[TIFF TOKYO REVIEW] BIG HERO 6 : DISNEY’S LOVE LETTER TO JAPAN CULTURE, BUT NOT ENOUGH

BIG HERO 6

Sutradara : John Lasseter

Produksi : Walt Disney Studio Animation, 2014

BH611

 

            Saat edisi ke-27 ‘Tokyo International Film Festival (TIFF)’ merayakan genre animasi sebagai sorotan spesialnya di Tokyo kemarin, proses pemilihan produk terbaru Disney, ‘Big Hero 6’ sebagai sajian pembukanya adalah sebuah serendipity. Jelas-jelas, ‘Big Hero 6’ yang diilhami dari database Marvel dibalik kolaborasi resmi pertama mereka setelah akuisisi raksasa itu dari source-nya saja sudah dipenuhi nods ke kultur anime Jepang. Dan walau datang dari ide sutradara Don Hall (‘Winnie the Pooh’) atas perintah CEO Disney Bob Iger, bersama Chris Williams (‘Bolt’) yang belakangan bergabung, key factor-nya adalah John Lasseter, yang lagi-lagi, punya kecintaan begitu besar pada kultur negeri ini atas inspirasi karir dan persahabatannya dengan seorang Hayao Miyazaki.

BH62

            Lagipula, dengan kenyataan Jepang sebagai penyumbang terbesar kesuksesan luarbiasa ‘Frozen’, meski ‘Big Hero 6’ sudah digagas jauh sebelum itu, again, a serendipity, lengkaplah sudah motivasinya. Setelah ‘Wreck-it Ralph’ yang juga mengemas tribute cross-culture ke ranah video game, ini hampir berupa hadiah penuh terimakasih untuk Jepang dengan elemen anime-nya. Jelas tak ada yang lebih pantas menjadi film pembuka festival film internasional mereka yang tengah menyorot fokus animasi daripada ‘Big Hero 6’.

BH63

            Di tengah prosesnya, perbedaan ide boleh saja memicu perseteruan antara Disney-Marvel yang sudah diberitakan sebelumnya, namun jelas, Disney yang sudah mengakuisisi Marvel tetap punya bargaining power lebih tinggi. So be it, dengan desain final untuk penyatuan source asli yang dipoles jauh ke ranah Disney, status akhirnya lebih ke sebuah inspirasi ketimbang adaptasi. Apalagi, rights ke dua karakter dalam timnya sudah keburu dipegang studio lain dan belum bisa dilepas. Hasilnya adalah sebuah cross-culture animation dengan high concept dari karakter hingga ke background set-nya yang berupa fictional hybrid city bernama San Fransokyo. You guess, tapi sejauh mana keseimbangannya menciptakan sebuah benchmark baru setelah standar Disney dilambungkan teramat jauh oleh ‘Frozen’?

BH67

            Berbeda dengan kakaknya Tadashi (disuarakan Daniel Henney), sesama yatim piatu yang diasuh bibinya, Aunt Cass (Maya Rudolph) yang sama-sama punya otak encer dibalik talenta seorang roboticist, bocah 14 tahun Hiro Hamada (Ryan Potter) lebih memilih menggunakan keahliannya berjudi di arena underground battlebot. Mengetahui keahlian adiknya, Tadashi pun mengenalkan Hiro ke dunianya, di pusat riset San Fransokyo Tech, dimana ia tengah merancang sebuah caregiving robot bernama Baymax (Scott Adsit) bersama rekan-rekannya, all robotic geeks, Gogo si insinyur jenius (Jamie Chung), Wasabi, spesialis laser (Damon Wayans, Jr), Honey Lemon si ahli kimia (Génesis Rodriguez) dan Fred the college dropout nerd-slacker (T.J. Miller). Sayangnya, sebuah bencana kemudian meluluhlantakkan hubungan Hiro dan Tadashi dibalik keberadaan Baymax sebagai satu-satunya harapan, sementara takdirnya membawa mereka semua ke nemesis baru bernama Yokai / Mr. Kabuki yang mencuri penemuan Hiro untuk rencana jahatnya.

BH65

            Oh yeah. Begitu cantiknya tim Disney merancang cross culture animation ini dengan detil-detil di gambaran background set San Fransokyo. Menggabungkan landmark-landmark dari kedua kota beda negara itu dengan kreativitas tinggi, skrip yang ditulis oleh Robert L. Baird, Dan Gerson (keduanya dari franchise ‘Monsters, Inc.’) dan Jordan Roberts juga menyematkan sejumlah nods ke plot standar anime yang tak jarang menyentuh wilayah lebih gritty dengan kesulitan lebih para jagoan mengalahkan musuh mereka. Sementara tema sentral brother to brother-nya digagas dengan dramatisasi ala Asia yang dipenuhi hati, kadang mendayu-dayu namun sangat emosional menyentuh realitas keintiman interaksi karakter sekelas produk-produk Pixar, sambil tak lupa menggelar gegap-gempita komedi ala Disney ke dalamnya.

BH68

            Efek animasi untuk menciptakan adegan-adegan aksinya pun tak main-main. Dari sisi ini, ‘Big Hero 6’ menjadi hiburan yang sangat seru di tengah kompleksitas racikannya. Desain Baymax yang diilhami teknologi pumped vinyl robot pun jadi karakter dengan kualitas instant classic untuk segera bersanding dengan karakter-karakter legendaris Disney. Begitu mencuri perhatian diantara karakter-karakter lain sebagai daya tarik terkuat untuk jualannya ke segmentasi segala umur. Belum lagi scoring Henry Jackman dengan theme song yang juga cukup kuat dari Fall Out Boy, ‘Immortalplus tambahan ballad song khusus untuk Japanese release, ‘Story’ dari artis lokal mereka, Ai sebagai second end credits song-nya.

BH64

            Sayangnya, desain human characters-nya tak bisa mengimbangi background dan teknis VFX-nya. Malah, di sisi ini, ‘Big Hero 6’ seakan masih terasa kelewat Amerika dibalik nama-nama karakter asli Jepang walaupun ada kompromi untuk menjelaskan percampuran origin mereka. Mungkin, di satu sisi, mereka tak mau benar-benar jatuh ke ranah anime, tapi bahkan detil-detil karakter extras pun, hampir sama sekali tak menyisakan cross culture yang seimbang dalam konsep tadi. Ini pilihan, memang, tapi untuk mewujudkan sebuah love letter bagi kultur anime, sungguh belum cukup secara keseluruhannya.

BH66

            Dan lagi, kekurangan terbesarnya adalah fokus yang terasa sangat tak seimbang ke layered conclusions-nya, seakan kita melihat dua ending berbeda dari sebuah film. Saat di satu sisi permainan emosi menjelang ending di subtema ‘coming of age’-nya bisa bekerja begitu kuat, skrip ‘Big Hero 6’ justru meninggalkan peran karakter lainnya tak lebih dari sebatas sidekick ketimbang Hiro dan Baymax, dan membuat konklusi setelahnya, dimana konsep superhero story itu pada akhirnya digelar, jadi tak lagi terasa se-moving yang diharapkan . Kita bisa dengan cepat mengingat karakter-karakter lain, namun screentime-nya, jauh tertinggal di belakang, bahkan terasa tak setia ke judul yang dipilih untuk menggambarkan karakternya sebagai tim. Disini, judul resmi rilisnya di Jepang, ‘Baymax’ mungkin jauh lebih layak ketimbang ‘Big Hero 6’.

BH69

            Though however, kekurangan ini tak lantas membuat ‘Big Hero 6’ jatuh menjadi karya Disney yang berstatus medioker. Tak adil juga membandingkannya dengan kedigdayaan ‘Frozen’ yang berada di ranah classic musical atau ‘Wreck-it Ralph’ dengan tribute factors yang masih jauh lebih kompleks dengan segmentasi terbatas baik dari kelas maupun usia pemirsanya. ‘Big Hero 6’, paling tidak masih punya balance yang bagus di sisi lain sebagai tontonan animasi yang jelas bisa menarik hati setiap penontonnya. Bahwa pada akhirnya ia memilih bermain-main dengan emosi sebagai titik terkuat salah satu konklusinya, universally, in every case, itu artinya, bagus. (dan)

BH610

P.S. : Just like another Marvel’s,  please stay after the  end credits.

BH61 International Poster

~ by danieldokter on November 5, 2014.

2 Responses to “[TIFF TOKYO REVIEW] BIG HERO 6 : DISNEY’S LOVE LETTER TO JAPAN CULTURE, BUT NOT ENOUGH”

  1. […] BIG HERO 6 – Don Hall, Chris Williams and Roy Conli […]

  2. […] BIG HERO 6 – Don Hall, Chris Williams and Roy Conli (WINNER) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: