A WALK AMONG THE TOMBSTONES : A GRITTY BUT BADASS – OLD FASHIONED NEO-NOIR THRILLER

A WALK AMONG THE TOMBSTONES

Sutradara : Scott Frank

Produksi : Cross Creek Pictures, Exclusive Media, Endgame Entertainment, Jersey Films, Double Feature Films, Universal Pictures, 2014

WATT5

            No, untuk sebagian aktor, tak perlu waktu lama untuk merubah image mereka. Hampir tak ada yang menyangka kalau Liam Neeson bisa mendarat di ranah screen’s action heroes sebelum ‘Taken’ (Pierre Morel, 2008) –nya Luc Besson jadi hits dimana-mana. Begitu melekatnya instant image ini, menggerus semua karirnya di film-film lebih serius bahkan ketika Neeson masih menerima tawaran bermain di genre lain setelahnya. Dan resepsi penontonlah yang memang paling menentukan. Dalam rentang waktu setelahnya, predikatnya malah diserahi body count mendekati legenda-legenda nyeleneh seorang Chuck Norris. And oh yes, setelah ini, ‘Tak3n’, instalmen pionir perubahan karirnya itu sudah siap untuk dirilis.

WATT7

            Then who’s Scott Frank? Do look back. Biar mungkin banyak orang baru mengingat namanya dari ‘The Wolverine’, instalmen superhero Marvel yang menyelamatkan spinoff solo karakter itu, dalam filmografinya, Frank ada dibalik skrip film-film thriller yang bagus seperti ‘Dead Again’, ‘Malice’, ‘Heaven’s Prisoners’, ‘Minority Report’, and for those who remembered, ‘The Lookout’, small thriller yang sama bagusnya di tahun 2007 sudah mencatat debutnya sebagai sutradara.

WATT2

         Tak hanya punya genre yang sama, ‘A Walk Among The Tombstones’ yang diangkat dari novel series karya Lawrence Block (1992) dari karakter fiktif Matthew Scudder, ex-cop turns private investigator yang sebelumnya sudah pernah diangkat sutradara Hal Ashby dalam ‘8 Million Ways To Die’ (diperankan Jeff Bridges dan melejitkan nama Andy Garcia yang berperan antagonis disana) sekaligus jadi ambisi Frank sejak lama. Dikembangkan lewat skrip Frank sejak 2002 dengan rencana Harrison Ford di lead dan sutradara D.J. Caruso, proyek ini akhirnya baru diteruskan tahun lalu dengan Neeson yang dipilih sendiri oleh Frank dan memutuskan menyutradarai sendiri filmnya.

WATT8

      Walaupun diangkat dari novel ke-10 karakter sentralnya, Matthew Scudder (Liam Neeson), Frank memulai ‘A Walk Among The Tombstones’ dengan Scudders sparks of origins, sebuah peristiwa traumatis yang membuatnya beralih dari seorang polisi alkoholik menjadi detektif swasta yang mencoba keluar dari kecanduannya. 8 tahun kemudian, Scudder ditawari salah seorang informan-nya (Boyd Holbrook) untuk menerima permintaan saudaranya, Kenny Kristo (Dan Stevens) mencari dalang dibalik pembunuhan sadis terhadap istrinya. Scudder yang langsung bisa menebak profesi Kenny awalnya menolak, namun adanya kecurigaan atas beberapa kasus pembunuhan berantai yang menimpa orang-orang dengan profesi sama seperti Kenny, membuat Scudder melawan etos kerjanya demi memecahkan kasus ini. Dengan bantuan seorang bocah Afrika-Amerika yang punya antusiasme tinggi terhadap investigasi kriminal, T.J. (Brian ‘Astro’ Bradley), Scudder mulai menelusuri intrik dan misteri yang perlahan mulai menggerogoti jiwanya untuk benar-benar bisa keluar dari masa lalu traumatis itu.

WATT9

       Oh yes, ‘A Walk Among The Tombstones’, seperti original source-nya, memang sejatinya lebih berada di ranah thriller kriminal ketimbang ‘Taken’ ataupun film-film action Neeson lain yang sangat terlihat dari trailer-nya. Dalam usaha Frank menggagas wujudnya sebagai sebuah neo-noir thriller, alurnya pun berjalan secara slow burn membawa penontonnya seolah mengeksplor sebuah novel misteri, dengan karakter-karakter sentral dengan sisi psikologis yang jauh lebih kompleks. Tapi tetap saja, screen presence Neeson yang memang dilepas Frank buat menyamai ketangguhan karakternya dalam franchiseTaken’, tak bisa menyembunyikan aura badass action hero-nya ke keseluruhan film. Ini mungkin mirip seperti kasus ‘Blitz’ –nya Jason Statham yang juga lebih berada di genre thriller, namun jauh lebih baik dalam kompleksitas karakter dan persepsi action yang sama-sama kuat.

WATT3

            Di deretan cast-nya, tak banyak juga nama lain yang kelewat dikenal, namun rata-rata bisa mengimbangi dominasi Neeson dengan potensi scene-stealer yang kuat. Ada Dan Stevens dari ‘Downtown Abbey’ yang karirnya semakin menanjak sejak akhir tahun lalu, pemeran T.J., Brian ‘Astro’ Bradley, rapper cilik dari kompetisi ‘The X-Factorseason 1 mereka, serta David Harbour sebagai salah satu karakter antagonisnya. Dan meski departemen teknisnya banyak memuat nama-nama baru, termasuk scoring dari Carlos Rafael Rivera dan sinematografi Mihai Malaimare Jr., semuanya bisa membentuk blend sempurna ke racikan serba gritty yang ditampilkan Frank. Menuangkan eerie title itu ke dalam shot-shot yang terkesan sangat muram dengan dominasi paduan warna-warna monokromatik.

WATT6

        Ini juga yang sekaligus menjadi keunggulan terbesar ‘A Walk Among The Tombstones’ sebagai sebuah thriller yang dipenuhi inovasi beda dengan rata-rata pendekatan di genre-nya sekarang. Selagi semua sibuk membangun twist ini dan itu, Frank lebih memilih subtext kuat dari pemilihan set yang berpegang setia ke set waktu di source aslinya ke kombinasi genre-cliche bahkan stylish looks yang kuat sebagai sebuah neo-noir thriller. Subtext paranoia orang-orang di era-nya terhadap perkembangan teknologi informasi memasuki Y2K digarap Frank dengan begitu menarik lewat tampilan mikrofilm, old-generation computers dan ragam alat komunikasi di tata artistik hingga ke selipan dialog-dialog yang ada di dalamnya.

WATT10

          Lantas lihat juga bagaimana adegan klimaks yang seru yang meski dikacaukan dengan religious voiceover tanpa menanggalkan kekuatan pengadeganannya. Dan Frank menjaga tampilannya untuk tetap terlihat old-fashioned, seolah kita tengah menyaksikan thriller yang diproduksi di tahun latar set-nya. Hampir tak ada motivasi yang ditahan-tahan sebagai twist, dengan penjelasan dari karakter-karakter ke layered mysteries yang dibuka dengan narasi begitu rapi satu-persatu. Sementara unlikely partnership antara karakter Scudder dengan bocah T.J. berhasil memberikan distraksi hangat di tengah-tengah feel gritty yang dibangun dengan taburan genre-cliche yang selama ini kerap jadi resep baku di genre-nya, dari psychopath killers, kidnappings, gory murders, torturing scenes and mutilations, tanpa sekalipun menurunkan tensi suspense-nya.

WATT1

         So yes, dengan penokohan serba abu-abu yang menempatkan karakternya hanya seolah berada di lapisan-lapisan antagonis berbeda, ‘A Walk Among The Tombstones’ boleh saja berada di genre criminal thriller yang getir dan lamban dibalik stylish violence dan tampilan neo-noir-nya. Sebagian dari kita mungkin tak suka disodori kompleksitas seperti ini, tapi tak usah khawatir. Feel-nya, tetap tak jauh beda dengan film-film action Neeson lain yang jauh lebih terus terang. Badass. (dan)

~ by danieldokter on October 3, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: