THE IMITATION GAME : AN ELEGANTLY CRAFTED BIOPIC WITH HYPOTHETICAL BIAS

THE IMITATION GAME

Sutradara : Morten Tyldum

Produksi : Black Bear Pictures, FilmNation Entertainment, Bristol Automotive, Studio Canal, The Weinstein Company, 2014

IG

            Tak banyak mungkin film layar lebar yang membahas soal Enigma machine. Dua yang paling dikenal, yang secara harafiah menggunakannya sebagai judul, adalah filmnya Jeannot Szwarc tahun 1983 yang dibintangi Martin Sheen & Sam Neill, dan tahun 2011, arahan Michael Apted yang diangkat dari novel Robert Harris. Yang pertama sebenarnya lebih ke pure fictional, dan film Apted lebih mendekati sejarah, termasuk membahas sisi historikal pemecahan kode-kodenya di fasilitas rahasia Bletchley Park. Sayangnya, film yang dibintangi Dougray Scott dan Kate Winslet itu sama sekali tak membahas tokoh kuncinya. Scientist, mathematician, cryptoanalist bernama Alan Turing, yang sejak lama dikenal sebagai sosok terpenting yang berhasil memecahkan kode-kode enkripsi Enigma dan menyelamatkan jutaan jiwa dibalik kemenangan sekutu dalam Perang Dunia II.

            So yes, ‘The Imitation Game’ jelas merupakan sejarah yang sangat penting untuk dibahas lebih. Diangkat dari novel biografi ‘Alan Turing: The Enigma’ karya Andrew Hodges, skrip Graham Moore, penulis New York Times best seller yang masuk ke deretan ‘Black List’ sejak 2011 jadi semakin menarik karena kisah hidup Turing punya sisi lain yang membuat eksistensinya sebagai pahlawan sempat dipertanyakan hingga akhirnya diakui oleh pemimpin negaranya, jauh setelah penderitaan besar yang dialaminya hingga tutup usia. Lebih luas lagi, menyangkut persepsi sosial masyarakat Inggris era itu dalam memandang homoseksualitas sebagai tindak kriminal tak main-main.

          Untuk sebuah biopik, ia jelas sudah memenuhi syarat mutlak buat dibesut berdalam-dalam secara psikologis, sekaligus lagi-lagi berada dalam koridor biopik klasik, bahwa ide-ide serta penemuan jenius dunia ini biasa datang dari unlikely person, serta tentu saja, potensi sebagai Oscar or other awards contender. Selebihnya adalah sambutan pro dan kontra dari banyak pihak. Selagi filmnya dipuji sampai mendapatkan penghargaan kemanusiaan dari organisasi-organisasi advokasi HAM terhadap LGBT, secara berlawanan, banyak kontroversi dari ahli sejarah yang menganggap polesan fiksinya jauh dari akurasi sejarah.

         Walau diragukan oleh Commander Alastair Denniston (Charles Dance), sosok militer yang memegang kuasa terhadap misi rahasia memecahkan kode Enigma, ahli matematika jenius introvert Alan Turing (Benedict Cumberbatch) tetap diberikan kesempatan bergabung dengan para jenius dan ilmuwan lain di Bletchley Park. Berbeda dengan visi rekan-rekan yang cenderung membencinya, Turing meminta pemerintah menyediakan dana baginya untuk membangun mesin dalam tujuan itu, malah meminta mandat dari PM Winston Churchill lewat bantuan Stewart Menzies (Mark Strong) untuk mengambil alih kepemimpinan dari juara catur Hugh Alexander (Matthew Goode) serta merekrut lagi anggota-anggota barunya. Dengan bantuan Joan Clarke (Keira Knightley), gadis jenius pilihan Turing yang akhirnya bertunangan dengannya, Turing bisa mencairkan hubungan dan menyamakan visi dengan rekan-rekannya. Usaha memecahkan kode Enigma itu sukses walaupun harus ditebus dengan sejumlah pengorbanan. Turing pun melanjutkan karir akademisnya, namun kini masalahnya, rahasia masa lalu Turing yang selama ini disimpannya rapat-rapat mulai terkuak atas sebuah kasus yang ditangani Detektif Nock (Rory Kinnear).

            Sebagai sebuah biopik berkelas award contender, ‘The Imitation Game’ memang tak digarap main-main oleh sutradara asal Norwegia Morten Tyldum yang melejit lewat ‘Headhunters’ (2011). Bersama timnya, termasuk desain produksi dari Maria Djurkovic (‘Tinker Tailor Soldier Spy’, ‘Billy Elliot’ & ‘The Hours’), DoP Óscar Faura dari ‘The Impossible’ dan komposisi scoring Alexandre Desplat yang terasa begitu megah (walaupun tetap stirring seperti scoring Desplat yang lain), Tyldum membesut ‘The Imitation Game’ dengan tampilan begitu elegan. Pace editing William Goldenberg, award winning editor with nominees written all over his carreer, dari award class seperti ‘Argo’ atau ‘Zero Dark Thirty’ ke pure blockbuster macam ‘Transformers’ pun luarbiasa meng-handle penceritaan Tyldum sepanjang durasi yang melebihi 2 jam. Siapapun yang menyaksikannya sejak awal pasti sudah bisa menebak elemen-elemen ini bisa melaju dengan mulus sebagai nominasi-nominasi bergensi bersama jadwal rilisnya di award season. Dari BAFTA hingga Oscar, semua elemen teknis ini benar-benar menerjemahkan keunggulan dalam kelasnya.

             Namun hal terbaik dalam ‘The Imitation Game’ adalah outstanding and haunting performance dari Benedict Cumberbatch. Memerankan Alan Turing dengan kompleksitas dan kedalaman luarbiasa dari karakternya yang dibangun scriptwriter Graham Moore secara sangat sensitif,  sekaligus menerjemahkan feel depresif-nya dengan juara, ‘The Imitation Game’ sekaligus jadi showcase terbaik dari akting Cumberbatch selama ini. Keira Knightley pun mendampinginya dengan porsi yang pas sebagai pendamping utama beserta sederet cast lain yang sama bagusnya. Ada Matthew Goode, Mark Strong, Rory Kinnear hingga Charles Dance yang meskipun lagi-lagi diserahi peran tipikal karakter-karakter kejam dan mengerikan, tapi tetap membawakannya dengan sangat baik.

         Sayangnya, seperti presentasi sebuah tesis penting dibalik sisi historikalnya yang memang terasa begitu penting untuk diketahui banyak orang, ada sejumlah bias dalam hipotesis yang dipilih Moore dalam skripnya. Tyldum mungkin tak sepenuhnya salah menerjemahkan back and forth storytelling dalam skrip itu, namun ambiguitas heroisme vs persepsi kriminalitas Turing yang memunculkan pertanyaan mendalam terhadap maknanya agak sedikit kehilangan fokus. Potret ‘Genius at Work’ soal Enigma yang mendominasi tigaperempat film terasa tak benar-benar punya balance yang bagus dengan protes-protes sosial terhadap pertanyaan orientasi seksual dan sejarahnya yang disimbolkan lewat adegan-adegan klise dan agak dangkal dalam sejarah hidup Turing. Belum lagi dialog tentang konsep orang tak biasa menciptakan sesuatu yang luarbiasa yang diulang-ulang. Ambiguitas yang membentuk karakterisasi Turing dengan baik, mungkin, tapi jadi begitu mentah dengan narasi tertulis sebagai konklusi akhir di epilognya yang tak fokus dan melompat-lompat menggabungkan keduanya.

             Diawali dengan soal terapi sulih testosteron yang terpaksa dipilih Turing secara paksa berujung tragedi di akhir hidupnya, kemudian melebar ke masalah jumlah kasus homoseksual sebagai kriminalitas di era itu, dan bolak-balik ke heroismenya memecahkan Enigma, menyelamatkan begitu banyak jiwa, pengakuan kepahlawanan hingga yang terparah, hipotesis satu arah bahwa Turing Machine, which they said known these days as computers secara hiperbolik. Ini mau tak mau semakin mementahkan jahitan dua fokus yang sudah terasa agak kehilangan balance di sepanjang filmnya.

          Begitupun, sama sekali bukan berarti ‘The Imitation Game’ lantas jadi biopik yang gagal. Bersama pameran performa dari para pendukungnya berikut penggarapan teknis yang tergolong luarbiasa, elemen-elemen dalam penelaahan sejarah yang memunculkan pertanyaan penting terhadap makna kepahlawanan sudah berhasil digelar Tyldum lewat sisi humanisme yang begitu menyentuh. Ada sedikit hypothetical bias dibalik dua fokus pentingnya, memang, tapi tak sampai melunturkan statusnya sebagai biopik yang tergarap dengan sangat elegan. (dan)

~ by danieldokter on January 29, 2015.

One Response to “THE IMITATION GAME : AN ELEGANTLY CRAFTED BIOPIC WITH HYPOTHETICAL BIAS”

  1. […] THE IMITATION GAME – Nora Grossman, Ido Ostrowsky and Teddy Schwarzman, Producers […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: