AKU, KAU & KUA : A HILARIOUS ENSEMBLE ROM-COM WITH TOO MANY LET-DOWNS

AKU, KAU & KUA

Sutradara : Monty Tiwa

Produksi : Starvision, 2014

AKK9

            Tak peduli sudah berulang kali menggunakan elemen-elemen genre-cliche yang sama, subgenre rom-com tentang love and marriage memang tetap punya dayatarik tersendiri bagi pemirsanya. Dan bukan hanya sinema luar yang punya. Paling tidak, dalam dekade belakangan, kita juga punya franchiseGet Married’ sebagai kandidat terkuatnya, dan film-film senada dari Starvision. ‘Aku, Kau dan KUA’ yang punya judul menarik ini sebenarnya punya kans untuk mengungguli mereka. Bukan saja karena ada nama Monty Tiwa disana, scriptwriter turns director yang juga terakhir menggarap instalmen ‘Get M4rried’ atau sama-sama berisi ensemble cast yang cukup menjual, tapi bahwa keseluruhan plotnya digagas dari novel berjudul sama dari akun twitter @TweetNikah yang dari judul dengan elemen KUA saja sudah jelas punya sisi kental dari penelusuran budaya lokal kita seputar tema-tema cinta dan pernikahan.

AKK8

            Then, dari sisi eksistensinya sebagai sebuah ensemble rom-com dalam ranah itu, juga bukan lagi suatu yang baru, ini juga jadi nilai jual tambah. Apalagi faktor pretty faces masih jadi persyaratan penting untuk jualan film kita. Tak ada yang aneh dalam jumlah couple characters yang dihadirkan, secara produk-produk Bollywood sudah lebih dulu memulainya dari dua, tiga hingga tujuh bahkan lebih, apakah  sebagai omnibus, interwoven ataupun satu plot utuh yang mengemas semuanya dalam satu kesatuan. Pasalnya cuma satu. Monty baru saja gagal dalam ‘Operation Wedding’ yang sebenarnya berpotensi jadi ensemble rom-com yang bagus. Pertanyaannya sekarang, seberapa kuat ‘Aku, Kau dan KUA’ dengan skrip dari Cassandra Massardi, penulis yang juga bukan baru sekali ini menghadirkan tema mirip, bisa mengobati kegagalan itu.

AKK1

         Pernikahan sempurna yang diharapkan Fira (Nina Zatulini) seketika berantakan dengan pengakuan Lando (Eza Gionino) tepat sebelum upacaranya berlangsung. Di tengah trauma itu, sahabatnya, Uci (Eriska Rein), gadis berhijab yang penuh perhatian mendorong sahabat Fira, Deon (Deva Mahenra), yang sejak lama menyimpan perasaan untuk menggantikan posisi Lando. Masalahnya, Deon hanya punya satu niat baik untuk bisa diterima Fira, dengan proses ta’aruf. Walau awalnya Fira menolak, dengan dorongan sahabat-sahabat mereka yang lain, Rico (Adipati Dolken), Mona (Karina Nadila) dan Pepi (Babe Cabiita), Deon jadi juga meneruskan niatnya. Malah, Rico jadi terinspirasi untuk mengajak kekasihnya, Aida (Bianca Liza) sama-sama menuju jenjang pernikahan yang sayangnya terbentur ambisi atas status sosial Rico sendiri. Sementara Mona juga punya masalah prinsip atas hubungannya dengan Jerry (Fandy Christian), dan kemudian malah terjebak dalam ketertarikannya pada seorang ustadz muda Kak Emil (Dwi Sasono) yang sudah berkeluarga. Carut-marut interaksi cinta ini terus berputar-putar diantara mereka.

AKK2

        Sebagai salah satu persayaratan terpenting dalam ensemble rom-com, tak ada yang salah dengan chemistry-nya. Terlihat seakan tengah bersenang-senang, semua cast dari cast utama, supporting yang diisi antara lain oleh Ira Wibowo dan Tika Panggabean, hingga cameo-cameo yang menampilkan Christian Sugiono, Renata Kusmanto, Epy Kusnandar, Widi Mulia, Daan Aria P-Project dan Tio Pakusadewo, membentuk chemistry yang bagus di tengah batasan beda karakterisasi masing-masing dari skrip Cassandra.

AKK5

         Seabrek nama-nama cukup dikenal dalam poster yang mengambil template mirip ‘The Big Wedding’ di ranah genre yang sama itu berinteraksi dengan sangat wajar, cukup hidup sekaligus punya sisi penting dalam penceritaannya sebagai sekelompok sahabat dan orang-orang di sekitar hidup mereka. Dengan karakter lumayan berbeda dari film-film mereka biasanya, Deva yang jadi fokus hingga melewati paruh film, Adipati Dolken dan Eriska Rein tampil bagus sebagai Deon, Rico dan Uci, begitu juga Dwi Sasono.  Tapi yang paling membuatnya hidup dalam sisi selipan komedi ala Monty biasanya adalah Babe Cabiita dengan lemparan joke-joke berbahasa sangat Medan serta Karina Nadila yang dengan energik memerankan Mona. Walau dialek Medan lagi-lagi dijadikan bulan-bulanan jokes, celotehan-celotehan Babe dan tingkah-polahnya menjadi different trademark yang solid dibalik sosoknya sebagai seorang komedian. Oleh chemistry yang kuat tanpa lantas membuat seabrek karakternya menjadi sia-sia sekedar pelengkap, ‘Aku, Kau dan KUA’ berhasil membangun momen-momen terbaiknya sebagai sebuah ensemble rom-com. Secara teknis, termasuk dari tata kamera Rollie Markiano yang sudah biasa bekerjasama dengan Monty, penggarapan keseluruhannya juga tak mengecewakan.

AKK7

           Namun sayangnya, skrip Cassandra tak serapi itu membangun konflik-konflik masing-masing karakternya. Nanti dulu soal konflik-konflik reliji, dari masalah hijab, fenomena ustadz seleb dengan kelas bimbingan cinta fiktif ataupun masalah ta’aruf yang bisa jadi kedengaran sangat tak wajar bagi sebagian orang, tapi dalam kepentingan sematan budaya lokal berbalut komedi penuh sentilan dalam genre-nya yang sah-sah saja, atau elemen klise sangat jadul film kita tentang masalah keperawanan yang sebenarnya tak sampai merusak keseluruhan penceritaannya. Tak ada juga yang salah dengan banyak pengulangan adegan yang sudah kita lihat di banyak film dengan genre sama termasuk instalmen-instalmen ‘Get Married’ terutama di adegan-adegan pesta pernikahan dengan iringan lagu-lagu populer, salah satunya ‘Lebih Indah’ milik Adera yang memang masih cukup asyik buat dinikmati.

AKK3

          Masalahnya, sebagian konflik itu tak membentuk blend yang baik diantara komedi dan dramatisasinya. Tertinggal jauh oleh kelucuan-kelucuan yang dihadirkan, yang memang bisa membuat penontonnya tertawa lepas, dramatisasinya kerap kali jadi terasa dipaksakan, dan semakin diperparah dengan scoring Ganden Bramanto yang kedengaran sangat mendayu-dayu ala sinetron buat menekankan dramatisasi ini. Belum lagi dengan pilihan Monty dengan penceritaan konflik masing-masing karakter yang membuatnya seolah jadi segmen-segmen berbeda ketimbang merajutnya jalan bersamaan atau paling tidak dengan style interwoven. Melulu fokus ke satu pasangan hingga berpanjang-panjang, lantas dimulai lagi dari awal di pasangan lain dan terus seperti itu tanpa pengujung yang jelas, berkali-kali kelihatan akan selesai namun tidak, hingga durasi 100 menitnya seolah terasa bertele-tele dan sangat melebar.

AKK4

 

         So, inilah kekurangan terbesar dalam ‘Aku, Kau dan KUA’ yang sebenarnya punya potensi sangat besar untuk jadi sebuah ensemble rom-com yang sepenuhnya bagus. However, ini masih jauh lebih baik dari ‘Operation Wedding’, dimana ‘Aku, Kau dan KUA’ punya banyak sekali momen-momen hilarious terbaiknya, mostly dari sempalan komedi lucu dan chemistry bagus dari ensemble cast-nya, namun sayangnya, kekurangannya juga hampir sama banyak dengan kelebihan itu. Sayang sekali. (dan)

 

~ by danieldokter on September 21, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: