EXODUS: GODS AND KINGS : HUMANISTIC APPROACH BEYOND A VISUAL GRANDEUR

EXODUS: GODS AND KINGS 

Sutradara : Ridley Scott

Produksi : Chernin Entertainment, Scott Free Productions, Babieka, Volcano Films, 20th Century Fox, 2014

exodus-gods-and-kings

            Walau baru dua film berskala besar yang menjadi titik balik Hollywood’s effort untuk menghadirkan kembali genre biblical epic di era ini, bersama ‘Noah’-nya Darren Aronofsky, paling tidak ‘Exodus : Gods and Kings’ sudah membuat gelombang kecil di sejumlah film-film kelas B dalam genre sejenis. Mungkin masih perlu waktu untuk benar-benar memastikan genre-nya bisa kembali berjaya seperti di era Cecil B. De Mille dulu.

            Namun usaha-usaha itu sungguh punya pendekatan yang berbeda. Sebagaimana ‘Noah’ yang dibesut Aronofsky, Ridley Scott yang kerap dituding sebagai atheis, entah benar atau tidak, sebenarnya membuat penceritaan ulang para Nabi dalam Alkitab ini dengan mengedepankan sisi manusiawi mereka. Jika ‘Noah’ bicara lebih besar dalam skup keluarga, seperti sepenggal nuansa yang ada dalam kisah aslinya, Scott sudah menekankan ‘brotherly theme’ di official poster berikut tagline-nya. Tentu saja sulit untuk tak memuat juga sisi miracles yang ikut membalut historical atmosphere-nya. Sama seperti visual Nabi Nuh dengan bahteranya, poin paling krusial ‘Exodus’ tentu juga ada di laut merah terbelah yang jadi ikon kisahnya. So is this a spectacle or not, let’s dig a little bit more.

            Hidup sebagai saudara angkat Pangeran Ramesses (Joel Edgerton) dibalik sebuah ramalan firaun Seti I (John Torturro) yang menyebabkan kecemburuan Ratu Tuya (Sigourney Weaver), Moses (Christian Bale) terpaksa menerima takdirnya kala budak Yahudi Nun (Ben Kingsley) membuka rahasia garis keturunannya sebagai Yahudi. Dibuang bersama kakaknya Miriam (Tara Fitzgerald) setelah rahasia ini dibuka Hegep (Ben Mendelsohn) pada Ramesses, Moses yang kemudian memperistri Zipporah (Maria Valverde)  mendapat wahyu untuk membebaskan bangsa Yahudi dari perbudakan Mesir. Meninggalkan Zipporah, Moses pun menjalankan wahyu itu. Kembali ke Mesir, memperingatkan Ramesses lewat 10 tulah yang dijanjikan, dan membawa bangsa barunya melintasi laut merah dibalik pengejaran Ramesses.

            Skrip yang ditulis oleh Adam Cooper, Bill Collage, Jeffrey Caine bersama award winning scriptwriter Steven Zaillian dari ‘Schindler’s List’ memang terlihat tak berpijak semata-mata pada penceritaan Alkitab. Berbeda dengan banyak versi Moses sebelumnya, karakterisasinya terasa lebih berat pada hubungan Moses dan Ramesses yang digambarkan dengan motivasi hutang nyawa yang jelas sebagai dasar sebuah love and hate relationship dibalik kode dan garis darah yang muncul sebagai dilema dua karakter utama ini. Tak ada juga penekanan terlalu besar atas sisi theism atau sebutan-sebutan nabi ke sosok Moses, bahkan iconic burning bush itu tergantikan oleh sosok anak kecil yang diperankan oleh Issac Andrews, begitu pula soal log batu Ten Commandments yang berusaha ditampilkan se-realistis mungkin dalam prosesnya bersama adegan laut merah yang paling ditunggu tadi.

           Satu yang tetap dipertahankan dalam genre-nya, sebagaimana classic biblical epic itu adalah star studded cast, yang sebenarnya sama, menjadikan tak semuanya jadi benar-benar efektif ke pemunculan mereka di layar. Benar bahwa ‘Exodus’ lantas terlihat seperti menyia-nyiakan nama-nama besar seperti John Torturro, Sigourney Weaver bahkan Ben Kingsley, but then again, ini sebenarnya masih jauh bila dibandingkan film-film reliji klasik dimana part terkecilnya pun mesti menampilkan bintang terkenal. Sama juga seperti omelan sebagian orang atas ketidakadilan etnis dimana baik karakter Mesir atau Yahudi semua diperankan oleh aktor kulit putih, ataupun durasi yang melebar, sesungguhnya lebih berupa kritik-kritik tak berdasar atas trend yang berkembang sekarang. Ini semua lebih berupa pola yang sulit dikesampingkan dalam elemen-elemen wajib genre-nya.

            Toh, dalam membangun sisi humanis yang jauh lebih menonjol itu, rata-rata main cast-nya tak bermain jelek. Mungkin tak sangat spesial dibalik kemiripan tampilan mereka seperti Charlton Heston dan Yul Brynner dalam salah satu film tentang Moses paling legendaris, ‘The Ten Commandments’, namun Christian Bale menampilkan chemistry yang baik dengan Joel Edgerton. Selagi aktor Australia Ben Mendelsohn dan the rising star Aaron Paul cukup mencuri perhatian dengan masing-masing karakternya, aktris Spanyol Maria Valverde yang memerankan Zipporah justru muncul sebagai distraksi terkuat dalam ‘Exodus’.

            Tapi memang benar, hal terkuat yang terlihat paling menonjol dalam ‘Exodus’ adalah bahwa ini tetaplah film seorang Ridley Scott, yang hampir selalu punya kemegahan ekstra dalam visual dan bangunan teknisnya. Ditambah dengan presentasi 3D, Scott memang tak membesut ‘Exodus’ sekedar main-main. Begitu banyak adegan yang menekankan nilai kolosalnya dibalik desain produksi dari set hingga kostum yang serba grandeur. Visualnya, lewat sinematografi Dariusz Wolski, DoP yang sudah sering bekerjasama dengan Ridley dan juga alm. Tony Scott, saudaranya. Lihat juga efek visual yang dihadirkan dari adegan-adegan 10 tulah ke klimaks pengejaran ke Laut Merah-nya. Scoring dari Alberto Iglesias mungkin tak spesial, tapi sedikit banyak juga masih membantu memberi kesan serba megah dalam penggarapan keseluruhannya.

            Bagi sebagian orang, adegan klimaks Laut Merah itu bisajadi agak mengecewakan karena sama sekali tak mempresentasikan mukjizat seperti apa yang selama ini kita lihat dari adaptasi-adaptasi biblical ataupun berbagai media visual lainnya. Namun dalam pendekatan lebih logis, kalaupun tak mau menyebutnya realistis, apa yang digambarkan Scott disini, dari drainase air laut ke tsunami-like process jelas bukan sebuah kegagalan. By all means, dari visual, teknis lain hingga efeknya, ‘Exodus’ memang dipenuhi oleh kemegahan sebuah blockbuster. A spectacle.

            So, overall reception-nya mau tak mau memang akan kembali lagi pada apa yang kita harapkan dari kelahiran kembali genre ini. Tapi jelas akan terlalu naif juga mengindahkan kemegahan visual dan pendekatan humanis yang ada dalam ‘Exodus’. Sama seperti mixed receptions yang menimpa ‘Noah’, effort selanjutnya dalam genre ini mungkin harus lebih menitikberatkan keseimbangan lebih diantara eksplorasi karakter (yang mungkin maunya) lebih dalam dari sekedar apa yang sehari-hari dibaca orang lewat Alkitab, biblical dramatization dalam konflik-konflik serta keindahan visual dalam formula racikannya. Toh atas pilihan Scott pada fokus ke tema persaudaraan itu, kita tetap akan merinding saat ia meninggalkan kita lewat sebuah pernyataan persembahannya pada almarhum sang adik, Tony Scott, di penghujung film. (dan)

~ by danieldokter on December 16, 2014.

One Response to “EXODUS: GODS AND KINGS : HUMANISTIC APPROACH BEYOND A VISUAL GRANDEUR”

  1. Saya kecewa banget setelah nonton Exodus Gods and Kings karena tidak ada adegan laut terbelah ketika Moses dan kaum Bani Israel menyelamatkan diri dari kejaran Fir’aun seperti adegan yang dimunculkan dalam film The Ten Commandments (1956) yang memenangkan Oscar untuk Vissual Effect Terbaik. Dalam Exodus Gods and Kings yang ditampilkan hanya adegan air laut yang surut.
    Hal lain yang menurut saya terlihat janggal dalam film Exodus Gods and Kings ini adalah keberadaan Tuhan divisualisasikan dalam wujud seorang bocah laki-laki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: