THE BOY NEXT DOOR : A FAILED REINVENTION OF THE GENRE

THE BOY NEXT DOOR

Sutradara: Rob Cohen

Produksi: Blumhouse Productions, Smart Entertainment, Nuyorican Productions, Universal Pictures, 2015

TBND

            Oh yeah. Genre erotic thriller Hollywood yang sempat jadi trend di akhir ’80-an ke ‘90-an memang sudah seakan hilang entah kemana. Kalaupun masih ada, genre ini hanya jadi komoditas studio-studio kecil dengan film-film DTV atau Cable TV. ‘The Boy Next Door’, almost without warning, memang kabarnya dimaksudkan sutradara Rob Cohen sebagai bentuk reinvent terhadap genrenya. Kemasannya, walaupun klise dan sudah puluhan bahkan ratusan kali dibuat, an affair story between a young hunk and sorry, a MILF, sebenarnya punya selling point yang bagus dan sangat menggoda. Toh kalau mau dilihat kembali, produk dari genrenya yang benar-benar layak juga tak banyak, menyisakan terlalu banyak epigon-epigon yang isinya itu ke itu saja.

           Paling tidak, kita semua tahu bahwa nama Jennifer Lopez, yang walau sudah jarang sekali punya showcase bagus, masih punya mature sexiness yang masih sangat bisa dijual lewat sejumlah videoklip comeback-nya ke dunia rekaman. Pasangannya, Ryan Guzman, juga seorang aktor muda dengan bentuk fisik sangat bagus yang dikenal lewat dua instalmen terakhir ‘Step Up’. Terakhir tentu saja nama Rob Cohen sendiri. Walau sederet filmografi terakhirnya tak lagi bisa mengangkat namanya, siapa yang tak ingat dengan ‘The Fast and The Furious’ dan ‘xXx’? Ditambah isu hangat soal keberanian J-Lo melakoni sex and nudity scenes-nya, satu yang paling dijual dalam promosi filmnya, pasti tak ada yang menolak ‘The Boy Next Door’.

     Di tengah problem rumahtangganya dengan Garrett (John Corbett), suami yang hobi berselingkuh, Claire Peterson (Jennifer Lopez) yang tengah berada di ambang perceraian bertemu dengan tetangga barunya Noah Sandborn (Ryan Guzman), lelaki menarik seusia putranya, Kevin (Ian Nelson). Sosok dan agresivitas Noah yang memasuki sekolah sama dengan Kevin lantas mulai mengisi kesepian Claire dan menggoyahkan akal sehatnya. Namun saat menyadari kesalahannya, semuanya sudah terlambat. Noah tak lagi mau melepas Claire, and a bunch of terror comes along.

           Tak ada sebenarnya yang salah dengan plot itu. Tired and cliche plot yang sudah tinggal digonta-ganti posisinya itu memang sudah jadi resep baku film-film lain dalam genre sejenis, dan tak jarang, berhasil. Namun ketimbang menitikberatkan prosesnya agar tampil lebih sebagai erotic thriller yang intense dari segala sisi, polesan akhir skrip Barbara Curry yang kabarnya menarik batas bagi karakter Claire sebagai female lead yang bisa mengundang empati lebih memilih setup kelewat singkat dengan hanya menyisakan satu ultimate erotic scene-nya tak lebih dari perempat awal film.

          Dalam konteks ‘erotic’ atas sebutan genrenya, adegan yang walau habis dibabat sensor dalam kecenderungan badan sensor lokal kita menaati aturan-aturan barunya, memang tergolong sangat memorable. Bahkan tanpa full frontal nudity sekalipun, steamy sex scene itu bisa memicu pikiran paling nakal dari pemirsanya. Tak ada juga yang salah dari aktingnya dalam batasan-batasan kelas yang sama, erotic popcorn flick yang jauh dari kata inovatif, terlebih Jennifer Lopez dan Ryan Guzman. John Corbett yang lebih senior cukup bagus, dan Ian Nelson, pemeran Kevin, cukup mengundang perhatian.

            Sayangnya, semua cukup hanya sampai disitu. Apa yang hadir selama tigaperempat sisa presentasinya adalah tahapan-tahapan tak kalah klise buat membangun porsi thriller yang tak juga punya pendalaman psikologis lebih, membiarkan satu-dua karakter lain termasuk yang diperankan oleh Kristin Chenoweth atau Lexi Atkins, yang berpotensi untuk jadi distraksi bagus, lewat begitu saja sebagai pendamping tak penting, bahkan juga gagal menjaga intensitas pacuan games of terror-nya. Semua pengadeganannya seakan serba tanggung untuk menyentuh wilayah-wilayah lebih ekstrim, baik dalam thriller atau goriness serba tanggung, dan sebagai gantinya adalah eksplorasi yang boleh dibilang lebih terlihat ridiculous ketimbang convincing. Seakan Claire dan Noah hidup di lingkungan orang-orang yang luarbiasa tololnya tak menyadari apa yang sedang terjadi. In inverse, ini sama sekali bukan ‘Poison Ivy‘ yang lebih diakui sebagai salah satu icon di tema mirip dalam genrenya.

          Alih-alih melakukan reinvent terhadap genrenya, ‘The Boy Next Door’ malah makin menyerupai film-film epigon B-erotic yang dengan cepat akan mudah sekali untuk dilupakan. Ini sungguh bisa jadi lebih baik dengan potensi yang dimilkinya, namun sayangnya tidak.  Cohen dan timnya memilih untuk bermain aman, dan hasilnya tak lebih dari sebuah pengulangan. A failed reinvention of the genre. (dan)

~ by danieldokter on February 10, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: