JUPITER ASCENDING : A FUN BUT EMPTY SPACE OPERA

JUPITER ASCENDING

Sutradara : The Wachowskis

Produksi : Village Roadshow Pictures, Anarchos Productions, Warner Bros, 2015

Jupiter Ascending

            Ah. Siapa yang tak tertarik dengan kombinasi genre space opera dengan nama The Wachowskis (Lana Wachowski & Andy Wachowski) ? Siapapun tahu, apa yang mereka lakukan dalam trilogi ‘The Matrix’ hingga sebagian segmen dalam ‘Cloud Atlas’, dalam konteks sci-fi, sudah membuat nama mereka menjadi hottest candidates untuk genre ini. Dan ini bukan berarti hanya presentasi kelas blockbuster serta fun factor-nya, tapi juga ada sebuah konsep kuat yang diharapkan dalam universe-nya, sebagai salah satu persyaratan mutlak yang harus dimiliki sebuah space opera.

            Sejak lama pula, konsep-konsep yang katanya diinspirasi oleh kisah epik Odysseus bercampur ‘The Wizard of Oz’ dibalik atmosfer spiritual – humanis yang hampir tak pernah tertinggal dalam karya-karya mereka, sudah mengundang perhatian. Main cast-nya, Mila Kunis dan Channing Tatum, bisa jadi relatif, tapi deretan crew yang sudah lama berkolaborasi dengan mereka, incl. Dan Glass di supervisi VFX – pionir efek ‘Bullet TimeJohn Gaeta di desainnya (‘The Matrix’), komposer Michael Giacchino (‘Speed Racer’) dan DoP John Toll (‘Cloud Atlas’) sudah jadi seakan janji terhadap proyek yang tak digagas sekedar main-main. Walau akhirnya jadwal rilis di summer 2014 digeser ke masa-masa sepi awal 2015 dengan alasan memaksimalkan lebih dari 2000 shot dengan polesan VFX mau tak mau memberi kesan ketidakpuasan mereka terhadap hasilnya, antusiasme itu tetap tak berkurang saat trailer-nya dilansir buat publik.

            In the near future, Jupiter Jones (Mila Kunis), seorang gadis biasa keturunan Rusia yang bekerja sebagai pembersih fasilitas gedung terpaksa menghadapi takdirnya sebagai reinkarnasi dari ratu sebuah dinasti alien terbesar, Abrasax, yang memperdagangkan serum awet muda yang terbuat dari kehidupan galaksi lain di alam semesta termasuk manusia-manusia bumi. Kenyataan ini membuat Jupiter diperebutkan oleh tiga penerus sang ratu, Balem (Eddie Redmayne), Kalique (Tuppence Middleton) dan Titus (Douglas Booth) yang tengah bersaing memperebutkan kekuasaan di planet mereka. Bersama Caine Wise (Channing Tatum), prajurit bayaran intergalaksi yang awalnya diutus Titus namun belakangan berbalik bersimpati padanya, Jupiter pun harus menentukan nasibnya. Menyelamatkan keluarganya yang dijadikan sandera oleh Balem, or for the greater good, seluruh peradaban umat manusia.

            Seperti tagline menarik yang diusung filmnya, ‘Expand Your Universe’, The Wachowskis yang menggarap sendiri skripnya sebenarnya sudah punya konsep bagus untuk memulai space quest Jupiter. Latarnya dari seorang ayah dengan obsesi peneliti objek luar angkasa (diperankan oleh James D’Arcy), the seeding of Earth populations, serum hingga simbol-simbol fountain of youth yang menjelaskan durasi hidup lintas milenium dinasti Abrasax yang digambarkan sebagai Intergalactic Empire berikut Intergalactic Police Force (Aegis, dengan female captain yang diperankan oleh Nikki Amuka-Bird) and mercenaries (salah satunya Stinger, partner lama Wise yang diperankan oleh Sean Bean dengan bagus) dengan sendirinya sudah membentuk potensi sangat kuat untuk pengembangan universe, lengkap dengan filosofi-filosofi sci-fi yang tetap dibangun diatas dasar humanisme yang kuat. Ada elemen-elemen sci-fi hingga space opera yang iconic dari ‘Star Trek’ hingga ‘Star Wars’ di dalamnya, yang jelas sudah memberikan celah buat menggagas fun factors diatas latar serius serta filosofis.

            Sayangnya, hasilnya tak seperti itu. Kegagalan terbesarnya ada di chemistry dua karakter utamanya yang sebenarnya bukan tak di-handle Mila Kunis dengan akting yang baik, walau tetap terlihat kelewat cantik sebagai seorang janitor pembersih toilet. Namun sebagai Caine Wise, dibalik makeover tampilan plus those crazy blonde beard yang malah jatuh jadi kelewat aneh ketimbang meyakinkan, Channing Tatum seakan bermain dengan zero emotions. Tak hanya di part dramatisasi dengan tendensi sempalan intergalactic lovestory-nya, tapi juga tak terlihat terlalu badass dengan tata koreografi aksi serba minus yang baru agak membaik menjelang final showdown-nya. Ini, mau tak mau, membuat beberapa dialog yang seharusnya bisa jadi punchlines benar-benar tak bisa bekerja dengan maksimal.

            Sudah begitu, skrip The Wachowskis pun tak berhasil membangun Abrasax universe dengan sibling rivalry over inheritance plot yang lebih dalam. Jatuh menjadi kelewat dangkal dengan informasi-informasi sambil lewat saja, pembagian karakter Balem, Kalique dan Titus terasa jomplang diatas konsep yang sebenarnya cukup baik tadi. Agak sia-sia rasanya Eddie Redmayne bersusah-payah membentuk karakter Balem sebagai villain utama yang maunya terlihat mengerikan tapi justru jadi agak menggelikan. Villanous creatures yang mengiringi mereka sebagai algojo-algojonya juga tak satupun yang meninggalkan kesan memorable. Seakan kembali mengulang kesalahan mereka di bagian akhir trilogi ‘The Matrix’ di ‘The Matrix Revolutions’ dengan seabrek karakter (termasuk yang menampilkan beberapa nama aktor hingga sineas terkenal, dari Gugu Mbatha-Raw, Bae Doona hingga Terry Gilliam), lagi dan terus lagi, tanpa justifikasi appearance yang memadai.

            But however, jangan tanyakan sisi teknisnya, yang memang tak pernah terbantahkan di deretan filmografi The Wachowskis terutama yang menyentuh tema-tema fantasi. Desain produksi dari Hugh Bateup (juga bekerja dalam ‘The Matrix’), bangunan set ke tiap bagian dari universe-nya hingga ‘The House of Abrasax’ yang sangat megah bersama pesawat-pesawat luarangkasa dan eye-popping VFX dari Framestore yang luarbiasa cantiknya, ditambah presentasi 3D yang tak kalah bagus dibalik sinematografi John Toll, memang harus diakui sangat berhasil memanjakan mata penonton dan memberi ruang cukup luas untuk fun factor-nya. Dan untungnya lagi, final showdown di perempat akhir itu memang berhasil ditata dengan guliran action scenes cukup seru. A fun, but empty space opera. Sayang sekali. (dan)

~ by danieldokter on February 11, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: