HAJI BACKPACKER : A GRAND LOOKING SPIRITUAL JOURNEY

HAJI BACKPACKER

Sutradara : Danial Rifki

Produksi : Falcon Pictures, 2014

HB

            Adaptasi novel. Tema reliji ataupun inspiratif. Grand looks. Pretty faces. ‘Haji Backpacker’ yang merupakan adaptasi novel karya Aguk Irawan agaknya punya semua persyaratan yang dibutuhkan film Indonesia untuk bertahan lebih di bioskop ketimbang yang lain. Syutingnya yang menempuh lokasi antar negara, India, China, Thailand, Saudi Arabia juga membuat tampilannya kelihatan beda. Ensemble cast-nya juga terpampang jelas di posternya. Momen rilis yang dipilih saat perayaan Idul Adha pun begitu. Tapi apakah itu cukup?

            Memilih meninggalkan semua kepercayaan bahkan keluarganya saat rencana pernikahannya dengan Sophia (Dewi Sandra) yang begitu dicintainya kandas, Mada (Abimana Aryasatya) memilih untuk hidup bebas menjadi seorang backpacker.  Menetap di Thailand dan menjalin hubungan searah dengan gadis Indonesia yang bekerja sebagai pemijat, Marbel (Laudya Cynthia Bella), sebuah kasus lantas membuat Mada terpaksa melanglang buana di tengah kerapuhan jiwanya. Terdampar dari Vietnam ke sebuah desa kecil di Cina dimana ia ditampung oleh seorang ustad tiongkok dan putrinya, Su Chun (Laura Basuki), berlanjut ke India, TibetNepal dan sempat menjadi tawanan sekelompok teroris di Iran, perlahan akhirnya Mada mulai menemukan jawaban atas ketenangan batin yang selama ini ia cari di ujung perjalanannya ke tanah suci Mekkah.

            Sebagai pemaparan terhadap sebuah perjalanan spiritual yang dituangkan ke dalam novel yang bukan hanya berjumlah satu buku, sebenarnya ‘Haji Backpacker’ bisa memiliki penelusuran yang dalam atas tema ini. Namun mungkin, benturan terhadap kebutuhannya sebagai komoditas film membuat skrip yang ditulis oleh sutradara Danial Rifki dan Jujur Prananto memilih jalur mudah untuk penceritaannya. Bukan storytelling itu tak cukup baik, namun menjual lagi-lagi sekedar motivasi cinta yang terkesan dangkal diatas dasar konflik lain yang merubah pemikiran karakter utamanya, Falcon seolah masih mengulang resep sukses Maxima dalam ’99 Cahaya di Langit Eropa’ yang masih akan hadir dalam edisi final cut-nya dalam waktu dekat. Sebuah travelling movie, road movie lintas negara yang lebih mempertontonkan keindahan panoramik jauh diatas kedalaman sisi spiritualnya.

            Begitupun, ini tetap adalah sebuah pilihan yang harus diakui ternyata mampu menjadikannya distraksi yang enak buat dinikmati. Diatas keseriusan niat untuk menggarap tampilannya menjadi sesuatu yang wah, sentuhan reliji-nya bukan sama sekali hilang, dan bisa tertutupi oleh tata teknis yang bagus. Selain detil-detil budaya hingga penggunaan bahasa dari tiap lokasi set yang disematkan ke dalam skripnya bisa tampil bagus bersama tata artistik serta kostumnya, sinematografi Yoyok Budi Santoso juga mampu meng-capture beberapa landmark di tengah perpindahan negara itu. Scoring Indra Q pun ikut memberi penekanan dramatisasi yang seimbang bersama sederet lagu bernuansa reliji yang hadir sebagai soundtrack-nya. Hanya sedikit sempalan animasinya yang masih terlihat tak begitu baik padahal harusnya sangat penting mengiringi konklusinya.

            Namun memang, dayatarik terbesarnya ada pada ensemble cast yang sama sekali tak mengecewakan. Akting santai Abimana tetap terlihat pas memerankan Mada meskipun skrip itu menggerus motivasinya meninggalkan kepercayaan terlihat sangat lemah, semata-mata karena cinta selagi alm. ibu yang seharusnya ikut jadi faktor penting (diperankan Pipik Dian Irawati) hanya tampil sekilas, sementara yang tampil lebih menonjol adalah Laudya Cynthia Bella dan terutama Laura Basuki yang menampilkan gestur hampir sempurna memerankan Su Chun dengan dialek khas lewat dialog-dialog karakternya.

            Overall, ‘Haji Backpacker’ bisa dibilang punya balance yang masih cukup baik diantara pilihan komersilnya menjadi tontonan travelling diatas latar sebuah kisah perjalanan spiritual. It might be just a grand looking spiritual journey, tapi paling tidak, keseriusan dalam detil-detil penggarapan hingga pernak-pernik promosi termasuk teaser, character dan official poster yang terlihat sama elegannya, bisa menutupi kelemahan-kelemahan yang ada. Pada akhirnya, agak miris memang melihat film Indonesia dengan amunisi lengkap seperti ini, yang seharusnya bisa menjadi sesuatu yang diburu penonton untuk ke bioskop ternyata masih tak juga bisa menghasilkan resepsi yang maksimal. (dan)

~ by danieldokter on October 12, 2014.

5 Responses to “HAJI BACKPACKER : A GRAND LOOKING SPIRITUAL JOURNEY”

  1. Hemm… Malahan menurutku cara bicaranya Laura Basuki sbg suchun tdk seperti orang cina. Sedikit dipaksakan.
    Speechless malah sama aktingnya Bella. Jarang jarang Bella dpt peran kaya gitu. Denger2 , Bella nolak peran Asma dalam film Assalamualaikum Beijing, dia tetap main disitu tp ganti peran aja.

    Btw, 99 Cahaya bukan produksi Falcon. Tapi Maxima Pictures. Hehehe🙂

  2. Cinanya bukan yg biasa toh, di perbatasan tibet or something, memang sedikit beda. Ttg produksi, kabarnya ada sedikit share dari Falcon sejak awal rencana pembuatannya🙂

  3. But thanks for reminding, though. As written on credits, filmnya Maxima. Akan diralat🙂

  4. […] DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: