SUPERNOVA: KSATRIA, PUTRI & BINTANG JATUH ; LOVE AND SCIENCE BIFURCATIONS

SUPERNOVA: KSATRIA, PUTRI & BINTANG JATUH

Sutradara : Rizal Mantovani

Produksi : Soraya Intercine Films, 2014

SN1

            Bagi sebagian orang, ‘Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh’, novel pertama Dewi Lestari (Dee) dari novel series yang masih berlanjut hingga sekarang adalah sesuatu yang fenomenal. Di masanya, novel itu bagaikan pionir yang menggabungkan tema cinta dengan metafora sains lengkap dengan bahasa-bahasa ilmiah yang membuat pembacanya jadi (merasa) makin pintar mengulik segala gambaran kegelisahan Dee tentang hubungan-hubungan vertikal hingga horizontal-nya sebagai manusia.

            Bagi sebagian lagi, ‘Supernova’ mungkin tak lebih dari roman-roman klise ala karya-karya Mira W. atau Marga T buat mengalamatkan kisah-kisah perselingkuhan biasa dengan balutan sains sekedar distraksi dan kemasan serba pseudo. Tapi mungkin kita semua, terutama pembaca novelnya, penggemar atau bukan, mesti setuju, kalau dibalik pendekatan berbeda itu, ‘Supernova’ bukanlah sebuah karya yang mudah diadaptasi ke layar lebar.

            Disini, nama Soraya Intercine Films sebagai PH-nya mungkin jadi sesuatu yang layak diperhitungkan atas penantian lama adaptasi filmnya. Bukan saja karena PH yang satu ini hampir selalu punya effort lebih dalam kemasan tampilannya menyuguhkan cinematic experience yang berbeda dengan rata-rata film Indonesia, tapi juga ada nama Rizal Mantovani yang bisajadi merupakan nama pertama yang terpikirkan oleh banyak orang buat membesut adaptasinya. Belum lagi soal star factor yang dipenuhi eksploitasi pretty faces seperti yang selama ini seolah jadi companion wajib bersama grand look ala produksi-produksi Soraya itu.

            Dua mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Washington D.C., Reuben (Hamish Daud) dan Dimas (Arifin Putra) bertemu dan mengikat janji atas sebuah kolaborasi mereka menulis roman dengan sentuhan sains untuk menggemparkan semua orang dalam 10 tahun. Set-nya adalah bentuk lain dari Jakarta, dimana masing-masing karakter ciptaan mereka ; Ferre (Herjunot Ali), seorang eksekutif muda sukses yang menyimpan trauma dibalik kesepiannya, Rana (Raline Shah), wakil pemred majalah lifestyle ambisius yang tengah berada dalam kebosanan hubungannya dengan Arwin (Fedi Nuril), sang suami, serta Diva (Paula Verhoeven), model sekaligus pelacur kelas atas akan berinteraksi mewakili metafora kisah Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Namun penciptaan benang merah sosok digital, sebuah avatar yang mereka namakan Supernova, ternyata membuat kehidupan paralel kreator dengan tokoh-tokoh ciptaannya mulai membaur ke dalam dimensi yang sama.

            Sama seperti novel Dee yang merekonstruksi tired plot soal cinta dan perselingkuhan dengan pendekatan sains beserta proses-proses ilmiah dari soal hormon ke teori-teori kuantum yang melebar ke pertanyaan-pertanyaan lain tentang konsep order dan chaos hingga (lagi-lagi) latar medis yang agak salah kaprah soal penyakit jantung bawaan, skrip yang ditulis Donny Dhirgantoro bersama Sunil Soraya bukan tak mencoba menerjemahkan tiap benang merah yang ada. Namun sebagai jualan, mereka tahu apa yang paling diinginkan penonton kita kebanyakan. Maka jadilah drama karakter-karakter ciptaan Reuben dan Dimas itu yang muncul mendominasi, sementara penelusuran sainsnya cukup dibatasi menempati prolog dan epilog keseluruhannya. Menekan resiko kebingungan penonton atas istilah-istilah ilmiah yang diterjemahkan bulat-bulat ke dalam skrip penuh bahasa buku itu, walau mau tak mau emosinya kerap dipenuhi hit and miss. Apalagi dengan akting tipikal ensemble cast langganan mereka yang juga seringkali jadi sekaku bahasa yang ditampilkan dalam filmnya.

            Begitupun, effort Soraya dalam sisi teknis sampai ke marketing gimmick (termasuk poster yang tak salah karena meskipun punya style sama dengan film luar tapi menggamit kreator aslinya) bersama eksploitasi fisik pretty faces dari cast tadi, dari sempalan shower scene Herjunot hingga Paula Verhoeven yang meski kelewat datar memerankan Diva namun punya kecantikan fisik luarbiasa, atau chemistry Hamish DaudArifin Putra, memang tak bisa dipungkiri punya nilai jual tinggi. Bersama bangunan set dan desain produksi penuh signature Rizal Mantovani yang dengan cermat memanfaatkannya buat penekanan sains dan feel futuristik dengan kontras jelas ke gambaran karakter Arwin dan kehidupan rumahtangga yang dijalani Rana,  sinematografi Yudi Datau dengan shot-shot sangat megah dan mewah termasuk aerial shot yang keren, editing Sastha SunuKelvin Nugroho berikut tata artistik dari Vida Sylvia Pasaribu sudah menghasilkan visual grandeur yang jarang-jarang kita temukan dalam film-film lokal biasanya.

          Tata kostum yang menghadirkan kontras warna-warna dasar hitam dan putih pun cukup terasa bisa bicara lebih dibalik metafora-metafora-nya. Scoring serta lagu-lagu tema dari Nidji mungkin mengalami penurunan dibanding ‘5cm’ atau ‘Tenggelamya Kapal Van der Wijck’, tapi bukan berarti jadi merusak bangunan keseluruhannya, dan masih ada visual efek plus sempalan animasi yang jauh lebih baik dari apa yang mereka lakukan dalam ‘Tenggelamnya Kapal Van der Wijck’ tahun kemarin. Ini semua paling tidak bisa menutupi skrip lemah Donny yang seolah berupa carbon copy saja di dialog-dialognya, sementara bahasa-bahasa ilmiah yang membahas soal Badai Serotonin (yang diucapkan terbata-bata oleh karakternya menyalahi latar pendidikan luar mereka di universitas papan atas kelas dunia), Schrodinger’s Cat Paradox, Ombak Soliton dan sebagainya tetap dimunculkan tanpa penjelasan bagi pemirsa yang masih asing dengan penggunaannya.

            Jadi apakah lantas ‘Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh’ ini bisa memenuhi ekspektasi-ekspektasi berbeda dari kalangan pembaca ataupun yang belum pernah menikmati novelnya, lagi-lagi akan terpulang kembali pada masing-masing penonton. Sama seperti istilah ilmiah Bifurkasi yang bisa punya banyak sekali definisi dan penelaahan berdasar macam-macam implikasi cabang sains terhadap science & love sebagai penerjemahan order & chaos yang dimaksudkan Dee, dari pemisahan cabang saluran ke paradoks-paradoks fisika dan matematis jauh lebih kompleks, keseimbangan dua sisi ini boleh jadi terasa timpang dan lebih didominasi plot perselingkuhan yang kerap lebih memicu rasa gemas penonton rata-rata. Namun dalam konteksnya sebagai komoditas jualan, ia punya balance yang juga tak bisa disalahkan. Begitulah. (dan)

~ by danieldokter on December 23, 2014.

2 Responses to “SUPERNOVA: KSATRIA, PUTRI & BINTANG JATUH ; LOVE AND SCIENCE BIFURCATIONS”

  1. […] DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies) […]

  2. Begitulah. Meski secara pribadi saya tak berkapasitas mengulik di mana kelebihan dan kekurangan ‘franchise supernova’. Bukankah ini semacam ‘titanic tragedy’ terhadap sesuatu yang digadang-gadang secara berlebihan? Apakah kelak mereka yang setia membaca dan membeli setiap instalment buku akan setia menonton setiap instalment adaptasinya ke film? Pertanyaan terakhir, apakah mereka akan sungguh-sungguh menikmati dan menarik sesuatu darinya selain sekedar telah bersetia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: