HIJAB : WHAT YOU WEAR ISN’T ALWAYS WHO YOU ARE

HIJAB

Sutradara : Hanung Bramantyo

Produksi : Dapur Film, MVP, Ampuh Entertainment, 2014

hijab

            Sekali waktu dulu, kita pernah punya sineas yang dijuluki maestro komedi satir Indonesia. Namanya Nya’ Abbas Akup. Sutradara yang ada dibalik sejumlah film-film dari ‘Inem Pelayan Sexy’ hingga ‘Cintaku di Rumah Susun’. Apa yang membuat kebanyakan film-filmnya jadi begitu spesial adalah karena dibalik cara bertutur dalam kecenderungan komedi, ia juga cermat sekali mengetengahkan kritik-kritik sosial yang sangat menyentil.

            Oke, saya tak mengatakan bahwa Hanung Bramantyo, salah satu nama yang sangat dikenal dalam industri film kita sekarang, sebagai A-list director di film-film lokal kita, adalah perwujudan Nya’ Abbas Akup di era sekarang. Bukan juga dalam kapasitas yang sama untuk dijuluki ‘Bapak Komedi Indonesia’ seperti beliau. Namun, bahwa film-film terbaik Hanung, yang lantas memberi signature spesial dalam ranah yang sangat dikuasainya, sebutlah seperti ‘Catatan Akhir Sekolah’, ‘Jomblo’, ‘Kamulah Satu-Satunya’, ‘Doa Yang Mengancam‘ hingga ‘Get Married’ punya pendekatan yang terasa sangat mirip. Bahwa dalam karya-karya itu, dibalik segala canda yang ditampilkannya, ada kritik sosial dalam nuansa satir yang menohok, disamping kelebihan lain dalam pengaturan chemistry yang sangat spesial dalam tema-tema friendship story.

            Sayang memang, setelah kesuksesan fenomenal ‘Ayat-Ayat Cinta’ yang lantas membawa image-nya ke ranah reliji bagi sebagian orang, tak peduli bahwa sentuhan Hanung disana juga membuat beberapa pengadeganannya juga punya sentilan, ia lantas lebih memilih memperkeras kritiknya ke ranah-ranah agama bahkan politik lewat film-film yang disambut dengan kontroversi. Seakan berubah menjadi terlalu serius diatas tuduhan-tuduhan pretensius, mentorship-nya ke sekelompok sutradara muda di rumah produksi yang mereka namakan ‘Dapur Film’ pun punya kualitas naik turun secara sangat beragam. Resepsinya rata-rata masih bagus terutama dalam perolehan penonton, namun juga memunculkan anggapan-anggapan skeptis terhadap sebagian kelompok pemirsa.

            Tapi untunglah, ‘Hijab’ yang kabarnya datang dari dorongan Zaskia Adya Mecca, sang istri, sedikit banyak membawa kembali Hanung ke materi yang paling dikuasainya tadi. Nantilah dulu soal ribut-ribut Dijah Yellow yang banyak dituduhkan sebagai trik jualan atau tudingan bahwa genre reliji kita sekarang jadi perpanjangan tangan bisnis-bisnis beratribut Islami, tapi dari promo-promonya kita juga sudah tahu bahwa ‘Hijab’ adalah sebuah komedi yang dipoles dengan satir sosial ala Hanung. Sebagian orang menyamakannya dengan ‘Sex & The City’ atau ‘Arisan’ versi Islami, yang memang tak salah juga, tapi ini justru memunculkan sisi menariknya, bahwa sejauh mana pembahasan Hanung terhadap konflik-konfliknya lantas bisa mengemas semua sentilan itu jadi satu.

            ‘Hijab’ berpusat pada empat sahabat sebagai karakter utamanya. Berbeda dengan Sari (Zaskia Adya Mecca), Tata (Tika Bravani) dan Bia (Carissa Puteri), wanita-wanita bersuami yang mengenakan hijab dibalik alasan dan bentuknya masing-masing, Anin (Natasha Rizky) memilih tetap bebas termasuk enggan buru-buru menikah. Tapi toh persahabatan mereka tetap berjalan termasuk lewat sebuah arisan dimana mereka berkumpul dengan pasangannya masing-masing; Gamal (Mike Lucock), Matnur (Nino Fernandez), Ujul (Ananda Omesh) & Chaky (Dion Wiyoko), yang saling akrab pula satu dengan yang lain. Sindiran Gamal soal penghasilan dalam arisan itu akhirnya memicu mereka untuk bergabung membuat bisnis hijab online yang sukses dan menanjak drastis dalam waktu singkat ke sebuah butik yang secara menarik mereka beri nama ‘Meccanism‘. Masalahnya sekarang, bersama kesuksesan itu, hubungan keluarga masing-masing termasuk persahabatan mereka mulai diuji.

            Seperti apa yang kita saksikan dalam trailer-nya, salah satu kekuatan terbesar ‘Hijab’ memang ada pada chemistry karakter-karakternya. Diatas chemistry yang tertata dengan sangat baik dan diperankan dengan akting begitu santai oleh seluruh cast-nya, mostly Tika Bravani, Natasha Rizky dan Mike Lucock sebagai cast paling menonjol, bukan hanya pada empat karakter utama tapi juga ke pendukung-pendukung lain, termasuk bintang-bintang senior seperti Marini, Jajang C. Noer, Rina Hassim, Sophia Latjuba, Mathias Muchus, Meriam Bellina, dan banyak lagi, detil-detil karakterisasi dari penokohan ke beda-beda kostum; jilbab syar’i, fashion dan turban hingga konflik yang dihadirkan Hanung dan Rahabi Mandra dalam skripnya bisa tertuang dengan bagus, di tengah nuansa satirikal yang dengan cermat menyentil begitu banyak aspek sosial dalam subjek yang jadi judul itu.

            Dari feminisme vs maskulinitas, hubungan anak – orangtua, kompromi-kompromi dalam kehidupan rumahtangga, batas tipis aturan agama dengan hubungan-hubungan sosial bahkan mocking ke soal-soal filmmaking dan social media sebagai kebutuhan primer manusia sekarang hingga tentu saja keberadaan hijab sebagai fashion culture dan trend hingga event-event selebrasinya yang saat ini tengah berkembang begitu pesat di masyarakat kita. Semuanya tampil cukup wajar tanpa harus mengada-ada buat menampilkan sentilan ke arah komedi, serta tak juga jadi terasa tumpang tindih saat dramatisasinya disempalkan bersama konflik-konflik yang digelar Hanung dan Rahabi dengan relevansi dan interkoneksi yang sangat terjaga. Apalagi kita belum punya film bertema fashion culture yang benar-benar kuat mengulas materi-materinya.

           Begitu pula dengan konklusinya, dimana ketimbang memudahkan setiap sisi penyelesaiannya, ada kewajaran yang tetap ditahan Hanung-Rahabi untuk tak lantas terkesan seperti sebuah keberpihakan atau jatuh ke stereotip film-film kita, baik dalam genre reliji atau tema-tema persahabatan antar karakternya. Moralitas soal ‘What You Wear is not Always Who You Are’ yang sudah mereka mulai sejak pengenalan karakter-karakternya sebagai sentilan terbesar atribut-atribut sejenis dalam plot-nya tetap menyeruak paling ke depan dengan hanya menyisakan pilihan, diantara logika atau hati, sebagai satu-satunya alasan dan motivasi turnover tiap karakter secara menyentuh. Bukankah dibalik tiap konsekuensinya, kita semua punya alasan masing-masing dibalik pilihan-pilihan yang sama? So yes, skrip itu memang wajar sekali mengemas semua elemen emosinya dengan baik.

           Namun hal terbaik dalam ‘Hijab’ memang terletak pada penggarapan teknisnya. Sinematografi Faozan Rizal, tata artistik dari Angela Halim dan tata kostum dari Klara Pokeratu dan Tasya Nur Medina, secara sejalan, sudah bicara begitu banyak dalam menampilkan fenomena fashion culture-nya sendiri. Sama dengan tampilan posternya yang begitu tepat menyampaikan isi filmnya, ‘Hijab’ memang dibesut Hanung bersama seluruh kru ini seasyik mem-browsing jualan-jualan online lewat tampilan-tampilan serba cantiknya di social media, lengkap dengan polesan-polesan ala instagram dan lainnya. Scoring dari Hariopati Rinanto dan Tya Subiakto, mostly alunan lagu-lagu soundtrack dari Andien seperti ‘Let It Be My Way’ (composed by Melly Goeslaw) dan ‘Satu yang Tak Bisa Lepas’.

            Masalahnya kembali lagi soal resepsi penonton. Walau ‘Hijab’ adalah karya Hanung yang sangat baik, mungkin malah yang terbaik dan sebenarnya sangat universal, one that brought him back to his top form sebagaimana film-film terbaiknya yang disebutkan tadi, mungkin ada sesuatu yang menahannya untuk sulit menyamai ‘Di Balik 98’ yang rilis bersamaan minggu kemarin. Bisa jadi, masalah judul sudah dengan sendirinya menciptakan segmentasi penonton, sementara sebagian besar segmentasi penontonnya mungkin keburu khawatir atas kontroversi-kontroversi soal agama di film-film Hanung sebelumnya. Tapi untuk mendukung film Indonesia yang punya kualitas lebih seperti ini, mungkin tak salah untuk melebarkan word of mouth-nya sekarang, selagi filmnya masih bisa disaksikan di bioskop kita, and I really urge you to do that. Ini bukan sesuatu yang kontroversial, tapi justru bisa menyentil kita sebagai kombinasi friendship story dan social satire ke dalam sebuah life comedy yang lucu, hangat sekaligus sangat menyentuh. Go see it! (dan)

~ by danieldokter on January 18, 2015.

2 Responses to “HIJAB : WHAT YOU WEAR ISN’T ALWAYS WHO YOU ARE”

  1. […] DANIEL IRAWAN (Dan at the Movies) […]

  2. […] HIJAB (Dapur Film Production, MVP Pictures, Ampuh Entertainment; HANUNG […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: