TAKEN 3 : IT BETTER ENDS HERE

TAKEN 3

Sutradara : Olivier Megaton

Produksi : EuropaCorp, 20th Century Fox, 2014

tak3n

            Hampir tak ada yang menyangka di tahun 2008 kalau ‘Taken’ akan berkembang sampai sejauh sekarang. Film aksi produksi Perancis lewat kreasi Luc Besson ini bukan saja jadi sebuah turning point bagi karir Liam Neeson sebagai action hero baru, tapi juga membuat subgenre yang fresh dalam genre action, sebutan ‘middle aged badass kills everyone’ mungkin akan terasa sangat tepat, bermunculan hingga saat ini. Formulanya pun serba klise, but nevertheless, sangat menjual, dimana yang diharapkan penonton hanya satu. Melihat jagoan-jagoan paruh baya ini beraksi membantai semua musuh yang berani-berani mengusik ketenangan mereka. Oh yeah. I assure you, tak mudah membuat karakter sebuah film jadi se-memorable nama pemerannya, dan dalam action bible, semua pemirsanya pasti ingat siapa Bryan Mills.

            While a sequel was inevitable, toh baru 4 tahun setelahnya Besson berani melanjutkan petualangan Mills dalam kisah penculikan lain di ‘Taken 2’. Tak sebaik pionirnya, pasti, namun sebagai instalmen produk yang sudah beralih rupa menjadi franchise, step-step-nya sangat tepat. Dibalik eksotisme set Istanbul, Turki, ‘Taken 2’ adalah sekuel yang cukup fresh, seru dan tahu bahwa Maggie Grace juga layak dibawa lebih ke depan. Hasilnya jelas membuat penonton ingin lebih lagi. Walau awalnya Neeson menolak meneruskan perannya, dalam konteks jualan, demand adalah demand. Publikasi kelanjutannya pun langsung ditunggu banyak orang, apalagi makin banyak entry lain dalam subgenre action yang tengah jadi trend itu, termasuk film-film Neeson lainnya. Dengan taglineIt Ends Here’, sebaik apa hasilnya?

            Bryan Mills (Liam Neeson) seketika menjadi tertuduh ketika mantan istrinya, Lenore (Famke Janssen) ditemukan tewas terbunuh di apartemennya, sehari setelah Mills mendapat permintaan dari suami Lenny, Stuart St. John (Dougray Scott) untuk sementara ini menjauhi istrinya. Dibayang-bayangi Inspektur LAPD Franck Dotzler (Forest Whitaker) dan timnya, Mills pun melarikan diri sambil terus berusaha melindungi putrinya, Kim (Maggie Grace) serta menyelidiki hubungan kasus ini dengan sindikat mafia Rusia milik veteran perang dan ex-KGB, Oleg Malankov (Sam Spruell).

            Mungkin berusaha menghindari (lagi-lagi) plot penculikan sebagai dasarnya, skrip yang tetap ditangani Besson bersama Robert Mark Kamen mencoba melangkah lebih personal mengulik motivasi Mills untuk sekali lagi mengamuk buat menghabisi lawan-lawannya. Hanya saja, mereka lupa ini akan sedikit mengacaukan formula yang ada di dua instalmen sebelumnya. Selain memang jadi judul franchise-nya, motivasi utama dalam ‘Taken 3’ (sebelumnya disebut ‘Tak3n’) mau tak mau mendistraksi set of skills dari karakter Mills sendiri, sebagai ex-CIA operative dengan kecermatan luarbiasa yang malah sudah dikembangkan lebih kuat lagi dengan sekumpulan rekan-rekannya (Leland Orser dan Jon Gries kembali sebagai Sam dan Casey disini). Apalagi, di dua film sebelumnya, karakter Lenore dan Kim bukan lagi sekedar pemanis tak penting. Disini, skill Mills benar-benar terasa sebagai pensiunan yang nyaris sudah seperti kehilangan seluruh tenaganya, di tengah faktor fun yang mengambang tanpa bisa kemana-mana sebagai resiko motif yang sangat personal itu.

            Dan entah mengapa, Olivier Megaton seakan lupa tanggung jawabnya meneruskan franchise yang sebelumnya juga sudah ditanganinya di ‘Taken 2’. Dengan konflik yang beralih jadi jauh lebih gelap, porsi adegan aksinya sebenarnya bukan berkurang, tapi tiap-tiap detilnya jadi jauh makin lemah, selain melupakan penekanannya ke tampilan Mills yang perlente (disini kelihatan agak berantakan dari tata rias dan kostumnya), juga nyaris tak menyisakan combat fights yang masih terasa spesial di instalmen sebelumnya. Lebih lagi, Eric Kress yang mengambil alih kursi DoP dari Romain Lacourbas seakan tak bisa menghadirkan shot-shot yang layak untuk merekam aksi Mills sekuat di film-film sebelumnya. We see fights, but left almost no impact.

            Dan kekurangan-kekurangan ini terus berlanjut ke predictably ridiculous twist yang tak juga disertai setup kuat dari karakter yang sudah mereka munculkan sejak film pertama. Karakter-karakter antagonisnya yang secara fisik terlihat sangat lemah, sementara dukungan aktor-aktor lebih punya nama seperti Dougray Scott dan Forest Whitaker benar-benar tak banyak membantu. Chemistry masing-masing dengan karakter Mills pun benar-benar mentah, termasuk Maggie Grace yang seperti tertinggal jadi pendamping tak penting setelah sepenggal adegan pembuka, juga tanpa proper emotions terhadap setup ekstrim dalam motif-motif tadi.

           So, seperti tagline-nya, franchise ini agaknya memang lebih baik berakhir disini. While this could go no holds barred kalau memang mau melangkah ke ranah tergelapnya, tapi nyatanya, tanggung-tanggung diantara mau dan tidak. Liam Neeson mungkin harus mengeksplor karakter-karakter action yang lain, dan Maggie Grace mudah-mudahan bisa lebih beruntung di tangan sineas lain yang lebih tahu potensinya. A tired badass, an exhausted sequel. It better ends here. (dan)

~ by danieldokter on January 11, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: