PROJECT ALMANAC: A FRESH AND FUN TAKE ON TIME TRAVEL THEME

PROJECT ALMANAC

Sutradara : Dean Israelite

Produksi : Insurge Pictures, Platinum Dunes, MTV Films, Paramount Pictures, 2015

Project Almanac

 

            Mostly to sci-fi lovers, tema-tema time travel dan quantum physics selalu jadi sorotan yang mengasyikkan. Namun juga, mungkin tak terlalu banyak celah untuk membuatnya jadi sesuatu yang benar-benar baru, selain biasanya memang hampir selalu terbentur pada segmentasi penonton. Di luar segala paradoks teorinya yang saling bersentuhan, ‘Project Almanac’ (awalnya sempat diberi judul ‘Cinema One‘ dan ‘Welcome to Yesterday‘) yang diproduseri oleh Michael Bay bersama Bradley Fuller, co-owner-nya di Platinum Dunes, mencoba masuk secara berbeda lewat style found footage / mockumentary yang juga sedang jadi trend. Dalam konteks jualan, sisi positifnya adalah rata-rata found footage hampir tak pernah memerlukan nama besar di deretan cast-nya, dan lagi, di luar horor, superhero, creature thriller atau disaster, dalam kapasitas wide release profile, tema time travel adalah sesuatu yang masih baru.

            Bersama adik dan sahabat-sahabatnya, remaja cerdas David Raskin (Jonny Weston) yang baru saja diterima di MIT namun tak punya biaya cukup untuk itu, menemukan peralatan misterius di bekas ruang kerja ayahnya, seorang penemu yang meninggal karena kecelakaan di ultah ke-7 David. Device yang belakangan mereka sadari adalah sebuah time machine kemudian membawa mereka semua; David, adiknya Christina (Virginia Gardner), Quinn Goldberg (Sam Lerner), Adam Le (Allen Evangelista) dan secara tak sengaja, highschool crush David, Jessie Pierce (Sofia Black-D’elia), ke sebuah eksperimen penuh kenakalan yang mereka namakan ‘Project Almanac’. Keberhasilan mereka merubah kesalahan-kesalahan di hari sebelumnya membuat mereka balik semakin jauh lagi melanggar aturan demi aturan hingga akhirnya menyadari ada yang berubah di setiap masa kini sebagai konsekuensinya. Now it’s up to them to fix their mistakes.

            Walau bagi sebagian orang style found footage/mockumentary boleh jadi terasa memusingkan, tapi ini justru punya relevansi bagus terhadap keseluruhan konflik seputar teenage adolescent yang dihadirkan secara bertahap dalam ‘Project Almanac’. Skrip yang ditulis Jason Harry Pagan dan Andrew Deutschman juga tak mencoba lari terlalu jauh dari paradoks-paradoks lazim dalam fisika kuantum se-ribet apa yang kita saksikan dalam ‘Predestination’ barusan. Dan yang paling menarik, bersama Dean Israelite, sutradara baru yang sebelum ini dikenal sebagai asisten dan real life cousin Jonathan Liebesman, mereka menggagasnya dengan teenage mindset, menjadikannya bagai sebuah fun-meta dari seluruh film-film sci-fi bertema time travel dengan ‘change the world’ and butterfly effect conclusion, terlebih yang punya nuansa teen movie seperti ‘Back to the Future’, tetap dengan respek lebih.

            Cast-nya yang rata-rata baru pun tak mengecewakan. Chemistry-nya tertata dengan baik di tengah perhatian yang akan tertuju pada dua sentral utama yang memang punya potensi untuk dilirik produser sebagai talent-talent Hollywood baru, Jonny Weston dari ‘Chasing Mavericks’ dan mostly, Sofia Black D’elia dari ‘Gossip Girl’ (and soon will appear inBen-Hurremake), tetap dalam titik berat formula Bay mengeksploitasi young female lead-nya dengan dayatarik lebih.

            Sayangnya, di satu titik, mau tak mau skrip itu memang memerlukan puncak konflik untuk mengembalikan semua kesenangan itu ke pakem genre sejenis yang sangat formulaic. Disini, third act-nya seolah jadi kelewat naif dengan setup yang mungkin melangkah kelewat jauh dari teenage mindset serba fun yang jadi segmen paling menarik dari ‘Project Almanac’. Taking things up too heavy, rentetannya menuju klimaks punya intensitas turun naik yang sedikit agak mengganggu, belum lagi konklusinya yang harus diakui gagal menghadirkan emotional punch dari setup kuat father to son relationship yang sudah dipicu dari awal.

            Begitupun, bukan berarti ‘Project Almanac’ lantas jatuh ke sebuah film time travel yang sama sekali gagal. Build-up keren dengan ignition pace cukup kencang sudah membuatnya menjadi sebuah fresh and fun take on the genre, bukan juga sesuatu yang mudah buat dilupakan dalam konteks pendekatan pertama time travel theme dengan mockumentary style bersama profil Bay di kelas produksinya, namun sayangnya agak kedodoran mempertahankan intensitas sebaik itu menuju klimaksnya. (dan)

~ by danieldokter on February 2, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: