GARUDA SUPERHERO : A TOTALLY FLAWED AMBITION

GARUDA SUPERHERO 

Sutradara : X.Jo

Produksi : Putaar Films, Sultan Sinergi Indonesia, Garuda Sinergi Putaar Sinema, 2015

garuda

            Unlike what you think, dari dunia komik ke film layar lebar, kita memang nyaris tak pernah punya superhero yang benar-benar asli Indonesia. Bahkan tokoh-tokoh mitologi pewayangan, if you consider them as one, juga masih dipenuhi distraksi dan klaim budaya dari India. Tak ada yang salah dengan ini memang, karena banyak bangsa lain juga saling mengadopsi superhero dunia barat sebagai sumber terbesarnya. Yang bisa dilakukan akhirnya adalah mengambil satu dua elemen untuk dipadukan dengan ciri khas budaya sendiri agar menjadi karakter baru. Seperti Gundala yang mengadopsi Flash, Godam ke Captain Marvel dengan elemen-elemen Indonesia hingga Kapten Indonesia yang berubah wujud dengan mengucapkan sila-sila Pancasila, semua sah-sah saja. Yang penting, ada konsep jelas dalam kombinasi tiap elemennya menjadi sesuatu yang baru.

            Lantas, mari lihat kembali sejarah sinema superhero kita. Sejak jauh-jauh, walau hanya segelintir, ada ‘Sri Asih’ yang mengadopsi Wonder Woman, lantas ‘Rama’ yang jelas-jelas dibandrol judul Superman Indonesia (walaupun sebatas mengambil hype komiknya saja), ‘Gundala Putra Petir’ atau ‘Darna Ajaib’ yang tak malu-malu meminjam tanpa izin superhero milik Filipina yang juga mengacu ke ‘Wonder Woman’. Setelah itu, hanya bertahan di sinetron, sinema kita hanya sempat punya ‘Madame X’ yang lebih mengedepankan nuansa komedi. Dari bujet ke tetek bengek teknis lain, semua tertahan oleh keterbatasan. Tapi ingat, genre superhero sekarang bukan lagi hanya soal kostum, tapi yang terpenting, efek visual.

           So, dengan keterbatasan itu, jangan mengharapkan hasil yang sama dengan produk-produk Hollywood dengan bujet yang berlipat-lipat lebih tinggi atau keahlian SDM yang jauh lebih besar, itu juga benar. Paling tidak, usaha X.Jo, sineas asal Jogja, untuk berjuang selama kabarnya 10 tahun mendobrak kembali genre ini, seharusnya perlu juga dihargai. Nanti dulu konsep kostum yang terlihat benar-benar menjiplak Batman di luar logo Garuda sebagai satu-satunya orisinalitas yang ada. Tapi bahwa mereka bisa menggamit aktor-aktor bagus untuk bergabung ke proyeknya, termasuk main villain yang diperankan Slamet Rahardjo atau Robby Sugara yang comeback ke layar lebar, at least, punya sesuatu yang menjanjikan.

      Namun masalahnya, rentang waktu panjang itu tampaknya belum juga cukup untuk menghasilkan sesuatu yang layak bahkan dari tolok ukur teknologi paling minimal disini sekarang. Terlepas dari hasilnya, yang dikatakan X.Jo paling tidak bisa menjadi tolok ukur terbawah dalam usaha itu, dari trailer-nya yang cenderung mengundang tawa mengejek ketimbang decak kagum saja, kita sudah bisa melihat betapa tampilan efek yang kabarnya 95% menggunakan blue screen plus CGI seadanya itu benar-benar tak meyakinkan.

          Meski blue screen atau green screen di banyak kasus hanyalah sebatas pilihan, tapi dalam teknologi digital, gebrakan genre-nya dari sinema terdekat negara tetangga Malaysia yang dibesut Yusry Abd. Halim dari KRU Studios sejak tahun 2006 saja, ‘Cicak-Man’, yang juga diimpor kesini dan sekuelnya memakai Tamara Blezynski, sudah menggunakan green screen plus CGI dengan hasil yang jauh lebih layak. Begitu pula instalmen ketiganya yang bakal hadir sebentar lagi dan trailer-nya sudah bisa kita lihat dimana-mana. Belum lagi kesan kurang percaya diri antara judul ‘Garuda’ di tampilan promo dengan ‘Garuda Superhero’ sebagai titel resminya dimana-mana, hanya untuk memberi penekanan bahwa ini adalah film superhero. Sekarang, pertanyaannya, apakah keberanian saja cukup untuk melakukan gebrakan?

         ‘Garuda’ pun dibuka dengan sekuens bombastis ala klimaks ‘The Avengers‘ setelah dialog penuh konklusi filosofi superhero diantara pilihan dan takdir. Penyerangan bumi, negara kita yang disamarkan secara fiktif dari nama namun tidak simbol-simbolnya, kini bernama Metro (Metroland – sebutan mereka), oleh alien, langsung memunculkan superhero bernama Garuda yang dalam waktu singkat menaklukkan pimpinan mereka hingga seluruh alien yang tersisa bertekuk lutut. Tanpa konsep back and forth yang jelas, kita kemudian dibawa ke situasi Indonesia, no, i mean Metro, yang berada di ambang kehancuran karena hantaman meteor berukuran raksasa. Senjata yang sudah disiapkan sekelompok profesor, militer bersama pendananya, milyuner Derma (Robby Sugara) untuk mencegah kehancuran ini tiba-tiba disatroni oleh sekelompok penjahat super dibawah pimpinan Durja King (Slamet Rahardjo). Saat pentolan kepolisian, Kapten Dipo (Agus Kuncoro) pun tak lagi mampu menghadapi penjahat-penjahat ini, satu-satunya yang bisa mencegah mereka adalah Bara (Rizal Al Idrus), putra angkat Derma yang tengah bermeditasi di Tibet dan seketika harus menerima takdirnya dari teknologi super yang diciptakan seorang dokter yang juga diburu oleh orang-orang Durja.

          No, I won’t make any jokes about the result, nor compare it toAzrax’ atas banyaknya anggapan cinematic experience yang sama dalam nama hiburan atas sebuah hasil yang serba berantakan karena keduanya ada di batasan yang sungguh berbeda. WhileAzraxwas a joke, ini lebih pada sebuah kegagalan yang terus terang, cukup menyedihkan atas ambisi besar yang diusung X.Jo bersama para produser yang berhasil diajaknya, diantaranya dari Putaar Production yang sudah menghasilkan film-film seperti ‘Kun Fayakun’, ‘Pengejar Angin’ dan Moestopo Production yang sebelumnya berada dibalik film drama ‘True Love’.

           Benar bahwa usaha-usaha menampilkan teknologi, tak peduli seberapa minimal pun, seperti yang di-publish X.Jo tentang tim efek visualnya yang berjumlah hanya 9 orang, memang secara total, berantakan. Entah mengapa, ketimbang mencoba mengkombinasikannya dengan sebagian set dan background nyata, mereka lebih memilih memenuhi keseluruhan film berikut hampir semua elemen dan ornamen lain dengan teknologi blue screen dan CGI yang benar-benar payah. Bukan saja tak menyatu dan menghasilkan gambar-gambar pecah dengan resolusi seadanya, mereka tampak tak mau berusaha lebih mengolah sisi ini secara lebih baik lagi. Kalau lagi-lagi alasannya bujet, maka seharusnya mereka sadar bahwa hasil yang ada dalam ‘Garuda’ sungguh belum layak untuk dipertontonkan ke publik bahkan digembar-gemborkan sebagai pionir yang memulai kebangkitan genre-nya.

           Dan itu masih separuh dari kekurangan yang ada dalam kegagalannya. Oke, bahwa mereka jelas terlihat punya konsep walau mengadopsi banyak elemen dari blockbuster-blockbuster superhero Marvel, DC atau apapun, kadang kelewat terus-terang sebagai konsepnya, dari kostum Garuda yang kelewat mirip Batman tadi ke filosofi superhero sebagai simbol keberanian berikut villain-villain-nya yang comot sana comot sini, namun benar-benar tak tahu bagaimana menuangkannya ke dalam racikan baru yang fresh. Satu lagi, walau dalam genre fantasi semua bisa kemana saja, tapi sisi logika paling simpel saja tak mereka pikirkan. Oh ya, Garuda bisa terbang menembus atmosfer bumi ke ruang angkasa dan kebal terhadap bom nuklir berkekuatan tak main-main. Karakter dan penceritaannya serba tak jelas dengan sentuhan-sentuhan karikatural ke dalam penggambaran karakter yang lebih ke sok asyik ketimbang menarik, dan yang lebih parah, sebagai filmmaker, mereka benar-benar melepas tanggung jawab ke nama-nama serta kredibilitas aktor-aktor besar yang mau bergabung ke dalamnya.

               Nama-nama senior seperti Slamet Rahardjo, Agus Kuncoro, Piet Pagau, Rudy Salam, Robby Sugara hingga seluruh pendukung dengan porsi cukup penting seperti Alexa Key, Jacopo Maugeri, Inzana Balqis, Roy Chunonk, A.K.B.P. Pundra, seperti asyik bermain sendirian membentuk karakter masing-masing dibalik dialog-dialog konyol tanpa sedikitpun punya sinergisme membentuk sebuah ensemble yang kuat dalam sebuah cerita sehingga cenderung jadi menggelikan tanpa menyisakan sedikitpun emosi yang pantas. Begitu pula cameo-cameo-nya dari Julia Perez (yang sekaligus memegang kredit promotion manager) dan Ustadz Yusuf Mansyur yang memang merupakan guru spiritual salah satu produsernya. Sebagai lead, debut Rizal Al Idrus (di opening credits ditulis sebagai Rizal Alaydrus) yang sebenarnya secara fisik memenuhi syarat untuk peran-peran sejenis pun lemahnya luarbiasa. Tanpa karakterisasi yang memadai, tak pula dengan pengaturan koreografi aksi yang baik. Dan ini masih didistraksi lagi dengan product placement aji mumpung sebuah brand kacang bernama sama yang benar-benar keterlaluan. Kita bisa menyaksikan anak-anak menawarkan kacang produknya ke alien yang menyerang bumi, dan masih banyak lagi kekonyolan lainnya bahkan terang-terangan ke dalam dialog.

           Seakan flawed list itu masih belum  boleh berakhir, sisi-sisi penggarapan teknis lainnya pun sama parahnya. Scoring yang di-credit sebagai kerja Aghi Narottama tapi malah terdengar seperti scoring free-source asal comot tanpa mendukung pengadeganannya, penyuntingan sangat tak rapi hingga tata suara dibalik nama Khikmawan Santosa yang sama sekali tak membantu feel atau impact di tiap adegan aksinya. Kalaulah memang mereka mau mengarahkan pangsanya hanya sebatas ke pemirsa belia, ini juga sama sekali belum memadai, bahkan bila dibandingkan dengan ‘Bima Satria Garuda’ serta sejumlah superhero atau film-film fantasi konsumsi televisi dari zaman ke zaman. Maunya memperkenalkan penggarapan CGI dengan embel-embel pionir, tapi berakhir sebagai kegagalan total. Menyisakan hanya teaser character posters yang sedikit lebih layak bak film-film superhero luar, ini sama sekali tak lucu, tapi menyedihkan. I won’t go any further, tapi agaknya introspeksi adalah istilah terbaik bagi para pembuatnya. Bahwa ambisi besar bukan hanya ada pada faktor keberanian tapi haruslah punya keseriusan jauh lebih untuk menghasilkan sesuatu yang layak, apalagi dalam genre yang sudah lama dinantikan bakal kembali ke sinema kita. A totally flawed ambition dengan kualitas yang harusnya tak ditiru oleh pengikut-pengikutnya ke depan nanti. (dan)

 

~ by danieldokter on January 11, 2015.

2 Responses to “GARUDA SUPERHERO : A TOTALLY FLAWED AMBITION”

  1. setuju sekali dengan ulasan ini. Satu pertanyaan lain, kok mau2nya investor atau sponsor mendukung film ini, ya?

    Pesan buat para sponsor, hati2 deh..

  2. […] DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: