TABULA RASA : THE CLEANEST SLATE OF MIND CALLED FOOD

TABULA RASA

Sutradara : Adriyanto Dewo

Produksi : Lifelike Pictures, 2014

TARA1

            Tak terlalu banyak mungkin yang tahu, kalau kata ‘Tabula Rasa’, meski kedengaran sangat lokal, bukan bahasa kita. Instead, ‘Tabula Rasa’ yang merupakan bahasa Latin dan berasal dari kebudayaan media tulis tradisional Romawi, dan kemudian digunakan dalam teori-teori filsafat dan epistemologi untuk menjelaskan hal-hal berbau ‘nature vs nurture’, salah satu yang paling populer dari pendapat John Locke sebagai filosofis abad ke-17, punya definisi ‘clean slate’ atau kertas kosong. Bahwa semua manusia lahir bagaikan kertas kosong untuk kemudian diisi menurut pengalaman inderanya secara alami. In popular culture, istilah ini kemudian banyak digunakan dalam beragam media, dari novel, episode-episode film TV dari ‘Buffy The Vampire Slayer’, ‘Lost’, ‘Criminal Minds’ bahkan animasi ‘Justice League’, hingga sebuah PC videogame yang cukup dikenal di luar.

TARA2

            But okay, kita tak sedang membahas teori-teori filsafat disini. Oleh Lifelike Pictures dengan produsernya, Sheila Timothy / Lala Timothy, serta Vino G. Bastian yang pertama kali cukup berada di belakang layar, ‘Tabula Rasa’ menjadi sebuah metafora untuk memuat gagasannya terhadap sebuah genre film yang masih jarang-jarang diproduksi di Indonesia. Walau dulu sempat ada ‘Brownies’, ‘Madre’ atau yang lebih terus-terang, rom-comSaus Kacang’, ‘Tabula Rasa’ memang dimaksudkan untuk jadi sebuah foodporn, istilah ekstrim untuk genre food movies dimana elemen kuliner Minang yang menjadi dasar ide itu tak hanya jadi sekedar pelengkap atau ‘tamu’ tapi jadi bagian yang menyatu dalam kisahnya.

TARA3

             Bahwa makanan adalah sebuah iktikad baik untuk bertemu, seperti yang didengung-dengungkan sebagai tagline-nya, menjadi bagian penting dalam kaitan konflik yang membawa empat karakter dalam ruang lingkup sempitnya saling bertemu, berinteraksi, sekaligus jadi fondasi yang membangun ‘rasa’ diantara mereka. That in nature vs nurture, a thing to feed those clean slates, yang dialamatkan pada kepribadian masing-masing karakternya, adalah sebenar-benarnya, makanan.

TARA11

          So yes, ini menarik. Bukan saja disana penulis Tumpal Tampubolon bisa menyelipkan pesan-pesannya tentang kebhinekaan yang unik antara ragam interaksi dua etnis yang dibenturkan ke tengah-tengahnya ataupun nilai-nilai sosial budaya kuliner lokal, serta yang harus mendapat perhatian lebih, proses marketing yang mereka tempuh dalam memasarkan filmnya, yang sungguh jadi one of a kind dalam sejarah film kita. Dari menggandeng franchise restoran Padang yang cukup dikenal, kemasan soundtrack dalam format vinyl sesuai nafas lagu-lagu klasik seperti ‘Iseng Bersama’ dari Sam Saimun, ‘Mak Inang Pulau Kampai’ dari Orkes Tropicana Medan dan theme songTeluk Bayur’ dari penyanyi berdarah Minang Ernie Djohan dalam blend yang solid ke scoring rancak Lie Andri Perkasa yang juga diwarnai alunan etnis Minang yang kental dengan sound saluang dan talempong, hingga gimmick merchandise popcorn box yang sangat menarik. Pertama kali untuk sebuah film lokal kita.

TARA8

               Mimpi Hans (Jimmy Kobogau), pemuda asal Serui, Papua untuk menjadi seorang pesepakbola nasional sayangnya kandas setelah hijrah ke ibukota. Dalam puncak keputusasaannya, ia bertemu dengan Mak (Dewi Irawan), yang bersimpati atas keadaannya. Mak yang mengelola lapau nasi padang Takana Juo bersama waiter Natsir (Ozzol Ramdan) dan tukang masak Parmanto (Yayu Unru) berusaha untuk mengajak Hans masuk ke dalam kehidupan mereka, namun sayangnya semua tak lantas jadi semudah itu. Apalagi, di tengah lesunya usahanya, restoran padang Caniago yang dibuka tepat di depan lapau-nya turut jadi ancaman. Disana, pribadi-pribadi ini saling berbenturan dibalik latar belakang dan rahasia pahit masa lalu masing-masing. Tapi makanan, adalah iktikad baik untuk bertemu.

TARA12

         Okay, sebagai sebuah karya yang sama-sama didasari iktikad baik untuk menghasilkan sesuatu yang tak biasa, masalah pertama ‘Tabula Rasa’ tak ubahnya seperti sebuah quest untuk menemukan resep yang pas buat meracik masakan Minang yang berbeda. ‘Tabula Rasa’ sangat terasa berusaha menghindari sentuhan kelewat pop tanpa merubah wujud dasar genre movies-nya sampai tergelincir sebagai sebuah tontonan arthouse. Tentu tak ada yang salah dengan itu. Toh sebagai genre-movies kebanyakan food movies juga bertabur metafora, dari yang memunculkan inspirasi bagi Lala, ‘Eat Drink Man Woman’-nya Ang Lee, bahkan ‘Ratatouille’ sekalipun, tak sepenuhnya terlihat sangat pop. Apalagi baik Adriyanto Dewo yang salah satu karyanya sudah kita saksikan lewat segmen ‘Menunggu Warna’ dalam ‘Sanubari Jakarta’ dan latar Tumpal Tampubolon, ada di ranah yang hampir senada.

TARA4

        Namun agaknya memang sedikit sulit mencari jalan pas untuk berada di tengah-tengahnya, terlebih sebagai konten yang bisa sepenuhnya acceptable ke penonton awam. Dan masalah kebanyakan sineas kita dalam lingkup pemikiran sempit adalah bahwa usaha-usaha untuk menghindari anggapan ‘pop’ itu masih terbatas di restrained emotions yang di satu sisi berusaha membangun karakternya secara natural tanpa elemen-elemen penyelesaian konflik kelewat bombastis, namun saat terbentur dalam durasi terbatas akan membutuhkan pendalaman karakter lebih lagi. Kira-kira seperti itu, walaupun bukan berarti ‘Tabula Rasa’ sepenuhnya gagal, somehow, entah mungkin terpaksa terlewat dalam editing final oleh Dinda Amanda, sebagian bangunan karakter serta konflik hingga ke proses-proses naik turun sebab akibat itu masih terasa agak sulit dipercaya, menahan sparks of emotions, totalitas chemistry sekaligus usahanya untuk terlihat benar-benar natural demi kedekatan komunikatif ke ragam lapisan pemirsanya.

TARA7

            Begitupun, sisi ini masih bisa sangat terselamatkan oleh akting kuat empat ensembel utamanya. Jimmy Kobogau yang karakternya dimunculkan dengan dominasi lebih mampu membawakan karakter Hans dengan solid di tengah sedikit inkonsistensi dalam skrip itu, terutama setelah melewati perempat awal film, selagi Ozzol Ramdan dari sitkom ‘Suami-Suami Takut Istri’ tampil sebagai scene-stealer yang kuat dengan dialek Minang-nya untuk mencairkan kebanyakan konflik yang ada di dalamnya. Seperti orang yang tengah menjaga kondisi makanan, ia berhasil menjaga interaksi dan chemistry keempat karakternya untuk tetap terasa hangat.

TARA10

            Begitu juga dengan Yayu Unru. Di tengah penerjemahan karakter yang terpaksa berhadapan dengan motivasi abu-abu dalam bangunan konfliknya, Yayu yang sudah punya pengalaman lebih ini, meski sedikit masih terasa kelewat teatrikal, bisa menutup performanya dengan sangat baik di bagian-bagian pengujung film termasuk di salah satu adegan solo terbaiknya. Dan jangan tanyakan lagi kualitas akting Dewi Irawan. Meski latar karakternya terasa agak digerus oleh kepentingan durasi, ia tetap berhasil membawakan karakter Mak dengan permainan emosi yang cukup konsisten seperti biasanya, membuat metafora ‘ziarah’ dalam memasak tak jadi terbatas hanya jadi milik karakternya, sekaligus mempertahankan sisi heartfelt dalam dramatisasi itu tak benar-benar terkesampingkan atau luntur sepenuhnya.

TARA5

           Di luar itu, keunggulan lain ‘Tabula Rasa’ yang lebih menonjol ada pada tata teknisnya. Bersama tata artistik Iqbal Rayya, sinematografi Amalia Trisna Sari (Amalia T.S.) benar-benar bisa membawa ‘Tabula Rasa’ ke presentasi terbaiknya dalam penekanan kelas tadi. Tak hanya dalam meng-capture set-set-nya, peranan Amalia jelas cukup besar untuk membangun atmosfer foodporn-nya. Menghadirkan dapur tradisional dengan tumpukan kayu bakar di bawah kuali besar berisi makanan yang menggugah selera itu, Amalia adalah sebuah crucial factor dalam tendensi itu.

TARA6

          Dan inilah hal terbaik dalam ‘Tabula Rasa’. Bahwa pada akhirnya, gagasan makanan sebagai sebuah iktikad baik sekaligus elemen utama untuk memuat seluruh pesan dan nilai-nilai penyatuan budaya dari barat ke timur Indonesia, berikut spirit-spirit kerinduan akan kampung halaman yang sama dalam plot-nya, walau tak sepenuhnya sempurna, tetap bisa bekerja membentuk racikan lezat sebagai sebuah tontonan lokal dalam kelas yang berbeda. The cleanest slate of mind called food. Dan yang terpenting, elemen foodporn-nya benar-benar berhasil memancing rasa lapar, membuat kita segera ingin melangkahkan kaki ke lapau nasi padang mencari dendeng batokok lado mudo atau gulai kepala ikan seusai film, bahkan pada penonton awam yang gagal terkoneksi sepenuhnya ke restrained factors termasuk pemilihan ending-nya. Seperti kuliner Minang yang selalu bisa menarik hati, ‘Tabula Rasa’ sudah menjadi pemenang buat sebuah heartfelt foodporn yang menggugah selera. Lamak bana ko ha! (dan)

TARA1b

 

~ by danieldokter on September 26, 2014.

One Response to “TABULA RASA : THE CLEANEST SLATE OF MIND CALLED FOOD”

  1. […] DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: