NADA UNTUK ASA: A NOTE OF HOPE

NADA UNTUK ASA: A NOTE OF HOPE

Nada Untuk Asa poster

            Oh no. This is not a movie review. Namun sama seperti niat baik sebagian besar orang-orang yang berkolaborasi di dalamnya, hanya catatan kepedulian atas tema yang diangkat tentang keberanian hidup. So let me tell you a little story behind it.

            It was not until his first feature, ‘Rasa’ (2009), saya lebih mengenal Charles Gozali yang menyutradarai filmnya. Sineas yang sebenarnya sudah sejak lama berkiprah lewat serial-serial TV/sinetron, sebagian diantaranya, bertema action, seperti ‘Jacky’, ‘Jacklyn’, ‘Buce Li‘ atau ‘Elang’ dan mengawali karir, salah satunya, sebagai stuntman profesional di film-film produksi PH milik ayahnya, Hendrick Gozali. Meneruskan legacy the legendary Garuda Film, lewat ‘Rasa’ ia membentuk ‘MagMa’ lebih lagi bagi industri film Indonesia.

            Kritik saya terhadap film dengan rasa campur aduk dari usaha lintas genre yang masih jauh dari sempurna itu lantas jadi awal sebuah pertemanan atas banyak kemiripan visi dan juga hobby, bahkan persahabatan yang kian erat atas kehormatan yang diberikan lewat permintaan menjadi saksi pernikahannya tahun 2013. Di film ketiganya, ‘Finding Srimulat’, Charles mengajak saya untuk jadi salah satu konsultan produksi hingga ke detil aspek medis dalam film itu, yang jelas saya sambut dengan senang hati, bukan hanya karena dalam menulis review atau kritik film, kebanyakan tulisan saya mengarahkan fokus ke implikasi medis yang sangat jarang tertata baik untuk film kita, juga karena kami sama-sama sangat menggemari subjeknya. Mengenalnya lebih jauh dari situ, saya jadi tahu bahwa Charles memang punya niat baik untuk menghasilkan film-film yang sama baiknya.

            Dalam visi-visi berbeda tiap filmmaker, cara Charles menghidupkan MagMa boleh dibilang cukup khas. Lewat proses-proses dalam produksi filmnya, Charles kerap mengajak beberapa rekan-rekan dengan visi yang sama, mostly bukan hired production consultant, untuk terlebih dulu berdiskusi atas ide-ide yang ada. Seperti sebuah brainstorming untuk menentukan mau maju dengan pilihan yang mana hingga ke detil-detil produksi lain sampai alternatif pemilihan cast, ia memang sangat terbuka mendengarkan tiap masukan yang berbeda untuk kemudian memutuskan maju atau mundur dalam sebuah proyek. Tapi semua orang terdekatnya jelas tahu, bahwa apapun genrenya, Charles memang punya signature lebih dalam menggarap aspek-aspek heart factor serta light comedy dalam film-filmnya.

            Ide tentang ‘Nada Untuk Asa’ yang awalnya direncanakan berjudul ‘Positif’ sendiri datang tak lama setelah ‘Finding Srimulat’ berakhir masa rilisnya. Dan saya menyambut ide itu, yang disampaikan Charles atas inspirasi dari sebuah tayangan talkshow di sebuah stasiun televisi tentang usaha seorang ibu bernama Yurike Ferdinandus bersama putra kecilnya yang sama-sama pengidap HIV + dalam menepis stigma terhadap sindromanya, terus terang, dengan sedikit skeptis. Jelas bukan karena profesi keahlian yang juga menempatkan saya dalam sebuah kepedulian HIV/AIDS sebagai penyakit yang salah satunya ditularkan lewat hubungan seksual, tapi lebih karena sudah jengah menyaksikan film-film Indonesia bertema sama yang semuanya seakan tak punya hati mengeksploitasi penderitaan dibalik penyakitnya dengan penyampaian pesan yang salah-kaprah. Seperti sebagian lembaga atau yayasan yang punya kepentingan, melulu melakukan blind campaign searah untuk menepis stigma tapi malah semakin memperparahnya dengan aspek-aspek penyuluhan yang salah. (baca ulasan saya tentang ‘Mika‘ atau ‘Cinta dari Wamena‘). Belum lagi soal jatuhnya film-film itu menjadi disease and suffering porn yang kebanyakan menjual konklusi tragis demi tetes airmata penonton dalam tendensi jualan.

            Dan satu hal lagi, biarpun Charles sudah mencoba meyakinkan saya bahwa ia akan melakukannya dengan pendekatan berbeda, plus dalam sisi produksi lebih pada bentuk yang jauh lebih minimalis dari ‘Finding Srimulat’ yang walau resepsinya secara universal sangat baik namun secara komersial tak sama, tayangan talkshow yang setelah itu saya saksikan mungkin secara subjektif lebih saya lihat lebih ke sebuah testimonial ketimbang health campaign yang kuat dalam konteks stigma-stigma yang ada di dalamnya. Lagi-lagi, mungkin didasari kepentingan subjeknya dalam konteks talkshow, cenderung mengeksplorasi kisah sejati yang dipenuhi penderitaan dan mukjizat, sementara terlihat sulit menelusuri justifikasi terhadap karakter-karakternya buat memunculkan ide soal optimisme dan keberanian hidup dibalik judul ‘Positif’ yang sebenarnya terdengar cukup fresh dan agak beda dari yang selama ini ada.

           Perbincangan cukup panjang setelahnya, termasuk atas pertimbangan-pertimbangan bahwa berbeda dengan film-film disease porn lain yang menjual kanker ini-itu, film-film bertema HIV/AIDS tak pernah sukses di pasaran, yang mungkin salah satu penyebabnya adalah penonton, bahkan yang menggemari tearjerkers sekalipun, juga jengah untuk dikuliahi dengan film yang menyaru sebagai PSA (Public Service Announcement), membuat produksinya sempat tertunda sambil mencari opsi-opsi lain yang lebih potensial.

          Hingga beberapa bulan setelahnya, Charles mengabarkan bahwa ‘Nada Untuk Asa’ kemungkinan besar mendapat jalan untuk sebuah kolaborasi produksi dengan ‘Sahabat Positif!’ dari Komsos KAJ (Keuskupan Agung Jakarta) sebagai Katekese dalam program tahun pelayanan mereka. Ikut serta ke pertemuan-pertemuan awal dengan pihak Komsos untuk mewujudkan produksinya, yang juga direncanakan sekaligus menjadi tema drama musikal tahunan yang diselenggarakan setiap perayaan Natal, saya mencoba menyesuaikan mindset dengan ide-ide Charles.

             Bukan karena semata-mata alasan persahabatan atau kesamaan visi dalam tim MagMa, namun bahwa mungkin ada celah untuk membuatnya jadi berbeda terutama dari pendekatan serta konklusi yang mengedepankan optimisme lewat penghargaan terhadap hidup dan martabat manusia yang jauh lebih besar serta universal dari sekedar pengkotak-kotakan reliji dan stigma-stigma yang meliputi kenyataan sosial yang ada. Begitupun, tetap dengan concern utama bahwa ‘Nada Untuk Asa’ yang kemudian dalam pertemuan itu diputuskan jauh lebih baik daripada ‘Positif’ yang terdengar kelewat harafiah dan memindahkan fokusnya bukan terhadap hidup tapi pembahasan HIV/AIDS, tak boleh sampai jadi sebuah disease atau suffering porn klise dalam pakem rata-rata film kita, atau juga PSA berkedok film yang isinya melulu penyuluhan tapi salah kaprah. Thus, personally, ini seakan jadi misi untuk bisa menghadirkan film dengan elemen yang sama, namun secara medis benar-benar ada di koridor yang tepat. Terlebih lagi, ada niat baik bahwa hasil komersial filmnya akan sepenuhnya disumbangkan untuk pembangunan fasilitas kesehatan, bukan sama sekali kepentingan PH.

             Dan memang benar, walaupun pada saat proses syuting dimulai saya berhalangan untuk hadir, proses komunikasi dalam tahap-tahap pengembangan skrip hingga produksinya tetap berjalan dengan baik dengan kesempatan memberikan masukan-masukan yang diperlukan terutama dalam penelaahan medis, mengubah seabrek kesalahan-kesalahan yang selama ini ditampilkan film-film kita dengan tema yang sama bersama dr. Made Arya Wardhana, Charlesbrother in law. Most of all, saya cukup mengagumi bahwa Charles tetap konsisten untuk melahirkan karya yang baik dibalik banyak keterbatasan bujet dan juga waktu syuting, bahkan bekerja rangkap dalam sejumlah departemen sekaligus. Nama-nama yang akhirnya berhasil dikumpulkan sebagai cast and crew-nya, surprisingly, hampir semua punya kredibilitas tak main-main.

             What an ensemble cast, di luar kekaguman lain bahwa walaupun ini menjadi proyek kolaborasi dengan KAJ,  talenta-talenta di luar relijinya pun punya komitmen luarbiasa tanpa dibatasi hal-hal sepele soal itu. Tapi yang terpenting bahwa draft final skrip-nya benar-benar bisa sepenuhnya meruntuhkan skeptisme yang ada terhadap kekhawatiran bahwa ‘Nada Untuk Asa’ sangat beresiko untuk lagi-lagi jadi disease or suffering exploitation tadi. Bahwa begitu banyak simbol-simbol yang tertuang di dalamnya termasuk quote-quote soal janji pernikahan tanpa harus jadi segmental buat satu atau dua reliji, serta cukup balance membawa informasi yang tak terkesan sebagai penyuluhan kesehatan untuk mengedepankan gagasan utama tentang kehidupan dan penghargaan-penghargaan humanis lainnya termasuk yang begitu besar pada sosok ibu. Selain storytelling paralel yang membenturkan kepedihan dengan keceriaan lewat tone bertolak-belakang, salah satu poin paling krusialnya ada di pemilihan final scene yang bukan hanya jadi konklusi terhadap ide soal berani hidup, tapi juga dalam sisi lain, berbicara begitu kuat melengkapi effort-effort menepis stigma terhadap penderita penyakit yang jadi subjeknya, kali ini dari dua arah secara berimbang, bukan lagi sekedar blind campaign lewat ajakan-ajakan klise yang terus-menerus kita dengar tapi tak akan pernah bisa bekerja mengurangi stigmanya di lapisan sosial masyarakat awam.

            And the hope went even higher ketika dalam proses post-production hasilnya sangat membesarkan hati dibalik segala keterbatasan dalam pembuatannya, yang terus-terang, masih berada jauh di bawah level produksi ‘Finding Srimulat’. Akting-akting total dan admirable para pemainnya, Acha Septriasa, Darius Sinathrya, Mathias Muchus, Wulan Guritno, Nadila Ernesta, Inong Ayu Nidya, Donny Damara, Irgi Fahrezi, Tri Yudiman, Butet Kertaradjasa hingga Bayu Oktora, Sakurta Ginting, Bisma Karisma dan Aurelia Devi dalam penampilan khusus mereka, and above all Marsha Timothy yang benar-benar naik kelas memerankan Nada dengan segala konflik tragis karakternya, sinematografi Harjono Parser yang lebih rapi meskipun mungkin tak secantik ‘Finding Srimulat’ benar-benar menghadirkan eksplorasi rasa yang begitu menyentuh tanpa kehilangan semangat optimismenya. Kesedihan yang tak mungkin terhindarkan tapi tanpa lantas jatuh jadi cengeng dan meratap-ratap, tetap dengan airmata di tengah senyuman sebagai titik akhirnya. Sama ketika saya pada akhirnya berjumpa dengan Yurike Ferdinandus dan ketiga putranya, yang tetap begitu ‘positif’ di tengah perjuangan mereka menghargai kehidupan.

             Bahkan di tengah beberapa masalah perbedaan visi soal promosi yang sepenuhnya dipegang oleh Komsos KAJ namun mau tak mau tetap harus sangat dihargai sebagai sebuah karya kolaborasi dibalik niat-niat serta tujuan positif yang ada di dalamnya, Charles dan segenap timnya tetap konsisten menyelesaikan tiap tahapan itu tanpa mengenal waktu sambil terus men-tackle segala kelengkapan lain yang diperlukan. Proses pembuatan OST dari Pongki Barata (feat. Lea Simanjuntak di salah satu lagunya, ‘Aku Milikmu‘ dan Acha Septriasa di ‘Seluas Itu‘) dengan tone yang sangat uplifting melawan tragical premise-nya, pemusik-pemusik muda dengan talenta luarbiasa dii bawah nama NEAR yang masuk di saat-saat terakhir untuk komposisi scoring-nya, hingga seluruh cast and crew yang dengan konsisten menyertai proses promosinya ke berbagai media, and nevertheless, Hendrick GozaliCharles’ dad, produser yang sangat saya kagumi sejak kecil atas kiprahnya memproduksi film-film nasional berkualitas dalam sejarah film kita, supervisi produksi Slamet Rahardjo, produser eksekutif Linda GozaliCharles’ sister, Linawati HalimCharles’ spouse, produser pelaksana Erwin Djayanegara, 2nd unit director Imron Ayikayu dan Tatzuar Amir di tim promosi MagMa, berikut semua pihak yang berpartisipasi dalam proses pembuatan hingga rekan-rekan media, pekerja film, para undangan serta komunitas dan moviebloggers yang hadir di gala premiere dan menyebarkan kepeduliannya, semuanya luarbiasa. Menemani mereka semua selama proses ini, berinteraksi di tengah campur aduk konflik, emosi tapi juga diatas semuanya, kebersamaan yang solid, benar-benar merupakan salah satu pengalaman paling menyenangkan menuju ke hari H penayangannya.

             So yes, dengan segala aspek yang ada dari film ke promotional gimmick-nya yang sempat menuai beberapa keluhan di social media, saya tak menampik bahwa bagi sebagian orang, sebagaimana banyak karya-karya yang lain, ‘Nada Untuk Asa’ mungkin tak sempurna. Tapi sebagai bagian dari orang-orang yang ikut serta dalam tim produksi berikut semua tujuan baik di dalamnya, this goes a note of hope, bahwa semoga siapapun yang menyaksikannya mulai 5 Februari nanti di bioskop bisa merasakan hal yang sama, mengubah pandangan yang selama ini ada dan tenggelam bersama emosi-emosi yang ada di dalamnya. Either a tribute for moms, a celebration of life, hopefully an effective campaign to reduce / neutralize HIV/AIDS – Related Stigma, atau sekedar film Indonesia yang bicara hal-hal sama namun dengan pendekatan jauh berbeda,  ‘Nada Untuk Asa’ adalah sebuah persembahan untuk semua yang berani hidup. Rise Up and Live! (dan)

~ by danieldokter on February 4, 2015.

One Response to “NADA UNTUK ASA: A NOTE OF HOPE”

  1. […] NADA UNTUK ASA (MagMA Entertainment, Sahabat Positif – Komsos KAJ; CHARLES […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: