ANNIE: A SHALLOW BUT STILL ENJOYABLE REMAKE

ANNIE

Sutradara : Will Gluck

Produksi : Village Roadshow Pictures, Overbrook Entertainment, 2014

Annie

            Anak-anak generasi ’80-an pasti kenal ‘Annie’. Selagi di negaranya sudah lebih dulu populer sebagai drama musikal Broadway yang diangkat dari komik strip ‘Little Orphan Annie’ karya Harold Gray, more than half of the world lebih mengenal adaptasi layar lebar tahun 1982 dari sutradara John Huston. Bahkan melebihi prestasi musikalnya yang masih terus dibawa ke berbagai penjuru dunia serta memenangkan Tony Award dibalik predikat ‘one of the most popular musicals’. Begitupun, kecuali sosoknya sebagai adorable red-hair little girl, nama Albert Finney dan Tim Curry, and above all, lagu ‘Tomorrow’ yang masih everlasting hingga sekarang, hampir tak ada yang ingat dengan pemeran-pemeran lainnya termasuk Aileen Quinn, gadis cilik pemeran Annie yang karirnya memang tak kemana-mana sesudahnya.

            Namun bagi sebagian pengamat, ketimbang lagu serta sosoknya, hal terbaik dari ‘Annie’ adalah kemasannya. Mengapa ‘Annie’ lantas bisa berkembang begitu besar jadi sebuah pop culture bahkan ikon yang masih digunakan dalam berbagai karya lain, adalah ide simpel tentang seorang gadis kecil yatim piatu yang mendambakan hari esok lebih baik bisa jadi dasar kuat untuk memuat satir sosial ke era terburuk sejarah perekonomian Amerika, ‘The Great Depression’ tahun ’30-an serta segala ekses-ekses dan relevansinya dari zaman ke zaman. So yes, jauh dari sekedar sisi musikalnya, ‘Annie’ bukanlah sebuah konten yang simpel. Jadi sama juga, tak semudah itu untuk di-remake. Versi layar kecil Disney tahun 1999, untuk ABC oleh sutradara Rob Marshall, dengan Emmy serta Golden Globe acknowledgements, sudah melakukannya dengan lebih dari sekedar baik.

            Berpindah ke kawasan Harlem, kita dibawa ke sosok Annie baru (Quvenzhané Wallis). Gadis yatim piatu yang tinggal bersama teman-temannya di sebuah rumah penampungan yang diasuh mantan artis gagal Colleen Hannigan (Cameron Diazw/ little nods to C&C Music FactorysGonna Make You Sweat‘) tak lebih hanya untuk mengharapkan dana dari dinas sosial. Setiap minggu, Annie yang tetap mendambakan orangtuanya kembali tetap dengan setia menyambangi sebuah restoran berdasar surat peninggalan yang dimilikinya. Hingga suatu ketika, saat mencoba menyelamatkan seekor anjing, secara tak sengaja ia juga diselamatkan oleh Will Stacks (Jamie Foxx), taipan perusahaan seluler yang tengah mencalonkan diri menjadi walikota. Keangkuhan Stacks yang mengganggu proses kampanyenya seketika luntur atas berita kepahlawanannya. Melihat kesempatan pencitraan ini, atas saran penasehatnya Guy (Bobby Cannavale), Stacks pun segera mengajak Annie pindah ke istananya. Penipuan itu berjalan terus walaupun asisten Stacks, Grace (Rose Byrne) sudah mengingatkannya, namun lama kelamaan, di tengah interaksi baru mereka, Stacks perlahan mulai sulit mengingkari bahwa hati, pada akhirnya jauh lebih dari sekedar ambisi.

            Disini, Jay-Z, Will Smith dan Jada Pinkett Smith, sebagian nama-nama besar dari deretan produsernya, memindahkan set dan universe-nya dalam tendensi Hollywood’s diversity yang memang tengah jadi trend. Jelas tak salah, terlebih dalam kapasitas ‘Annie’ sebagai sebuah hiburan musikal untuk seluruh keluarga. Namun sayangnya, visinya hanya mentok disana. Ketimbang menangkap mengapa Annie menjadi ‘Annie’ yang sekarang kita kenal, fokusnya tak lebih dari sekedar diversity-diversity itu. Memindahkan persepsi milyuner pada sebuah modern luxurious porn serba dangkal hanya untuk memuat komedi serta recycle baru nomor-nomor musikalnya. Padahal sutradara Will Gluck jelas punya kemampuan lebih dari sekedar menyajikan hiburan di karya-karya sebelumnya seperti ‘Easy A’ dan ‘Friends with Benefits’. Memindahkan tired plot dengan elemen-elemen baru yang menaikkan kelasnya.

            No, bukan berarti aransemen baru Sia dan producer-songwriter Greg Kurstin dengan nuansa beat modern hip-hop / RnB yang lebih anthemic, dilengkapi tiga lagu baru dan satu rewritten piece, tak bagus. Di tiap detil sisinya, mereka masih tetap bisa menangkap feel Broadway dari aransemen asli Charles Strouse dan lyricist Martin Charnin dalam musikalnya. Menyisakan hanya segelintir dance scene mostly sebagai penutup, koreografinya pun seakan tak tertata dengan maksimal. Wallis, dalam kapasitasnya sebagai anak-anak, mungkin tak punya suara dan penjiwaan sebagus Aileen Quinn, tapi kapasitasnya sebagai contender Oscar termuda kemarin tetap punya kelas, dan dibantu Byrne, Diaz dan Foxx yang paling juara membawakan bagian musikalnya, kekurangan-kekurangan kecil itu bisa tertutupi. Musical cinematic experience-nya tetap bisa bekerja dengan sangat baik untuk memberikan nilai tambah bagi hiburannya.

            Dan tak ada juga yang salah dengan klise-klise turnover plot-nya dalam kapasitas family movie. Akting deretan cast-nya yang cenderung sangat komikal, terutama Cameron Diaz pun, masih sejalan dengan koridornya. Hanya saja, seakan belum cukup dengan penelusuran dangkal yang melulu hanya menangkap esensi dasar seorang Cinderella cilik tanpa glimpse of political/economical satire yang malah berpindah ke luxurious porn serba hiperbolik kecuali sepenggal penyebutan Franklin D. Roosevelt di pembukanya, skrip Will Gluck dan Aline Brosh McKenna seakan lupa bahwa ini adalah tentang ‘Annie’, bukan Jamie Foxx. Begitu asyiknya skrip itu mengeksplor persepsi segmented Foxx sebagai afro-american superstar secara fisik lewat dialog-dialognya, yang mungkin bagi mereka sangat lucu, dari paras yang dianggap begitu sempurna hingga (maaf) ukuran vital, hingga nyaris melupakan bangunan karakter utamanya sendiri.

            Inilah yang jadi kekurangan terbesar dalam ‘Annie’ versi terbaru. Yes, sebagai family movie, lagu-lagu seperti ‘Tomorrow’, ‘It’s a Hard Knock Life’ dan yang lainnya itu jelas masih sangat menghibur. Ensemble cast-nya pun punya kekuatan lebih, dari Wallis, Foxx, Byrne, Diaz, Cannavale dan Adewale Akinnuoye-Agbaje, berikut seabrek cameo dari Patricia Clarkson, Rihanna, Michael J. Fox, Mila Kunis hingga Sia Furler. Hanya saja, jangan pernah bandingkan ia dengan original musical, versi 1982 bahkan ABC tahun 1999, walaupun sebagai remake mustahil untuk tak melakukan itu. Luarbiasa dangkalnya, tapi sebagai hiburan, still enjoyable. (dan)

~ by danieldokter on February 1, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: