ASSALAMUALAIKUM BEIJING : STEREOTIP TEMA RELIJI DAN MEDIS DI FILM KITA

ASSALAMUALAIKUM BEIJING

Sutradara : Guntur Soeharjanto

Produksi : Maxima Pictures, 2014

assalamualaikum beijing

            Apakah ada yang salah dengan kecenderungan ke tema reliji khususnya film-film bernafas Islami sebagai trend sekarang dalam industri perfilman kita? Secara tematik tentu tidak. Apalagi industri kita memang masih terus mencari pola yang lebih mengacu ke selera pasar, dan dalam konteks ini, segmentasinya secara mayoritas jelas ada dan membuat genre-nya bisa hidup terus. Bagi sebagian penggemarnya, pesan-pesan moral atau sisipan hidayah dalam kemasannya justru jadi faktor sangat penting sekaligus jadi media dakwah para pembuatnya. At least, membuat pemirsanya bukan sekedar mengharapkan hiburan, tapi juga mendapatkan sesuatu yang lain.

            Hanya saja, produk-produk yang ada selama ini memang seringkali berada di batas tipis bersama distraksi-distraksi kepentingan jualan yang akhirnya kerap memupuskan nilai-nilai baik tadi. Selain penggunaan reliji akhirnya mentok hanya sebatas simbol dari tema cerita klise yang terus diulang-ulang, kebanyakan masih ada di ranah love story, konklusinya juga terus-menerus ada di persepsi-persepsi sama. Sebuah pakem drama reliji diatas kisah percintaan yang akhirnya malah memunculkan penceritaan stereotipikal dari premis hingga bentukan karakter-karakternya. Disana, kita hampir selalu mesti melihat elemen-elemen berupa idealisme relijius yang serupa, konflik-konflik yang terus-menerus sama serta tak jauh dari persepsi halal dalam hubungan-hubungan cinta antar karakternya. Sekarang ditambah pula dengan gimmick syuting di luar negeri, walaupun memperkenalkan budaya Islam dalam berbagai benturannya ke dunia luar sungguh bukan sesuatu yang salah. Tapi tema reliji, sebenarnya bisa jauh lebih luas dari sekedar itu.

            Dalam hal ini, nama Asma Nadia sebenarnya adalah salah satu penulis bernuansa Islami yang sangat punya kelebihan dibanding yang lain. Kita sudah melihat karyanya dalam ‘Emak Ingin Naik Haji’ ataupun ‘Rumah Tanpa Jendela’ yang walaupun secara universal lebih berwujud film anak tapi tetap tak meninggalkan sisi dakwah yang simpel tapi bisa sangat menyentuh. ‘Assalamualaikum Beijing’ yang diangkat dari novel Asma berjudul sama (‘Assalamualaikum, Beijing!’) memang sejatinya merupakan sebuah kisah cinta, mungkin bisa berbeda. Apalagi kabarnya kisah itu terinspirasi dari sebuah kisah nyata yang juga menyangkut problematika medis lebih dari sekedar bumbu. No, yang dibahas disini bukanlah penyakit aneh, tapi sebuah kondisi yang jarang-jarang dijumpai namun jumlah kasusnya cukup meningkat hingga cukup penting buat membuka mata banyak orang atas keberadaannya.

            Mendapatkan kenyataan pahit sehari sebelum pernikahannya, bahwa calon suaminya, Dewa (Ibnu Jamil) ternyata menghamili rekan sekantornya (Cynthia Ramlan), Asmara (Revalina S. Temat) yang patah hati pun menerima tawaran pekerjaan sebagai kolumnis di sebuah media Indonesia di Beijing lewat sahabatnya Sekar (Laudya Cynthia Bella). Disana, Asma kemudian bertemu dengan Zhongwen (Morgan Oey), guide asal Cina yang perlahan mulai membuka kembali hatinya. Sayangnya, perbedaan kepercayaan membuat Asma ragu, apalagi Dewa ikut menyusulnya kesana. Seakan belum cukup, kondisi Asma yang tiba-tiba menurun ternyata terdiagnosis sebagai sebuah sindroma yang harus meninggalkan semuanya.

            Now look at that plot. Sayangnya, dari plotnya saja, mau terinspirasi kisah nyata sekalipun, ‘Assalamualaikum Beijing’ memang berakhir sebagai kisah cinta berbalut drama reliji yang dipenuhi elemen-elemen luarbiasa klise yang sudah kita lihat di ratusan bahkan ribuan plot novel dan film Indonesia dari zaman dulu hingga sekarang, dari layar lebar hingga sinetron-sinetron lokal. Setup perselingkuhan dengan dialog-dialog tipikal diatas tired conflict karakter kekasih yang sudah menghamili wanita lain, menikahinya namun tetap berniat kembali dengan embel-embel menceraikan mantan selingkuhan itu dengan kejam hingga disease-suffering exploitation, semua terasa sudah amat melelahkan untuk bisa jadi sesuatu yang beda.

            Lantas dimana elemen relijinya? Masuk lewat karakter Asmara yang beratribut Islami lengkap atau nama kolom di media tempatnya bekerja yang menjadi judul novel dan filmnya, plus dialog-dialog relijius yang dihadirkan Alim Sudio lewat skrip berdasar novel Asma, bukan tak indah serta puitis namun kedengaran sangat janggal dalam konteks film, sisi terkuatnya hanyalah dibangun lewat hubungan beda agama diatas sebuah pemikiran sangat gampang bahwa karakter Zhongwen, yang lewat sebuah dialog dengan Dewa digambarkan bukan atheis tapi kurang percaya agama, akhirnya bersedia pindah kepercayaan mengikuti Asma dalam keadaan apapun menjadi seorang Muallaf. Jelas bukan sesuatu yang salah dalam konteksnya sebagai film bernuansa Islami, hanya sayang proses-proses serta turnover di skrip (entahlah novelnya) tak benar-benar rapi. Dan ini masih dibenturkan pula dengan karakter Dewa yang sudah dipoles sebagai antagonis sejahat itu tapi masih menanyakan soal halal atau tidaknya makanan di Cina, yang sulit kita percaya kecuali dalam cerita-cerita satir yang tujuannya mau menyentil.

            Lantas inilah kesalahan terbesarnya, lewat niat Asma menyampaikan dakwahnya menyerempet soal Sindroma APS (Antifosfolipid) yang notabene sangat menyangkut keahlian medis, dan kabarnya memang dialami oleh karakter asli yang menjadi inspirasinya. Oke, Asma mungkin melakukan risetnya dibantu tim ahli, tapi toh penelusuran medis dalam film tak hanya ada sebatas ‘boleh atau tidak boleh’ ataupun ‘mungkin atau tidak mungkin’ tanpa pendalaman lebih terhadap keperluan cerita serta bangunan karakternya. Tak salah juga untuk menyampaikan kisah-kisah penuh keajaiban dalam konteksnya sebagai film reliji, tapi dalam film sebagai media publik, ada ekses penyampaian yang bisa jadi negatif terhadap penderita penyakit aslinya, dan sebaiknya filmmaker tak boleh lupa soal itu. (Soal APS bisa dibaca di artikel terpisah di bawah)

               Bahwa tipikal film-film disease porn/exploitation kita selalu mengemas semua kemungkinan terjelek dalam sebuah penyakit yang mereka tampilkan dengan pengadeganan terkesan sangat menyedihkan, mengkombinasikannya dengan gambaran-gambaran tipikal orang sudah jatuh ketimpa tangga ketabrak mobil dan kecebur got, demi mengeksploitasi karakter utama dan dramatisasi ceritanya, ini akhirnya berakhir jadi penyuluhan salah kaprah yang bisa membuat penderita asli sindromanya khawatir setengah mati. Bahkan dialog dokter dalam skripnya terkesan menakut-nakuti pasiennya ketimbang menjelaskan, dan saat penjelasannya dimuat lebih panjang, yang muncul lebih ke penyampaian textbook ketimbang cara dokter berbicara dengan pasien dari sisi pemahaman awam untuk bisa membuat pasien atau keluarganya mengerti tanpa harus jadi resah.

             Seakan masih belum cukup, walau katanya Asma sendiri tak menyetujui ini dan lebih memilih memasukkan info soal suntikan heparin sebagai terapi source aslinya yang sekarang memang sudah memperoleh keturunan, ending yang berisi penyampaian resiko terbesar penderita APS untuk menempuh kehamilan itu malah dijustifikasi hanya dengan pengobatan ramuan tradisional. Bukan soal tradisional untuk memberi kesan bahwa ini ‘Beijing’, secara kedokteran barat pun sudah mulai menerima banyak ilmu-ilmu kedokteran timur untuk berjalan bersama, namun skrip Alim terlihat menggampangkan saja soal resiko dan justifikasi terapi tadi secara benar-benar jomplang. Mungkin meng-handle kombinasi seperti ini, diatas niat baik menyuguhkan gambaran perjuangan untuk hidup ataupun cinta diantara keterbatasan yang ada, Asma seharusnya bisa memilih antara pendekatan testimonial source-nya atau memilih mengemas info medis soal APS-nya dengan balance yang lebih baik.

               But however, dari sisi filmis, ‘Assalamualaikum Beijing’ masih menyisakan production values yang secara teknis cukup baik, berikut akting sebagian pendukungnya yang memang bagus. Walau tata kamera Enggar Budiono sedikit kelewat dinamis, eksotisme Beijing-nya masih bisa tertangkap dengan baik. Scoring Joseph S. Djafar dan theme song yang dinyanyikan Ridho Rhoma juga lumayan. Dengan intonasi dialog yang sangat kaku seperti proses dubbing yang buruk dan seakan mencoba bermain mimik ala sinetron, akting Ibnu Jamil agak mengganggu, sama dengan Cynthia Ramlan. Namun memerankan gestur penderita stroke, Revalina bagus sekali, bersama Laudya Cynthia Bella dan Deddy Mahendra Desta yang sangat memberi warna terhadap joke-joke-nya. Dan surprisingly, emosi akting Morgan dalam dramatisasinya cukup oke, sayangnya benar-benar terlihat tak wajar di pengucapan dialog orang asli Cina yang bisa berbahasa Indonesia atas profesinya sebagai guide.

            So, dibanding segenap kekurangan tadi, pada akhirnya memang jauh lebih menarik untuk menyaksikan bagaimana mereka mengemas fenomena akulturasi menyangkut kegemaran orang-orang kita terhadap budaya Asia dibalik serbuan dunia hiburan mereka, sampai ke soal pilihan pasangan dan banyaknya harapan-harapan lain secara komikal tanpa harus lantas berakhir jadi sindiran. Dengan production value yang tak jauh beda dengan film-film besutan Guntur Soeharjanto bersama Maxima, paling tidak, kecantikan wujudnya yang lebih terlihat punya feel mirip drama-drama Asia terutama Korea memang sudah menghasilkan formula yang sangat bisa diterima penonton kita. (dan)

As a companion, berikut adalah artikel kesehatan mengenai Sindroma Antifosfolipid (APS) yang dimuat di harian Waspada Minggu, 11 Januari 2015.

MENGENAL SINDROMA ANTIFOSFOLIPID 

            Jika Anda sudah menonton film reliji yang tengah beredar sekarang, ‘Assalamualaikum Beijing’ ataupun membaca novel yang menjadi sumber adaptasinya, yang kabarnya diinspirasi oleh sebuah kisah nyata, ada sebuah bentuk gangguan medis yang menjadi bagian penting dari penceritaannya. Sindroma bernama APS (Antiphospholipid Antibody Syndrome) atau Antifosfolipid itu memang dikenal dalam dunia medis dan menjadi perhatian banyak ahli sekarang atas kasus-kasus gangguan pembuluh darah yang menyerang usia muda serta kehamilan. Namun salahnya, seperti banyak film nasional kita yang memasukkan elemen medis ke dalam plot-nya dengan berbagai tujuan terutama mendramatisasi karakternya, penelusurannya memang sedikit salah kaprah dengan dialog-dialog medis yang maunya menjadi satu bentuk penyuluhan atas ekses-ekses berlebih yang dijejalkan penuh sesak ke karakternya semata untuk dramatisasi kisahnya, hanya saja punya kecenderungan cukup besar untuk berakhir agak meresahkan para penderitanya. Karena itu mungkin perlu penjelasan lebih untuk benar-benar bisa memahami apa sebenarnya yang terjadi dibalik sindroma ini, agar tak salah mengartikan informasi dibalik banyaknya kepentingan tadi.

Sekilas Tentang APS

            Secara definitif, sindroma APS merupakan kumpulan gejala yang terjadi pada sistem pembekuan darah yang dapat menyebabkan trombosis atau penyumbatan pada pembuluh arteri maupun vena sehingga dapat berlanjut pada gangguan lain yang lebih serius. Dari kecenderungan hipertensi, keguguran, hingga stroke ataupun infark pada organ-organ lain, gangguan ini termasuk ke dalam gangguan autoimun dimana sistem imunitas yang seharusnya menjaga tubuh berbalik merusak dan menyerang tubuh pemiliknya sendiri atas adanya kesalahan sistem yang terjadi.

            Dalam hal ini, antibodi antifosfolipid akan menekan kadar zat yang disebut annexin V dalam mempercepat terjadinya proses pembekuan darah serta juga memicu bekuan darah (trombosis) sehingga mengakibatkan banyak gangguan dalam pengaturan sistem pembekuan darah yang normal. Gangguan-gangguan lebih lanjut yang terjadi dalam prosesnya akan berlanjut pada bentuk lain yang bisa berakibat sangat serius.

            Sindroma ini juga dikenal dengan sebutan Hughes Syndrome atas nama penemunya, rheumatologis Dr. Graham R.V. Hughes dari London lebih dari 30 tahun yang lalu. Walau kebanyakan dikaitkan terhadap gangguan-gangguan keguguran berulang dalam kehamilan atau masalah kandungan serta perkembangan janin, namun ekses gangguannya juga menjadi latar belakang pada gangguan penyumbatan pembuluh darah lain selain juga berhubungan dengan penyakit-penyakit autoimun lainnya termasuk Lupus Sistemik.

            Secara awam, proses kesalahan sistem imunitas ini dapat diterangkan lewat keberadaan antibodi sebagai sejenis protein tubuh yang berfungsi membantu pertahanan tubuh melawan banyak bentuk gangguan termasuk infeksi. Namun pada sindroma ini, antibodi tersebut dibaca secara keliru untuk menyerang fosfolipid, sejenis senyawa lemak yang seharusnya berguna dalam pembentukan sel-sel darah dan tiap lapisan pembuluhnya. Tindak self defense dari antibodi ini akan berakibat memunculkan gumpalan yang terbentuk dalam pembuluh darah sehingga bisa menghambat aliran darah dan menyumbat pembuluhnya.

            Meski begitu, pemeriksaannya bukanlah semudah yang dipikirkan, dan bentuk-bentuk gejala dalam sindromanya juga masih cukup beragam hingga sejauh mana ekses dari gangguannya bisa benar-benar merembet ke gangguan pembuluh darah lain yang lebih serius. Kadar antibodi yang ditemukan pada pemeriksaan juga bisa saja meningkat, menurun bahkan menghilang tanpa penyebab yang jelas sehingga membutuhkan tes ulang dalam jangka waktu sangat relatif, yang biasanya lebih sering dialamatkan pada kasus-kasus penderita keguguran berulang. Pendeknya, walau belum tentu orang-orang yang memiliki antibodi APS lantas harus menderita gangguannya, orang-orang ini berada dalam resiko lebih tinggi terhadap gangguan pembekuan darah dari trombositopenia dimana trombosit merupakan fragmen sel darah yang berperan penting untuk itu kepada gangguan-gangguan lain berupa penyumbatan dan elastisitas dinding pembuluh darah mereka sendiri.

Apa Saja Efek Yang Bisa Terjadi?

            Berdasarkan akibat yang disebabkan keadaan tersebut dan banyak lagi faktor termasuk usia, jenis kelamin ataupun faktor genetik yang masih diperdebatkan dalam banyak gangguan-gangguan autoimun, efeknya pun sangat beragam. Sindroma ini dapat terjadi pada segala usia termasuk usia muda, namun lebih sering ditemukan pada wanita walaupun dalam persentase yang relatif kecil.

            Ada banyak masalah yang dapat ditimbulkan oleh sindroma APS ini namun bentuk terseringnya ada pada kasus-kasus keguguran berulang pada kehamilan sebagaimana juga yang ada pada latar belakang penemuan sindromanya, kecenderungan hipertensi (pre-eklampsia) dalam kehamilan ataupun pertumbuhan janin yang terganggu, namun tidak menutup juga kemungkinan terhadap bentuk-bentuk lain kelainan pembekuan darah dalam bentuk penyakit yang jauh lebih luas.

            Dari trombosis pada pembuluh darah balik, keadaan-keadaan trombositopenia, kasus-kasus persyarafan atau rheumatologi termasuk persendian, tulang serta otot, gangguan-gangguan cerebrovascular lain seperti stroke, infark jantung, peradangan otot jantung yang memicu gangguan lain yang lebih parah seperti kelainan katup, emboli paru, deep vein thrombosis (DVT), ataupun yang lebih fatal serta parah yang mengakibatkan kelumpuhan, kerusakan organ termasuk sel-sel otak bahkan kasus-kasus kematian. Kasus-kasus seperti kerusakan pusat pengaturan komunikasi ataupun kebutaan atau gangguan visual lain yang dipaparkan di novel atau film yang disebutkan tadi juga bisa saja terjadi sebagai efek lanjutnya walaupun sangat jarang terlebih muncul bersamaan dalam waktu dekat.

Pengobatan Yang Bisa Dilakukan

            Seperti banyak gangguan autoimun lainnya, sindroma APS memang tidak memiliki terapi mendasar untuk menghilangkan sama sekali penyebab yang masih belum benar-benar bisa terjelaskan. Namun, pengobatannya bisa diarahkan pada gejala-gejala atau resiko yang dialami penderitanya secara relatif tadi. Dengan manajemen pencegahan seperti tromboprofilaksis, pemberian obat-obat antikoagulan untuk mencegah pembentukan gumpalan darah dari aspirin dosis rendah hingga terutama heparin dalam bentuk suntikan jangka panjang seringkali menjadi pilihan dalam kasus-kasus kehamilan awal pada penderitanya.

            Terapi lain yang dapat menjadi pilihan dalam ragam kasus yang terjadi juga dapat meliputi pengobatan hipertensi, penanganan hiperlipidemia ataupun pencegahan gangguan pembuluh darah lain dari pengaturan gaya hidup dan menurunkan resiko penyumbatan pembuluh darah termasuk menghentikan beberapa obat-obatan seperti kontrasepsi yang merupakan kontraindikasi. Riwayat penyakit terdahulu baik pada individu dan keluarga juga harus benar-benar dicermati, dan tindakan-tindakan konseling dengan terapi lanjutan seringkali sama penting untuk diperhatikan.

            Begitupun, walau kelihatan cukup menakutkan karena punya banyak sekali sisi resiko terhadap gangguan-gangguan lain yang lebih serius sehingga banyak dikaitkan pada kelompok orang-orang dengan resiko lebih tinggi menderita gangguan-gangguan pembekuan darah atau pembuluh darah lainnya, sindroma ini tentu tidak lantas membuat penderitanya jatuh ke dalam vonis-vonis tertentu yang bisa mengganggu seluruh kehidupan sosial mereka. Walau ada beberapa ekses yang jarang pada sebagian kecil penderitanya, baiknya, tidak seperti yang digambarkan dalam media publik seperti film tadi, apalagi dengan adanya justifikasi terapi (sekedar) tradisional seperti yang muncul disana, jalur pemberian informasinya harus dilakukan secara lebih terarah ketimbang memicu keresahan terutama pada penderitanya sendiri. Banyak kondisi jarang dalam aspek medis yang terlihat menarik untuk diceritakan, namun perlu juga ada batasan dalam memberikan informasinya terutama pada kalangan umum. (dr. Daniel Irawan)

~ by danieldokter on January 16, 2015.

3 Responses to “ASSALAMUALAIKUM BEIJING : STEREOTIP TEMA RELIJI DAN MEDIS DI FILM KITA”

  1. Masih tetep ngerasa 99 Cahaya di Langit Eropa adalah film Islami yg tak tertandingi dari segi tema, dibandingkan film tema tema religi yg hanya dijadikan teman tidur tapi ga bener2 di ejawantahkan, dan lebih mengedepankan tema romance atau tema tudung kepala saja. Namun demikian Assalamualaikum Beijing tetap memberi warna yang agung tentang Islam ditilik dr sisi fiqih perjodohan, nikah, dan pergaulan yg semakin dilupakan. Menunggu Maxima memvisualkan Bulan Terbelah di Langit Amerika, yg konon akan memberi sensasi total berbeda lagi dari pendahulunya, 99 Cahaya.

  2. […] before the opening ceremony took place in Ginowan, Indonesian’s last year box office hit ‘Assalamualaikum Beijing’ (2014, Guntur Soeharjanto) introduced a genre that still set undying trend in Indonesian cinema, […]

  3. […] ASSALAMUALAIKUM BEIJING (2014, Indonesia, Guntur Soeharjanto) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: