GARUDA 19 : AN INSPIRATIONAL STORY OF INDONESIA NATIONAL U-19 FOOTBALL TEAM

GARUDA 19 

Sutradara : Andibachtiar Yusuf

Produksi : Mizan Productions, Bogalakon Pictures & Pertamina Foundation, 2014

G19

            Among all Indonesian sports movie, sepak bola memang masih mengambil tempat teratas dalam genre-nya. Tak peduli betapa prestasi itu masih naik turun di tengah carut-marut permasalahan internalnya, ini tetap jadi kebanggaan banyak orang disini, dan memang layak buat terus didukung. Selain juga, tentunya, cukup berpotensi untuk menarik penontonnya.

            Disana, ada nama sineas Andibachtiar Yusuf sebagai salah satu penggiat persepakbolaan Indonesia. Walau kabarnya ingin meninggalkan genre ini dalam filmografi ke depannya, toh mencari orang yang tepat sebagai storyteller di ranah seperti ini sungguh tak mudah. Bergabung ke dalam semangat Mizan Productions untuk menggulirkan kisah-kisah lokal inspiratif, ‘Garuda 19’ dikembangkan dari dua buku, ‘Semangat Membatu’ dan ‘Menolak Menyerah’ karya FX Rudi Gunawan (bersama Guntur Cahyo Utomo di ‘Semangat Membatu’), untuk kemudian dijadikan skrip oleh Andibachtiar dan Swastika Nohara.

            Sedikit berbeda dari dua source itu, ‘Garuda 19’ justru mengembalikan kisah timnas U-19 ke usaha-usaha terbentuknya timnas ini oleh Indra Sjafri. Sebuah kisah nyata yang menyorot talenta-talenta dari seluruh pelosok Indonesia yang sering luput dari perhatian pusat. So, ini adalah cerita tentang perjuangan dan keyakinan, seperti judul salah satu source itu, semangat yang membatu untuk meraih kemenangan.

           Untuk membentuk timnas U-19, Indra Sjafrie (Mathias Muchus) bersama timnya (Verdi Solaiman, Ibnu Jamil, Puadin Redi dan Reza Aditya) bertolak ke berbagai pelosok Indonesia buat menemukan bibit-bibit hebat yang ada di Nusantara. Ada Yazid (Gazza Zubizareta) dari Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Sahrul (Rendy Akhmad), juara tarkam dari Ngawi, Jawa Timur, hingga Yabes (Sumarlin Beta) dari Alor, NTT yang punya komitmen besar di tengah keterbatasan kehidupan keluarganya. Bergabung bersama Evan Dimas (Yusuf Mahardika) dan rekan-rekannya yang lain di timnas U-19, perjalanan mereka menuju kemenangan melawan Vietnam di Piala AFF U-19 2013, Sidoarjo, sebagai piala resmi pertama yang didapatkan Indonesia sejak 22 tahun lalu, sungguh bukan suatu jalan yang mudah. Ada perjuangan, pengorbanan juga perseteruan yang harus mereka hadapi di tengah-tengah proses menghadapi Korea Selatan untuk membidik Piala Asia Oktober 2014 di Myanmar, yang hampir berbarengan dengan rilis filmnya.

            Dari semua filmografi Andibachtiar soal sepak bola, dibanding ‘Romeo- Juliet’ dan ‘Hari Ini Pasti Menang’ yang menjadikan sepak bola sebagai latar kuat diatas kombinasi subgenre yang beda-beda (love story di ‘Romeo-Juliet’ serta social satire di ‘HIPM’, ‘Garuda 19’ bisa dikatakan ada di wilayah yang paling aman serta linear, namun memang sangat bisa dimengerti, karena keterlibatan Mizan dengan signature mereka di batasan inspiratif film-filmnya. Begitupun, bukan berarti skrip itu hanya bekerja sebagai pemaparan linear terhadap sebuah kisah sukses pembentukan timnas-nya.

            Bersama Swastika Nohara yang juga tak jauh-jauh dari ranah ini sejak terakhir menulis skrip ‘Cahaya Dari Timur : Beta Maluku’ barusan, Andibachtiar tetap menyematkan detil yang bagus dalam permasalahan cabang olah raga itu berikut pengenalan khas masing-masing sisi Indonesia yang disorot dalam perekrutan anggota-anggotanya. Mereka tetap membesut ‘Garuda 19’ sebagai human story yang terasa cukup dalam menggabungkan banyak elemen di tengah plot utama perjalanan Indra Sjafri dan timnya. Dan jangan tanyakan juga keakuratan teknis yang memang sudah sangat dikuasai Andibachtiar dibalik sosoknya sebagai penggiat sepak bola Indonesia. Tata teknisnya juga tampil bagus terutama di tangan Gunung Nusa Pelita sebagai DoP dan scoring Sabrang Mowo Damar Panulu.

            Begitu pula dengan departemen aktingnya. Dibalik kemiripan fisik dengan Indra Sjafri asli oleh departemen makeup-nya, Mathias Muchus, seperti biasanya, tak pernah tampil mengecewakan. Verdi, Reza, Puadin dan Ibnu juga menjadi karakter-karakter yang bekerja cukup baik dalam pemaparan subplot konflik-konflik internal dalam tim para punggawa itu bersama deretan pemain mudanya, baik Yusuf, Gazza, Agri dan Sumarlin yang sama sekali tak jelek. Belum lagi theme songHati Garuda’ dari Letto yang punya nuansa anthemic dan penuh semangat untuk mengiringi adegan turnamen finalnya.

            Hanya saja, usaha untuk memuat begitu banyak sisi penceritaan dari seabrek karakternya, sedikit membuat ‘Garuda 19’ agak lemah di percikan emosinya. Bukan skrip itu tak berusaha memuat detil-detil masing-masing karakter di tengah durasi yang sudah hampir mencapai dua jam masa putar, chemistry-nya pun tak bisa dibilang gagal. Tapi fokusnya seakan saling mendistraksi antara anak-anak muda dengan tim Indra Sjafri, membuat kedua bagian ini sulit untuk bisa berjalan beriringan dengan harmonisasi yang maksimal. Belum lagi tumpang tindihnya dengan segala permasalahan sampingan yang ingin disampaikan tentang kondisi persepakbolaan Indonesia, serta beberapa product placement yang kurang rapi. Ending-nya tetap dipaksakan buat diisi oleh lagi-lagi adegan turnamen, namun hampir tak menyisakan ketegangan menanti final goal-nya.

            Begitupun, kekurangan itu tak sampai membuat ‘Garuda 19’ gagal menyampaikan misinya. Walau linear-linear saja di ranah inspiratif ala Mizan sebagai bentuk kompromi yang tak bisa terhindarkan, paling tidak, Andibachtiar tetap membesut ‘Garuda 19’ jadi film nasional yang sangat informatif dan membuka mata dalam hal olah raga sepak bola serta pengenalan-pengenalan budaya wilayah pinggiran Nusantara yang tersorot di dalamnya. Still a very well made, well acted and inspirational story of Indonesia U-19 foot ball team, yang mungkin selama ini luput dari perhatian banyak orang. Dan itu artinya, layak buat disimak. (dan)

~ by danieldokter on October 12, 2014.

3 Responses to “GARUDA 19 : AN INSPIRATIONAL STORY OF INDONESIA NATIONAL U-19 FOOTBALL TEAM”

  1. Filmnya bagus. Kritikannya jleb banget buat para petinggi sepakbola sonoh. Good job buat Andi bachtiar Yusuf n team!

  2. film yang menjijikan seperti biasa.
    nyatanya tetap jadi pecundang di atas lapangan yang sebenarnya.
    bukti pencitraan dari coach ucrit indra yang memang melempem.

  3. […] DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: