THE GIVER : CHILDREN’S NOVEL ADAPTATION WITH HIGHER CONCEPT

THE GIVER 

Sutradara : Phillip Noyce

Produksi : Walden Media, The Weinstein Company, 2014

GVR

            The Giver’ memang seakan dikemas sebagai Young Adult (YA) movie adaptation yang tengah mengikuti trend-nya. Tapi mungkin disini tak terlalu banyak yang tahu, bahwa dalam batasan tipis definisi genre-nya, source aslinya yang datang dari buah karya Lois Lowry memang banyak digolongkan dalam children’s novel series. Tak ada sebenarnya yang salah dengan konsep dystopian dalam dua genre berbatas tipis berdasarkan beda-beda persepsi umur tersebut. ‘The Chronicles of Narnia’ pun sudah pernah melangkah kesana, namun balutan fantasi dalam ‘The Giver’ memang sedikit terasa lebih dewasa, terlebih dalam adaptasinya, untuk lebih terlihat sebagai YA genre.

            Dan proses adaptasinya sudah sangat lama menjadi ambisi aktor Jeff Bridges, yang awalnya ingin menyutradarai sendiri adaptasi ini bersama sang ayah, alm. Lloyd Bridges. Namun tak terlaksana hingga belasan tahun, akhirnya rights yang sudah dibeli Warner Bros sejak 2007 baru mendapat lampu hijau di akhir 2012. Bridges sendiri tak dibuang dari proyeknya. Menjadi produser, memerankan title character-nya, deretan cast hingga sutradaranya pun bukan main-main. Disutradarai Phillip Noyce, ada Meryl Streep, Katie Holmes, Alexander Skarsgård dan penyanyi Taylor Swift di dalamnya, sementara young leads-nya diperankan oleh Brenton Thwaites yang tengah naik daun bersama Odeya Rush.

            Di tahun 2048, setelah perang dikabarkan memusnahkan umat manusia, sisa-sisa yang selamat membentuk komunitas baru yang menghilangkan semua perbedaan ras dan perasaan dari penghuninya. Dikepalai Chief Elder (Meryl Streep) dari kelompok The Elders, masing-masing anak yang sudah menginjak usia remaja diserahi tugas masing-masing, namun ada satu yang bertugas sebagai penerima memori dari The Giver (Jeff Bridges) yang meneruskannya ke berbagai generasi. Jonas (Brenton Thwaites), anak dari pasangan suami istri (Alexander Skarsgård dan Katie Holmes) yang terpilih menjadi Receiver of Memory kemudian menemukan kenyataan bahwa hal ini sebenarnya melawan nuraninya, terlebih ketika mengetahui masa lalu rahasia The Giver dan Receiver of Memory sebelumnya, Rosemary (Taylor Swift). Jonas mulai memperkenalkan perasaan ini pada sahabat yang diam-diam disukainya setelah itu, Fiona (Odeya Rush), namun sahabat mereka yang lain, Asher (Cameron Monaghan), yang diserahi tugas menjadi Guards, sudah diperintahkan Chief Elder untuk menggagalkan misi Jonas.

            Sedikit berbeda dengan YA atau children’s novel lain sebagai source aslinya, ‘The Giver’ memang memiliki kadar serius lebih tinggi dalam menggelar universe-nya lewat skrip yang ditulis oleh Michael Mitnick dan Robert B. Weide. Mungkin karena itu juga, kesan ‘fun’ yang hampir sepenuhnya tertutupi oleh dark dystopian theme dalam elemen tontonan-tontonan sejenis di genre-nya membuat resepsi box office-nya jauh berkurang. Ini pula yang membuat sasaran mereka ke kalangan usia penontonnya jadi berada di sebuah garis tak jelas. Bahkan melibatkan scene baby killings, ‘The Giver’ jadi terasa kelewat berat bagi pemirsa belia, terlebih anak-anak, sementara orang dewasa bisa jadi tetap melihatnya sebagai YA.

            Walau tak terlalu spesial, Jeff Bridges tetap tampil bagus sebagai titular character itu. Sementara baik Katie Holmes, Skarsgård dan Meryl Streep tak terlalu banyak diberi kesempatan sebagai karakter antagonis yang sebenarnya dibalut motivasi abu-abu dibalik penjelasan historikal serta dilematis dalam konflik-konflik utamanya. Begitu juga Taylor Swift yang sungguh tak jelek memerankan Rosemary. Tapi yang paling menonjol bersama Bridge adalah tiga karakter muda lainnya, Thwaites, Rush dan Monaghan, yang bisa membentuk ensemble yang baik di tengah aktor-aktor senior itu.

            Di tangan Phillip Noyce, berikut unsur-unsur lain dari efek, visual dan scoring dari Marco Beltrami hingga soundtrack yang sangat bernafas YA, ‘The Giver’, walau bukan terlalu wah, tetap merupakan sebuah tontonan yang terlihat elegan di segala sisi teknisnya. Ide-ide thought provoking-nya yang mau tak mau disampaikan sedikit kelewat verbal lewat dialog-dialog di pengujung film juga masih berada dalam batasan yang bagus. A children’s novel adaptation with higher concept. Namun masalahnya, kebingungan ke sasaran pemirsa tadi memang tak bisa terhindarkan, dan ini artinya, apa boleh buat, akan ada resiko untuk kelanjutan sekuelnya. (dan)

~ by danieldokter on October 11, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: