DI BALIK 98 : FICTIONAL DRAMA OVER A HIGHLY ACCURATE HISTORICAL RECONSTRUCTION

DI BALIK 98

Sutradara : Lukman Sardi

Produksi : MNC Pictures, 2014

dibalik-98

            Semua tahu kalau Mei ’98 adalah sebuah babak kelam dalam kehidupan bangsa kita. Meski ujungnya adalah reformasi yang hingga kini masih memecah opini soal keberhasilan atau kegagalannya, pentingnya ia sebagai titik balik perjuangan mahasiswa melawan rejim Orde Baru jelas selalu jadi hal menarik untuk terus diceritakan ulang. Sebagai latar human story, peristiwanya juga bukan kali pertama diangkat ke film. Dari film pendek, sinetron ke layar lebar, penggalan-penggalannya memang dengan sendirinya sudah menciptakan background yang kuat terhadap karakterisasi dan konflik dalam plot-nya.

            Dan tak ada yang aneh dengan kisah fiksi diatas rekonstruksi historis. Sinema luar juga sudah berulang kali menggunakan formula yang sama atas peristiwa-peristiwa historikal mereka yang dianggap penting, juga dengan membaurkan karakter fiktif dengan nyata dibalik sejarahnya. Hanya saja, mungkin, judul ‘Di Balik 98’, menggantikan judul awal ‘Dibalik Pintu Istana’ yang diusung Lukman Sardi dalam debutnya sebagai sutradara dan jadi bagian dari proyek sinematik MNC di tangan Affandi Abdul Rachman setelah ‘7/24’ (walaupun film ini kabarnya lebih dulu disyut) dan masih banyak lagi ke depannya, lebih memberi kesan rekonstruksinya sebagai film historikal murni, hingga sempat menuai berbagai kecaman oleh sebagian aktivis. Toh lagi, memang lembar kelam itu masih dipenuhi pro dan kontra opini sampai sekarang atas realita kelangsungan kehidupan bangsa kita.

           Di satu sisi, ini menjadi nilai jual yang baik sekali, sejalan dengan sambutannya dimana-mana, di tengah sulitnya film kita mencari penonton sekarang. Wajar-wajar saja, namun yang jelas, tak ada yang kontroversial disini. Lukman justru terkesan sangat berani memilih resiko kesulitannya buat menuangkan persepsinya terhadap ekses-ekses manusiawi yang terjadi lewat ragam karakter yang dipilihnya untuk mewakili lapisan-lapisan berbeda masyarakat sebagai korban terbesarnya.

       Di tengah kerusuhan Mei ’98 akibat krisis ekonomi yang akhirnya mendorong perjuangan reformasi yang memecah belah pemerintah dengan rakyat, terutama mahasiswa, ada Diana (Chelsea Islan), mahasiswa Trisakti sebagai sentralnya. Hidup sebagai keluarga menengah bersama kakaknya Salma (Ririn Ekawati) yang menjadi staf dapur Istana Negara, dalam keadaan hamil pula, dan kakak iparnya Bagus (Donny Alamsyah), letnan dua TNI yang berseberangan di tengah perjuangan itu, ia juga harus kehilangan Daniel (Boy William), kekasihnya sesama mahasiswa yang terpaksa melarikan diri ke luar negeri sebagai keturunan Tionghoa. Peristiwa ini juga berdampak pada sepasang ayah dan anak pemulung (Teuku Rifnu Wikana dan Bima Azriel) yang tanpa mengerti situasi politik terpaksa terpisah di tengah chaos, sementara menyusul kepulangannya dari Kairo, Presiden Soeharto (Amoroso Katamsi) mau tak mau harus menentukan arah pemerintahannya bersama B.J. Habibie (Agus Kuncoro) sebagai wakilnya.

            Berbeda dengan beberapa film nasional lain yang menggunakan latar peristiwa ’98 dari ‘May‘ (Viva Westi, 2008) sampai ‘Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar’ (Hestu Saputra, 2014 / meski yang terakhir ini sedikit salah langkah dengan ketidakterusterangan latar waktu settingnya), juga yang jauh lebih mirip, ‘Kutunggu di Sudut Semanggi’ (Lukmantoro DS, 2004) yang sayangnya lebih banyak menggunakan footage media dengan penggarapan sembarangan, Lukman bersama timnya, terutama dari departemen artistik Frans XR Paat, tata rias dan makeup (Jeane Elizabeth FamCherry Wirawan & Tsuwaibah) dan sinematografi Yadi Sugandi memang menghadirkan rekonstruksi latar historikalnya dengan akurasi tinggi. Scoring dari Thoersi Argeswara juga cukup baik memberi penekanan batas fiksi itu bersama soundtrack dari Saint Loco dan Angel Pieters.

              Nanti dulu aspek-aspek kelewat detil seperti dominasi lapangan yang terlihat didominasi hanya oleh mahasiswa-mahasiswa Trisakti, namun reka ulang dan bangunan-bangunan set dari Trisakti, Gedung DPR/MPR sampai Istana Negara, penggunaan properti hingga melibatkan panser serta pengaturan adegan-adegan kerusuhannya, sudah hadir dengan kecermatan luarbiasa. Dan tak hanya itu, terutama bagi pemirsa yang merasakan langsung peristiwa aslinya, feel-nya pun bisa tertangkap dengan jelas, cukup membuat bergidik dan membawa suasana kekacauannya dengan cukup realistis. Tak mengapa juga bila Lukman memilih untuk tidak mengangkat korban-korban mahasiswa aslinya yang cukup disamarkan sebagai berita karena ia punya pendekatan lain untuk dibahas lewat karakter-karakter fiktifnya. Sah-sah saja.

            Di sisi drama fiksi-nya pun, ‘Di Balik 98’ bisa mewakili ekses-eksesnya dengan cukup baik. Membangun emosi dramatisasi utamanya, potret keluarga Diana dengan komposisi karakter keluarganya yang saling berseberangan secara dramatis itu cukup menggambarkan kelas sosial dan ekonominya bersama dua karakter lain dari dapur istana (yang diperankan dengan cukup baik oleh Alya Rohali, salah satu saksi peristiwa aslinya sebagai alumni Trisakti dan Verdi Solaiman). Walau seperti biasa, cenderung terlalu bersemangat menokohkan karakternya, Chelsea Islan sama sekali tak jelek dibalik makeup kusamnya memerankan Diana, terlebih turnover-nya di pengujung film dengan kesan jauh berbeda. Sama juga dengan Fauzi Baadilla sebagai salah satu prajurit TNI yang mendapat porsi lebih, bisa tampil dengan porsi cukup pas. Ririn Ekawati dan Donny Alamsyah justru lebih baik dengan emosi akting yang sangat terjaga.

           Sementara walau porsi keturunan Tionghoa karakter Daniel (tak ada yang terlalu spesial dari akting Boy William yang juga tak terlihat jauh berbeda di konklusinya) agak tertinggal bersama plot pemulung (diperankan Teuku Rifnu Wikana dengan cukup baik bersama pemeran cilik Bima Azriel) sebagai wakil kelas terkecil dari masyarakatnya, konklusi akhir masing-masing cukup bisa menggambarkan perpecahan dan ketidakutuhan tiap lapisan itu oleh berbagai ideologi dan alasan berbeda secara realistis. Turnover karakternya menuju konklusi itu tergelar cukup jelas tanpa harus jadi terlalu dalam, tapi sisi emosionalnya masih terjaga dengan baik. Paling tidak, tanpa keberpihakan, Lukman sudah mengambil batasan visi dan sikapnya sebagai storyteller dalam mempersepsikan peristiwa ini.

          Lantas di bagian karakter-karakter asli sebagai subplot rekonstruktif berlatar Istana Negara, Lukman memang kebanyakan lebih memilih pendekatan agak komikal, tapi bukan berarti tak sejalan dalam jalinan interwoven keseluruhan plot dan karakter itu. Tak terlalu banyak dan berdalam-dalam juga pergulatan batin serta intrik politik karakter-karakter nyata tadi dalam part ini, termasuk sentralnya ke karakter Soeharto (yang tetap dibawakan dengan kemiripan fisik serta gestur bagus oleh Amoroso Katamsi) dan B.J. Habibie (surprisingly, membuat kita bisa melihat jelas mengapa Agus Kuncoro sebagai kandidat pertama pemeran Habibie dalam ‘Habibie & Ainun’ jelas sangat punya dasar), namun di satu sisi, ini justru jadi daya tarik terbesar dalam membangun komunikasi rekonstruktifnya terhadap para pemirsanya. Lihat betapa penonton bereaksi cukup riuh, walau sedikit jadi distraksi terhadap tone seriusnya, dalam melihat penempatan cast-cast itu. Di luar Soeharto dan Habibie, dari Asrul Dahlan sebagai Sintong Panjaitan, Eduwart Soritua sebagai Amien Rais, Nugraha sebagai Nurcholish Madjid, Dian Sidik sebagai Wiranto, Iang Darmawan sebagai Harmoko, pemeran Mbak Tutut, Gus Dur hingga Pandji Pragiwaksono yang tampil sekilas sebagai SBY, semua jelas bukan sekedar asal-asalan tapi punya dasar cukup cermat untuk kemudian disesuaikan lewat tata rias, makeup dan properti-properti-nya.

           Jadi memang wajar saja bila ada banyak opini berbeda dari kombinasi plot fictional human story dengan latar historikalnya, lewat skrip yang ditulis oleh Syamsul Hadi dan Ifan Ismail (supervisi oleh Toha Essa). Bagi sebagian orang, perbedaan pendekatan dalam elemen-elemen karakter yang seolah disambung dengan style interwoven selayaknya formula genre ini, bisa jadi belum lagi menciptakan balance yang benar-benar sempurna. Tapi jangan lupakan juga, bahwa Lukman bukan hanya sekedar merekonstruksi sejarah dengan akurasi tinggi sebagai latarnya, bahwa mereka tak main-main dengan keseriusan penggarapan serta production values-nya, satu yang masih cukup sering jadi problem di film kita, namun juga punya ketegasan cukup dalam mengambil sikap membahas ekses-ekses peristiwa nyata dibalik resiko besar yang jelas disadarinya. Apalagi dalam sebuah kiprah debut dalam penyutradaraan, ini artinya bagus, dan sangat layak buat dihargai lebih lagi. (dan)

~ by danieldokter on January 20, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: