INTERSTELLAR : A LARGER THAN LIFE – GREATER THAN LOVE SPACE ODYSSEY

INTERSTELLAR

Sutradara : Christopher Nolan

Produksi : Syncopy, Lynda Obst Productions, Legendary Pictures, Warner Bros, 2014

INS11

            Bukan rahasia lagi kalau sebagai sutradara dalam film-filmnya, visi seorang Christopher Nolan hampir selalu terlihat berusaha melampaui pencapaian sinematis di film-film dia sebelumnya. Bergerak dari sana, ‘Interstellar’ sebenarnya bukanlah ide asli Nolan. Datang dari produser Lynda Obst dan gravitational – astrophysics expert Kip Thorne, yang sebelum ini sudah bekerjasama di adaptasi Carl Sagan, ‘Contact’ yang disutradarai Robert Zemeckis, ‘Interstellar’ pada awalnya diperuntukkan buat Steven Spielberg, yang mengontrak Jonathan Nolan untuk menulis skripnya.

INS8

            Namun perpindahan DreamWorks ke Walt Disney membuat Paramount mengalihkannya ke Christopher Nolan atas saran Jonathan. Rewriting Jonathans script, ‘Interstellar’ sungguh tak secepat itu kembali ke proses produksi. Lagi-lagi, visi Nolan untuk menuangkan fantasi sedekat mungkin ke realitas secara logis, membutuhkan riset panjang tentang aspek-aspek astrofisika-nya, dari usaha Jonathan belajar lebih dalam tentang teori relativitas ke institusi teknologi di California hingga konsultasi-konsultasi lebih dalam dengan sejumlah key persons ke fasilitas-fasilitas NASA.

INS4

            Hasilnya, ‘Interstellar’ memang jadi proyek Nolan paling ambisius dalam sejarah karirnya. Sejumlah referensi sci-fi yang sudah dilansirnya sejak jauh hari, dari ‘2001 : A Space Odyssey’, ‘The Right Stuff’ di space odyssey part dan proses-prosesnya, ‘Alien’ dan ‘Star Wars’ di desain produksi hingga spirit utama ke sci-fi klasik Spielberg seperti ‘Close Encounters of the Third Kind’ dan ‘Jaws’ untuk menekankan status blockbuster serta tema keluarga yang diusungnya sebagai inti permasalahan di tengah pertanyaan mendalam ‘Interstellar’ tentang eksistensi manusia di tengah dimensi alam semesta dan jagat raya yang kebanyakan masih terjelaskan secara teoritis.

INS1

            Dan inilah yang sebenarnya sama menarik dengan penelusuran astrophysics science itu, dari teori-teori dimensional angkasa luar, blackhole or wormhole, Murphy’s Law, Newton, fisika kuantum atau aplikasi relativitas waktu oleh Einstein, yang mungkin tak sedalam itu juga dimengerti pemirsa yang tak mendalami bidang keahliannya. Bahwa seperti apa yang dilakukan Alfonso Cuarón lewat ‘Gravity’ tahun lalu, melemparkan spirit tentang motherhood ke tengah bintang-bintang dalam kisah perjalanan angkasa luarnya, core terkuat penceritaan ‘Interstellar’ dibangun dari sebuah father to daughter theme yang sudah terbaca dari sebelumnya. Sementara soal cast, satu yang menjadi sangat krusial di film-film Nolan, berupa ensemble ‘A-class actors’ yang tetap dipertahankan, selalu jadi bonus yang memperkuat ambisi serta idealismenya ke teknik-teknik sinematis.

INS12

            In the near future, dimana bumi tak lagi bersahabat terhadap manusia, terutama dengan serangan badai debu yang meluluhlantakkan produksi pertanian, sebuah keluarga petani, sang ayah – duda Cooper (Matthew McConaughey), mantan calon pilot NASA, mertuanya, Donald (John Lithgow) dan dua putra-putrinya, Tom (dewasanya diperankan Casey Affleck) dan Murph (dewasanya diperankan Jessica Chastain) terpaksa berhadapan dengan takdir yang tak pernah mereka pikirkan sebelumnya. Minat lebih Cooper dan Murph tentang science atas fenomena-fenomena aneh yang terjadi di perpustakaan pribadi Murph membawa mereka ke pusat penelitian rahasia NASA yang dikepalai oleh Professor Brand (Michael Caine). Soon after that, melawan larangan Murph, Cooper terpaksa menerima permintaan Brand, bergabung bersama putri Brand, Amelia (Anne Hathaway), ahli fisika Romily (David Gyasi) dan geography-expert Doyle (Wes Bentley) menjadi pilot pesawat angkasa eksperimental ‘Endurance’ melintasi perbedaan ruang dan waktu melalui blackhole yang mereka namakan ‘Gargantua‘ menyusul misi pertama yang masih terjebak mencari peradaban baru di galaksi lain demi menyelamatkan masa depan kemanusiaan dan generasi penerusnya. Tentu saja, perjalanan itu tak semudah yang mereka perkirakan. Revealing the rest, could be a huge spoiler. And no, ini bukan ‘Armageddon’ walaupun keyword-nya adalah saving mankind and humanity.

INS5

            Yes, ‘Interstellar’ tetap adalah sebuah sci-fi blockbuster. Outer space epic ambisius yang dibuat di bawah visi Nolan menggelar pemikiran-pemikiran distinct-nya dalam memandang teknologi sinematis, yang jelas bukan sekedar menjual boom-bang action secara bombastis. Dan ini berbeda lagi dengan ‘Gravity’ walaupun di tengah pertanyaan dan metafora filosofisnya tentang eksistensi manusia, perbandingan antara keduanya sulit untuk dihindari. Selagi Cuarón menggelar minimalistic filmmaking dari ide, set hingga karakter untuk membangun filosofi-filosofinya, Nolan sama sekali tak begitu. Again, dibalik segmen-segmen ide yang jauh lebih kompleks serta thought-provoking yang seakan membuat ceritanya mungkin terlihat mustahil untuk dirangkai jadi satu walaupun durasinya mau tak mau harus melebar, dipenuhi layered twist serta tetap menyisakan pertanyaan-pertanyaan ala Nolan, ‘Interstellar’ adalah sebenar-benarnya sebuah sci-fi blockbuster.

INS14

 

            Dan Nolan tentu tak berusaha membuat semua teori astrofisika yang walaupun sudah melalui riset ini itu tapi sebagian besar implikasinya masih terbatas di literatur itu menjadi nyata. Ia hanya melangkah dengan usaha akurasi yang bisa terasa lebih logis dalam menyatukan ujung-ujung benang merah ide ambisius itu ketimbang terlihat hanya berupa khayalan belaka. Skrip yang ditulis duo Nolans ini pun tak berniat membuat pemirsanya terjebak dalam kebingungan mengaplikasikan istilah-istilah ilmiah itu, dimana seperti tenaga ahli yang tengah membuat tulisan awam secara umum, penjelasan-penjelasan singkatnya tetap diusahakan muncul dalam dialog-dialognya. Sebagian orang boleh saja berpanjang-panjang meributkan plothole ini dan itu, namun tata visualnya menyusun segmen-segmen pemikiran tadi menjadi sebuah gambaran utuh yang mengarah pada satu konklusi penting dan sangat universal tentang eksistensi manusia di tengah semesta penuh misteri benar-benar mampu membuat kita tercengang.

INS7

              Desain produksi dari Nathan Crowley (juga bekerja di sebagian besar film-film Nolan), sinematografi Hoyte von Hoytema (‘Tinker Taylor Soldier Spy’ dan ‘Her’) yang menggantikan Wally Pfister serta VFX supervisor Paul Franklin dari Double Negative (‘Inception‘) sudah menghasilkan visual sempurna mengantarkan seluruh adegannya dengan penekanan-penekanan penting di penelusuran science-nya. In Nolans cinematic style, dimana format film pun akan punya arti, IMAX jadi sesuatu keharusan, ketimbang mentok jadi sekedar asesoris. Ada sedikit cacat yang diributkan banyak orang dalam tata suaranya, meski tak sampai merusak bangunan apapun, tapi scoring Hans Zimmer, meski tetap hadir dengan feel majestic seperti biasanya, tak pernah gagal mengantarkan sparks of emotions dalam tiap pengadeganannya.

INS6

            Di departemen akting, ‘Interstellar’ juga tak sekedar menempatkan A-list actors-nya secara sia-sia. Walau tetap memerankan typical southern hunkMatthew McConaughey, dalam salah satu penampilan terbaiknya, menerjemahkan emosi luarbiasa bersama chemistry-nya dengan pemeran Murph muda, Mackenzie Foy, serta Jessica Chastain walaupun mereka nyaris tak pernah bertemu dalam scene yang sama. Anne Hathaway mengisi perannya dengan female lead distraction yang kuat di tengah-tengah father to daughter theme sebagai sentral utama, dan masih ada Wes Bentley, Casey Affleck, David Gyasi, David Oyelowo hingga senior macam Ellen Burstyn, John Lithgow dan of course, Michael Caine, yang merepresentasikan father to daughter plot lain dengan Hathaway, plus Topher Grace dan Matt Damon yang juga ikut meramaikan ensemble cast ini. Bahkan Bill Irwin dan Josh Stewart yang mengisi suara robot TARS dan CASE, dalam visi non-bombastic Nolan menggambarkan robotic lifeform yang minimalis, ikut memberikan sentuhan yang bagus.

INS15

            But above all, being something way more than you can imagine, bahkan terhadap penonton yang sudah membaca outline kisahnya akan jadi seperti apa, hal terkuat dalam ‘Interstellar’ adalah core terbesar yang dibidik Nolan sebagai konklusi penyampaiannya soal dimensi galaksi yang berbeda diatas planet bernama bumi yang kita huni sekarang. Menggelar adegan klimaks yang teramat sangat menggetarkan, bahkan membuat kita terhenyak dalam tangis seindah visual luarbiasa dimana seluruh jawabannya terhubung satu dengan yang lain, ia tak lantas kelihatan memilih salah satu antara science atau reliji / biblical thoughts seperti kelemahan terbesar Zemeckis membesut ide luarbiasa Carl Sagan dalam ‘Contact’, tanpa juga membuat kita memikirkan kemungkinan-kemungkinan ini itu. ‘2001 : A Space Odyssey‘ atau ‘Contact‘ bersama beberapa space travel film lainnya boleh jadi sudah memulai gambaran mereka diatas bab-bab kecil teori relativitas waktu dalam astrofisika, tapi melengkapinya seperti satu textbook lengkap memuat teori lain yang saling bersinggungan, ‘Interstellar‘ cukup mengambangkan semua pertanyaannya menuju satu konklusi yang sangat universal bernama cinta diatas penjelasan seluruh fenomena science-nya. Mindblowing, breathtaking yet also heartbreaking, dibalik Caines character recite of Dylan Thomasfamous refrain of the poem that haunted us long after the film ends, ‘Do not go gentle into that goodnight. Rage, rage, into the dying of the light.’

INS13

            Dan tak perlu juga mengerti sedalam apa konklusi ini menjadi metafora yang mengantarkan sepenggal epilog heroik di bagian pengujungnya, bahkan kalau perlu meninggalkan segala tetek-bengek teori science-nya, Nolan cukup meminta kita merasakan perjalanan spiritual yang digelarnya di sepanjang adegan multi-dimensional ‘Interstellar’ dengan hati sebagai bagian terbaik film ini, seperti yang diakui Nolan, bahwa ‘Interstellar‘ sekaligus berupa love letter sangat personal yang diperuntukkan buat putrinya. As simple as father to daughter love diatas heartful question yang sangat menyentuh ‘What if the answer to ‘how far would you go for someone you loved’ is a lifelong years?’ sebagai motivasi terdasar yang ingin ia sampaikan ke tengah-tengah space odyssey-nya di ‘Interstellar’ . That only love can transcend time and space, sekaligus jadi kunci untuk sebuah peradaban agar terus bisa mencari jalan buat bertahan. A larger than life – greater than love space odyssey, one of the best in years, yang jelas akan segera jadi salah satu touchstone for future films di genre-nya, lama diingat setelah ini, dan lagi-lagi, film yang membuat kita ingin segera pulang, memeluk erat dan melewatkan waktu bersama orang-orang terdekat kita. A masterpiece. (dan)

~ by danieldokter on November 9, 2014.

4 Responses to “INTERSTELLAR : A LARGER THAN LIFE – GREATER THAN LOVE SPACE ODYSSEY”

  1. Terima kasih banyak kepada penulis di blog ini. Saya suka sekali membaca ulasan-ulasan tentang film di sini, salam kenal.

  2. […] INTERSTELLAR – Hans Zimmer […]

  3. […] INTERSTELLAR – Hans Zimmer […]

  4. […] tp 8000 viewers over the Ginowan beach stage are still coming with last year’s phenomenal hit ‘Interstellar’, Finland/France’s animated ‘Moonmins on the Riviera’ and the classic sci-fi action ‘The […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: