THE EQUALIZER : STYLISH VIOLENCE AMONG TIRED PLOT AND GENRE-CLICHES

THE EQUALIZER

Sutradara : Antoine Fuqua

Produksi : Village Roadshow Pictures, Escape Artists, Columbia Pictures, 2014

EQ3

            So it’s officially a trend now in Hollywood. Membawa aktornya ke batas yang tak terbayangkan dalam tampilan badass action hero penuh dengan kekerasan serba vulgar. Menyusul Liam Neeson, kini giliran Denzel Washington yang dijadikan maskot action oleh Antoine Fuqua dalam kerjasama mereka yang kedua setelah ‘Training Day’. Di satu sisi, Denzel memang sudah lebih dulu merambah genre ini dengan progress yang juga makin meningkat, namun kalau di rata-rata filmnya Denzel masih memerlukan bintang lain untuk mendongkrak aksinya, disini, Denzel dibiarkan beraksi seorang diri menumbangkan musuh-musuhnya. Seperti ‘Man On Fire‘, tapi dengan body counts serta kekejaman yang lebih lagi.

EQ6

            But still, ini adalah filmnya Antoine Fuqua. Meski dikenal lewat karya-karyanya di genre action, Fuqua hampir tak pernah kelewat melepas filmnya dengan feel pop yang sangat komersil, dimana seringkali final showdown di bagian klimaks film-filmnya gagal menjadi highlight terkuat diantara action sequence yang ada di sepanjang film. ‘Olympus Has Fallen’ bisa jadi sebuah anomali, memang, namun, meski masih terlihat sangat dipengaruhi nafas film-film aksi ala ‘Die Hard’, ‘The Equalizer’, agaknya merupakan sebuah kasus berbeda lagi.

EQ10

            Diangkat dari serial televisi CBS berjudul sama di tahun ’80-an yang dibintangi Edward Woodward (sempat ditayangkan TVRI) dan sebenarnya tergolong cult, terbatas bagi penggemar-penggemar setianya saja, versi layar lebar ini juga tak terlalu setia mengambil penokohan hasil kreasi Michael Sloan dan Richard Lindheim, kecuali pada nama karakter dan sedikit trivia newspaper ad yang selalu tampil di pembuka serial aslinya. Tapi mungkin Fuqua dan scriptwriter Richard Wenk (‘The Expendables 2’, ‘The Mechanic’) punya alasan untuk itu. Bahwa tak jauh beda dari trend yang ada di banyak remake sekarang, mereka mengembalikan referensi source-nya berbentuk prequel, sebelum event yang selama ini dilihat atau dikenal orang.

EQ9

            Tak banyak yang tahu kalau Robert McCall (Denzel Washington), yang sehari-harinya bekerja di sebuah swalayan alat-alat perumahan dan akrab dengan semua pekerja lain, termasuk trainee asal Meksiko Ralphie (Johnny Skourtis) yang dibimbingnya secara pribadi buat melewati ujian di departemen sekuriti, menyimpan sebuah identitas masa lalu. Namun ketika seorang PSK belia Teri/Alina (Chloë Grace Moretz) yang kerap dijumpainya di sebuah kafe seusai kerja terancam oleh eksploitasi mafia-mafia Rusia pelaku sex trafficking, nuraninya terguncang. Menggunakan segenap keahlian dari identitas rahasia itu, McCall kembali untuk membantai sindikat ini sampai ke akar-akarnya. Sounds familiar? But no, ini bukan Azrax. Lulz.

EQ11

            Tired plot tentang seorang ex-soldier yang terpicu mengembalikan seluruh kekuatannya demi membela seorang korban sex trafficking yang memerlukan perlindungan? Check. Genre-cliche yang melibatkan mafia-mafia Rusia? Baru juga kita saksikan dalam ‘A Walk Among The Tombstones’. Check. Jagoan tanpa tanding yang terjebak dalam situasi dan terpaksa menghadapi sekumpulan sindikat penjahat seorang diri? Check. Oh ya, ‘The Equalizer’ memang punya semua faktor itu. Ini sama sekali bukan sesuatu yang baru maupun yang kita harapkan dari seorang Antoine Fuqua, at least sebelum ‘Olympus Has Fallen’.yang sama-sama bermain di genre-cliches.

EQ8

 

            Lantas, apakah berarti Fuqua semakin meninggalkan signature-nya untuk jadi melenceng ke genre action dengan tampilan kelewat pop? The answer lies between yes or no. Di satu sisi, Fuqua tetap memberi penekanan berbeda lewat storytelling-nya. Hampir sama seperti apa yang kita lihat terhadap Liam Neeson di ‘A Walk Among The Tombstones’, walaupun genre-nya sedikit berbeda serta tanpa embel-embel kompleksitas psikologis, paruh pertama ‘The Equalizer’, biarpun sudah diselipi adegan-adegan action dengan intensitas naik turun, sempat menghentak kemudian melemah lagi dan berulang kali seperti itu, bergerak dengan pace tak konsisten. Slow burn serta terkadang terasa lambat setengah mati, yang memang menjauhkannya dari feel kelewat pop.

EQ4

            Namun coba lihat tampilan keseluruhannya. Walau tak lantas terasa kelewat serupa dengan film-film Denzel dengan alm. sutradara Tony Scott, pemilihan DoP Harry Gregson-Williams yang hampir selalu berada dibalik film-film mereka jelas makin menjauhkan looks-nya dari signature Fuqua. Gregson-Williams memang terlihat berusaha memberi batas perbedaannya di banyak adegan, dengan shot-shot bagus terutama di action scenes-nya, namun sebagian penggunaan slo-mo di sekuens-sekuens klise karakter utamanya berjalan di tengah ledakan, mostly menjelang showdown climax-nya, mau tak mau tetap sangat mengingatkan ke ‘Man On Fire’ atau film Denzel lain yang disutradarai Tony Scott.

EQ7

            And then, seberapa efektifkah karakter-karakter lainnya mendukung penceritaan serba klise itu? Disini, ‘The Equalizer’ malah terjebak dalam flaws terbesarnya. Meninggalkan hanya Denzel dan Marton Csokas yang memang berhasil menampilkan sosok villain dengan kekuatan seimbang ke titular character-nya, sementara di lini kedua ada David Harbour, yang baru saja kita lihat di ‘A Walk Among The Tombstones’ dan Johnny Skourtis dengan porsi yang lumayan, hampir semua karakternya terkesan tersia-sia. Dari Haley Bennett hingga dua aktor senior Bill Pullman dan Melissa Leo tak ubahnya sebagai penghias tak penting. Dan yang terparah, Chloë Grace Moretz yang justru jadi motivasi terhadap konflik utamanya seakan tertinggal begitu saja di tengah-tengah penceritaannya, even hardly became adamsel in distress‘. Tak ada juga memorable TV scoring dari Stewart Copeland, walaupun scoring Mauro Fiore masih bekerja menambah feel-nya.

EQ5

            Tapi bagaimanapun juga, ‘The Equalizer’ sama sekali tak jatuh sebagai sebuah tired action. Walau sosok Denzel Washington boleh terlihat tired dengan perut membuncit bersama penuaan usianya, Fuqua benar-benar bisa melahirkan Denzel baru yang bahkan lebih tangguh, badass dan jauh melewati batasan yang selama ini kita lihat di ‘Man On Fire’, ‘The Book Of Eli’ atau film-film buddy action-nya. Seakan menggabungkan Batman dengan ketangguhan tanpa tanding Steven Seagal di awal-awal karirnya serta sadisme ala psikopat di genre-genre slasher ke tengah aksi 1 lawan 100 ala ‘Die Hard’, violent realism yang ada di serial tevenya dibawa ke level jauh melambung lagi. Fighting choreography-nya yang bagus diterjemahkan Denzel dengan luarbiasa bersama inovasi adegan-adegan pembantaiannya, with body parts close-ups, terutama di 30 mins final showdown yang benar-benar jadi nonstop action climax-nya.

EQ12

            Bagi sebagian, apalagi yang menyukai kelebihan Fuqua dalam keseimbangan plot serta kekuatan karakter dalam genre-nya, ‘The Equalizer’ bisa jadi sebuah kemunduran cukup jauh, bahkan bila dibandingkan popcorn ringannya di ‘Olympus Has Fallen’, namun in terms of action blockbusters, yang dilakukan Fuqua jelas tak salah. ‘The Equalizer’ tetaplah sebuah action dengan stylish violence yang seru. Paling tidak, ia sudah membuka jalan bagi Denzel Washington untuk bersaing dengan Liam Neeson di ‘A Walk Among The Tombstones’ yang hadir di minggu yang sama. Battle of the badasses! (dan)

~ by danieldokter on October 3, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: