya Steve Moore dan ilustrator komik asal Indonesia, Admira Wijaya, punya sesuatu yang berbeda di luar faktor Dwayne Johnson sebagai karakter utamanya. Dari skrip Ryan J. CondalEvan Spiliotopoulos yang disutradarai Brett Ratner, racikannya lain dari yang sudah-sudah. Nanti dulu soal twist ini dan itu soal Hercules’ origin, walau tetap ada di genre sword and sandals, yang jauh lebih menarik adalah pendekatannya ke action subgenre ‘heroes with comrades’ yang memungkinkannya menghadirkan ensemble characters ketimbang one man show seperti biasanya.

HER1

             Tak persis serupa dengan legenda yang dikenal banyak orang tentang eksistensi kedewaannya sebagai anak Zeus dalam menyelesaikan 12 Tugas (Twelve Labors) dibalik rencana jahat Dewi Hera lewat penceritaan keponakannya Iolaus (Reece Ritchie), Hercules (Dwayne Johnson) ternyata punya sepasukan tentara bayaran tangguh. Ada peramal Amphiaraus (Ian McShane), pencuri jago pisau Autolycus (Rufus Sewell), manusia liar bernaluri hewan Tydeus (Aksel Hennie) dan pemanah wanita Amazon Atalanta (Ingrid Bolsø Berdal) dan Iolaus sendiri. Kepahlawanan Hercules lantas membawanya pada Ergenia (Rebecca Ferguson) atas permintaan ayahnya, Lord Cotys (John Hurt) dari kerajaan Thrace untuk membantu mereka mengalahkan invasi suku barbar di bawah pimpinan Rheseus (Tobias Santelmann). Mengambil alih tugas panglima perang Cotys, Jenderal Sitacles (Peter Mullan), Hercules dan pasukannya pun melatih serdadu Thrace untuk menghadapi Rheseus, hingga akhirnya Hercules pelan-pelan menyadari misi ini menyimpan rahasia ke masa lalu pahit yang memisahkannya dengan istrinya, Megara (Irina Shayk) dan anak-anaknya.

HERC10

            Dengan basic perombakan origin yang dibalut twist atas eksistensi Hercules sebagai manusia setengah dewa putra Zeus yang selama ini dikenal, ‘Hercules’ versi Ratner dengan sendirinya sudah punya sisi menarik untuk penceritaan ulangnya. Misi legendaris ‘Twelve Labors’ dengan semua mythical creatures dari Singa Nemea, Hydra ke Cerberus berikut sejarah gelap Hercules yang sering luput dari banyak adaptasi secara lengkap (kecuali dalam serial televisi ‘The Legendary Journeys’ dengan durasi panjang) demi mengedepankan sosoknya sebagai pahlawan tanpa tanding juga dibesut dengan pendekatan lebih realistis buat membangun logika yang tengah jadi sebuah demand di banyak benak penonton sekarang.

HERC9

            Ini sekaligus membuat Ratner bersama duo penulis skrip berdasar source novel grafis itu bisa menarik batas jauh berbeda dari adaptasi Hercules yang sudah-sudah. Selain action yang jelas jadi syarat utamanya, seperti signature Ratner dalam menyempalkan komedi sebagai fun-factors di blockbuster-blockbuster karya penyutradaraannya, ia juga jadi sangat leluasa meracik paduan dari elemen-elemen itu diatas penceritaan multi-karakter yang membuat studionya tak sia-sia menggamit nama-nama aktor yang sudah cukup dikenal.

HERC8

           Jagoan utamanya jelas tetap Hercules yang diperankan dengan solid oleh Dwayne Johnson, formerly known as The Rock, dengan tampilan sedikit beda di filmnya yang sudah-sudah. Tapi dukungan sebarisan aktor dari Ian McShane, Rufus Sewell, Peter Mullan, John Hurt hingga Joseph Fiennes yang memerankan Raja Eurystheus juga tak sembarangan. Masih ada Ingrid Bolsø Berdal yang sangat mencuri perhatian sebagai Atalanta the Amazonian Archer dan Stephen Peacocke, aktor Australia yang diberi porsi lebih sebagai Stephanos, salah seorang Thracian Army. Sinematografi DoP langganan Ratner, Dante Spinotti, dan scoring Fernando Velázquez, komposer Spanyol dari ‘The Orphanage’ dan ‘The Impossible’ juga cukup baik.

HERC11

               Selebihnya, above all, adalah action yang dibangun diatas subgenreheroes with comrades’ yang biasa jadi resep baku di film-film aksi dengan ensemble characters. Tired plot and all-cliché elements yang masih tetap bisa jadi sajian menarik dengan kehadiran ensemble cast yang pas dan chemistry bagus, seperti ‘The Magnificent Seven’, ‘The Wild Bunch’ untuk western, ‘The Wild Geese’ atau ‘The Dirty Dozen’ bahkan ‘The Expendables’ untuk war genre ataupun ‘7 Magnificent Gladiators’ untuk genre sword and sandals sendiri. Fun factors-nya begitu kuat di tengah paduan aksi dengan komedi, sementara origin twist-nya masuk dengan blend berikut storytelling bagus buat menggaris perbedaan dari banyak instalmen ‘Hercules’ sebelumnya dari adegan-adegan awal ke sedikit penggalan lukisan di end credits-nya. So yes, ini jauh bila dibandingkan dengan ‘The Legend of Hercules’-nya Renny Harlin kemarin. A new Hercules retelling like you’ve never seen before, sekaligus summer surprise yang jauh dari pesimisme banyak orang. (dan)

HERC6

~ by danieldokter on September 16, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: